Leptoptilos robustus; Bangau Raksasa Purba Yang Pernah Hidup di Flores

0 4,314

Seorang misionaris Katolik sekaligus arkeolog asal Belanda bernama Theodor L. Verhoeven, SVD (1907 – 1990) melaporkan hasil temuan yang mengejutkan pada tahun 1950an – 1960an di beberapa lokasi di Flores. Salah satu lokasi paling penting dalam laporannya adalah gua gamping Liang Bua, yang terletak di Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, NTT. Temuan itu adalah fosil alat -alat batu dan fosil Stegodon yang diperkirakan berusia 800.000 tahun. Verhoeven lantas berpendapat bahwa jauh sebelum manusia modern ada, manusia purba Homo erectus telah mencapai pulau Flores pada sekitar 750.000 tahun lalu. Sayangnya, hingga Verhoeven meniggal dunia, hipotesisnya diabaikan oleh para ilmuwan dan arkeolog dunia. Baru pada akhir 1990-an, setelah dilakukan proses pengujian atas kerjasama Indonesia – Belanda, akhirnya hipotesis Verhoeven mulai diterima.

Pada tahun 2001, eksavasi pertama dilakukan di Liang Bua oleh tim gabungan Indonesia yang dipimpin oleh Raden Pandji Soejono dari Badan Arkeologi Nasional dan Australia yang dipimpin oleh Mike Morwood dari Universitas New England. Pada 2003, eksavasi ini berhasil menemukan fosil spesies manusia baru dan terkecil di dunia berusia 17.000 tahun, yang dikenal dengan nama Homo floresiensis dan populer disebut Hobbit Flores.

Aktifitas Eksavasi di Liang Bua Tahun 2015 Photo: Doc. Flores Exotic Tours

Kehebohan dan diskusi yang panjang terkait penemuan fosil manusia ‘Hobbit’ di Liang Bua berimbas pada minimnya publisitas bagi penemuan fosil satwa mengejutkan di lokasi yang sama. Penemuan itu antara lain fosil Stegodon florensis dan Stegodon sondaari yang keduanya merupakan spesies Gajah purba berukuran kecil.

Pada Juni 2009, Hanneke J.M. Meijer dari Nationaal Natuurhistorisch Museum Naturalis, Leiden, Belanda dan Rokus Awe Due dari Badan Pusat Arkeologi Nasional mempublikasikan jurnal berjudul “A new species of giant marabou stork (Aves: Ciconiiformes) from the Pleistocene of Liang Bua, Flores (Indonesia)”. Meijer dan Due telah mengkhususkan penelitian mereka pada hasil eksavasi berupa material – material satwa dari lokasi penggalian H. floresiensis di Liang Bua.

Sebagian fosil Leptoptilos robustus sp. nov. Photo by E. Kruidenier

Dalam  jurnal yang dipublikasikan Zoological Journal of the Linnean Society pada tahun 2010 itu, eksavasi yang lebih dalam telah menggapai material – material yang lebih kompleks yang secara otomatis menunjukkan usia material yang lebih tua. Pada kedalaman 4.25 m – 4.70 m ditemukan material fosil jenis Aves yang diperkirakan berusia 20.000 – 50.000 tahun.

Kepada Emma Brennand, reporter BBC Earth News pada 2010, Meijer mengaku terkejut dengan penemuan fosil yang diketahui sebagai burung Bangau Raksasa ini.  Sesuatu yang tidak pernah ada dalam benaknya bahwa ada fosil Bangau sebesar itu di antara fosil – fosil burung yang sedang ditelitinya.

Material – material yang ditemukan kemudian secara morfologi dan biometrik dibandingkan dengan bagian – bagian spesies Leptoptilos dan Ephippiorhynchus dari Nationaal Natuurhistorisch Museum Naturalis – Leiden, Institut Royal des Sciences Naturelles de Belgique – Brussel dan Natural History Museum – London.

Hasil pengujian dan analisis menyimpulkan bahwa fosil yang ditemukan merupakan spesies Leptoptilos (Bangau) raksasa dengan tinggi mencapai 1.8m dan bobot sekitar 16 kg. Perbandingan osteologis antara spesies Leptoptilini yang masih ada serta fosil Leptoptilini yang lain dengan penemuan di di Liang Bua, akhirnya membawa Meijer dan Due sampai pada kesimpulan akhir bahwa Leptoptilini di Liang Bua adalah spesies baru yang telah punah yang diberi nama Leptoptilos robustus.

Ukuran tubuh Leptoptilos robustus juga telah menjadi diskusi yang hangat di antara para peneliti satwa. Sebagaimana H. floresiensis yang memiliki tinggi badan hanya 1 meter berbanding  tinggi Leptoptilos robustus 1.8 meter, memperlihatkan betapa menakjubkannya burung ini di masa itu. Sifat Leptoptilos robustus yang adalah pemakan daging, mendorong para peneliti meyakini bahwa Leptoptilos robustus kemungkinan besar (bisa) memangsa H. floresiensis yang masih bayi atau anak – anak. Tetapi, Meijer dan Due tidak bisa memberikan kepastian apakah Bangau Raksasa ini memangsa Hobbit Flores atau sebaliknya mereka dimangsa Hobbit.

Taxonomy

Saat ini di dunia terdapat 3 spesies Bangau Raksasa dari marga Leptoptilos yang masih ada yakni :

  • Leptoptilos javanicus : wilayah penyebaran India, Nepal, Sri Lanka, Banglades, Myanmar, Thailand, Vietnam, Malaysia, Laos, Singapore, Indonesia dan Kamboja.
  • Leptoptilos dubius : wilayah penyebaran di India bagian utara
  • Leptoptilos crumenifer : wilayah penyebaran bagian selatan Shara, Afrika.

Maijer dan Due dalam jurnalnya merinci taksonomi Leptoptilos robustus sbb:

Kelas:  Aves
Bangsa: Ciconiiformes
Suku: Ciconiidae 
Marga: Leptoptilos 
Jenis: LEPTOPTILOS ROBUSTUS SP. NOV

Leptoptilos javanicus (Lesser Adjutant) Photo by Carlos N. G. Bocos

 

Download Jurnal Here

Leave A Reply

Your email address will not be published.