Jalan Memang Berliku Tapi Yakin ‘kan Sampai (refleksi singkat semangat konservasi BBKSDA NTT)

Konservasi BBKSDA NTT
Suasana Diskusi Santai Persiapan Materi Mubes Tiga Pilar Pengelolaan TWA Ruteng Tampak: Kepala BKSDA NTT (batik), Kepala TWA Ruteng (Rompi), Yovie Jehabut (Hitam), Suherman / TN Louser ( Jaket), Aktivis lokal (membelakangi kamera) foto: BKSDA NTT

Kerja konservasi adalah kerja kemanusiaan. Kerja memanusiakan manusia – Wiratno

Hari masih gelap saat saya dibangunkan oleh petugas piket di kantor BKSDA Wilayah III Ruteng. Jam di dinding menunjuk beberapa garis kecil setelah angka 04.30, udara dingin menyengat sampai ke sumsum tulang, maklum ini Ruteng kota di dataran tinggi dengan ketinggian + 1200 m dpl dengan suhu 14 – 26 derajat celcius dan kelembababan mencapai 95 persen. Saya bergegas melipat selimut, menenteng bantal yang saya bawa dari kamar gues house BKSDA ke sofa ruang tamu pimpinan tempat saya berbaring, di meja belakang pak Jun sibuk dengan berkasnya, maklum beliau mengurus bidang administrasi.

Kurang dari 4 jam adalah waktu tidur malam yang relatif sedikit. Tak mengapa, karena sebentar lagi kami harus meninggalkan kantor BKSDA Wilayah III Ruteng, menuju desa Munde, kecamatan Elar, Manggarai Timur. Sampai di gues house, kondisi sepi. Di meja penuh dengan makanan siap santap. Saya menyeduh secangkir teh, melahap separuh piring makanan. Dari jumlah menu dan porsi yang ada di hadapanku menunjukkan kalau Pak Wir (panggilan akrab Ir. Wiratno, Msc) kepala Balai Besar KSDA NTT menyantap menu sahur persiapan puasa hari ini dengan porsi mini. Porsi dan jumlah menu yang masih utuh ini saya habiskan semaksimal yang saya sanggup sebelumnya menengok ke arah taman yang masih gelap, mungkin ada yang melihatku melahap makanan dengan porsi maksimal di hari sepagi ini. Mumpung.

Tepat saat saya keluar dari gues house, Pak Afrid kepala resort TWA Ranamese memasuki gerbang komplek kantor mengendarai mobil patroli Polhut. Dengan gayanya yang khas ia mulai berulah membangunkan para staf BKSDA yang ikut menjadi rombongan ke Munde, tak terkecuali pak Ora Johanes sang kepala bidang konservasi wilayah II Flores. Satu demi satu anggota rombongan berkumpul. Meski agak terlambat dari jadwal yang direncanakan, akhirnya rombongan meninggalkan gerbang kantor BKSDA Ruteng pukul 06.07. Rombongan terbagi ke dalam 2 kendaraan, yakni Panther Touring dan kendaraan patroli Polhut. Menembus udara dingin, kami bergerak ke arah timur meninggalkan kota ruteng yang menuju wilayah Manggarai Timur.

Sampai di Mano, saya yang semula menumpang Panther Touring bersama Pak Wir dan Pak Ora Johanes minta injin untuk pindah ke kendaraan patroli yang terbuka dengan alasan agar bisa leluasa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, maklum ini adalah perjalanan perdana ke wilayah itu. Keputusan yang tidak salah! Sepanjang perjalanan saya yang duduk di bagian belakang dengan Pak Iren dari Resort TWA Ranaka benar-benar leluasa menikmati perjalanan.

Menyusuri jalan Ruteng-Elar yang membelah kawasan hutan taman wisata alam ruteng dengan keanekaragaman keindahan di dalamnya. Pohon-pohon khas hutan hujan yang di selimuti lumut bergelantungan, burung yang berkicau riuh, terbang menerobos dahan-dahan pepohonan. Kabut di lembah, dan bercak sinar matahrai pagi yang menyapu pucuk-pucuk pohon. Indah sekali. Perjalanan menelusuri lereng-lereng terjal, sesekali berpapasan dengan bus kayu yang biasa disebut oto kol dengan sedikit penumpang.

Bercerita di sepanjang perjalanan tentang orang-orang Manggarai yang hasil kopinya menurun drastis beberapa tahun terakhir sehingga jarang sekali kita menjumpai pemandangan seperti di tahun 90-an di mana pada bulan Juni sampai Oktober orang beramai-ramai ke Ruteng untuk menjual hasil kopi mereka. Sekarang pemandangan itu nyaris hilang. Tak dijumpai oto kol (Sebutan untuk truk kayu) yang mengangkut tumpukan karung kopi, juga hari ini. Anomali cuaca yang semakin menjadi karena perubahan iklim ditengarai sebagai penyebab paling dominan, ditambah dengan pengelolaan lahan kopi yang masih tradisional membuat produktifitas kopi menurun dari tahun ke tahun. Sebagai pengingat, saat mubes penerapan 3 pilar pengelolaan kawasan Taman Wisata Alam Ruteng di Manggarai dan Manggarai Timur terungkap salah satu penyebab aksi perambahan hutan TWA oleh masyarakat adalah produktifitas di lahan pertanian mereka menurun, sehingga mereka mencari lahan baru yang masih perawan untuk dijadikan kebun kopi.

Di samping kondisi hutan yang asri, di beberapa titik sepanjang pejalanan kami mendapati kondisi hutan kritis yang telah dibabat lalu ditinggalkan. Beberapa di antaranya telah dilakukan reboisasi seperti di sekitar kawasan danau Rana Poja, beberapa yang lainnya sedang dalam proses rehabilitasi. Lebih dari 2 jam sudah kami dalam perjalanan, angin bertiup kencang. Itu tandanya kami sedang berada di puncang salah satu gunung. Jalan yang berkelok tajam tidak memberikan pak Afrid, sang nahkoda untuk menginjak pedal gas lebih dalam. Ketika kami mulai menuruni sisi timur bukit, dari ketinggian kami mendapati hamparan lembah hingga jauh. Beberapa wilayah dirimbuni hutan kebiruan, beberapa lagi padang savana, dan pencaran perkampungan di sekitar lembah. Rupanya kami memasuki kecamatan sambirampas, Manggarai Timur.

Setelah melahap semua tikungan berkelok menurun, kami mendapati mobil yang dikendarai Pak Wir dan Pak Ora berhenti di depan banguna yang masih baru. Itu adarah pos TWA Satarnawang, yang baru dibuka dalam 2 bulan terakhir dan masih berstatus sebagai ranting kantor TWA Ranaka di Robo. Kami akhirnya berhenti melihat-lihat kondisi kantor, berbincang dengan petugas yang sedang sibuk melakukan pembibitan tanaman hutan untuk kepentingan rehabilitasi hutan di sekitar kecamatan Sambirampas. Satar Nawang adalah kesempatan terakhir kamimenikmati jalanan yang relatif mulus. 2 kilometer dari pos TWA itu, sebuah pengalaman perjalanan melelahkan dimulai. Jalan beraspal yang rusak parah, sempit dan berkelok tajam.

Menuruni bukit yang terjal lalu mendaki dengan kondisi yang sama. Bunyi batu-batu lepas digilas roda berbaur dengan deru mesin mobil patroli. Beberapa kali kami harus berhenti memeriksa kondisi kendaraan, ketika mendengar bunyi-bunyi mencurigakan. Waktu seperti merangkak pelan di jalan seburuk itu. Kondisi ini sangat memprihatinkan. 4 jam sudah berlalu, kami belum juga sampai. Badan terasa capek, penat. Bisa dibayangkan jika terjadi kondisi darurat, semisal pasien melahirkan yang harus dirujuk ke RSUD Ruteng. Atau pasien-pasien rujukan lainnya.

Memasuki kota kecamatan Elar, koondisinya sama memprihatinkan. Fasilitas umum yang tidak seberapa berdiri di atas luasan wilayah yang relatif sempit dalam cekungan lereng bukit. Linstrik PLN belum sampai ke wilayah ini. Kondisi alamnya sama memprihatinkan. Sawah-sawah di lereng bukit dibiarkan begitu saja saat musim kemarau seperti sekarang karena banyak mata air telah berhenti mengalir. Kejenuhan di kepala mencapai tingkat akut ketika jalanan yang terjal dan kondisi tidak layak berpadu dengan keprihatinan yang tergambar di kiri-kanan jalan. 30 menit dari kota kecamatan Elar, kami sampai di kampung Kaong, Desa Munde, Elar. Lega sekali rasanya. 6 Jam dalam perjalanan yang melelahkan.Kampung Kaong adalah dusun kecil dengan jumlah rumah hanya belasan. Kampung tradisional yang di tengahnya tegak tumbuh pohon beringin dengan akar-akar menutupi batu Compang (altar persembahan adat Manggarai). Di samping cimpang berdiri sebuah Kapela gereja Katolik, yang hari ini dipakai sebagai tempat diselenggarakan kegiatan yang kami hadiri.

Kami langsung disuguhi teh hangat dan berpiring-piring roti. Lebih dari cukup menghapus haus dan lapar dalam perjalanan. Dengan cepat kami melahap sajian selamat datang ini, lalu bergegas menuju kapela, karena acara akan segera dimulai. Acara ini sendiri diselenggarakan oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), dalam rangka mensosialisasikan putusan MK no. 35/PUU-X/2012 terkait Judicial Review atas UU. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Hadir dalam acara ini Pak Wir selaku kepala BBKSDA NTT, Pak Yos selaku Camat Elar, Pak Gunawan selaku Babinsa Elar, Pak Erasmus Cahyadi selaku pemateri dari DPP AMAN, Pak Ferdi selaku ketua AMAN Flores Barat, anggota Aman Flobar, Tokoh-tokoh masyarakat, tokoh adat dan LSM, serta kami yang bukan sebagai apa-apa.

Pihak PEMDA Manggarai Timur yang diundang tak satupun hadir dalam acara penting ini dengan alasan ada acara peluncuran buku milik bupati Yosef Tote. Acara dibuka secara resmi oleh Camat Elar dan sambutan ketua AMAN Flobar, dilanjutkan dengan materi dari Pak Wir dan Sosialisasi putusan MK oleh Pak Erasmus. Isi putusan MK secara singkat adalah pemisahan status hutan Negara dengan Hutan adat. Jika sebelum putusan MK, status hutan adat berada dalam hutan negara, sejak putusan itu ditetapkan maka status hutan adat terlepas dari hutan negara. Dari hasil diskusi, putusan MK ini perlu dibicarakan lebih lanjut di tingkat masyarakat dan ranah tekhnis. AMAN meyakini bahwa SK Bupati bisa menjamin palaksanaan putusan ini, tetapi di lain pihak ada pendapat bahwa SK Bupati tidak cukup dan harus dalam bentuk perda. Diskusi yang panjang dan tak kalah melelahkannya dengan perjalanan yang baru dilalui.

Perdebatan yang membutuhkan integritas tinggi dalam mengurus masalah hutan. Sebagai catatan, di kawasan hutan sisi selatan Desa Munde terdapat bakal Tambang yang akhirnya gagal dieksploitasi lantaran masyarakat dan LSM menolak. Menanggapi putusan MK ini, masyarakat akan melakukan pemasangan plang penanda hutan adat. Tindakan eksekusi ini menimbulkan perdebatan. Pihak AMAN yang diwakili pak Erasmus menyatakan bahwa pemasangan plang sudah bisa dilakukan, tetapi menut Pak Afrid sang kepala Resort Ranamese atas nama pribadi menyatakan bahwa pemasangan plang harus menunggu pembahasan lebih lanjut serta pengukuhan perda. Pak Wir menyarankan agar tidak terburu-buru mengambil sebuah tindakan, termasuk juga para stafnya di BKSDA.

Camat Elar, pak Yos menyatakan pentingnya komunikasi dalam melakukan sesuatu, sehingga tidak terjadi salah paham dan salah stigma. Hal ini juga terkait dengan putusan MK ini, agar komunikasi harus terus terjalin bilamana mau melakukan sebuah tindakan terhadap kawasan hutan.

Pada bagian penutup, giliran saya yang ditodong oleh Pak Wir untuk berbicara. Saya mengambil sudut pandang lain dalam menyampaikan pandangan. Dalam penyampaian yang ringkas, saya ingin semua kembali pada semangat dasar konservasi dalam diri masyarakat adat manggarai, karena catatan sejarah serta warisan budaya orang manggarai dalam pengamatan saya sangat menjunjung tinggi usaha konservasi, oleh karenanya perdebatan tentang status hutan itu milik siapa menjadi tidak penting, yang penting adalah bagaimana pengelolaan hutan itu. Apakah selaras dengan semangat spiritual dan budaya Manggarai atau tidak.

Hari beranjak gelap, jam berbuka puasa bagi beberapa Saudara yang Muslim telah tiba. Acara segera ditutup dan kami bersalaman dengan siapapun. Lelah memang mengakut di tubuh tapi semangat menggelora di dada. usaha konservasi harga mati. Alam harus tetap lestari, meski melalui jalanan berliku, berbagai cara pandang terhadap usaha konservasi, berbagai perdebatan, tapi keyakinan dalam hati pasti semuanya bakal sampai ke tujuan jua, yakni kembalinya keasrian alam Manggarai, sejahteranya masyarakat, dan keabadian warisan budaya manggarai dalam rupa alam yang lestari. Air melimpah untuk kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi.

Selesai berbuka bersama, pukul 18.40 kami meninggalkan Kaong desa Munde, Elar. Menyusup dalam gelap malam masih di jalan yang sama. Lelah tapi ppenuh hikmah bahwa kurban-kurban ini pasti menjanjikan hasil yang gemilang nantinya. Tengah malam menjelang pagi, kami sampai kembali di kantor BKSDA Ruteng. Diskusi hangat tentang perdebatan di Kaong mengalir dari setiap orang yang di sana, Pak Wir, Pak Ora, Pak Jun, Pak Agus, Pak Afrid dan Saya,. Kami melahap malam dengan mimpi, bahwa suatu saat usaha konservasi ini akan berhasil asal dengan niat baik dan hati yang tulus. Tantangan pasti ada, tapi harus sabar dan jangan terpancing, usaha konservasi ini adalah usaha kemanusiaan. Usaha memanusiakan manusia, kata pak Wir meneguhkan kami semua, sembari pengalaman-pengalaman inspiratifnya menggelorakan semangat kami. Konservasi PASTI!

Artikel ini pertama kali saya tulis di rimbakuhijau.wordpres.com

Konservasi NTT

BBKSDA NTT

Please follow and like us:
0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*