Samuel Rabenak; Terjebak Dalam Dekapan Belantara Mbeliling

Samuel Rabenak

Ponsel berdering di siang yang terik. Saya langsung menjawabnya. “Helloo..boss bisa jemput saya?” Suara di seberang. “Iya bisa..posisi di mana om?” Tanya saya. “Di simpang Gardena!”. “Ok. tunggu di situ.” Saya menutup telepon dan bergegas keluar sambil menenteng helm, lalu meluncur dengan sepeda motor pinjaman di bawah panas matahari siang menjelang tengah hari di Labuan Bajo (01/05/2018).

Orang yang menunggu di sana adalah Samuel Rabenak, pria kelahiran Sumba Barat Daya 48 tahun silam dan kini telah mantap menjadi warga Werang, Sanonggoang, Manggarai Barat.

Siang itu kami sudah berjanji bertemu di kantor Flores Exotic Tours untuk beberapa urusan terkait aktifitas birding bersama di Flores Bird Watching. Di sela – sela istrahat makan siangnya dengan para birder yang ia pandu hari itu, kami memutuskan untuk bertemu. Kami menghabiskan waktu istrahat siang itu dengan bercerita hal – hal seputar burung. Yah..burung benaran! Percayalah..

Sam begitu ia akrab dipanggil (terkadang dipanggil Umbu karena ia orang Sumba), boleh jadi adalah dedengkotnya pengamat burung lokal di Flores. Ia datang ke Flores pada tahun 2007 sebagai bagian dari tim awal Birdlife Indonesia di Labuan Bajo. Sam bukan orang baru di Birdlife. Suami dari Margareta Dimu (43) itu telah menjadi bagian dari Birdlife Internasional sejak 1998 di Sumba Barat Daya.

Sam berkisah, awal perkenalannya dengan Birdlife Internasional di Sumba terjadi pada masa – masa awal Birdlife masuk ke Sumba pada 1997 dan saat itu Sam yang lulus dari sebuah sekolah Swasta di Manda Elu bekerja di sebuah hotel sebagai guide penjemput di bandara. Sam muda begitu sering mengurus tim Birdlife, hingga pada 1998, ia memutuskan bergabung dengan Birdlife Internasional.

Ayah dari dua orang anak ini kemudian dipindahkan ke Birdlife Indonesia yang kemudian lebih dikenal sebagai Yayasan Burung Indonesia. Selain melakukan inventarisasi satwa di Sumba, Sam juga terlibat dalam tim yang menginvestigasi aktifitas penyelundupan dan perdagangan satwa liar di beberapa tempat baik di Sumba maupun daerah lain di Indonesia.

Kerja keras, ketangguhan, loyalitas pada pengabdian, serta pengalaman dan kecintaan pada dunia satwa khususnya burung membuat Birdlife Indonesia memboyong Sam ke Flores, dalam program perdana mereka di hutan Mbeliling, Manggarai Barat pada tahun 2007.

Sam yang menikah pada tahun 2000 membawa sekaligus keluarga kecilnya ke Flores. “Dua dapur tidak sanggup boss…” Ungkapnya sambil terkekeh. Saat itu, Yayasan Burung berkantor di Labuan Bajo. Setelah kantor berpindah ke Werang, Sanonggoang, Sam juga pindah ke sana bersama keluarganya.

Kepindahan mereka ke Werang ternyata merupakan awal dari keputusan besar dalam hidup Sam dan juga keluarga kecilnya, yakni tinggal dan menjadi orang Werang secara permanen. Saat ini, Sam telah mantap menetap sebagai orang Werang dan memiliki rumah permanen untuk keluarganya.

Perjalanan Sam bersama Burung Indonesia dimulai dari proyek Survei keanekaragaman burung di Mbeliling yang diberi nama Pengelolaan Kawasan Mbeliling Secara Berkelanjutan. Jengkal demi jengkal hutan Mbeliling dia jejaki, untuk melihat dan mengamati serta mendata kekayaan burung di kawasan seluas 77.490 ha itu. Rasa cintanya pada kawasan Mbeliling, pada burung – burung dan bentang alamnya, pada keramahan masyarakatnya semakin bertambah. Bagi Sam, aktifitasnya di Mbeliling, mengamati burung sudah jauh melampau tugas dari lembaga tempatnya mengabdi, tetapi bertumbuh menjadi rasa cinta dan memiliki.

Dari Mbeliling, ia bergerak melakukan inventarisasi (lepas dari tugas Burung Indonesia) hingga ke beberapa titik pengamatan Burung di seluruh Flores. Kegiatan invetarisasi burung menjadikan dirinya sebagai salah satu orang yang paling mengerti tentang kondisi burung di Flores saat ini. Pengalaman dan pengetahuan yang ia miliki membuat ia sering diminta untuk menjadi pemandu bagi wisatawan dan para peneliti yang datang mangamati burung di Flores. Dari sanalah ia mulai dikenal sebagai pemandu wisata pengamatan burung (birding) baik wilayah Flores maupun Sumba. Pengalaman – pengalaman selama menjadi pemandu wisata memberikannya tawaran tantangan baru. Puncaknya pada 31 Januari 2018, ia memutuskan mengundurkan diri dari Burung Indonesia dan menggeluti pekerjaan baru, yakni Birding guide.

Baginya, menjadi guide burung tidak pernah terlintas di kepalanya, bahkan ketika ia sudah mengerti tentang burung bersama Birdlife. Ia berharap, dengan menjadi guide burung, ia terlibat lebih jauh dan mandiri dalam mengenalkan burung di Flores kepada wisatawan dan dengan demikian memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di sekitar habitat. Saat ini ia berpikir dan berusaha bagaimana memberdayakan masyarakat lokal untuk ikut terlibat dalam kegiatan wisata, agar konservasi burung – burung di Flores terus berlanjut dan diwariskan, hingga menjadi budaya.

Sosok Sam, tidak bisa lepas dari burung – burung di Mbeliling, begitu juga sebaliknya. Hal ini juga yang membuat orang mengenalnya dengan nama baru “Sam Burung”. “Asal jangan dibalik bos, nanti ‘Burung Sam” hahaha.

Please follow and like us:
error0

1 Trackback / Pingback

  1. Kakatua Jambul Kuning Masuk Labuan Bajo; Berkah atau Bencana? | Jagarimba

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*