Perjalanan saya ke Alor kali ini diwarnai drama perubaan jadwal penerbangan oleh masakapai andalan rakjel Nusantara. Dalam 1 pekan, 3 penerbangan antarpulau saya diubah jadwalnya kurang dari 24 jam sebelum keberangkatan. Alhasil, banyak waktu yang terbuang karena menunggu penerbangan berikutnya alih – alih dihabiskan di hutan. Termasuk di Alor ini.
Saya rencananya akan tiba dengan penerbangan pagi pada 12 April 2022 dan malam itu camping di perbukitan antara Apui dan Manmas. Semua sudah disiapkan, dan jadwal penerbangan yang diubah dalam waktu kurang dari 24 jam membuat semuanya berantakan. Saya hanya memiliki waktu kurang dari 8 jam untuk mendapatkan target saya; si kerudung merah Myzomela Alor (Myzomela prawiradilagae).
Sampai di Bandara Mali, Alor saya sudah dijemput om Nik dari Mala Tour. Tahu bahwa waktu saya sangat terbatas, kami tidak mau membuang kesempatan. Setelah membeli logistik untuk makan siang, kami langsung menuju pesisir utara. Menyusuri jalan lintas utara Pulau Alor lalu berbelok ke kanan di Waisika.
Kami melewati tepian sungai di mana 41 rumah warga hancur tersapu banjir bandang pada 4 April 2021 silam. Om Nik memelankan laju mobil sambil bercerita tentang hari – hari bencana setahun silam dan lokasi perumahan warga yang kini telah bersih tersapu banjir.
Dari Bukapiting, Waisika, jalan langsung menanjak tajam sejauh hampir 10km. Di beberapa titik kami berhenti untuk mencoba keberuntungan bertemu Elang Flores yang menurut data laporan sebelumnya menunjukkan catatan perjumpaan elang berstatus kritis itu lebih mudah di sini dibandingkan di wilayah sebaran lainnya seperti Flores dan Sumbawa.
Memasuki ketinggian di atas 800mdpl di Waipui, hawa sejuk mulai terasa. Burung – burung sudah mulai aktif terbang melintasi lereng dan lembah di bawah sana. Pemandangan dari atas sini menakjubkan. Lereng – lereng terjal di seberang memagari tepian sungai, benteng di belakang lembah yang panjang. Indah, tetapi kami masih harus bergegas ke Apui. Waktu terus menipis.

Sekitar setengah jam berikutnya kami memasuki Apui. Apui itu kota yang sangat kacil atau tepatnya kampung yang besar. Menyusuri jalan utama, pagar – pagar hidup mengapiti jalan yang tidak terlalu lebar. Rumput – rumput hijau dipotong rapi. Tempat sampah dari bambu dengan mudah dijumpai di pinggir – pinggir jalan. Bagi saya, tidak ada kota yang lebih canti dari Apui di seluruh Nusa Tenggara Timur.
Dari Apui kami berniat ke Manmas, tetapi warga setempat menyarankan kami untuk berhenti di persimpangan Subo – Manmas. Mobil yang kami kendarai tidak cocok untuk kondisi jalan menuju kesana. Beruntung kami dipertemukan dengan om Abi, seorang sopir legendaris dari Subo. Dia menawarkan diri mengantar saya ke Manmas dengan sepeda motor. Sepeda motor yang tidak lebih dati rangka besi yang diberi mesin seadanya untuk bisa berjalan.
Kondisi jalan Subo – Manmas rusak parah dengan tanjakan maut di mana – mana. Jadilah kami 3 kali terjungkal dari sepeda motor. Saya mau jalan kaki, tetapi waktu semakin sedikit. Hari telah sore, kabut sudah turun. Hanya tersisa kurang dari 3 jam untuk bisa mendapatkan target. Jika gagal, akan jadi perjalanan yang sia – sia.
Di hutan Ampupu persimpangan Maipiy kami berhenti. Saya merasa sudah tidak sanggup lagi berada di atas jok sepeda motor. Saya sudah bisa jalan 2-3 km lagi hingga sampai ke Manmas, jika di tempat ini kami tidak menemukan target. Kabut makin tebal. Perkici Timor (Trichoglossus euteles) di tempat ini melimpah! Yang berhasil dihitung ada 36 individu. Saya perkirakan ada lebih dari 50 individu pada saat itu.
Selain Perkici Timor, saya menjumpai Kepodang Emas (Nusatenggara), Cikrak Dada Kuning, Bubut alang – alang, Cikukua Tanduk, Decu Belang, Isap Madu Indonesia, Gelatik Batu. Baru berjalan beberapa meter ke dalam hutan, saya mulai mendengar beberapa kali suara si target, Myzomela Alor. Menunggu beberapa saat, si Myzomela rupanya lebih suka bermain di tajuk – tajuk dan ranting pohon yang tinggi. Saya akhirnya mencari lokasi yang berbeda, di mana bisa mendapatkan level pandang yang bagus.

Menyusuri punggung bukit menghadap lereng yang terjal, dari sini Apui tampak nyempil di lembah hijau yang luas. Kabut beberapa kali menghalangi pandangan. Beruntung angin selalu bertiup menghalaunya pergi. Setelah hampir satu jam mencari dan menunggu, akhirnya mendapatkan lokasi terbaik untuk berjumpa langsung dengan terget ini. Di sini saya berjumpa 5 individu sekaligus. Posisi saya di bibir tebing memudahkan saya untuk mendapatkan jarak sedekat mungkin dengan si Myzomela.
Myzomela Alor merupakan salah satu burung paling ingin dijumpai dalam beberapa tahun terakhir. Burung endemik Pulau Alor ini dinyatakan sebagai sepsies baru pada tahun 2019 oleh LIPI. Diberikan nama ilmiah M. prawiradilagae, mengambil nama peneliti senior LIPI, Dewi Malia Prawiradilaga sebagai bentuk penghargaan atas dedikasinya di dunia ilmu pengatahuan khususnya bidang ornitologi.
Myzomela Alor memiliki ciri menonjol berupa tudung berwarna merah darah di kepala hingga dagu. Sebelum dinyatakan sebagai spesies terpisah, Myzomela Alor dinyatakan sebagai satu jenis dengan saudara dekatnya, Myzomela Wetar. Pada 2002, Philippe Verbelen seorang peneliti dari Greenpeace International menemukan burung ini di hutan Ampupu antara Apui dan Manmas, dan secara morfologi tampak berbeda dengan Myzomela Wetar. Sejak itu mulai dilakukan penelitian hingga 2016.
Momen yang indah bersama M. prawiradilagae saya nikmati selama satu jam, sebelum kabut semakin pekat dan tidak memungkinkan lagi untuk bertahan. Belum lagi saya harus berjalan kaki pulang Subo. Saya bilang ke om Abi kalau saya tidak sanggup lagi di atas motor dengan kondisi jalan yang menurun terjal. Selain keselamatan diri, saya juga mengkhawatirkan peralatan yang saya bawa, jika kami harus terperosok lagi di jalan pulang.

Pulang ke Subo dengan gembira. Kami menghabiskan sore di rumah om Abi. Kami disambut dengan hangat. Disuguhi kopi dan cerita – cerita dari Apui. Di Subo saya menemukan keluarga baru.
Saat hari mulai gelap, bersama om Abi dan dua orang anakanya, kami mencoba menyusuri hutan di tepi kampung Subo, sepanjang kali di batas kampung. Selama 1 jam kami mencoba mencari peruntungan menemukan target terakhir kami, Pungguk Alor (Ninox plesseni). Meski kadang – kadang burung hantu endemik Alor ini bermain – main di sekitar kampung, namun warga mengaku kalau itu termasuk jarang. Mereka biasanya menjumpai si Pungguk di kebun atau di hutan dengan jarak yang tidak terlalu dekat dari pemukiman.
Setelah satu jam berlalu tanpa hasil, kami memutuskan meninggalkan Subo dan Apui untuk kembali ke Kalabahi. Kami masih memiliki satu lokasi terakhir untuk Pungguk Alor, yakni hutan sepanjang tanjakan Waipui hingga Bukapiting. Benar saja, baru saja kami memasuki kawasan perkebunan warga, om Nik langsung menghentikan mobil kala mengenali suara Pungguk Alor beberapa meter dari jalan.
Kami turun dan mulai memutar suara rekaman. Tidak butuh waktu lama. Kurang dari 5 menit, 4 individu Pungguk Alor bersahut – sahutan dari kiri dan kanan jalan. Pungguk Alor merupakan salah satu Pungguk yang sangat bersahabat, hampir sama berhabatnya dengan Pungguk Rote. Dengan segenap kelegaan, kami meninggalkan Waipui, kembali ke Kalabahi.
