Jejak Wallace di Flores; Catatan Yang Terlupakan (Bagian 1)

Alfred R. Wallace dan Flores; Catatan Yang Terlupakan
Peta Perjalanan Alfred Russel Wallace di Indonesia

Rasanya sangat mustahil jika orang yang pernah duduk di bangku sekolah meski hanya sekolah dasar, tidak pernah mendengar nama Wallace atau yang bernama lengkap Alfred Russel Wallace. Dari kerja keras dan dedikasinya kita mengenal teori evolusi Darwin, hingga hari ini.

Alfred Wallace lahir di sebuah desa di Wales, yaitu Desa Llanbadoc pada tanggal 8 Januari 1823. Terinspirasi oleh kisah sejarah perjalanan para naturalis sebelumnya, seperti Alexander von Humboldt, Charles Darwin, dan William Henry Edwards, Wallace memutuskan bahwa ia juga ingin bepergian ke luar negeri sebagai seorang naturalis. Pada tahun 1848, Wallace dan Henry Bates berangkat menuju Brasil dengan kapal Mischief. Tujuan mereka adalah mengumpulkan spesimen serangga dan hewan lainnya di hutan hujan Amazon untuk koleksi pribadi, menjual duplikatnya kepada museum dan kolektor sekembalinya di Britania agar dapat membiayai perjalanan tersebut. Wallace juga berharap dapat mengumpulkan bukti-bukti terkait transmutasi spesies.

Pada tanggal 12 Juli 1852, Wallace kembali ke Britania dengan kapal Helen. Setelah 26 hari di laut, kargo kapal tersebut terbakar dan awak kapal terpaksa meninggalkan kapal. Wallace kehilangan semua spesimen yang ia bawa dalam kapal tersebut, yang mana kebanyakan dikumpulkannya selama dua tahun terakhir perjalanannya. Ia berhasil menyelamatkan beberapa catatan dan sketsa pensil serta sedikit lainnya. Wallace dan awal kapal menghabiskan sepuluh hari di perahu terbuka sebelum diselamatkan oleh kapal Jordeson, yang sedang berlayar dari Kuba menuju London.

Setelah kembali ke Britania, Wallace menghabiskan waktu selama 18 bulan di London dengan hidup mengandalkan pembayaran asuransi atas koleksinya yang hilang dan menjual hasil penjualan spesimen yang telah dikirimkan kembali ke Britania sebelum ia memulai eksplorasi di Rio Negro. Selama periode ini, meski telah kehilangan hampir semua catatan dari ekspedisinya di Amerika Selatan, ia menulis enam makalah akademik (termasuk “On the Monkeys of the Amazon”) dan dua buku yang berjudul Palm Trees of the Amazon and Their Uses dan Travels on the Amazon. Ia juga menjalin hubungan dengan sejumlah naturalis Britania lainnya, terutama Charles Darwin yang kemudian menjadi pencetus teori evolusi yang kita kenal hingga saat ini.

Perjalanan Ke Nusantara

Afred Wallace memulai perjalanannya di Asia Tenggara pada tahun 1854 ditemani seorang asisten bernama Charles Martin Allen. Mereka tiba di Singapura pada tanggal 18 April 1854. (Tentang Charles Martin Allen akan dibahas dalam artikel khusus). Petualangan Wallace dimulai di Singapura, kemudian Malaka dan Serawak lalu menuju Borneo. Penjelajahan di Borneo berakhir pada Januari 1856.

Akhir Mei 1856 Wallace menyeberangi Selat Karimata dan Laut Jawa selama 20 hari menumpang kapal “Kembang Djepoon” dan tiba di Bali pada 13 Juni 1856. (The Malay archipelago, vol. 1, hal. 234). Kali ini ia ditemani oleh dua orang asisten dari Melayu bernama Ali dan Manuel. Setelah melakukan penjelajahan di Bali selama hampir dua bulan (Juni – Juli 1856), Wallace menyeberang ke Lombok. Penyeberangannya ke Lombok adalah salah satu momen paling bersejarah dalam penjelajahan Wallace. Setelah mengamati spesies burung yang ada di Bali, Wallace berpikir bahwa ia akan menemukan spesies yang sama di Lombok, mengingat jaraknya yang sangat dekat, sekitar 17 mil, seperti yang ia ungkapkan;

“On crossing over to Lombock, separated from Bali by a strait less than twenty miles wide, I naturally expected to meet with some of these birds again; but during a stay there of three months I never saw one of them, but found a totally different set of species, most of which were utterly unknown not only in Java, but also in Borneo, Sumatra, and Malacca” (The Malay archipelago, vol. 1, hal. 317)

Burung – burung yang dia maksudkan ditemui di Bali dan ternyata tidak ditemukan lagi di Lombok adalah Burung Manyar Emas (Ploceus hypoxantha), Copsychus amoenus, Chrysonotus tiga, dan beberapa lagi. Sedangkan keberadaan Megapodia dan Kakatua Kecil Jambul Kuning di Lombok dan tidak dijumpainya di Bali benar – benar mengejutkannya. Perbedaan signifikan inilah yang membuat Wallace akhirnya membuat sebuah garis pembatas kawasan biografi, wilayah barat dengan karakter Asia dan sebelah timur berkarakter Australasia. Garis itu membentang dari selat Bali ke utara lalu membatasi Borneo dan Sulawesi. Itulah yang kemudian disebut sebagai garis Wallacea!

Di Lombok, Wallace tidak hanya mengamati flora dan fauna tetapi juga adat – istiadat serta tradisi masyarakat lokal. Dengan gaya bercerita yang renyah dan disisipi beberapa kisah lucu, Wallace berhasil mendeskripsikan Lombok di masa lalu, bahkan mungkin luput dari dokumentasi sejarah umum. Wallace tidak hanya memasukkan hal – hal berbau ilmiah dalam catatannya, tetapi juga hal – hal remeh – temeh juga dicantumkan sebagai bumbu yang menampilkan keaslian dari petualangannya.

Berikut salah satu kisah remeh – temeh yang ditulisnya dalam Malay archipelago, vol. 1, hal. 252-253).

One evening I heard Manuel, Ali, and a Malay man whispering earnestly together outside the door, and could distinguish various allusions to “krisses,” throat-cutting, heads, &c. &c. At length Manuel came in, looking very solemn and frightened, and said to me in English, “Sir—must take care;—no safe here;—want cut throat.” On further inquiry, I found that the Malay had been telling them, that the Rajah had just sent down an order to the village, that they were to get a certain number of heads for an offering in the temples to secure a good crop of rice. Two or three other Malays and Bugis, as well as the Amboyna man in whose house we lived, confirmed this account, and declared that it was a regular thing every year, and that it was necessary to keep a good watch and never go out alone.

I laughed at the whole thing, and tried to persuade them that it was a mere tale, but to no effect. They were all firmly persuaded that their lives were in danger. Manuel would not go out shooting alone, and I was obliged to accompany him every morning, but I soon gave him the slip in the jungle. Ali was afraid to go and look for firewood without a companion, and would not even fetch water from the well a few yards behind the house unless armed with an enormous spear. I was quite sure all the time that no such order had been sent or received, and that we were in perfect safety. This was well shown shortly afterwards, when an American sailor ran away from his ship on the east side of the island, and made his way on foot and unarmed across to Ampanam, having met with the greatest hospitality on the whole route. Nowhere would the smallest payment be taken for the food and lodging which were willingly furnished him. On pointing out this fact to Manuel, he replied, “He one bad man,—run away from his ship,—no one can believe word he say;”

[Suatu malam saya mendengar Manuel, Ali, dan seorang lelaki Melayu berbisik – bisik di luar pintu, dan dapat menangkap beberapa kata; “keris,” “menggorok leher” “kepala” dan sebagainya. Akhirnya Manuel masuk, tampak sangat tegang dan ketakutan, dan berkata kepadaku dalam bahasa Inggris, “Tuan, harus berhati-hati! tidak aman di sini! (ada orang) ingin memotong tenggorokan”. Setelah diselidiki lebih jauh, ternyata si Melayu tadi telah memberi tahu mereka, bahwa Rajah baru saja mengirim pesan ke kampung, bahwa mereka harus mengambil beberapa kepala untuk persembahan di kuil-kuil demi melindungi panenan padi mereka. Dua atau tiga orang Melayu dan Bugis lainnya, serta seorang Amboyna di rumah tempat kami tinggal, membenarkan hal ini dan menyatakan bahwa itu adalah hal biasa setiap tahun, dan bahwa perlu untuk berjaga-jaga dan jangan pernah keluar sendirian.

Saya menertawakan semua itu, seraya mencoba meyakinkan mereka bahwa itu hanyalah dongeng, tetapi tidak berhasil. Mereka semua sangat yakin bahwa hidup mereka dalam bahaya. Manuel tidak mau pergi menembak sendirian, dan saya wajib menemaninya setiap pagi, tetapi saya segera menyelinap darinya di hutan. Ali takut pergi dan mencari kayu bakar tanpa ditemani, dan bahkan tidak mau mengambil air dari sumur, beberapa meter di belakang rumah kecuali dipersenjatai dengan tombak besar. Saya sangat yakin bahwa tidak ada pesan seperti itu yang dikirim atau diterima, dan bahwa kami dalam kondisi sangat aman. Hal ini terbukti beberapa saat setelah itu, ketika seorang pelaut Amerika melarikan diri dari kapalnya di sisi timur pulau, dan berjalan kaki, tanpa senjata, menyeberang ke Ampanam. Bertemu dengan keramahtamahan masyarakat di sepanjang perjalanan. Tidak membayar sepeserpun untuk makanan dan penginapan yang disediakan baginya secara sukarela. Saat menunjukkan fakta ini kepada Manuel, dia menjawab, “Dia itu orang jahat! lari dari kapalnya. Tidak ada yang mau mempercayai kata – katanya!”.]

Seperti halnya pengalaman di daerah lain di Indonesia, di Lombok juga Wallace disuguhi daging hewan – hewan liar. Yang paling sering adalah burung jenis Pregam Hijau. Yang dideskripsikan oleh Wallace sebagai burung yang jinak dengan populasi yang “melimpah”. Hinggap di tandan – tandan lontar secara bergerombol.

Wallace meninggalkan Lombok menuju Makasar pada 30  Agustus 1856. Melakukan penjelajahan di sana selama September hingga November 1856. Dari Makasar Ia mengunjungi wilayah Maluku dan lalu kembali ke Sulawesi seterusnya ke Kupang. Uniknya, pada tahun 1857, Wallace hanya tinggal sehari di Kupang, dan tidak ada penjelasan lain dalam catatannya mengapa hanya sehari. Tetapi kemudian ia menambahkan bahwa ia kembali mengunjugi Kupang pada Mei 1859 dan tinggal selama 4 malam di sana. Terakhir ia mengunjungi Kupang sekaligus menjelajah bagian timur Pulau Timor yang saat itu di bawah Portugis selama empat bulan pada tahun 1861.

Sebuah potongan catatan kecilnya tentang Flores masih menyimpan misteri tentang waktu dan kebenaran sang bapak Biografi dunia itu mengunjungi Flores.

On passing to Flores and Timor the distinctness from the Javanese productions increases, and we find that these islands form a natural group, whose birds are related to those of Java and Australia, but are quite distinct from either. (The Malay archipelago, vol. 1, hal. 318)

Kapan tepatnya ia mengunjungi Flores? Tidak ada catatan khusus bahkan rute perjalanannya pun terhenti di bagian barat Flores yakni di Lombok dan di bagian Timur yakni di Kupang. Ada potongan – potongan kisah yang tidak terungkap dari keseluruhan buku terbesarnya The Malay archipelago, atau mungkin sengaja disembunyikannya? Misteri itu yang akan kita bahas di Bagian 2 beserta tokoh misterius di balik pengumpulan spesimen spesies dari Flores untuk Wallace.

Please follow and like us:
error0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*