Mangrove Muara Borong Yang Sekarat

Kondisi Mangrove di Muara Wae Bobo - We Reca, Borong
Kondisi Mangrove di Muara Wae Bobo - We Reca, Borong

Borong, ibukota kabupaten Manggarai Timur, NTT adalah kota kecil di pesisir laut Sawu. sebagai ibukota kabupaten yang masih belia, kota ini sedang bergeliat dengan berbagai pembangunan infrastruktur. Proyek-proyek pembangunan infrastruktur menjadi agenda terdepan pemerintah. Seiring gencarnya pembangunan infrastruktur, lahan-lahan kini mulai beralih fungsi. Salah satunya adalah kawasan hutan mangrove yang terletak di muara sungai Waebobo dan Waereca.

Beberapa bangunan milik pemerintah dibangun di sekitar kawasan hutan mangrove dalam radius beberapa meter saja! Selain itu sebuah jembatan yang menghubungkan jalan lingkar yang belum jadi memotong kawasan muara Waebobo, menjadikan kawasan ini jauh dari kesan alami. Padahal, kawasan ini merupakan penyangga yang penting bagi biota payau dan laut, yang berguna bagi masyarakat nelayan Muara Borong. Selain itu, hutan Mangrove Muara Borong juga merupakan benteng alam terhadap bahaya abrasi pantai yang kian hari kian mengikis kawasan pantai Borong. Ketika pertama kali rimbakuhijau.com menyambangi hutan Mangrove ini tahun lalu, nampak sisa lahan hutan di antara Sungai Waebobo dan Waereca yang dalam kondisi memprihatinkan.

Hanya tersisa beberapa meter persegi lagi dengan sisa pohon bakau tak seberapa, terpancang menanti ajalnya. Di sisi lain kawasan Mangrove tepatnya di belakang pasar Borong, kondisinya tak jauh berbeda. Di sana-sini terdapat pohon bakau yang tumbang ditebang, dan lebih mengerikannya lagi, masyarakat memelihara babi di kawasan ini dengan mengikat babi di pohon bakau. Babi ada di mana-mana dan tentu saja sangat merusak vegetasi yang ada di sana.

Proyek Jalan di Kawasan Muara Borong
Proyek Jalan di Kawasan Muara Borong

Masyarakat sekitar juga memanfaatkan hutan bakau sebagai tempat melepas hajat, menambah kesan terbengkelainya hutan Mangrove ini. Sampai hari ini, pemerintah Manggarai Timur belum juga melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya. Bahkan ada kesan pemerintah menyepelekan keberadaan hutan mangrove ini, padahal kantor dinas kehutanan Manggarai Timur hanya berjarak beberapa meter saja dari kawasan Mangrove. Sungguh mengherankan!

Jamaludin (40) seorang nelayan yang tinggal di kawasan Muara Borong mengaku pasrah dengan kondisi Mangrove di sekitar tempat tinggalnya, meskipun ia tahu bahwa Mangrove itu sangat penting. “(pentingnya mangrove) saya tahu pak. mau bagaimana. ini orang – orang ikat babi di (hutan mangrove) belakang.”

Pada Maret 2014 silam, seorang mapper, Oscar Runch dari Swiss melakukan pemetaan jalur wisata dengan bersepeda di kawasan ini. Kondisi kawasan ini memprihatinkan. Pasar yang semrawut dengan kondisi sanitasi yang tak terurus, memberi kesan sangat kumuh. Menurut Oscar, kondisi seperti sangat sulit untuk dijadikan jujugan bagi wisatawan. Meski demikian ia tidak menampik jika eksotisme landscape di sini sangat menawan, jika ditata dan dirawat dengan baik.

Melihat berbagai kondisi yang menyertai kawasan hutan Mangrove Borong, nampak jelas kalau ia sedang menjerit memohon pertolongan.Siapa yang memulai dan kapan dimulai? Ini pertanyaan yang sangat sulit, karena bahkan masyarakat nelayan Muara Borong sendiri tidak paham atau sengaja apatis terhadap kerusakan ekosistem bakau, penyangga kehidupan mereka. Sementara itu, pemerintah daerah Manggarai Timur malah mejadi pelopor rusakanya kawasan ekosistem penting ini.

Semoga pemerintah Manggarai Timur menghentikan apatismenya akan kondisi hutan Mangrove Muara Borong, benteng terakhir bagi kehidupan biota payau di kawasan ini.

Please follow and like us:
0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*