Demi si Bidadari di Akejawi

0 592

Speedboat yang saya tumpangi dari Ternate tiba tengah hari di pelabuah Sofifi. Pak Mahroji sudah menunggu di dermaga. Cuaca berubah – ubah dengan cepat, sesaat mendung, lalu cerah, kemudian mendung kembali. Barangkali karena angin yang berembus cukup kencang. Sofifi, ibukota propinsi Maluku Utara tampak seperti sebuah kota kecamatan saja. Tidak begitu ramai. Jalan – jalannya lengang, mungkin juga karena bertepatan dengan bulan puasa yang baru saja memasuki hari  ke 3. Selain itu, kota ini memang tergolong kota yang belia. Kata pak Mahroji, sebelum jadi ibukota provinsi, Sofifi hanya sebuah desa pesisir yang sulit diakses. Sofifi menjadi ibukota provinsi pada 2010 lalu, menggantikan Ternate.

Dari Sofifi kami berkendara ke utara sejauh 40km menuju Dodinga. Oh iya, sekedar pengingat, Dodinga ini adalah sebuah desa pesisir barat Halmahera, tempat di mana AR Wallace pada Februari 1858 terserang demam yang kemungkinan besar akibat Malaria. Peristiwa yang mengilhami naturalis asal Inggris itu mencetuskan teori seleksi alam, cikal bakal teori evolus Darwin yang kita kenal saat ini.

Di persimpangan Dodinga kami berbelok ke timur sejauh 30km menuju Akejawi. Akejawi ini merupakan kawasan transmigrasi di masa pemerintahan Orde Baru. Wilayah ini sebagain besar dihuni oleh etnis Jawa. Bahkan orang asli Halmahera seperti sopir yang membawa kami, namanya Rahman, hari – harinya berbahasa Jawa. Di kampungnya hampir seluruh warga berbahasa Jawa. Saya lupa menanyakan soal nama Akejawi ini ke pak Mahroji. Apa mungkin nama itu berasal dari Ake(h) yang berati Banyak dan Jawi untuk menyebut Jawa. Jadi Akejawi itu daerah di mana banyak orang Jawanya. Akejawi inilah gerbang menuju salah satu lokasi pengamatan Bidadari Halmahera, burung ajaib yang menyeret saya ke sini.

Kondisi jalan Trans Halmahera sangat bagus tak sebanding jalan di kampung saya di Flores. Tidak ada tanjakan berarti, juga tidak ada tebing – tebing terjal. Jalan yang lebar dan mulus di medan yang landai, dengan intensitas kendaraan yang lewat terbilang jarang. Sebagian besar pemandanganya adalah hamparan perkebunan kelapa berumput hijau, sesekali diselingi perkebunan Cengkih, dan Kakao. Halmahera cantik dan subur. Tidaklah keliru jika bangsa – bangsa Eropa pernah bersengketa sengit demi menguasai kepulauan Maluku termasuk Halmahera ini.

Di Akejawi saya menginap di rumah Pak Mahroji yang terletak persis di tepi Taman Nasional Aketajawe – Lolobata (TNAL). Rumahnya cukup luas. Sejauh yang saya tahu terdapat kurang lebih 4 kamar tidur utama di bagian depan dan beberapa lagi kamar tidur di bagian belakang dan bangunan di samping rumah utama. Sebuah rumah panggung bertiang tinggi dengan pendopo yang luas menghadap hamparan kebun dan hutan Taman Nasional. Rumah ini menjadi pilihan paling masuk akan untuk menginap bagi siapapun yang mau menjelajahi TNAL melalui Akejawi.

Pak Oji (panggilan pak Mahroji) tidak punya tentangga dekat. Rumah terdekatnya berjarak hampir 1 km ke arah jalan raya. Di belakang rumah pak Oji mengalirlah sungai Paruama yang menjadi batas alami anatara pekarangan dan kawasan TNAL. Tidak ada listrik di sini. Mesin genset dihidupkan selama 3-4 jam di malam hari atau saat – saat dibutuhkan untuk pengecasan baterai, dll. Bisa dibayangkan bagaimana suasana di rumah ini. Pak Mahroji sendiri merupakan staf Taman Nasional Aketajawe- Lolobata. Ia juga bekerja secara luas bagi para peneliti baik personal maupun lembaga. Tentang pak Oji akan saya ceritakan nanti.

Selepas bersitirahat, minum kopi dan menyimpan barang – barang, pak Oji mengajak saya ke pekarangan rumahnya. Menyeberangi sungai, beberapa meter masuk ke dalam kawasan Taman Nasional. Di sini ia membuat tempat persembunyian (hide) sebagai kamuflase untuk melihat salah satu burung endemik Halmahera; Paok Halmahera (Pitta maxima). Sore itu seekor Paok Halmahera mengunjungi hide selama hampir setengah jam. Dengan leluasa saya mengamati dan memotret burung ini tanpa terganggu sedikitpun. Di sekitar rumahnya, pak Oji memiliki beberapa hide. Beberapa jenis burung endemik dan langka menjadi pengunjung rutin di lokasi – lokasi ini.

Paok Halmahera / Ivory-breasted Pitta (Pitta Maxima) di pekarang rumah pak Mahroji

Sore hingga malam hari, hujan turun sederas – derasnya. Kami hanya bisa meringkuk di dalam rumah, mendengarkan suara kodok bersahutan dari rawa dan kolam – kolam ikan di sekitar rumah. Tidur harus lebih awal, besok pagi masih gelap harus sudah beranjak. Jangan sampai terlambat, atau perjalanan ratusan kilometer kali ini akan sia – sia belaka.

Alarm saya menyalak pada pukul 03.00 pagi. Saya terbangun. Tidak ada yang perlu dipersiapkan lagi. Semua sudah siap sejak semalam. Di beranda saya menyeduh kopi, menandaskannya dengan cepat, hati lega melihat langit yang cerah. Semoga pertanda baik. Beberapa menit berlalu, kami sudah meninggalkan rumah, menyeberangi sungai dan memasuki hutan TNAL. Pagi itu kami berempat dalam rombongan.  Saya dan pak Mahroji serta 2 mahasiswa magang dari IPB. Kecuali saya, mereka semua sudah melihat Bidadari Halmahera.

Menyusuri hutan dataran rendah TN Aketajawe yang berlantai karst tajam membutuhkan kehati – hatian. Kami melangkah pelan. Baru seratusan meter memasuki hutan, kemasyuran Taman Nasional ini langsung menunjukkan rupanya. Beberapa jenis burung tidur di ranting – ranting rendah sekitar trek. Ada Kehicap Kacamata (Symposiachrus trivirgatus), Kehicap Kilap (Myiagra alecto), Kancilan Maluku (Pachycephala mentalis), dan Paok Jailolo (Erythropitta ruviventris). Tak jauh dari sana kami bertemu mamalia endemik Kepulauan Maluku. Kuskus Maluku! Kuskus Maluku (Phalanger ornatus) memang menjadi salah satu satwa target, tetapi kali ini saya tidak terlalu berharap menjumpainya. Apalagi sampai mengabadikannya seperti pagi ini. Ini adalah tentu saja momen yang tak terduga.

Lebih dari sejam perjalanan kami tiba di shelter. Ada dua tenda berdiri di lokasi ini sebagai tempat perhentian. Sebagian orang merasa terlalu berat melakukan perjalanan dari rumah pak Mahroji dini hari menuju lokasi pengamatan Bidadari Halmahera. Apalagi jika pengamatan berlangsung berhari – hari. Malam itu ada 2 orang yang bermalam di camp. Saat kami tiba, mereka sudah bersiap – siap. Dari shelter ini, jarak lokasi Bidadari Halmahera sudah dekat. kurang dari 2 km lagi. Kami kembali melewati lantai karst berpermukaan tajam, menuruni lereng landai lalu menyusuri cekungan kering sungai musiman. Setelah melewati sebuah gua karst yang diberi nama Gua Melissa (entah kenapa saya agak canggung menyebut nama gua ini), jalan kemudian menanjak tajam langsung mengarah ke lokasi pengamatan Bidadari.

Tempat pengamatan Bidadari Halmahera berupa platform terbuat dari balok – balok kayu berukuran 3x2m, berada pada ketinggian 10 meter di atas permukaan tanah. Kondisinya masih sangat baru dan kokoh. Ternyata ini adalah platform yang dibuat khusus oleh pak Mahroji dkk untuk tim BBC Wildlife yang datang mendokumentasikan Bidadari Halmahera selama sebulan penuh pada Februari kemarin. Nah, titik pengamatan kami hari ini sama persis dengan titik pengambilan dokumenter BBC.

Hanya kami bertiga yang naik ke platform. Saya, Made dari ITB, dan Hannes birder asal Jerman. Sedangkan pak Mahroji, Bang Bahar, dan Atok menunggu di tenda di sekitar platform. Hari masih gelap, tetapi sang Bidadari sudah menari di kegelapan. Suaranya menggema ke lereng – lereng di seberang, terpantul jauh ke lembah. Begitu dekat dengan kami tetapi tentu saja kami belum bisa melihatnya. Butuh waktu cukup lama hingga kami bisa melihatnya samar – samar bergerak menari – nari di antara ranting dan dedaunan. Mula – mula sendirian, lalu menyusul satu lagi, dan satu lagi, hingga jumlah mereka diperkirakan 5 hingga 7 individu.

Setengah jam berlalu, kami mulai dengan jelas melihatnya menari – nari pada jarak kurang dari 10 meter persis di depan kami. Semakin lama, seiring cahaya pagi yang makin benderang, tarian – tariannya semakin jelas. Sepasang bulu panjang berwarna putih menjulur keluar dari punggungnya, bergerak naik turun, melambai, sesekali berdiri tegak, seperti disentak energi dari dalam tubuh sang bidadari. Sementara ia menari, bulu di dada bagian atas berwarna antara perpaduan hijau toska atau wilis (tergantung cahaya yang menimpanya) membentuk sirip berujung tajam yang mengkilap, berjumbai keluar.  Sayapnya berlapis – lapis putih dan tipis. Ditutupi mantel berwarna zaitun.  Gerakannya lincah, membuat kombinasi yang tak terduga di setiap saatnya. Burung ini memiliki posisi favorit yakni menari pada ranting diagonal. Di posisi seperti ini, ia akan menampilkan formasi bagian – bagian tubuhnya yang paling dramatis.

Cuplikan video Bidadari Halmahera yang saya abadikan

Burung bernama latin Semioptera wallacei itu benar – benar bidadari sejati. Rupa yang menawan dengan tarian yang indah. Ia sangat agresif menunjukkan setiap lekuk keindahan tubuhnya yang manakjubkan. Bidadari Halmahera pertama kali dikoleksi oleh Ali, asisten AR Wallace pada tahun 1858. Kisah pertama kali Wallace melihat bangkai burung ini dituangkannya dengan penuh gairah dalam buku The Malay Archipelago. Ia mengisahkan bagaimana ia terheran – heran dengan bentuk tubuh burung yang tampak benar – benar baru baginya. Saat menulis surat kepada agen kolektornya di Inggris bernama Samuel Stevens, Wallace secara terang – terangan mengungkapkan kegembiraannya yang tiada tara. Saat itu Wallace sudah yakin bahwa ini adalah burung dari genus yang benar – benar berbeda.

Satu jam 40 menit lamanya kami menyaksikan mereka menari – nari. Secara bergantian menguasai ranting – ranting dan dahan – dahan di ketinggian. Beberapa kali si pejantan mematahkan ranting kecil yang manghalanginya menari. Tarian semacam ini kata pak Mahroji, berlangsung setiap hari sepanjang tahun. Itu artinya bagi Bidadari Halmahera, menari adalah ritual harian, bukan aktifitas berkembang biak. Ia tidak menari untuk menarik perhatian pasangannya. Ia menari untuk hari yang beranjak pagi, untuk dunia, mungkin juga untuk Penciptanya.

Saya dan Made memiliki satu hari ini saja di sini, sedangkan Hannes masih menginap di hutan selama 3 hari ke depan. Matahari makin tinggi,  suara sang Bidadari semakin samar dan menjauh. Berganti suara menggelegar Julang Irian dan Kakatua Putih. Di perjalanan pulang ke camp, kami sempat mengabadikan Raja Udang Kerdil Maluku (Ceyx lepidus), burung mungil salah satu idola para penghobi fotografi burung.

Di hutan TN Aketajawe rasa – rasanya, waktu berlari sekencang – kencangnya. Saya tidak tahu, berapa lama waktu yang ideal untuk menikmati keindahan Taman Nasional seluas 167.300 ha ini. Satu setengah jam yang kami habiskan barusan untuk mengamati Bidadari Halmahera tentu saja tidak ada apa – apanya. Kami butuh lebih lama dan lebih sering lagi berada di sini. Pak Oji bilang bahwa TN Aketajawe – Lolobata memiliki gua – gua karst eksotis yang tidak pernah benar – benar dijelajahi, satu lagi tawaran yang nyaris mustahil untuk ditolak, jelajah gua karst Aketajawe!

DI shelter kami memulihkan diri dengan berisitrahat, makan, minum kopi, dan berbincang banyak hal. Belum benar – benar tuntas menyaksikan tariang Bidadari Halmahera, kini saatnya menyusun siasat menjelajahi surganya berdiam. Barang sedikit, mungkin misterinya tercecap, kembali menyusuri labirin karstnya  yang menawan, di jantung Halmahera. Sebelu meninggalkannya, saya memandang lekat – lekat ke sekeliling shelter. Ke baris pepohonan dan rerimbunan rotan di tepi sungai, dalam hati merasa yakin akan ada di sini, tak lama lagi!

Beberapa dokumentasi spesies yang kami jumpai di TN Aketajawe – Lolobata

Leave A Reply

Your email address will not be published.