Berdansa Dengan Lautan di Lamalera

0 650

Anak – anak kecil berlarian menuruni jalan sempit di antara rumah – rumah panggung yang menempel di lereng cadas. Mereka bersorak gembira, mengerumuni bibir pantai, membiarkan kaki mereka menyentuh air laut, bahkan beberapa diantara mereka berdiri pasrah basah ditepuk ombak. Dari tengah laut, dua perahu motor melaju pelan menuju daratan. Matahari bersinar cerah di langit Lamalera, Lembata, 26 September 2017 silam.

Saya baru saja menuntaskan makan siang, kemudian melepas lelah di teras Abel Beding Homestay, sebuah homestay sederhana yang menghadap ke laut. Perjalanan panjang selama 5 jam dengan medan yang berat dari Lewoleba cukup melelahkan. Dari teras homestay di lantai dua, saya bisa melihat dengan jelas situasi di pantai yang berjarak kurang dari 100m itu. Om Yos, sopir kami dari Lewoleba berteriak memanggil saya untuk segera ke pantai, karena para nelayan baru saja mendapat tangkapan paus yang besar. Saya baru menyadari arti kegirangan anak – anak yang berlarian barusan.

Kami bergegas menuju pantai dan ikut menyambut datangnya dua buah perahu motor yang mendekat ke tepian. Benar saja, dua perahu itu membawa tiga ekor ikan berukuran raksasa berwarna hitam legam pada punggung dan putih pada bagian dada. Itu adalah 3 ekor Orca (Orcinus orca) atau yang biasa dijuluki Paus Pembunuh (Killer Whale), mamalia terbesar dari spesies Lumba – Lumba dan merupakan predator puncak di lautan. Dalam sekejap, hamparan pasir di depan pondok – pondok Nelayan penuh dengan manusia. Anak – anak bermain riang di atas tubuh Orca raksasa yang tergeletak di dalam air. Orang – orang dewasa sibuk menarik buruan ke daratan, dan beberapa lagi bersiap hendak melaut.

Om Philip, nelayan yang menemani kami bilang kalau Orca ini adalah jenis yang paling jarang didapat para nelayan. Para nelayan di sini biasanya menangkap Paus Sperma (Physeter macrocephalus) yang dalam bahasa lokal disebut Koteklema  dan Lumba – Lumba Spinner (Stenellas longirostris).  Jadi, hari itu adalah hari yang istimewa dengan hasil buruan yang langka. Di bawah gubug yang berderet bersambung – sambungan,  para pemburu melepas lelah dengan bercengkerama. Satu ekor Orca yang paling kecil sedang dipotong – potong dan dagingnya nanti akan dibagikan ke seluruh warga, sementara dua ekor yang lebih besar dibiarkan begitu saja hingga keesokan hari.

Dua Orca yang berukuran besar memiliki panjang sekitar 5 meter dan diameter bagian tengah tubuhnya antara 1,5 – 2 meter. Ini benar – benar tangkapan yang besar. Tidak heran jika keesokan harinya semua nelayan tidak melaut, sibuk memotong dan membagi – bagikan dua mamalia raksasa itu.

Anak – anak Lamalera bermain di atas tubuh Orca

Perburuan Paus di Lamalera telah berlangsung sejak abad 16, dan hanya di sini perburuan paus secara tradisional masih dilaksanakan. Para pemburu Paus ini sesungguhnya bukan orang asli Lamalera. Mereka datang dari kawasan timur dan menetap di sini. Orang Lamalera yang asli tinggal di daerah pegunungan. Om Toni, seorang warga Lamalera bilang bahwa mereka tidak merasa memburu Paus, Hiu, Lumba – Lumba dan Pari Manta, melainkan mereka menunggu ikan – ikan raksasa lautan itu datang sendiri ke halaman depan rumah mereka.

Yang mereka maksudkan sebagai halaman depan adalah area laut Sawu yang di selatan Lamalera.  Itulah sebabnya para pemburu tidak serampangan mencari Paus sepanjang waktu. Mereka juga masih terikat dengan peraturan – peraturan tradisional soal tatacara berburu dan pembagian hasil buruan. Perburuan dilakukan pada musim migrasi Paus yakni bulan Mei sampai November. Mamalia – mamalia ini bermigrasi dari Laut Banda ke Samudera Indonesia melewati laut Sawu, persis di hadapan kampung Lamalera.

Sistim Barter

Di gubug – gubug nelayan saya melihat daging  Paus yang digantung di bilah kayu sebagai jemuran. Daging – daging paus ini diiris selebar 10 – 15 cm dengan panjang 30 – 50 cm. Daging – daging ini akan dijemur hingga lebih dari dua minggu agar benar – benar kering sebelum dibawa ke pasar. Nah, kurang lebih 5 km di sebelah timur Lamalera terdapat sebuah pasar tradisional di mana para nelayan akan membawa daging paus hasil buruan. Nama pasar itu adalah Pasar Barter Wulandoni. Di sini, daging paus dan hiu akan menjadi serupa mata uang untuk ditukar denga aneka hasil pertanian dan barang – barang lain yang dibawa oleh para petani dari pegunungan.  Pasar ini dibuka sekali dalam satu minggu, dan sayangnya saat kami berkunjung, tak ada aktifitas di sana.

Daging Paus yang sedang dikeringkan

Pada hari ke dua di Lamalera, kami menyempatkan diri untuk melaut bersama para nelayan. Kami sengaja mengunjungi titik – titik di mana mereka biasa melakukan perburuan Paus dan lokasi di mana mereka menemukan Orca pada hari sebelumnya. Ombak laut Sawu memang terkenal ganas. Perahu motor kami harus melewati terjangan gelombang. Perahu yang berukuran kecil tanpa penutup ini harus dikeringkan setiap saat, agar tidak tenggelam. Para nelayan ini melakukannya sambil bergurau dan tertawa.

Saya akhirnya menyadari bahwa bagi orang Lamalera, ini bukan laut. Ini adalah halaman rumah mereka. Bukan tempat berburu, tetapi tempat bermain. Di sini, lirik lagu ”Putra Lautan’ karya Ivan Nestorman diaminkan. “Di Lamalera kita berdansa dengan lautan”.  Dari lekuk gelombang yang menutupi pandangan mata saya melihat lereng cadas di belakang Lamalera dan laut biru membentang di depannya. Tempat tinggal mereka yang tak disebut pemburu tapi penunggu, yang menjemput rejeki semesta di halaman rumah mereka.

Saat kami tiba di pantai, dua ekor Orca sedang dipotong dan dibagikan kepada warga. Apa yang saya rasakan saat itu adalah perwakilan dari semua kontroversi tentang perburuan Paus di Lamalera. Melihat tubuh Orca yang tergeletak di atas pasir dan wajah ceria anak – anak merayakan rejeki mereka. Saya tidak bisa melihat keduanya secara terpisah. Seperti melihat Orang Lamalera dan lautnya, tak kan mungkin dipisahkan. Hal ini pula yang telah menghentikan berbagai kecaman para pemerhati konservasi satwa dunia sperti WWF.

Selepas makan siang. kami meninggalkan Lamalera yang kembali hening selayaknya kampung kecil di pelosok pulau. Halaman laut mereka terbentang membiru. Ombak menari – nari seperti memanggil para nelayan untuk kembali berdansa.

Nelayan di Lamalera

Leave A Reply

Your email address will not be published.