Bertemu Goanggali, Petani Ulet Dari Pulau Sumba

Goanggali / Julang Sumba (Rhyticeros everetti)

Ingatan akan selembar poster bergambar aneka fauna dari seluruh Nusantara yang menempel di dinding kelas saat duduk di bangku Sekolah Dasar masih membekas. Di antara beberapa gambar yang saya ingat, Rangkong yang juga memiliki nama lain Julang atau Enggang, adalah salah satunya. Saya tidak tahu persis, Julang jenis apakah yang dahulu ada dalam poster itu. Ingatan yang tertinggal itu lama – lama menjadi sebuah kerinduan. Kerinduan itu mengendap dalam waktu yang sangat lama hingga tiba – tiba tahun 2017, Taman Nasional Manupeu Tanah Daru – Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) di pulau Sumba mengadakan lomba birding dan fotografi.

Saya memutuskan ikut! target utamanya jelas; melihat Julang Sumba (Aceros everetti), salah satu burung endemik pulau Marapu itu. Julang Sumba adalah Julang yang lokasinya mudah dijangkau dari Ruteng, ketimbang harus ke Sulawesi, Kalimantan atau Jawa. Julang Sumba adalah satu dari tiga Julang endemik Indonesia. Sebagai catatan, dari total 32 jenis Julang yang ada di Asia, 13 atau hampir setengahnya ada di Indonesia. Julang Sumba atau Sumba Hornbill memiliki nama lokal Goanggali. Goanggali menghuni hutan – hutan primer dan hutan dataran rendah yang memiliki pohon – pohon tinggi.

Baca catatan perjalanan ke Sumba: Terpesona Burung MATALAWA Sumba

Pertama kali sampai di kawasan hutan Billa, TN Matalawa, Sumba Timur, saya langsung berhasil melihat Goanggali. Bahagia sekaligus terpesona. Burung yang sudah lama dirindu, akhirnya bisa dilihat dalam jarak yang cukup dekat. Saya memang pernah mendengar suara Julang Emas di Jawa Timur tahun 2010, tetapi tidak melihatnya. Jadi, Julang pertama yang saya lihat adalah Julang Sumba atau Goanggali.

Keberadaan Goanggali di Pulau Sumba merupakan fenomena yang sangat unik, sekaligus menjelaskan sejarah geologi pulau yang sebagian besar wilayahnya adalah padang savana itu. Para ilmuwan telah menyimpulkan bahwa Sumba adalah pecahan paling selatan dari daratan Asia dan satu – satunya pulau yang tidak lahir dari aktivitas vulkanik dalam gugus pulau – pulau Nusa Tenggara. Keberadaan Goanggali telah mengukuhkan itu. Julang adalah jenis burung berukuran besar yang hidup di benua Afrika dan Asia. Total jenisnya adalah 62  yang terdiri dari 30 jenis di benua Afrika dan 32 di benua Asia.

Pertama kali, Goanggaling atau Julang Sumba diidentifikasi oleh Walter Rothschild pada tahun 1897. Ciri khas Julang Sumba antara lain bertubuh kecil dan berwarna hitam, dengan ekor panjang seluruhnya berwarna hitam. Kepala dan leher berwarna merah bata dengan kulit tenggorokan berwarna biru, balung bergerigi dan paruh kuning pucat. Tingkah laku Julang Sumba tidak mempertahankan atau menandai wilayah jelajahnya, tetapi mungkin ada pengecualian pada bagian hutan tertentu (teritorial).

Keberadaan Goanggali di Sumba telah memberikan harapan bahwa luas hutan di Pulau ini akan terus mengalami peningkatan. Tentu saja dengan syarat, jika populasi burung yang masuk daftar dilindungi dalam PermenLHK RI No. P.20 tahun 2018 itu tetap terjaga. Data dari yayasan Rangkong Indonesia, jumlah Goanggali diperkirakan antara 8000 – 10000 ekor di alam. Daftar merah IUCN menempatkan Goanggali pada status Terancam (VU) dan terdaftar di Appendix II CITES.

Orang – orang Sumba sudah sepantasnya bersyukur pada Goanggali atas jasa – jasa ekologisnya selama ini. Sebagaimana sifat Julang pada umumnya, Goanggali adalah burung pananam yang ulet dan telah terbukti menghasilkan hutan baru di mana – mana. Goanggali adalah burung pemakan buah dan biji yang memiliki jangkauan terbang yang sangat jauh. Dalam sehari, Goanggali bisa menjangkau jarak terbang lebih dari 10 km. Jika mereka terbang di atas areal berbukit, maka bisa dibayangkan sejauh apa mereka akan pergi dan menebar biji – bijian yang mereka makan. Jika dalam sehari, Goanggali berhasil menebar 10 saja biji ke alam dikalikan 10.000 ekor dikalikan 365, maka total biji yang disebar ke seluruh areal yang dilaluinya dalam setahun adalah sebanyak 36.500.000 (36 Juta)!!!. Jika 30% saja yang berhasil tumbuh, maka total pohon yang mereka tanam setiap tahun adalah 10.950.000!!!. Hampir mencapai 11 Juta pohon setiap tahun. Jumlah yang sangat sulit bisa dilakukan manusia.

Goanggali adalah sang pembawa harapan bagi alam Sumba. Masa depan hutan – hutan di Sumba sangat bergantung pada kondisi konservasi burung dengan anjang tubuh mencapai 55 cm ini. Di dua hutan yang saya kunjungi beberapa kali dalam dua tahun belakangan, yakni Hutan Billa dan Hutan Tana Daru, Goanggali cukup mudah ditemukan. Jika anda melintasi jalan trans Sumba, Goanggali dengan suaranya yang khas akan kita jumpai di wilayah hutan Tana Daru. Pada pagi hari, mereka berseliweran di pohon – pohon tinggi di tepi jalan.

Meski telah berjasa bagi alam Sumba, Goanggali tak sepenuhnya aman di negeri Marapu. Perburuan untuk dikonsumsi dan diperdagangkan masih berlangsung. Selain itu, penyempitan ruang jelajah terus terjadi karena maraknya penebangan pohon dan pembakaran hutan. Pada kerja keras usaha perlindungan dan konservasi oleh TN Matalawa bersama seluruh masyarakat pulau Sumba adalah harapan satu – satunya bagi berlangsungan populasi sang penanam ulet ini. Goanggali, sang Julang Sumba adalah warisan kisah masa lalu yang tetap setia berceritera, tentang pulau itu terlahir. Goanggali juga mimpi di masa depan, di mana Sumba semakin asri, diselimuti hutan nan hijau, karya tangan sang legenda, Goanggali. Pada kepak sayap sang petani, mimpi Sumba yang hijau bergantung.

Bagi saya, Goanggali adalah mimpi yang menjadi nyata!

Please follow and like us:
0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*