Dusun Kemuning; Bersama ASTRA Berjuang Menjadi Ada

Suasana Kampung Berseri ASTRA Dusun Kemuning
Suasana Kampung Berseri ASTRA Dusun Kemuning

Langit mendung memayungi Yogyakarta dan sekitarnya sejak pagi hari, Senin 5 November 2018. Cakrawala tampak berat menanggung butiran hujan yang tertahan. Di beberapa titik, mentari masih menemukan celah tipis tempat menyusupkan sinarnya yang jatuh dalam garis – garis pendar putih keemasan.

Sejak saya tiba di Kota gudeg itu pada lima hari sebelumnya, terhitung telah tiga kali hujan turun dengan instesitas ringan dan sedang. Tampaknya musim kemarau benar – benar akan segera berakhir. Tentu saja ini menjadi kabar yang menggembirakan terlebih bagi warga di wilayah pegunungan selatan Yogyakarta, tepatnya Kabupaten Gunung Kidul, yang sebagian besar kawasannya merupakan perbukitan kapur yang kering.

Pagi menjelang siang, ditemani sepupu yang berkuliah di Yogyakarta saya memulai perjalanan menuju daerah Gunung Kidul dengan mengendarai sepeda motor. Tujuan kami adalah sebuah kampung kecil yang berjarak 45 km dari tempat saya menginap di Banguntapan, Bantul. Kemuning! Nama kampung itu tenggelam jauh terkubur nama – nama beken tempat wisata Gunung Kidul yang sedang populer, sebut saja sederet pantai menawan seperti Pantai Indrayanti, Pantai Siung, Pantai Wediombo, juga Goa Pindul, Gunung Api Purba Nglanggeran dan destinasi eksotis lainnya.

Ini adalah kunjungan ke dua saya ke kampung itu setelah sebelumnya pada 1 November saya berkeliling dari kawasan tepi hutan Wanagama hingga Telaga Kemuning untuk mencecap keindahan alamnya. Hari ini saya kembali ke Kemuning untuk mendengar kisah tetangnya. Selama hampir satu dekade pernah tinggal di Jogja, dan berpetualang di wilayah – wilayah terpencilnya, saya tidak pernah mendengar nama kampung Kemuning, hingga nama itu muncul sebagai salah satu Kampung Berseri Astra.

Sebagai seseorang yang cukup lama bersinggungan bahkan mengelola Desa Wisata di wilayah Yogyakarta pada periode 2007 – 2012, tentu saya terkejut mengetahui ada sebuah kampung dalam daftar KBA bernama Kemuning. Letaknya pun tak begitu jauh dari pusat kota Yogyakarta.

Yogyakarta

Bermodalkan aplikasi penunjuk arah google map serta dibumbui drama tersesat di jalan – jalan kampung dan kebun warga kami akhirnya kami sampai di kampung Kemuning. Jika kali pertama kami datang dari arah selatan melewati hutan Wanagama, kali ini kami datang dari utara. Hujan (akhirnya) benar – benar turun, tepat saat kami memasuki gapura kampung. Hujan yang semula hanya gerimis lembut sejenak menjadi begitu lebat. Kami akhirnya berteduh di sebuah bangunan permanen bertuliskan PAMHUT SWAKARSA milik Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY. Bangunan itu berdiri di sudut kawasan perkebunan tanaman Kayu Putih milik pemerintah yang membentang di sisi utara kampung Kemuning.

Suasana kampung tampak lengang. Gapura berwarna biru melengkung di batas kampung. Di puncaknya terpasang dua bilah papan yang satu berbentuk bujur sangkar berisi logo “Kampung Berseri ASTRA”, di bawahnya sebuah papan berbentuk persegi panjang bertuliskan “Kampung Berseri ASTRA Dusun Kemuning”.

Hujan turun selama kurang lebih 15 menit. Meski sangat singkat, namun lawatannya siang itu sudah cukup membawa kesejukan di puncak kemarau. Sisa air hujan bergelantungan di dedaunan, memantulkan sinar matahari berwarna Jingga pucat. Perlahan kami memasuki kampung. Beberapa meter setelah melewati gapura, seorang warga yang mengendarai sepeda motor berhasil kami cegat untuk meminta informasi tentang Kampung Kemuning. Olehnya kami diarahkan untuk bertemu dengan kepala dusun Kemuning.

Suhardi, Kepala Dukuh Kemuning

Sesuai petunjuk, kamipun berhenti di depan sebuah rumah berukuran sedang dengan arsitektur minimalis. Sebuah bangunan kecil menempel di tembok pembatas area jalan yang tidak lain adalah sebuah warung sembako, berdiri terpisah dari rumah di belakangnya. Saya berjalan mendekati warung, dan seorang lelaki bersinglet putih menyambut kami dengan ramah. “Monggo mas, pinarak” (Silahkan masuk). Sapanya dalam bahasa Jawa Krama. “Nggeh, pak”. Jawabku singkat. Meskipun saya orang Flores dan saat ini juga tinggal di Flores, tetapi kemampuan saya berhasa Jawa bahkan krama sekalipun masih lumayan bagus untuk ukuran seseorang yang bukan orang Jawa.

Lelaki paruh baya itu adalah kepala Dusun / Dukuh Kemuning bernama Suhardi. Ia keluar dari warung dan mengajak kami untuk masuk dan duduk di beranda rumah. Sejurus kemudian ia menghilang ke balik pintu rumah dan kembali dengan mengenakan kaos oblong tipis berwarna putih yang telah mulai tampak lusuh. Suasana di halaman rumah pak Suhardi sangat sejuk. Pohon – pohon Mangga yang sedang berbuah berderet di samping warung. Polibag – polibag berisi tanaman sayur – sayuran tertata rapi pada undakan di depan rumah. Sebuah kolam kecil berisi ikan memanjang di samping beranda dan di bagian depannya ditutupi botol – botol plastik bekas yang berisi aneka tanaman, bergelantungan  pada tali yang sengaja dirangkai dengan apik.

Sayur Kampung ASTRA Kemuning
Tanaman Sayuran dalam polibag

“Ini hidroponik mas.” Katanya rentengan botol plastik bekas yang sedang saya potret. Saya hanya mengangguk – angguk. Pak Suhardi rupanya sudah menduga jika saya adalah seorang blogger yang sedang ingin menggali informasi tentang Kampung Berseri ASTRA dusun Kemuning. Sesi perkenalan pun berlangsung singkat. Darinya kami mendapat informasi kalau beberapa waktu lalu, sekelompok blogger dari Jakarta mendatangi Kemuning, sehingga dia segera mengetahui siapa dan untuk apa kami datang ke Dusun kecilnya itu.

Kampung Berseri Astra

Empat Pilar

Suhardi menuturkan bahwa sistim hidroponik yang sedang kami lihat saat itu merupakan salah satu kegiatan dalam Pilar Lingkungan dari Empat Pilar program CSR ASTRA. Tiga pilar yang lainnya adalah Kesehatan, Pendidikan dan Kewirausahaan.

Tempat Penampungan Sampah

Selain pertanian hidroponik, pengelolaan sampah merupakan salah satu program dalam pilar lingkungan ini. Tidak mengherankan jika kondisi kampung Kemuning tampak bersih dari sampah plastik. Suhardi menunjukkan kepada kami sebuah tempat penampungan sementara untuk sampah plastik yang terletak di samping rumahnya. Onggokan sampah plastik yang kami temukan di sana merupakan hasil pengumpulan dari warga sebelum disalurkan ke bank Sampah di Patuk. Kegiatan pengumpulan sampah ini diberi nama “Sampahku Amalku”. Selain mengumpulkan sampah plastik ke bank sampah, program lain adalah pembuatan pakan ikan dari sampah makanan rumah tangga. “Itu vidionya udah dibikinin sama anakku, mas. lihat aja di Youtube.” Tambah Suhardi, sambil melempar senyum bangga.

Dari Pilar Kesehatan, ASTRA secara rutin memberikan banyak pelatihan bagi kader posyandu di Kemuning serta tambahan asupan gisi untuk ibu hamil and balita hingga secara berkala mendatangkan dokter – dokter muda dari Universitas Gajah Mada. Suhardi mengakui jika program dari pilar kesehatan ini memberikan banyak sekali manfaat bagi warga Kemuning, khususnya melalui pelatihan – pelatihan dan penyuluhan yang mereka terima. “Kadang kan banyak tuh (pelatihan) yang nggak kita dapat dari dinas (kesehatan) atau puskesmas. Yah kita dapatnya dari (program pilar kesehatan) ini.” Akunya.

Jenang Pisang Uter Kemuning

Di tengah perbincangan, Suhardi menunjukkan kepada saya salah satu makanan karya warga Kemuning yakni Jenang pisang. Makanan bertekstur kenyal, berwarna coklat gelap dengan rasa yang manis ini merupakan jajanan berbahan dasar pisang uter.  Lengkap dengan kemasan mika yang telah ditempeli stiker berwarna kuning bertuliskan ‘Jenang Pister’ yang merupakan singkatan dari Jenang Pisang Uter. Jenang beserta beberapa jajanan khas Gunung Kidul seperti Gaplek Geprek dan Lempeng Singkong adalah produk olahan warga kemuning yang menjadi bagian dari program pilar Kewirausahaan. Selain melatih keahlian dalam membuat produk olahan, ASTRA juga memfasilitasi warga Kemuning dalam membuat kemasan, branding hingga marketing. Meski saat ini, warga masih mengalami beberapa kendala dalam berproduksi, Suhardi sangat optimis UMKM makanan olahan ini akan berkembang pesat di masa yang akan datang.

Beasiswa, pembinaan program Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD dan pembangunan gedung PAUD merupakan program dari pilar terakhir yakni Pilar Pendidikan.

Berjuang Menjadi ‘Ada’

Berbicara tentang Telaga Kemuning, Suhardi bercerita dengan runtut kisah tentang Kemuning dalam balutan legenda perjuangan berbau mistis. Sebelumnya, ia menunjukkan kepada saya pohon Kemuning (Murraya paniculata) yang ditanam di halaman rumah. “Bunganya putih. Kecil – kecil, tapi harum sekali.” Jelasnya.

Suhardi bertutur, kala itu sekitar tahun 1755 – 1757, perang melawan VOC / Belanda berkobar di dalam wilayah kerajaan Mataram, dan di saat yang bersamaan kerajaan Mataram mengalami perselisihan internal yang menyebabkannya pecah menjadi tiga bagian secara beruntun. Melalui perjanjian Giyanti pada tahun 1755 dibagi menjadi dua bagian yakni kerajaan Mataram Barat yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi dan Mataram Timur yang dipimpin oleh Pakubuwana III. Kerajaan Mataram Barat berubah nama menjadi Kasultanan Ngayogyakarta dan Pangeran Mangkubumi berubah gelar menjadi Sultan Hemengkubuwana I. Kerajaan Mataram Timur berubah nama menjadi Kasunanan Surakarta yang dipimpin oleh Pakubuwana III. Perpecahan terus berlanjut hingga pada tahun 1757, Kasunanan Surakarta pun pecah melalui perjanjian Salatiga yakni Kasunanan Surakarta itu sendiri dan Mangkunegaran yang dipimpin oleh Mangkunegara I.

Pada masa perpecahan terakhir itulah seorang abdi Keraton bernama Saridjan berhijrah mencari tempat tinggal yang baru untuk bersembunyi dan melanjutkan perjuangan melawan VOC. Daerah yang dipilihnya adalah lembah terpencil di balik perbukitan sisi Tenggara Yogyakarta yakni Kemuning. “Waktu itu nama Kemuning belum ada..” Tambah Suhardi.

Kemuning di Dusun Kemuning
Kemuning di Dusun Kemuning

Pengejaran terhadap Saridjan tetap dilakukan oleh VOC. Pertempuran di kawasan hutan tempatnya bersembunyi membuat kuda kesayangannya tewas dan jejak kaki kudanya masih ada hingga saat ini yakni berupa tapak kuda di atas bebatuan sebelum memasuki kampung Kemuning. Kondisi yang makin tidak aman bagi keluarga dan para pengikutnya mendorong Saridjan bertapa mencari perlindungan, dan namanya berubah menjadi Resawijaya. Untuk melindungi tempat tinggalnya sebuah pohon Kemuning raksasa siluman tumbuh di tengah persembunyian. Sejak saat itu, kawasan itu disebut Kemuning, karena pada saat diserang, kawasan itu berubah menjadi hutan Kemuning.

Ketika situasi menjadi aman, Resawijaya dan keluarga serta para pengikutnya memulai kehidupan baru sebagai petani, tetapi mereka mengalami kendala karena kekurangan air. Maka Resawijaya kembali bertapa hingga memunculkan sebuah sumber air di sebuah telaga kecil yang berjarak 100an meter sebelah utara Telaga Kemuning yang sekarang. Sedangkan Telaga Kemuning kini adalah hasil luapan telaga Kemuning yang asli.

Menurut Suhardi, peruntukan dusun Kemuning sebagai tempat persembunyian di masa silam membuatnya cukup susah untuk didatangi. Sesungguhnya saya juga mengakui jika tidak mudah untuk mencapai Dusun Kemuning khusunya bagi orang baru seperti saya. Kita harus melewati punggung bukit yang dengan jalan berkelok – kelok, juga menyusuri lembah sempit yang berputar dari Tenggara ke Barat Laut. Selain jalanan kecil yang membingungkan, tidak ada satupun papan penunjuk arah yang bisa dijumpai di luar dusun Kemuning. Yah, Kemuning memang layak menjadi tempat bersembunyi!

Lokasi dusun Kemuning yang tersembunyi hanya menguntungkan di jaman perang, sementara pada masa kemerdekaan hingga saat ini, justeru menjadi kendala dari sisi percepatan pembangunan. “Nggak banyak yang tahu mas, biarpun dekat sama jalan raya itu di Bunder.” Keluh Suhardi.

Saat ini, Suhardi dan warga Kemuning lainnya merasa beruntung menjadi salah satu Kampung Binaan ASTRA melalui program Kampung Berseri ASTRA. Meski baru berjalan kurang dari 3 tahun, sekarang Kemuning sudah mulai dikenal oleh banyak orang, bukan hanya msyarakat lokal tetapi orang – orang dari berbagai daerah di Indonesia. Perjuangan dari ‘tiada’ menjadi ‘ada’, adalah salah satu tekad warga Kemuning. “Nggak usah dapet apa – apa, mas. Dikenal dan dikunjungin kaya sekarang aja udah senang banget.” Pungkas Suhardi.

Asa Yang Bersemi

Kisah legenda Kemuning adalah salah satu daya tarik yang ingin ditawarkan oleh Dusun Kemuning bagi para pengunjung yang datang berwisata ke Kemuning. Saat ini, warga kemuning bersama ASTRA sedang mempersiapkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang diharapkan akan siap menjelang akhir tahun.

Napak tilas sejarah Kemuning sendiri tidak hanya menawarkan kisah lisan. Para pengunjung bisa mengikuti kisah Resawijaya sambil mengunjungi beberapa situs penting seperti gua tempat Resawijaya bersembunyi, makam  misterius di tengah kampung yang menurut warga masih simpang siur antara makam Kyai Kendil atau seorang prajurit Majapahit yang bernama Surawani, juga tapak kuda di atas 5 batu dan waduk Kemuning itu sendiri.

Telaga Kemuning, Gunung Kidul
Telaga Kemuning

Selain situs yang terkait napak tilas sejarah, beberadaan hutan edukasi Wanagama di sisi selatan dusun juga merupakan daya tarik bagi pengunjung yang datang ke Kemuning. Atmosfir dusun Kemuning yang hening di bukit kecil dan asri dilingkari hutan Kayu Putih dan pemandangan lanskap ke arah barat dan utara menjanjikan pengalaman berwisata yang mengesankan.

Warga Kemuning sendiri siap menerima para pengunjung untuk menginap di rumah – rumah warga sambil merasakan denyut kehidupan warga Kemuning dan mencicipi makanan lokal yang syarat filosofi kehidupan seperti Gaplek singkong yang bermakna hidup yang penuh perjuangan dan ujian.

Saat ini, ada setumpuk asa yang sedang bersemi di Kemuning. Suhardi yakin, bersama program Kampung Berseri ASTRA, Kemuning akan mencapai kemandiriannya. Untuk itulah mereka tidak berhenti menemukan semakin banyak potensi yang ada di Kemuning, baik potensi alam, manusia dan budayanya.

“Kami nggak nyangka loh mas, Kemuning bakal jadi kaya gini..” Ungkap Suhardi memulai kisah terpilihnya Kemuning menjadi salah satu dari 51 KBA saat itu tahun 2016, dan kini tahun 2018 menjadi 77 KBA di seluruh Indonesia.

Kisahnya berawal dari program penghijauan yang dilakukan ASTRA bersama UGM di hutan edukasi Wanagama, di sisi selatan Kemuning. Saat itu, dusun Kemuning membutuhkan bantuan untuk perbaikan pendopo pertemuan dusun yang dibangun oleh Suhardi secara pribadi. Perwakilan UGM menyarankan agar Dusun Kemuning mengajukan diri sebagai salah satu Kampung Binaan Astra. Gayung bersambut, tidak lama setelah proposal disampaikan, perwakilan ASTRA melakukan verifikasi langsung ke Kemuning dan pada tahun yang sama langsung dibentuk tim Kampung Berseri ASTRA (KBA) Dusun Kemuning.

Kampung Berseri Astra Yogyakarta

Selain berbagai program pelatihan dan pemberdayaan, ASTRA juga telah membangun beberapa fasilitas penting bagi warga antara lain pendopo pertemuan Dusun, bangunan PAUD dan fasilitas di kawasan wisata Telaga Kemuning.

Pendopo di Telaga Kemuning
Pendopo di Telaga Kemuning

Berbicara tentang partisipasi masyarakat, Suhardi mengakui tidak semua warga Kemuning menerima program ini dengan antusias. Ada beberapa orang, meski tidak banyak, yang pesimis dan apatis pada berbagai program KBA Kemuning. “Yah namanya juga ngelola banyak kepala, mas. Yah gampang – gampang susah. Tapi nanti juga kalau udah lihat hasilnya pasti berubah pikiran. Initnya sabar dan tekun aja.” Pungkasnya yakin.

Melihat apa yang sudah dibuat ASTRA di Kemuning dan optimisme pak Suhardi dan warga Kemuning, saya sendiri yakin bahwa dusun kecil berpenduduk 357 jiwa dari 117 kepala keluarga ini akan mencapai kemandiriannya dalam waktu yang tidak lama lagi.

Untuk kepentingan pemasaran di dunia maya, Dusun Kemuning mengambil nama “Oase Gunung Sewu Kemuning”. Hal ini didasari karena hasil pencarian oleh mesin pencari di internet dengan kata kunci ‘Kemuning’ lebih banyak didominasi oleh kawasan wisata kebun teh dan juga tanaman Kemuning itu sendiri. Nah, ini hal yang barangkali tidak banyak dipikirkan oleh orang – orang dalam memasarkan sesuatu di dunia digital saat ini. Jika Kemuning yang dusun terpencil itu telah sampai pada level ini, maka nyaris tak ada lagi hambatan berarti bagi mereka untuk menyemai asa hingga tumbuh rindang menaungi masa depan Kemuning.

Sisi Lain Kemuning

Kemuning adalah bagian dari desa Bunder kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada masa sebelum manjadi Kampung Berseri Astra, Kemuning hanya dikenal karena telaganya. Telaga alam Kemuning sendiri menjadi Oase di tengah gersangnya kawasan bukit Kemuning dan sekitarnya.

Pada tahun 2000, dinas Pekerjaan Umum kabupaten Gunung Kidul mengubah telaga yang alami itu menjadi waduk permanen demi mempertahankan kapasitas air di musim kemarau. Sebelum dijadikan waduk, telaga Kemuning selalu mengering di puncak kemarau. Tetapi saat ini, airnya selalu ada sepanjang tahun.

Dusun Kemuning sendiri dikelilingi oleh lahan milik dinas kehutanan dan perkebunan DIY. Masyarakat Kemuning mengolah lahan pertanian di bawah tegakan pohon Jati dan Kayu Putih. Hal ini memberikan keuntungan baik bagi warga yang memang membutuhkan lahan untuk bertani dan juga bagi dinas Kehutanan yang tidak harus merawat pohon Jati dan Kayu Putih di sana.

Selain semua potensi yang telah lama disadari oleh warga Kemuning, ada satu potensi lain yang membuat saya harus bertahan berlama – lama menjelajahi hutan Jati dan perkebunan warga di Kemuning, yakni keanekaragaman burung di sana. Dalam tempo kurang dari satu jam, di areal yang relatif  sempit (kurang dari 100 meter persegi) saya mengidentifikasi 21 jenis burung, termasuk beberapa di antaranya adalah endemik Jawa antara lain; Cabai jawa (Dicaeum trochileum), Burung Madu Jawa (Aethopyga mystacalis) dan Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris). Potensi burung di alam Kemuning adalah asa yang lain bagi bangkitnya pariwisata dusun Kemuning.

Anugerah Pewarta Astra 2018

Matahari di barat telah menyentuh rerantingan Jati. Bulir – bulir perak masih bergalantungan di ujung daun, luput dari terpaan angin senja yang membasuh Kemuning. Dusun yang tadinya lengang perlahan hidup, lantaran para patani telah kembali ke dusun. Anak – anak bermain riang di jalanan kampung yang sepi dan masih basah oleh hujan. Kesejukan menyusup masuk ke dalam hirupan nafas. Meski tak tercium wangi bunga Kemuning, tetapi aroma dusun yang terpencil dan asri kuat terhirup. Wangi dedaunan jati yang kering dan asap api dari dapur – dapur warga melukis rasa yang satu, Damai!

Diiringi sapuan lembut angin yang menyisir bukit, dan bilasan sinar lembayung pucat mentari senja, kami meninggalkan Kemuning, dusun yang kini perlahan namun pasti, telah menjadi ADA!

Kampung-berseri-astra
Telaga Kemuning di Kampung Berseri Astra Dusun Kemuning

Kampung Berseri ASTRA Kemuning

Indonesia Satu

Please follow and like us:
error0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*