Inisiatif Warga Kampung Mbeling Menyelamatkan Hutan Ulayat

Kampung Mbeling
Kampung (eco village) Mbeling, Manggarai Timur, NTT

Matahari pagi bersinar cerah, Selasa pagi 18 Maret 2014. Mbeling, sebuah desa 15 km dari Borong, ibukota kabupaten Manggarai Timur, NTT akan mencatat sejarah penting hari ini, terkait usahanya menyelamatkan alam di sekitar desa. Sebelumnya di rumah adat Gendang Tuwa pada Minggu sore 16 Maret 2014, masyarakat Mbeling sepakat untuk melakukan revisi atas batas-batas hutan ulayat yang menjadi bagian dari wilayah adat (gendang) Tuwa.

Hutan-hutan ulayat ini meliputi empat kawasan mata air yakni Wae Mulu (pusat upacara adat Barong Wae), Pong Rebak, Wae Uwu dan Pong Nanga. Pada hari selasa yang bersejarah ini, masyarakat kampung di bawah pimpinan kepala kampung (Tu’a Golo) Wilibrodus Sebar, dan tokoh-tokoh masyarakat, beramai-ramai menuju mata air Wae Mulu di sisi utara kampung tradisional Tuwa-Mbeling. Di Wae Mulu ini, Tu’a golo melakukan ritual sederhana dengan menaruh telur dan sirih pinang sebagai sesembahan, mohon ijin untuk melakukan kegiatan di mata air baik Wae Mulu maupun tiga mata air lainnya. Setelah melakukan ritual sederhana, masyarakat mulai membuat batas-batas sesuai dengan kesepakatan bersama.

Batas-batas yang dimaksud adalah mengembalikan beberapa bagian wilayah mata air yang selama ini dirambah dan dijadikan kebun kopi, cengkeh dan sawa, agar kembali menjadi wilayah hutan ulayat. Proses di sini berlangsung tanpa hambatan. Waktu yang dihabiskan juga kurang dari 1 jam saja! Semua batasnya diberi tanda hidup berupa stek pohon gamal dan dadap. Beberapa warga yang sudah membawa bibit pohon, langsung ditanam di area mata air dalam batas yang sudah dibuat bersama.

Perjalanan berikutnya menuju Pong Rebak, di sebelah barat laut kampung. Ini adalah kawasan mata air dengan kondisi hutan yang sangat kritis. Perambah menebang habis pohon hingga ke mata air. Hutan yang dahulunya asri, kini gersang memilukan. Padahal ini adalah sumber air utama penyangga pertanian sawah penduduk kampung. Sampai di Pong Rebak, matahari mulai terik, dan hal ini mempengaruhi psikologis kami yang ikut dalam kegiatan ini. Tidak seperti di Wae Mulu, proses di sini berlangsung cukup alot.

Hal ini terkait dengan batas – batas yang disepakati, semuanya meliputi sawah yang ada di sisi utara dan selatan mata air. Saya, selaku fasilitator kegiatan, tentu saja merasa tertekan. Perdebatan yang terjadi kian memanas, seiring matahari semakin menyengat. Ketegangan akhirnya mereda dan berakhir dengan kesepakatan yang baik. Beberapa petak sawah milik masyarakat di sekitar mata air, kebun kakao, kopi, dan cengkeh ditetapkan untuk kembali menjadi kawasan hutan.

Dari Pong Rebak, perjalanan dilanjutkan ke Wae Uwu. Kawasan ini merupakan kawasan paling terlindungi meski luas areanya tidak seberapa. Persoalan di sini adalah sengketa batas antara pemilik lahan sisi timur dan sisi barat. Proses di sini diwarnai dengan rapat singkat, sebab salah satu pemilik lahan tidak ada di tempat. Setelah melalui pertimbangan, akhirnya batas hutan tetap dibuat dengan kesepakatan bahwa masih mungkin untuk revisi, ketika pemilik lahan merasa keberatan. Keputusannya tidak menunggu lama, sebab hari itu juga, sekembalinya kami ke kampung, pemilik lahan akhirnya menyepakati batas yang sudah dibuat.

Giliran terakhir adalah hutan ulayat terluas yakni Pong Nanga. Hutan ini berukuran 60 x 300 m2. Dengan ukuran sebesar itu, maka jumlah pemilik lahan di sekitar hutan juga cukup banyak yakni 11 orang. Pong Nanga ini menjadi sasaran perambahan hingga hari menjelang kegiatan. Kondisinya yang dulu asri kini terancam lenyap. Pong Nanga merupakan habitat dari berbagai jenis burung, dan juga sumber mata air yang penting bagi masyarakat. Sudah lewat tengah hari dan kondisi masyarakat yang hadir sudah lapar dan lelah. Hujan juga mulai turun. Penetapan batas hanya untuk sisi sebelah utara, sedangkan sebelah selatannya, masih menunggu kegiatan lanjutan. Di bawah guyur hujan, masyarakat dan tetua adat terus menancapkan batas sesuai yang disepakati.

Hari yang amat bersejarah, tentu saja. Selama berpuluh-puluh, bahkan lebih dari seratus tahun masyarakat menikmati berkah dari kekayaan alam Mbeling yang asri, selama itu pula mereka terus merambah hutannya, tetapi dengan penuh kesadaran akan lahirnya ancaman krisis ekologi di hari-hari mendatang, mereka bergerak bersama untuk menyelamatkannya. Langkah yang hebat! Proses yang masih harus terus berjalan, dengan semangat yang harus terus menyala, itulah tanggung jawab yang ada di pundak masyarakat Mbeling-Kampung Ekologis. Sebagai masyarakat yang telah mencanangkan dirinya sebagai masyarakat sadar lingkungan, keputusan merevisi batas hutan ulayat adalah langkah nyata dan tepat. Ini adalah warisan terbaik yang bisa dibanggakan kepada anak cucu suatu kelak.

Tanggung jawab rehabilitasi dan perlindungan kini menanti. Masyarakat tak perlu khawatir, karena kaum muda mereka telah bersatu dalam wadah Sahabat Alam Taruna Garda Tirta, dan telah melakukan tindakan nyata berupa kegiatan reboisasi di beberapa titik. Ini adalah indikasi yang nyata bahwa Mbeling sebagai kampung ekologis, telah melangkah maju. Ketika pemerintah apatis terhadap kelestarian alam, masyarakat sadar, bahwa mereka tak bisa berharap banyak, kecuali mereka sendiri bergerak maju

Please follow and like us:
0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*