Ide Buruk Memberi Makan Monyet Di Ranamese

Monyet Ekor Panjang / Long - tailed Macaque (Macaca fascicularis)

Siapa tak kepincut melihat tingkah lucu keluarga Monyet Ekor Pajang (Macaca fascicularis) yang duduk bergerombol di pinggir jalan di Ranamese, kawasan TWA Ruteng? Mereka duduk berkelompok di beberapa titik kumpul dengan berbagai usia. Ada monyet – monyet dewasa yang biasanya mengambil jarak yang tak terlalu dekat dengan badan jalan. Ada juga monyet remaja yang dengan keberanian ‘darah muda’, masuk hingga ke badan jalan. Ada induk yang menggendong bayi monyet menggantung di bawah perutnya dengan pelukan kokoh.

Kebiasaan monyet – monyet ini dimulai pada sekitar 2014 – 2015.  Tidak ada yang tahu pasti, siapa yang memulai, entah manusia entah monyet. Yang jelas, bahwa kebiasaan monyet – monyet ini nongkrong di pinggir jalan trans Flores demi mendapat makanan yang dilempar para pengguna jalan baik saat melintas maupun dengan sengaja berhenti di lokasi tertentu.

Hingga awal 2019, jumlah titik berkumpulnya para monyet terus bertambah hingga menjadi lebih dari 10 titik. Perkiraan jumlah monyet yang saat ini menggantungkan hidupnya pada pemberian pengguna jalan mencapai lebih dari 100 ekor. Semakin banyak Monyet yang menunggu di pinggir jalan, para pengguna jalan semakin senang dan terhibur. Tak banyak yang tahu bahwa kebiasaan memberi makan pada monyet – monyet ini adalah awal dari bencana yang besar, baik bagi Monyet itu sendiri maupun bagi keselamatan manusia.

Tanpa informasi yang benar, aktivitas pemberian makan ini akan terus berlanjut dan memberikan dampak yang semakin buruk. Dari pengamatan setahun belakangan, beberapa kelompok monyet telah memindahkan daerah teritorinya secara permanen ke tepi jalan raya. Hal ini terlihat dari durasi mereka berada di tepi jalan yang dimulai dari pagi hingga sore hari. Perubahan wilayah teritori ini membuat monyet – monyet ini menjadi terasing dari teritori alaminya.

Ketika monyet telah  terasing dari teritori alami, itu artinya mereka telah kehilangan sifat alami mereka dalam mempertahankan hidup. Kemampuan bertahan hidup di alam liar adalah kunci utama bagi kelangsungan hidup para Monyet di Ranamese. Pola survival binatang ini akan mengalami perubahan drastis. Mereka menjadi hewan yang lemah. Mereka tidak lagi sanggup menemukan sumber nutrisi dari alam tetapi bergantung sepenuhnya pada manusia. Ketergantungan pada asupan makanan pemberian manusia membuat mereka berubah menjadi agresif.  Tatkala mereka tidak kunjung mendapatkannya, atau jumlahnya tak seimbang, maka mereka tidak cangggung – canggung untuk menyerang manusia yang ada di sekitar mereka demi mendapatkan makanan.

Bencana lain adalah masuknya bahan kimia dari makanan kemasan yang diberikan. Dari pengamatan, jumlah makanan yang diberikan kepada monyet – monyet di Ranamese, sebagaian besarnya merupakan makanan berbahan kimia. Asupan bahan kimia ini tentu saja menurunkan daya tahan tubuh para Monyet dan juga memberikan dampak alergi yang bisa membunuh mereka. Daya tahan tubuh yang menurun, membuat Monyet – monyet ini rentan terhadap serangan virus dan akhirnya jatuh sakit. Penyebaran penyakit bukan hanya membunuh Monyet itu sendiri dan kelompoknya, tetapi terbuka kemungkinan akan ditularkan kepada manusia. Jarak hutan dengan pemukiman warga, serta tingginya aktivitas manusia di sekitar para monyet membuat penularan penyakit menjadi sangat mudah. Hal ini bisa kita pelajari pada pola penyebaran penyakit rabies.

Sifat agresif yang meningkat pada para Monyet tidak hanya dalam konteks mendapatkan makanan dari manusia sebagai pemasok utama, tetapi juga kepada monyet lain. Dalam hal ini berhubungan dengan usaha perebutan teritori. Lokasi di mana aktivitas pemberian makanan sangat rutin, akan menjadi wilayah rebutan antar-kelompok. Perkelahian tidak bisa dihindarkan. Jika kedua kelompok Monyet sama – sama agresif, maka sudah dipastikan bahwa perebutan teritori pasti akan membuat monyet – monyet ini saling membunuh.

Melihat prilaku sebagian Monyet yang tidak canggung menunggu di badan jalan, akan banyak di antara mereka yang tewas terlindas kendaraan yang melintas. Kondisi alam hutan Ranamese yang sering berkabut di sore hari, membuat jarak pandang pengemudi terbatas. Maka tidak heran pada bulan Oktober 2018 kemarin ditemukan dua ekor monyet tewas terlindas kendaraan bermotor di utara Danau Ranamese.

Selain berhubungan dengan Monyet, aktivitas pemberian makanan di Ranamese telah menyumbang sampah plastik yang begitu banyak. Para pengguna jalan sebagian besar melempar makanan dalam kemasan plastik kepada Monyet – monyet ini, dan setiap hari jumlah sampah plastik di tepi jalan sekitar hutan danau Ranamese terus bertambah. Sampah plastik ini bukan hanya ditemukan di tepi jalan, tetapi oleh Monyet – monyet ini dibawa hingga ke dalam hutan.

Hingga saat ini, tidak ada pemberitahuan atau peringatan bagi pengguna jalan untuk tidak memberi makan pada Monyet – monyet ini. Ketika saya berbincang dengan serombongan pengguna jalan yang sedang berhenti di sekitar Ranamese dan asyik memberikan makanan kepada Monyet – monyet di sana, mereka mengaku terkejut mengetahui bahaya dari aktivitas itu. Mereka juga mempertanyakan kepada saya, mengapa tidak ada tanda larang atau peringatan di kawasan itu, jika memang berbahaya.

Pengalaman buruk yang terjadi di Hutan Monyet Ubud – Bali, dan di hutan Merbabu seharusnya sudah cukup menjadi pelajaran bagi para pengguna jalan yang melintasi Ranamese, agar menghentikan aktivitas pemberian makan ini. Selain berbahaya bagi kelangsungan hidup Monyet, ide pemberian makan ini akan menciptakan peperangan antara manusia dengan monyet, dan membawa bencana penyebaran penyakit berbahaya dari Monyet ke manusia. Monyet – monyet yang berseliweran di badan jalan juga akan menjadi sumber kecelakaan lalu lintas bagi pengguna jalan.

Please follow and like us:
error0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*