News

Memori Tsunami Maumere; Alm. Baba Akong dan Mangrove Yang Menjaga Magepanda

Memori Tsunami Maumere; Alm. Baba Akong dan Mangrove Yang Menjaga Magepanda

Pada satu hari yang cerah di penghujung 1992 tanpa diduga, sebuah gempa berkekuatan 7,5 sr (versi Institut de Physique du Globeyang) mengguncang pesisir utara bagian timur Pulau Flores tepatnya wilayah Teluk Maumere hingga Larantuka. Sabtu, 12 Desember 1992, tidak ada yang aneh. Matahari bersinar cerah di pagi hari dan orang – orang melakukan aktifitas seperti biasanya. Lewat tengah hari, tepat pukul 13:29 WITA, nestapa itu datang tiba – tiba, gempa mengguncang dengan dahsyatnya. Bangunan – bangunan permanen rubuh dan rusak parah. Mereka yang lolos dari maut, berhamburan keluar rumah  dalam kebingungan. Teriakan histeris dimana – mana.

Nestapa tak berhenti sampai di situ. Beberapa menit kemudian, sebuah gelombang dahsyat menggulung kawasan pesisir dan menyapu bersih pulau – pulau kecil yang berada antara Maumere dan Larantuka. 5oo orang hilang tersapu gelombang tsunami terbesar sepanjang tahun itu. Pada 23/12/1992, Kompas memberitakan hilangnya 3 buah pulau akibat tersapu tsunami. Pulau Babi merupakan satu di antaranya dengan jumlah penduduk paling banyak. Dari berbagai laporan disebutkan, 2500 orang dinyatakan tewas sepanjang tragedi tsunami itu.

Kesulitan komunikasi dan transportasi khas kawasan timur Indonesia pada masa itu membuat bantuan sulit didapat. Tidak heran jika hingga berahari – hari, jenasah korban gempa dan tsunami membusuk dimana – mana tanpa dievakuasi.

Pada hari yang memilukan itu, seorang lelaki paruh baya bernama Victor Emanuel Rayon atau biasa dipanggil Baba Akong memboyong keluarganya berlari ke atas bukit, sesaat setelah gempa berlalu. Apa yang ia takutkan benar – benar terjadi. Dari atas bukit ia melihat keganasan gelombang laut yang memangsa apa saja yang dijumpainya termasuk kampung Baba Akong di Ndete, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Selepas kejadian itu, Baba Akong memperhatikan lingkungan sekitarnya. Ia melihat bahwa kawasan di mana hutan Mangrove terjaga dengan baik, gelombang tsunami tidak sampai meluluhlantakkan daerah tersebut. Meski tergenang air, tetapi bangunan masih utuh.

Belajar dari tragedi itu, setahun berikutnya pada 1993 Baba Akong dan istrinya  Angelina Nona mulai menanam Bakau di halaman belakang rumah mereka. Tentu saja ini kerja yang tidak mudah. Setelah harta benda mereka disapu tsunami, mereka harus berjuang bangkit kembali dan melanjutkan hidup. Menanam Bakau adalah usaha yang tidak bisa memberikan mereka penghasilan apa – apa untuk bangkit dari bencana. Orang – orang di sekitar mereka mencibir aktifitas anek sepasang suami istri ini. Tetapi Baba Akong terus menanam Mangrove. Ia melihat sisi yang paling dalam dan jauh ke masa depan. Ia mengabaikan perutnya hari itu, demi keselamatan banyak orang di masa depan.

Saya bertemu Baba Akong pada awal November 2018 di kediamannya. Pria bertubuh kurus ini tinggal di rumahnya yang sederhana. Untuk masuk ke sana, kita harus menyusuri jalan masuk sejauh 200 meter. Di halaman belakang rumahnya itulah, Baba Akong  menanam bakau. Saya sudah membaca banyak tentang Baba Akong dari Media. Pada kunjungan perdana saya itu, kami hanya berbincang – bincang sebentar. Kesan paling kuat saat bertemu dengan Baba Akong adalah kesederhanaan. Di balik tubuh cekingnya, tersimpan pengetahuan dan kecintaan yang dalam akan Mangrove. Saya sendiri belum pernah bertemu seseorang yang memiliki perasaan menyatu dengan Mangrove sekuat Baba Akong.

Jembatan Bambu di Mangrove Magepanda

Jembatan Bambu di Mangrove Magepanda

Ia telah menjadikan halaman belakangnya bukan hanya hutan Mangrove yang menjaga kampung dan keluarganya dari sapuan gelombang tsunami, tetapi telah menjadi salah satu lokasi wisata favorit yang wajib dikunjungi saat berada di Maumere. Di hutan Mangrove seluas 60 ha itu, Baba Akong sudah membangun jembatan – jembatan dari bambu yang nyaman untuk dilalui pengunjung. Di tengah hutan Mangrove sudah dilengkapi dengan tempat berteduh yang nyaman. Semuanya dibangun dari bahan bambu. Sebuah menara pandang dibangun setinggi 10 meter. Dari sana kita bisa melihat ke seantero hutan dan ke kawasan pantai dan laut di sekitarnya. Kesemua itu dilakukan Baba Akong dengan sumber dayanya sendiri.

Hutan Mangrove ini adalah rumah bagi keanekaragaman hayati berupa ikan, kepiting, udang, biawak, ular dan burung – burung. Pada kunjungan perdana, kami berhasil membukukan 48 spesies burung di kawasan ini dalam waktu kurang dari 3 jam. Data pengamatan keseluruhan, hutan Mangrove Magepanda adalah rumah bagi 91 spesies burung.

Hutan Mangrove Magepanda adalah rumah bagi keanekaragaman hayati

Biaya masuk ke kawasan ini sangat murah yakni hanya Rp. 5.000,- / orang. Biaya sebesar itu tentu saja tidak sanggup membayar apa yang dilakukan oleh Baba Akong, keluarga dan masyarakat sekitar. Baba Akong telah memberikan pelajaran yang pantas diwariskan kepada setiap generasi, untuk belajar dari setiap tragedi dan memperjuangkan hal – hal yang baik.

Atas jasanya itu, Baba Akong meraih dua penghargaan bergengsi pada dua tahun berturut – turut. Yakni meraih penghargaan Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan dari Menteri Lingkungan Hidup, Ir. Rachmat Witoelar pada tahun 2008 dan setahun berikutnya pada 2009, ia juga mendapatkan penghargaan Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.

Flores Sebagai Salah Satu Sarang Gempa

Dikutip dari laman Geo Magz, peristiwa gempa dan tsunami di Maumere disebabkan oleh pergeseran lempeng Indo-Autralia mengarah ke utara, bertumbukan dengan lempeng Eurasia yang mengarah ke selatan. Tumbukan ini membuat lempeng Indo-Australia menghunjam ke bawah kerak bumi di dasar Laut Sawu. Sementara itu di dasar Laut Flores sendiri terdapat sesar yang hampir sejajar dengan garis pantai Pulau Flores membujur sepanjang garis pantai laut Flores hingga Nusa Tenggara Barat.

Kondisi geologi ini membuat Flores selalu dalam keadaan waspada gempa tektonik. Tragedi tsunami tahun 1992 bisa terulang kapan saja tanpa bisa diprediksi secara tepat. Satu – satunya hal yang bisa dilakukan adalah bersikap waspada dengan mengambil langkah – langkah seperti yang dilakukan Baba Akong.

Tidak ada yang menginginkan tragedi Desember kelabu ini terulang kembali. Baba Akong sudah memberikan kita pelajaran yang sangat berharga. Menjaga dan meningkatkan jumlah Hutan Mangrove adalah langkah paling nyata dan masuk akal bagi seluruh masyarakat di pesisir pantai di seluruh Flores, lebih khusus bagi pemerintah – pemerintah daerah, dalam menjauhkan diri dari kerugian yang besar di masa depan. Tragedi 1992 telah memberikan pelajaran penting, dan Baba Akong telah dari sana dengan sangat baik.

Baba Akong telah tiada. Pada 6 Maret 2019, ia telah pergi menghadap Sang Khalik di usia 71 tahun. Ia pergi dalam damai. Memori tentangnya akan dikenang sepanjang akar – akar mangrove buah jeri payahnya kokoh menancap ke dalam bumi, menjaga pesisir Magepanda dari hantu mematikan bernama Tsunami. Saya kembali mengunjungi hutan Mangrove Magepanda pada Juli 2019 lalu. Sebuah pusara yang dilapisi kramik warna merah tertulis nama Victor Emanuel Rayon, terbujur di sisi kiri jalan masuk ke rumahnya.

Mangrove di halaman belakang rumahnya teduh dan rimbun. Ratusan anakan Mangrove tergeletak di lokasi pembibitan. Ibu Angelinan Nona akan melanjutkan kerja mulia itu. Semoga Baba Akong beristirahat dalam damai dan kita yang telah diwariskan oleh karyanya, tidak terjebak dalam kecongkakan dan kepongahan, karena Tsunami akan terulang lagi entah kapan, tetapi kebodohan harus berakhir.

Please follow and like us:
error0
Tweet 20
fb-share-icon20

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *