Jejak Wallace di Flores; Operasi Senyap Charles Allen (Bagian 2)

Alfred Russel Wallace
Alfred Russel Wallace

Dalam mahakaryanya; The Malay Archipelago, Alfred Russel Wallace memaparkan beberapa kesulitan yang dia hadapi selama melakukan penjelajahan selama delapan tahun di kepulauan Nusantara. Salah satunya adalah kondisi iklim dan ketersediaan transportasi di wilayah kepulauan Nusantara kala itu yang cukup sulit. Semuanya harus disesuaikan. Hal ini diungkapkan Wallace di bagian pengantar bukunya, demi menjelaskan mengapa catatannya tidak runut berdasarkan periode waktu tetapi dibagi berdasarkan pembagian wilayah dan terkadang membingungkan dari segi urutan waktu. Ia terkadang beberapa kali mengunjungi satu tempat dalam periode yang bervariasi.

Pada bagian pembuka kata pengantarnya, Wallace menjawab kemungkinan pertanyaan para pembaca mengapa bukunya baru terbit enam tahun setelah ia kembali ke Inggris.

When I reached England in the spring of 1862, I found myself surrounded by a room full of packing-cases, containing the collections that I had from time to time sent home for my private use. These comprised nearly three thousand bird-skins, of about a thousand species; and at least twenty thousand beetles and butterflies, of about seven thousand species; besides some quadrupeds and land-shells. A large proportion of these I had not seen for years; and in my then weak state of health, the unpacking, sorting, and arranging of such a mass of specimens occupied a long time. (The Malay Archipelago; vol. 1. hal. vii)

[Ketika saya tiba di Inggris pada musim semi tahun 1862, saya mendapati diri saya dikelilingi  sebuah ruangan yang penuh dengan peti kemas, yang berisi koleksi-koleksi yang telah saya kirim pulang dari waktu ke waktu untuk keperluan saya pribadi. Terdiri dari hampir tiga ribu kulit burung, dari sekitar seribu spesies; dan sekurang – kurangnya dua puluh ribu kumbang dan kupu-kupu, dari sekitar tujuh ribu spesies; selain beberapa fauna berkaki empat dan kerang-tanah. Sebagian besarnya tidak pernah saya lihat selama bertahun-tahun; dan dalam kondisi kesehatan saya yang buruk, pembongkaran, pemilahan, dan penataan spesimen yang begitu banyak telah menghabiskan waktu lama.]

Pengantar Wallace ini juga yang akhirnya menyadarkan saya, mengapa spesimen burung endemik dari Flores yang pertama kali diidentifikasi oleh Wallace  seperti Celepuk Wallacea (Otus silvicola) dan Serindit Flores (Loriculus flosculus) baru teridentifikasi pada 1864, dua tahun setelah ia kembali ke Inggris. Membayangkan apa yang dihadapi Wallace sesuai penggambarannya, tentu menyadarkan kita bahwa betapa berat pekerjaannya kala itu demi ilmu pengetahuan yang dengan mudah kita pelajari saat ini.

Bagaimana Wallace melakukan pekerjaan  sebesar dan seberat itu dengan kondisi teknologi yang minim di masa itu? Yang sebagian besarnya harus dilakukan secara manual. Dalam catatannya dan beberapa manuskrip external menjelaskan bahwa Wallace telah mempekerjakan ratusan orang selama delapan tahun penjelajahannya di kawasan Nusantara. Beberapa di antara mereka adalah tenaga asisten yang telah dilatihnya untuk beberapa pekerjaan penting dan sentral. Mereka adalah yang secara khusus juga disebut oleh Wallace dalam buku dan surat – suratnya.

Charles Martin Allen adalah satu – satunya asisten yang dibawa serta oleh Wallace langsung dari Inggris ke Singapura pada 1854. Allen sebagaimana disebutkan dalam buku, catatan dan surat – surat Wallace, adalah orang yang ikut berkontribusi pada hampir setengah dari penjelajahan Wallace selama delapan tahun. ‘Young Allen’ demikian Wallace memanggilnya, selalu bersama – sama dengan Wallace dalam perjalanan di Singapura, Serawak , Malaka dan Borneo antara 1854 – 1856.

Dalam otobiografinya yang ditulis tahun 1905, Wallace menulis tentang Allen;

…a London boy, the son of a carpenter who had done a little work for my sister, and whose parents were willing for him to go with me to learn to be a collector. He was sixteen years old, but quite undersized for his age, so that no one would have taken him for more than thirteen or fourteen. He remained with me about a year and a half, and learned to shoot and to catch insects pretty well, but not to prepare them properly. He was rather of a religious turn, and when I left Borneo he decided to stay with the bishop and become a teacher. After a year or two, however, he returned to Singapore, and got employment on some plantations. About five years later he joined me in the Moluccas [in Ambon Island] as a collector. He had grown to be a fine young man, over six feet. When I returned home he remained in Singapore, married, and had a family. He died some fifteen years since. Wallace (1905, I: 340)

[… seorang pemuda dari London, putra seorang tukang kayu yang telah menyelesaikan satu pekerjaan kecil untuk saudari saya, dan orang tuanya menginginkan ia pergi dengan saya supaya belajar menjadi seorang kolektor. Dia berusia enam belas tahun, tetapi dengan postur yang terbilang kecil untuk usianya, sehingga tidak ada yang mau mengambilnya sampai berusia lebih dari tiga belas atau empat belas tahun. Ia bersama – sama dengan saya sekitar satu setengah tahun, dan belajar menembak dan menangkap serangga dengan cukup baik, tetapi tidak cukup baik dalam mengurusnya. Dia lebih tertarik pada hal yang berbau religius, dan ketika saya meninggalkan Borneo dia memutuskan untuk tinggal bersama uskup di sana dan menjadi guru. Namun, setelah satu atau dua tahun, ia kembali ke Singapura, dan mendapat pekerjaan di beberapa perkebunan. Sekitar lima tahun kemudian dia kembali bergabung dengan saya di Maluku [di Pulau Ambon] sebagai kolektor. Dia telah tumbuh menjadi pemuda yang gagah, dengan tinggi lebih dari enam kaki. Ketika saya kembali ke rumah (Inggris), dia tetap di Singapura, menikah, dan memiliki keluarga. Dia meninggal sekitar lima belas tahun kemudian.]

Sepotong catatan yang ditulis Wallace ini akhirnya yang menjelaskan, mengapa saat datang ke Bali dan Lombok, nama Allen tidak ikut serta dalam rombongan bersama Wallace, malah muncul nama pemuda Malaya bernama Ali dan Manuel seperti yang disebutkan pada bagian 1. Dalam sebuah suratnya kepada saudarinya di Inggris, ketahuanlah bahwa Wallace sebenarnya jengkel dengan Allen muda yang dinyatakan sebagai ‘ceroboh, kusut dan sulit berkembang’. Bahkan dalam satu surat kepada ibunya, Wallace mengungkapkan keputusasaannya dengan mengatakan; “Jika saja bukan karena persoalan biaya yang mahal, saya mungkin telah mengirim Allen pulang!”

Sementara menghadapi kejengkelan terhadap Allen, Wallace bertemu dengan seorang pemuda melayu yang sangat cocok dengan kualifikasi yang dibutuhkan Wallace. Dia adalah Ali. Dari keseluruhan surat, catatan, otobiografi bahkan dalam mahakaryanya, Wallace terlihat sangat menyukai Ali dan sangat terhibur dengan pemuda muslim yang digambarkan sebagai sosok serba bisa dan mampu belajar dengan cepat. Ia juga merupakan sosok yang bersih, kebalikan dengan Allen yang kusut. Di samping itu, Ali sangat membantu Wallace dalam mempelajari bahasa melayu. Dalam Otobiografinya Wallace menulis;

When I was at Sarawak in 1855 I engaged a Malay boy named Ali as a personal servant, and also to help me to learn the Malay language by the necessity of constant communication with him. He was attentive and clean, and could cook very well. He soon learnt to shoot birds, to skin them properly, and latterly even to put up the skins very neatly. Of course he was a good boatman, as are all Malays, and in all the difficulties or dangers of our journeys he was quite undisturbed and ready to do anything required of him. He accompanied me through all my travels, sometimes alone, but more frequently with several others, and was then very useful in teaching them their duties, as he soon became well acquainted with my wants and habits. Wallace (1905: 1, hal. 383)

[Ketika saya berada di Sarawak pada tahun 1855 saya menyertakan seorang bocah  Melayu bernama Ali sebagai pelayan pribadi, dan juga untuk membantu saya mempelajari bahasa Melayu melalui desakan komunikasi yang konstan dengannya. Dia sangat perhatian dan bersih, dan bisa memasak dengan sangat baik. Dia dengan cepat belajar menembak burung, mengulitinya dengan benar, dan terakhir bahkan menata kulit dengan sangat rapi. Tentu saja dia adalah seorang tukang perahu yang baik, seperti halnya semua orang Melayu, dan dalam semua kesulitan atau bahaya dari perjalanan kami, dia cukup tenang dan siap untuk melakukan apa pun yang diminta darinya. Dia menemani saya melalui semua perjalanan saya, kadang-kadang sendirian, tetapi lebih sering dengan beberapa orang lain, dan kemudian sangat berguna dalam mengajarkan mereka tentang tugas-tugas mereka, ia dengan cepat menjadi terbiasa dengan keinginan dan kebiasaan saya.]

Seperti yang sudah ditulis Wallace, bahwa Allen tinggal di Serawak dan bekerja sebagai guru pada uskup di sana, sedangkan perjalanan selanjutnya, Wallace ditemani Ali dan Manuel Fernandez serta beberapa pemuda lokal yang mereka jumpai di setiap daerah yang mereka kunjungi. Sepeninggalan Wallace, ternyata Allen masih mengoleksi spesimen secara mandiri dan melalui proses belajar dengan sangat baik. Hal itu terungkap dari surat yang disampaikan Wallace kepada Samuel Stevens, agen koleksinya di London, dengan menyebut Allen “telah menjadi seorang kolektor yang semakin mahir.”

Pada pertemuannya yang ke dua, Januari 1860 di Ternate, Wallace telah memutuskan untuk memberi kepercayaan semaksimal mungkin pada kemampuan Allen sebagai kolektor untuk melakukan perjalanan terpisah dengan Wallace dengan ditemani oleh dua orang asisten dari ambon yakni Theodorus Matakena dan Cornelius.

Perjalanan yang terpisah ini merupakan kunci penelusuran proses penjelajahan dan pengumpulan spesies dari Flores oleh Wallace. Pada buku The Malay Archipelago vol. 2, tampak sekali bahwa Wallace lebih banyak memusatkan perhatiannya pada penjelajahan ke Papua dan kepulauan di wilayah timur. Catatan – catatan yang terkait perjalanan dan koleksi Allen dan timnya hanya ditulis sepintas lalu, dan dirangkumnya dalam The Malay Archipelagi vol. 1. Di antara catatan – catatan singkat itu, terselip potongan keterangan yang menyatakan bahwa Allen mengunjungi Flores.

Charles Allen made a voyage to New Guinea, a short account of which will be given in my next chapter on the Birds of Paradise. On his return he went to the Sula Islands, and made a very interesting collection which served to determine the limits of the zoological group of Celebes, as already explained in my chapter on the natural history of that island. His next journey was to Flores and Solor, where he obtained some valuable materials, which I have used in my chapter on the natural history of the Timor group. The Malay Archipelago vol. 2. hal. 385

[Charles Allen melakukan perjalanan ke Papua Nugini, sebuah kisah singkat yang akan dimasukkan dalam bab berikutnya tentang Burung Cendrawasih. Sekembalinya dari sana,  ia pergi ke Kepulauan Sula, dan membuat koleksi yang sangat menarik yang berfungsi dalam menentukan batas-batas kelompok zoologi Sulawesi, seperti yang sudah dijelaskan dalam bagian tentang sejarah alam pulau itu. Perjalanan berikutnya adalah ke Flores dan Solor, di mana ia memperoleh beberapa material berharga, yang telah saya masukkan dalam bab  tentang sejarah alam gugus Timor.]

Catatan ini dibuat oleh Wallace dalam rangkaian catatannya di triwulan terakhir 1860. Selebihnya tak ada lagi catatan lain tentang Flores yang bisa diperoleh dari The Malay Achipelago baik volume 1 maupun Volume 2. Uraian yang dimaksudkan oleh Wallace dalam bab tentang gugus Timor lebih dikhusukan pada analisis persebaran spesies burung di tiga pulau utama yakni Lombok, Flores dan Timor. Berbeda dengan Lombok dan Timor yang digambarkan dengan lebih detail dalam bab khusus, tidak demikian dengan Flores. Semua analisis yang dilakukan dalam bab ini hanya berdasarkan pada spesimen yang dikumpulkan.

Sampai pada titik ini, semakin jelaslah bahwa memang Alfred Wallace sebenarnya tidak pernah mengunjungi Flores dalam penjelajahannya. Meski demikian, Wallace dalam catatan tentang gugus Timor, dalam TMA, Vol. 1,  telah secara spesifik membandingkan penyebaran spesies antara Lombok, Flores dan Timor, yang disertai dengan penjelasan – penjelasan dan tabel pembanding dalam angka – angka jumlah spesies dan genera yang lengkap, seperti tampak dalam gambar.

Analisis Persebaran Burung Lombok - Flores - Timor oleh Wallace
Analisis Persebaran Burung Lombok – Flores – Timor oleh Wallace

Model analisis persebaran burung di tiga pulau, Lombok -Flores – Timor adalah langkah Wallace untuk menegaskan hipotesisnya tentang garis pembatas biografi antara kawasan Asiatik di sebelah barat selat Bali dan Australasia di timur. Model analisis ini pula yang telah mendukung kesimpulan Wallace tentang teori seleksi alam yang akhirnya mendorong Darwin mempublikasikan teori Evolusinya, di samping tentu saja peristiwa bersejarah di mana Wallace terserang Malaria di Ternate pada tahun 1858.

Apakah catatan tentang Flores memang hanya sebatas yang tercantum dalam The Malay Archipelago vol. 1 dan vol. 2 saja? Penelusuran lebih lanjut membawa saya pada pencarian manuskrip – manuskrip yang terpisah tentang Charles Martin Allen yang sudah sangat jelas disebutkan Wallace, melakukan perjalanan ke Flores dan mengoleksi beberapa spesimen penting baginya.

Sebagai seorang asisten, sudah barang tentu Allen tidak akan pernah mendapatkan porsi publikasi yang besar dari seorang Wallace. Hal ini terlihat dari begitu tenggelamnya nama Allen dalam maha karya Wallace, meski secara jelas, bahwa Allen sendiri telah berkontribusi sangat besar bagi pencapaian Wallace. Operasi senyap Allen di Flores juga turut mengabadikan nama Wallace dalam dua spesies burung endemik Flores yakni Celepuk Wallacea dan juga Serindit Flores. Si Allen yang ceroboh, telah menghantar Flores sampai kepada Wallace dan tentu saja pada salah satu sejarah sains terbesar hingga kini.

Melalui “In Alfred Russel Wallace’s Shadow: His Forgotten Assistant, Charles Allen” karya Kees Rookmaaker dan John van Wyhe dalam Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, saya menemukan fakta bahwa sesungguhnya catatan kontribusi Allen bagi Wallace tersimpan lengkap dalam buku catatan Wallace (notebook. 5) yang disimpan di Natural History Museum, London.

Catatan ini baru terungkap dalam Otobiografi Wallace yang ditulis pada tahun 1905, pada halaman 395 yang menyebutkan bahwa Allen berada di Flores dalam waktu hampir empat bulan, terhitung dari bulan September hingga Desember 1861!

Dalam The Malay Archipelago vol. 2, Wallace menyertakan catatan singkat yang cukup mengharukan tentang akhir perjalanan Allen menjadi asistennya.

On his return thence to Sourabaya in Java, he was to have gone to the entirely unknown Sumba or Sandal-wood Island. Most unfortunately, however, he was seized with a terrible fever on his arrival at Coti, and, after lying there some weeks, was taken to Singapore in a very bad condition, where he arrived after I had left for England. When he recovered he obtained employment in Singapore, and I lost his services as a collector. (hal. 385 – 386)

[Sekembalinya ke Sourabaya di Jawa, ia harus pergi ke  Sumba atau Pulau Sandal-wood yang sama sekali tidak dikenali. Sayangnya, ia diserang demam yang mengerikan pada saat tiba di Coti, dan, setelah berbaring di sana beberapa minggu, dibawa ke Singapura dalam kondisi yang sangat buruk, di mana ia tiba setelah saya pergi ke Inggris. Ketika pulih, ia mendapat pekerjaan di Singapura, dan saya kehilangan jasanya sebagai kolektor.]

Catatan ini menegaskan bahwa semenjak pertemuan di Surabaya, Wallace dan Allen tidak pernah lagi bertemu. Kenyataan lain adalah bahwa meskipun tidak masuk dalam rute perjalanan Wallace, pulau Sumba ternyata tetap dijangkau Allen dengan sedikit sekali laporan yang rinci tentang itu. Faktor kejenuhan di akhir ekspedisinya, serta antusiasme Wallace akan hasil perjalanan ke Papua membuat begitu banyak catatan di akhir perjalanan yang dilewatkan, termasuk tentang Sumba.

Semua publikasi itu ternyata masih belum cukup mengungkap sepenuhnya teka – teki pengambilan spesimen spesies fauna dari Flores. Tentang di bagian mana saja di Pulau Flores, Allen melakukan pengumpulan spesimen dan apa saja yang ia kumpulkan, serta berapa jumlahnya. Beberapa misteri yang justeru baru terungkap dari dokumen surat – menyurat antara Wallace dan Max Carl Wilhelm Weber (sang pencetus garis Weber).

Pertanyaan lain adalah mengapa hewan purba Varanus Komodoensis di kepulauan Komodo yang berjarak tak seberapa dari Lombok dan Flores, tidak termasuk spesies yang juga diidentifikasi oleh Wallace maupun Allen? Bahkan keberadaan kadal raksasa ini baru diidentifikasi pada tahun 1912 oleh Peter Ouwens, tepat setengah abad setelah penjelajahan Wallace! Mengapa pula sampai ada spesies burung endemik Flores seperti Kehicap Flores (Monarcha sacerdotum) yang justeru baru  diidentifikasi untuk pertama kalinya pada 1971, lebih dari seabad setelah penjelajahan Wallace dan Allen?  Semua pertanyaan dan misteri ini akan kita bahas pada Bagian 3!

Please follow and like us:
error0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*