Melukis Mimpi di Pesisir Utara Flores

Pesisir Utara Flores

Hujan mengguyur Ruteng, Ibukota kabupaten Manggarai, NTT sejak tengah hari, Rabu 30/04/2014. Hari itu saya menemani Bang Avens, saudara sepupu dari Timor Leste yang hendak mengunjungi mama angkatnya yang sedang sakit parah. Mengendarai sepeda motor, kami melaju menembus derai hujan menuju pesisir pantai utara Flores, tepatnya ke kota kecil Reo. Pagi harinya seorang sahabat di Pering Rahman-Reo mengirim pesan menanyakan waktu mengunjungi mereka di sana. Tak terduga, akhirnya janji kunjungan itu terwujud di hari yang sama.

Hujan yang turun dengan ragu membuat perjalanan kami sedikit terhambat, beruntung hujan hanya mengguyur daerah pegunungan saja. Separuh perjalanan, kurang lebih 30an km arah utara kota Ruteng, matahari bersinar cerah. Pukul 15.40, di rumah orang tua angkat bang Avens di kampung Naru, Reo. Kami menghabiskan sisa hari dengan berbincang bersama keluarga angkat Bang Avens serta warga di sekitar.

Reo adalah kota pesisir dengan fungsi yang sangat sentral dalam sistem perekonomian Flores dan pulau-pulau sekitarnya, karena di kota kecil inilah terdapat pelabuhan niaga Kedindi, sebagai pintu gerbang perdagangan distribusi barang dari dan ke Flores bagian barat dan utara. Di sini juga terdapat Depo BBM milik PERTAMINA, sebagai pusat distribusi BBM untuk wilayah Flores bagian barat. Produksi ikan dan garam di wilayah ini juga berhasil memasok kebutuhan pasar lokal NTT, bahkan distribusi ikan asin dari Reo telah menjangkau wilayah NTB, Bali, Sulawesi dan Kalimantan.

Secara ekologis, Reo merupakan kawasan pesisir pantai yang struktur ekologinya cukup lengkap. Mulai dari kawasan payau muara Wae Pesi, Kawasan Mangrove yang membentang sepanjang garis pantainya. Kawasan pasir putih dan juga dataran pengunci air pasang yang memungkinkan dilakukannya proses pembuatan garam dan tambak ikan. Laut yang teduh di kawasan ini memungkinkan terumbu karang masih tetap terjaga, meski hal ini masih harus dibuktikan secara langsung, terlebih di daerah Waso sampai ke Dampek.

Di antara semua potensi dan kedudukannya yang sentral, Reo menyimpan persoalan pelik di masa depan. Keberadaan Depo PERTAMINA misalnya, telah memberikan peluang terjadinya bisnis gelap penyelundupan BBM bersubsidi ke berbagai pulau yang memiliki kebutuhan industri dan pertambangan seperti Kalimantan dan Sulawesi. Pasar gelap BBM bersubsidi di Reo, sama seperti pasar gelap di daerah lain, selalu melibatkan aktor ‘dalam’. “yang penting saling mengerti saja” ungkap salah seorang warga yang ikut dalam obrolan kami sore itu. Ia dengan bangga mengisahkan aktifitasnya dalam menggelapkan BBM ke beberapa pengusaha dan penyelundup. Hal ini sangat mencemaskan mengingat pemenuhan kebutuhan BBM di Flores sangat jauh dari kata cukup.

Dermaga niaga Kedindi juga melahirkan persoalan lain dalam kurun sepuluh tahun belakangan. Melalui jalur inilah para tenaga kerja ilegal yang hendak ke luar negeri diangkut menggunakan perahu motor menuju Kalimantan dan juga Batam. Melalui dermaga ini juga pasar gelap kendaraan bermotor bodong (kosongan), mesin-mesin dan elektronik ilegal dari berbagai pulau seperti Batam, Bima dan Sulawesi, merambah Flores. Pelabuhan dengan sistim pengamanan yang membuka peluang untuk praktik perdagangan manusia dan peredaran Narkoba!

Secara ekologis, kawasan pesisir antara Reo-Pota, menghadapi ancaman kerusakan besar-besaran di hari-hari ke depan. Invasi bisnis pertambangan telah mulai memporak-porandakan alam indah di sini. Kehadiran tambang di sini menciptakan rentetan teror yang tak putus. Mulai dari kerusakan lingkungan yang akut, konflik horisontal, hingga terusirnya warga lokal dari kampung halaman mereka. Hal ini bisa dilihat di tambang mangan Satar Teu. Perluasan kawasan pertambangan telah memasuki wilayah kritis dengan jarak yang begitu dekat dengan bibir pantai dan begitu dekat dengan pemukiman warga. Sungai-sungai di sekitarnya tercemar, gangguan kesehatan yang memprihatinkan, serta rusaknya tatanan sosial.

Pagi hari, 1 Mei 2014, saat matahari terbit, saya bergegas menuju tepi sungai Wae Pesi untuk selanjutnya menyeberang menggunakan bagan motor mini menuju kampung Pering Rahman. Di kampung ini, sahabat saya Rusdin Hasan, seorang tokoh muda yang cukup berpengaruh di kampungnya, sudah menunggu. Setelah berbasa – basi sebentar, bersama beberapa petani kami nengunjungi lokasi kebun – kebun sayur yang ada di sebelah barat kampung.

Di sini saya menyaksikan gigihnya perjuangan para petani di kampung ini dalam menyambung mimpi. Pengairan di sini menggunakan mesin penghisap.  Tak ada irigasi memadai. Kepada saya, Rusdin mengungkapkan niatnya untuk membantu petani di sini menjadi petani organik terorganisir seperti yang sudah saya lakukan di kampung halaman saya di Mebeling, Manggarai Timur. Meski hanya sebentar saja, saya bisa menangkap semangat para petani di sini yang tak surut, bahkan setelah kampung mereka tersapu banjir bandang pada tahun 2007 silam. Semua ternak dan peralatan serta mesin penyedot air hanyut terbawa air bah.

Harapan mereka tak banyak. Kata Rusdin, mereka ingin ditemani, tak ditinggal begitu saja. Mereka mengaku lelah dengan pemerintah Manggarai Timur yang masa bodoh. Sudah berkali – kali mereka mengadu tapi tak digubris. Mereka kini tak lagi berharap banyak dari pemerintah. Mereka hanya ingin berjuang sendiri dan ingin perjuangan mereka diperhitungkan serta dihargai.

Matahari sudah sepertiga jalan. Kali ini ditemani Rusdin, saya kembali ke Reo dan melanjutkan perjalanan ke Kampung Nelayan Kawasan Mangrove Binaan, kurang lebih 15 km dari Reo ke arah timur. Melewati jalan berkelok di bawah teduh pepohonan pesisir.

Mangrove Yang Tersisa di Kampung Waso
Mangrove Yang Tersisa di Kampung Waso

Aroma laut tercium jelas. Ini adalah jalan nasional, tetapi kondisinya seperti jalan kampung, sempit dan rusak di sana – sini. Matahari terik bersinar hampir di ubun – ubun ketika kami sampai di Binaan. Kami berhenti sejenak melepas lelah di rumah pak Uba, salah seorang nelayan. Pak Uba menuturkan jika dirinya adalah satu dari 20-an nelayan di Binaan yang pernah menerima bantuan sampan dari pemerintah Manggarai Timur. Sampan itu tak sampai berusia setahun. Konstruksi sampan yang jauh dari standard sampan nelayan hanya seperti permainan bagi pemerintah. Dengan nada mencibir pak Uba mengungkapkan kalau perahu bantuan pemerintah seperti perahu mainan. Saya hanya tertawa, sambil bilang “Itu biasa, om”.

Dari rumah pak Uba, Rusdin membawa saya ke rumah salah satu tokoh yang paling berpengaruh di Binaan, yakni Andi Doramin. Usianya masih cukup muda.Ia adalah seorang Ustad. Entah siapa yang memberi komando, satu per satu nelayan berkumpul di rumah pak Andi. Berhubung sudah tengah hari, tanpa menunggu lama kami langsung menuju kawasan mangrove, tak jauh dari rumah warga. Di sini terdapat pembibitan Mangrove, yang awalnya merupakan proyek Dinas Perikanan dan Kelautan Manggarai Timur, tetapi tidak jelas lagi kelanjutannya.

Andi menuturkan kalau masyarakat telah memutuskan untuk mengambil alih kelanjutan kegiatan ini secara mandiri. “Kami biar (pemerintah) tidak lanjut (program), tetap kami lanjutkan. (masyarakat) di sini sudah sadar kalau mangrove harus dilestarikan” ungkap Andi. Warga lain juga mengaku kapok membabat mangrove. Mereka telah menghadapi akibat buruk dari kritisnya hutan mangrove di sekitar kampung mereka. Berkali – kali, kampung yang terletak persis di tepi muara sungai Wae Laing itu dilanda banjir karena tak ada lagi mutan Mangrove yang menjadi pengaman luar kampung. Kami menghabiskan waktu sepanjang siang di sini, mengunjungi Mangrove yang sudah ditanami, lokasi hutan Mangrove yang kritis, calon lahan tambak bandeng dan Kerapu yang akan kami jalankan bersama masyarakat, hingga menonton video dokumenter tentang keberhasilan Nelayan Penyangga Mangrove di beberapa daerah di Indonesia, yang sudah saya persiapkan.

Warga Binaan - Satar Kampas
Warga Binaan Menonton Dokumenter Rehabilitasi Mangrove

Dengan menonton ini, saya sendiri berharap mereka termotivasi untuk bergerak bersama, bersatu serta mempersiapkan diri untuk sungguh-sungguh melakukan berbagai upaya secara mandiri! Andi, sebagai koordinator nelayan, berjanji akan segera membuat rapat tingkat kampung menjelang musyawarah yang akan saya hadiri pada bulan Juni nanti. Setelah berbincang hangat, kami lanjutkan dengan makan siang bersama, yang ditutup dengan menikmati kelapa muda yang segar. Tak lupa mereka memberikan beberapa buah kelapa muda, untuk saya bawa pulang ke Ruteng. Kami sepakat untuk membuat pertemuan lanjutan dan membuat rencana bersama, membangun kampung binaan menjadi kampung ekologis secara mandiri.

Saat perjalanan pulang ke Reo, kami menyempatkan diri mengunjungi kawasan Mangrove di Waso. Di sini lokasi Mangrove cukup terjaga, tetapi sepertinya sudah tak akan lama lagi bertahan sebelum kehancuran yang sedang mngintai itu datang. Pertambangan Mangan di Satar Teu menjadi penyebabnya. Rusdin mengungkapkan bahwa lokasi Mangrove ini mulai terganggu dengan dibukanya jalan penghubung ke arah Satar Teu melewati lokasi tambang Mangan.

Bekas Tambang di Flores
Salah Satu Lokasi Bekas Tambang di Satar Teu – Reo

Intervensi tambang di sini mengkhawatirkan. Jika ini terus terjadi, betapa memilukannya kawasan ini. Kawasan dengan air laut yang bening dan teduh, Mangrove yang hijau, dengan ikan-ikan kecil mengerubuni akar-akar Bakau yang bergelantungan akan segera pergi menghilang. Di antara kobaran semangat dan harapan melihat masyarakat yang bergerak dengan tulus, terselip kecemasan yang besar akan masa depan kawasan pesisir utara Flores, Reo hingga Pota.

 

*) Tulisan ini diambil dari blog lama; rimbakuhijau.wordpress.com

Please follow and like us:
error0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*