Masa Depan Komodo di Kaki Mungil Burung Gosong

Sepasang Burung Gosong (Megapodius reinwardt); Dumont 1823,  berjibaku mengais tanah keras dan kering yang terpapar kemarau awal Juli 2018 silam. Di bawah teduh pohon Kesambi (Schleichera oleosa), mereka tak menggubris panas terik yang membakar Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo. Hanya sesekali berhenti dan menjauh dari pekerjaan mereka tatkala para pengunjung Taman Nasional melintasi jalur trekking di dekatnya. Ini adalah rangkaian pekerjaan yang panjang bagi sepasang Burung Gosong dalam membangun sarangnya.

Kurang dari 100 ke dalam hutan, seekor Komodo (Varanus komodoensis); Ouwens, 1912, betina sedang berbaring di bawah perdu, menunggui telur – telur yang telah ia letakkan di dalam sarang beberapa hari sebelumnya. Sarang yang berupa gundukan tanah dengan lubang galian di sana – sini menempati areal seluas + 9m2. Sarang yang ditungguinya saat ini sesungguhnya bukan rumah yang dibangunnya sendiri. Sepasang Burung Gosong yang sedang menggali sarang baru di seberang sana adalah pemilik sarang sesungguhnya.

Burung Gosong Kaki-Merah memiliki penyebaran yang tergolong luas yaitu di wilayah Indonesia Timur, Australia bagian utara dan Papua Nugini bagian selatan. Di Indonesia, Monk et al. (1997) mencatat penyebaran jenis Megapodius reindwardt dengan sub-jenis reindwardt terdapat di Lombok, Sumbawa, Komodo, Sumba, Flores, Pantar, Alor, Wetar, mungkin juga di Timor, ke arah timur hingga ke Romang, Damar dan Babar hingga ke Kep. Kai. Del Hoyo  (1994) menyebutkan bahwa jenis ini tidak menyebar di Jawa, Sumatera dan Kalimantan, namun ada publikasi lain yang menuliskan bahwa burung ini juga terdapat di Pulau Kangean, Jawa Timur

Pekerjaan yang berat bagi Burung Gosong setiap kali musim bertelur tiba. Sang betina akan mencari lokasi terbaik untuk bertelur dan mengajak pasangannya secara bersama – sama menggali tanah yang keras dan membuat lubang sarang yang aman. Proses penggalian sarang ini berlangsung cukup lama antara 1 bulan hingga tiga tahun, tergantung berapa kali mereka akan menggunakannya. Untuk sarang yang hanya sekali pakai, nyaris tak terlihat gundukan yang berarti. Tetapi sarang yang dipakai berulang – ulang akan tampak sebagai sebuah gundukan yang mencapai tinggi 1 meter di atas permukaan tanah bahkan lebih.

Burung Gosong Kaki Merah masuk dalam suku Megapodiidae, yang mana merupakan satu-satunya suku burung yang meletakkan telurnya di dalam tanah dan menggunakan panas dari lingkungan (radiasi matahari, aktivitas panas bumi, dekomposisi mikroorganisme). Kebiasaan mengeram telur ini  sama persis dengan kebiasaan reptil pada umumnya termasuk Biawak Komodo dalam melakukan pengeraman.

Kesamaan cara berbiak ini telah membawa Komodo dan Burung Gosong Kaki Merah di Taman Nasional Komodo menjalin sebuah hubungan yang unik. Komodo dan Burung Gosong sendiri memiliki periode bertelur yang sama September – November. Bagi burung Gosong, kehadiran Komodo bukan hanya sebagai predator yang bisa mengancam telur – telur mereka, tetapi juga menjadi perampas rumah mereka.

Dalam jurnal “Penyebaran dan Karakteristik Sarang Berbiak Komodo (Varanus komodoensis Ouwens, 1912) di Loh Liang Pulau Komodo Taman Nasional Komodo Nusa Tenggara Timur” Media Konservasi Vol. X, No. 1 Juni 2005: 13-20, Muslich, M. dan Priyono A. menyebutkan bahwa menurut hasil survey yang dilakukan oleh TNK dan Zoological Society of San Diego (ZSSD) menunjukkan bahwa di seluruh pulau, komodo lebih banyak menggunakan sarang gosong dengan tipe sarang gundukan untuk meletakkan telurnya.

Klasifikasi sarang yang dibuat oleh Burung Gosong adalah klasifikasi sarang yang sangat sempurna sesuai dengan kebutuhan Komodo. Hal ini terlihat dari jumlah lubang sarang bertelur yang dibuat. Burung Gosong membuat lubang sarang dengan jumlah mencapai 9 lubang. Hal ini dilakukan karena mereka hanya meletakkan 1 telur saja di satu lubang. Berbeda dengan Komodo yang meletakkan telurnya di satu lubang saja. Lubang – lubang yang lain oleh Komodo digunakan sebagai kamuflase menghadapi predator yang merupakan anggota keluarga Komodo itu sendiri.

Selain itu, perawatan sarang yang dilakukan secara berkala oleh Burung Gosong, menjamin suhu sarang yang stabil antara 28°C -30°C. Temperatur yang sama juga yang dibutuhkan oleh Komodo untuk menetaskan telurnya.

Bagi kadal raksasa Komodo , Burung Gosong Kaki Merah adalah pahlawan yang menjamin keberlangsungan populasi binatang purba itu. Selama Burung Gosong Kaki Merah di TN Komodo masih sanggup ‘menghibahkan’ sarangnya kepada Komodo, maka binatang raksasa yang melegenda itu akan selalu mendapat rumah gratis tempat ia meletakkan telur – telurnya dan berkembang biak.

Please follow and like us:
error0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*