Ensiklik Laudato Si’; Pesan Magis Pertobatan Ekologis Paus Fransiskus

0 1,304

Pada tanggal 24 Mei 2015 silam, tepat di hari Pentakosta bertempat di Basilika Santo Petrus, Vatikan, pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus menerbitkan sebuah Ensiklik yang secara khusus berbicara tentang perawatan bumi yang menurut bahasa ensiklik itu sebagai “rumah kita bersama”.

Dokumen ensiklik ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus, Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama” oleh Pastor Martin Harun OFM bekerja sama dengan penerbit OBOR. Sebelumnya pada 18 Juni 2015 secara serentak diterbitkan terjemahan dalam delapan bahasa ( Jerman, Prancis, Spanyol, Inggris, Portu, Arab, Italia dan Polandia ).

Laudato Si’, merupakan ensiklik ke dua yang dikeluarkan oleh Paus bernama asli Jorge Mario Bergoglio itu. Ensilkik ini adalah bentuk nyata keprihatinan  mendalam Paus Fransiskus akan krisis ekologis dan perubahan iklim yang memasuki fase kritis. Gereja Katolik Roma sebagai komunitas dunia ikut bertanggung jawab atas krisis ekologis yang terjadi. Paus Fransiskus mendasarkan hidup St. Fransiskus dari Asisi sebagai inspirasi bagi kelahiran ensiklik ini. “Santo Fransiskus dari Asisi mengingatkan kita bahwa rumah kita bersama (bumi) bagaikan saudari yang berbagi hidup dengan kita, dan seperti ibu yang jelita yang menyambut kita dengan tangan terbuka”. Demikian bunyi kalimat – kalimat awal pada bagian pengantar ensiklik. Laudato Si’ sendiri merupakan bahasa Italia yang berarti “Puji Bagi-Mu”, merupakan kata pujian pada karya St. Fransiskus Asisi “Kidung Saudara Matahari.”

Pada bab pertama Laudato Si’, Paus Fransiskus memaparkan kondisi terkini bumi dengan judul “Apa Yang Terjadi Dengan Rumah Kita”. Pada bagian ini, secara gamblang dipaparkan kondisi bumi yang rentan dan kritis secara ekologis. Ada tujuh persoalan yang dihadapi, yakni polusi dan perubahan iklim, masalah air, hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan kualitas hidup manusia dan kemerosotan moral, ketimpangan global, tanggapan – tanggapan yang lemah dan keragaman pendapat. Laudato Si’ membedah satu per satu kondisi ini, sebagai bagian dari tantangan yang harus dihadapi dan dicarikan jalan keluarnya agar bumi menjadi layak untuk masa depan.

Pada bab ke dua, Paus Fransiskus berusaha membangun keyakinan yang baik bahwa masih ada jalan untuk memperbaiki kerusakan – kerusakan yang ada. Melalui judul “Kabar Baik Penciptaan”, Laudato Si’ menawarkan konsep berpikir dan cara pandang yang selaras untuk memperbaiki kondisi yang sedang terjadi. Pendekatan – pendekatan kultur menjadi catatan pertama yang disampaikan Paus Fransiskus. Upaya – upaya penyelamatan bumi harus melibatkan kearifan – kearifan setiap kebudayaan. Sikap saling mengharagai antara sesama ciptaan sebagai pemilik bersama atas bumi, hendaknya menjadi dasar yang baik bagi manusia untuk menempatkan ciptaan yang lain di muka bumi ini setara, yang memiliki hak yang sama atas bumi. Keyakinan dalam iman, bahwa Allah akan memperbaiki kerusakan yang ada, juga menjadi poin penting dalam bab ini melalui “Hikmat Cerita – Cerita Alkitab”.

Manusia adalah sumber dari krisis ekologis! Penegasan itu tertuang pada bab yang ke tiga dengan judul “Akar Manusiawi Krisis Ekologis”. Pada bab ini, cara pandang dan sikap manusia terhadap alam (bumi) yang salah menjadi pangkal dari bencana krisis ekologis yang sedang berlangsung. Manusia yang memandang diri sebagai subyek atas seluruh kekayaan alam, membuatnya secara masif melakukan berbagai upaya pengerukan dan eksploitasi demi memuaskan hasrat kepemilikannya atas alam. Di samping akar manusiawi yang merusak ini, Paus Fransiskus tetap membuat catatan sendiri pada upaya – upaya manusia akhir – akhir ini dalam menerapkan tekhnologi ramah lingkungan. Kerja – kerja seperti ini diapresiasi sebagai usaha ‘mengerjakan’ kebun Sang Pencipta ini dengan cermat.

Pada bagian manakah manusia hadir sebagai ciptaan yang independen dan tidak terkait dengan alam di sekitarnya? Pertanyaan ini yang dipertajam oleh Paus Fransiskus pada bab ke empat dengan judul “Ekologi Yang Integral”. Di sini, Laudato Si’ menjelaskan fakta – fakta secara ilmiah bahwa manusia tidak bisa benar – benar secara genetik dipisahkan dari ciptaan lain di muka bumi ini. Hal ini juga dikuatkan oleh luruh bersamanya warisan kebudayaan dan alam. Ikatan yang tak terpisahakan antara kehidupan manusia dari generasi ke generasi dengan alam membuat tidak ada dari antara keduanya yang bertahan jika salah satunya hancur. Dengan demikian, krisis ekologis yang terjadi saat ini merupakan kereta yang membawa manusia dengan cepat ke masa kepunahannya.

Beberapa solusi dialogis dipaparkan Laudato Si’ pada bab yang ke lima dengan judul “Beberapa Pedoman Untuk Orientasi Dan Aksi”.Disini,Paus Fransiskus menekankan agar seluruh dunia dengan serius dan sungguh – sungguh mengalokasikan kebijakan politik yang pro ekologi. Penekanan yang pertama ditujukan kepada komunitas politik global negara – negara di dunia. Selanjutnya, setiap negara harus memiliki jalan politik yang sama, yakni pro ekologi. Begitu juga terbangunnya dialog pada tingkat lokal, untuk mencapai keputusan bersama di tingkat komunitas basis dan tradisional demi tercapainya keseimbangan ekologis yang diharapakan. Agama – agama sebagai institusi religius sekaligus sosial, diharapkan menjadi garda terdepan dalam membangun dialog – dialog konstruktif, demi perubahan cara pandang dan cara bertindak umat manusia terhadap alam ini.

Pada bab yang terakhir, melalui judul “Pendidikan dan Spiritualitas Ekologis” Paus Fransiskus menekankan agar segera dimulainya gaya hidup yang baru dalam generasi – generasi yang baru. Dengan mewariskan bumi yang kritis seperti ini, generasi sekarang sudah seharusnya wajib mewariskan generasi – generasi yang memiliki kesadaran yang baru tentang bumi. Pendidikan yang memadai disertai keteladanan, menjamin bumi ini benar – benar menjadi layak untuk diwariskan bagi masa depan generasi berikutnya.

Paus Fransiskus sadar, bahwa masalah ekologis harus diselesaikan melalui pendekatan sosiologis, dengan menempatkan manusia setara dengan makluk cipataan yang lain, memposisikan manusia sebagai manusia sesungguhnya dan memperlakukan bumi sebagai rumah bersama. Pendekatan dialogis pada semua tingkatan masyarakat global menjadi kunci keberhasilan usaha perawatan bumi “Rumah Bersama” ini. Oleh karena itu, Laudato Si’ ditutup dengan kutipan “kita mau tak mau harus mengakui bahwa pendekatan ekologis yang sejati selalu berupa pendekatan sosial, yang harus mengintegrasikan soal keadilan dalam diskusi lingkungan hidup, untuk mendengarkan jeritan bumi maupun jeritan kaum miskin (LS 49)”

Leave A Reply

Your email address will not be published.