Menjaga Habitat Capung, Mencegah Kembalinya Wabah DBD di Labuan Bajo

Sebentar lagi kita akan memasuki musim penghujan. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika memperkirakan musim hujan pada tahun 2019/2020 dimulai pada bulan Oktober untuk 20% zona musim, di bulan November untuk 50% zona musim dan sisanya di bulan Desember. Sebagian besar wilayah di Indonesia akan menghadapi beberapa persoalan serius tatkala musim penghujan tiba. Salah satu masalah yang terjadi hampir setiap tahun adalah serangan Demam Berdarah Dengue (DBD).

Pada awal tahun 2019, beberapa wilayah di Indonesia menetapkan DBD sebagai kejadian luar biasa (KLB). Salah satunya adalah Labuan Bajo, Manggarai Barat. Lebih dari 1000 orang terserang wabah DBD  yang tersebar di 4 kecamatan, dan 19 di antaranya meninggal dunia. Serangan DBD di Labuan Bajo bukan tanpa diprediksi. Pada tahun sebelumnya sekurangnya 1 orang pasien DBD di Labuan Bajo meninggal dan ratusan lainnya dirawat di Rumah Sakit dan Puskesmas. Sebagai kawasan sub tropis, Flores secara keseluruhan merupakan wilayah endemis dengue. Tidak mengherankan jika kasus DBD selalu terjadi di Flores, dan tahun 2019 merupakan yang terparah dengan jumlah korban yang meningkat drastis.

Demam berdarah disebabkan oleh virus Dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Virus tersebut akan masuk ke aliran darah manusia melalui gigitan nyamuk. Biasanya, jenis nyamuk ini menggigit di pagi hari sampai sore menjelang petang. (Baca Selengkapnya tentang: Demam Berdarah )

Bencana serupa tidak boleh terulang lagi masa yang akan datang. Oleh sebab itu, tindakan pencegahan harus dilakukan secara maksimal dari hulu ke hilir. Manjaga kebersihan lingkungan, pengurangan habitat nyamuk serta pengasapan adalah langkah – langkah pencegahan yang sudah kita ketahui selama ini. Lalu bagaimana mengendalikan populasi nyamuk di alam?

Sebagaimana kesimpulan umum tentang ekosistem, sebuah organisme di alam akan menjadi wabah jika populasinya melampaui batas normal dan tak terkendali. Nyamuk juga demikian. Wabah DBD adalah bagian dari akibat populasi nyamuk melampaui batas normal di alam, sehingga secara alami menjadi tidak terkendali dan menjadi sumber petaka bagi manusia. Hal ini terjadi karena rantai makanan mengalami ketidak-seimbangan antara mangsa dan predator.

Pada kasus DBD di Labuan Bajo (masih membutuhkan penelitian yang komprehensif), penyebaran nyamuk penular DBD hampir mustahil untuk dihilangkan sama sekali. Kerusakan habitat basah di sekitar Labuan Bajo sangat pasti ikut menyumbang peningkatan jumlah wilayah penyebaran serta tingkat kerentanan terserang. Kerusakan dan hilangnya sebagian besar kawasan basah di sekitar Labuan Bajo telah menghancurkan habitat pengendali populasi nyamuk. Kawasan pengendali ini seringkali hanya dilihat sebagai habitat nyamuk semata. Kita lupa bahwa di sana juga hidup sang predator utama nyamuk yakni Capung (Odonata). 

Capung adalah pemangsa alami nyamuk sejak nyamuk dalam rupa jentik hingga menjadi nyamuk dewasa. Nimfa capung yang hidup dalam air dalam waktu yang panjang adalah monster yang bisa memangnya ratusa jentik dalam sehari. Dengan periode hibup nimfa capung yang sangat lama (2 – 5 tahun) maka, nyamuk menjadi sangat sulit berkembang menjadi dewasa. Ini adalah fase yang sangat penting dalam proses pengendalian populasi nyamuk secara alami. Pada fase ini, jentik tidak memiliki mekanisme pertahanan diri yang cukup dalam menghadapi pemangsa sekelas larva capung. Daniel Acquah-Lamptey and Roland Brandl dari Philipps Universität Marburg, Jerman dalam sebuah penelitian di tahun 2018 menemukan fakta bahwa hanya butuh waktu 3 minggu bagi 4 ekor nimfa Capung untuk menghabiskan total 21 koloni jentik nyamuk yang setiap koloninya terdiri dari ratusan hingga ribuan jentik.

Setelah nyamuk menjadi dewasa, perburuan selanjutnya dilakukan oleh capung dewasa. Meski dengan kemampuan memangsa yang berkurang jauh di bawah nimfa dari sisi volume, tetapi capung dewasa bisa memangsa nyamuk lebih dari 5o ekor dalam sehari. Kemampuan capung dalam menangkap nyamuk yang sedang terbang tidak perlu diragukan. Stacey Combes, biomekanik dari Harvard University melakukan pengamatan yang sangat detail terhadap kemampuan Capung dalam menangkap nyamuk yang terbang dalam kecepatan tinggi. Hasilnya, tingkat keberhasilannya mencapai 90%. Ukuran mata yang hampir 80% volume kepala memberikan kemampuan yang mencengangkan bagi capung dalam memburu nyamuk yang sedang terbang. Bagi nyamuk, Capung adalah monster sesungguhnya.

Kondisi Habitat Capung di Labuan Bajo

Kondisi Kawasan Basah di Selatan Labuan Bajo

Habitat Capung di Labuan Bajo sebagian besar terletak di sisi selatan dan timur kota Labuan. Terdiri dari kawasan rawa – rawa, sawah dan sungai. Pada musim penghujan, kawasan ini menjadi habitat yang menjanjikan bagi perkembangbiakan Capung. Sayangnya, musim penghujan di Labuan Bajo dan sekitarnya relatif lebih singkat dari musim kemarau. Kondisi alam ini membuat tidak banyaknya kawasan basah yang bertahan sepanjang tahun.

Alih fungsi kawasan basah menjadi wilayah pemukiman yang begitu cepat karena perkembangan kota Labuan Bajo yang pesat memberikan dampak yang berlipat bagi berkurangnya habitat capung di Labuan Bajo. Salah satu contohnya adalah kawasan basah di selatan kota Labuan Bajo. Pembangunan pemukiman baru di dalam kawasan basah terus dilakukan setiap waktu. Dari pengamatan saya, tidak ada satupun kawasan basah di sini yang berada di bawah penguasaan pemerintah. Semuanya milik perorangan dan swasta dengan peruntukan yang tidak diatur sama sekali dalam rencana tata ruang pemerintah Manggarai Barat.

Saya melakukan pengamatan capung di Labuan Bajo selama dua tahun belakangan. Hasilnya adalah 11 spesies Capung untuk sementara terdokumentasi, terdiri dari 6 spesies dari subordo Anisoptera dan 5 spesies dari subordo Zygoptera. Dari referensi distribusi spesies Capung di Indonesia, saya meyakini jumlah spesies capung di wilayah Labuan Bajo bisa mencapai 15 – 20 spesies. Capung – capung ini adalah salah satu kunci pengendalian populasi nyamuk di alam. Dengan ancaman degradasi habitat yang sangat cepat, dan tidak adanya usaha konservasi di kawasan – kawasan sensitif, maka keberadaan Capung di Labuan Bajo semakin terdesak. Jika ini yang terjadi, maka manusia harus bersiap berhadap – hadapan secara langsung dengan populasi nyamuk DBD, yang berarti berhadapan langsung dengan petaka. A. Venkatesh and B.K. Tyagi yang melakukan penelitian bagi Indian Council of Medical Research melalui International Journal of Mosquito Research; 2015 menyimpulkan dengan sangat meyakinkan bahwa Capung adalah pemangsa dan pengendali alami bagi populasi nyamuk di alam. Jadi?

Beberapa hasil dokumentasi Capung di Labuan Bajo:

 

Crocothemis servilia ssp. servilia
Euphaea lara
Rhinocypha pagenstecheri
Trithemis lilacina
Pseudagrion pilidorsum ssp. declaratum
Pantala flavescens
Please follow and like us:
error0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*