Menguak Keindahan Menipo di Tepi Selatan Indonesia

10 5,677

Matahari bersinar cerah sejak pagi hari, membakar kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (04/10/2017). Saya ditemani seorang sahabat yang juga seorang pemandu wisata di Kupang, Martin Klau menuju kantor Balai Besar KSDA NTT, setelah membuat janji dengan pak Mugi, kepala Seksi yang mengurus perijinan masuk ke kawasan konservasi BBKSDA NTT.

Pertemuan dengan pak Mugi sungguh menyenangkan. Hampir satu jam kami berbincang – bincang di ruang kerjanya tentang banyak hal terkait rencana pengembangan kawasan konservasi dalam wilayah tugas BBKSDA NTT. Dari beliau kami mengetahui lebih detail tentang lokasi yang akan kami kunjungi hari itu.

Pulau Menipo! nama pulau ini pertama kali saya dengar dari Dirjen KSDAE, pak Wiratno pada 2013 silam. Saat itu beliau merupakan Kepala BBKSDA NTT. Hingga beliau pindah ke kantor kementerian Kehutanan dan menjadi Dirjen KSDAE, saya belum sempat mengunjungi tempat yang secara berapi – api digambarkannya. Provokasi paling gencar juga dilakukan oleh Pak Maman Suratman (Kepala Balai TN Matalawa, Sumba) yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bidang Tekhnis BBKSDA NTT. Setelah dua orang ini pindah, barulah saya mendapat kesempatan menuntaskan rasa penasaran.

Setelah mengantongi ijin dari BKSDA, kami akhirnya meninggalkan kota Kupang, menuju arah timur, melewati jalan trans nasional Timor Raya sejauh 35 km, lalu berbelok ke arah selatan di pasar Oesao. Matahari sudah berangsur turun, suhu udara juga tak sepanas ketika kami meninggalkan kota Kupang. Jalan antara Oesao – Amarasi (+ 23 km) cukup baik untuk ukuran jalan – jalan di pulau Timor. Heri, yang berada di balik kemudi, memacu kendaraan 4 wheel drive dengan kecepatan di atas 50km/jam. Hari mulai remang saat kami memasuki Amarasi.

Rute kami selanjutnya adalah Amarasi – Enoraen dengan jarak tempuh + 44 km. Hari sudah gelap. Heri sedikit memperlambat laju mobil yang kami tumpangi. Kondisi jalan lebih sempit dengan sedikit berlubang di sana – sini. Pukul 07.00 kami mulai memasuki Enoraen. Dari lereng pesisir kami bisa melihat kerlap – kerlip lampu dari benua Australia bagian utara, entah dari kota mana. Jarak Pulau Timor ke Benua Autralia + 450 km, sehingga dalam kondisi cerah, kita bisa melihat lampu – lampu di pesisir utara Australia dari pesisir selatan Timor, termasuk dari Pulau Menipo dan sekitarnya.

Memasuki Enoraen, kami harus menempuh jalan berbatu sejauh 3 km sebelum berhenti di rumah milik Pak Filipus, yang adalah kakak ipar Martin Klau. Di sana kami disambut hangat. Dari keluarga Fillipus kami mendengar banyak sekali kisah tentang pulau Menipo. Tentang Rusa dan Penyu yang dahulu sering diburu oleh warga sekitar. Juga tentang kondisi warga Enoraen yang kesulitan mendapatkan air bersih di musim kemarau. Mereka harus mengatur jadwal mengambil air dari mata air kecil di sekitar kampung dan menerapkan aturan maksimal jam pengambilan air yakni hanya hingga pukul 06.00 sore. Malam hari mereka akan membiarkan air tertampung di sebuah kolam alami di mata air agar cukup untuk esok hari. Sumber air yang terbatas ini dipakai oleh warga dari beberapa kampung baik untuk pemakaian rumah tangga maupun untuk ternak.

Setelah menyantap makan malam, kami melanjutkan perjalanan menuju gerbang masuk TWA Menipo. Malam semakin larut. Bulan menjelang purnama menerangi hamparan padang savana dan hutan bakau di tepi jalan. Pukul 09.40, kami akhirnya sampai di sebuah rumah berhalaman luas. Rumah itu milik Yesaya Talan, sang komandan TWA Menipo. Di halaman rumahnya yang luas kami berteduh di bawah sinar bulan. Berbincang tentang Menipo dan usaha konservasi di Pulau yang tak banyak diketahui orang itu, bahkan oleh orang Timor sendiri, sambil menikmati secangkir kopi. Rasa kopi menjadi lebih nikmat di tempat ini. Sungguh!

Menyeberang Ke Menipo

Menjelang tengah malam, sebuah mobil milik BKSDA NTT memasuki halaman rumah dengan 4 orang petugas di dalamnya. Malam itu mereka sibuk mengurus logistik untuk sebuah tim inventarisasi Kakatua Kecil Jambul Kuning / Yellow-crested Cockatoo (Cacatua sulphurea) di Pulau Menipo.

Lewat tengah malam, kami menuju tempat penyeberangan, yang hanya berjarak 500 m dari rumah pak Yes (panggilan pak Yesaya Talan). Di tempat penyeberangan, sebuah perahu motor milik BKSDA tertambat di antara rerimbunan Bakau. Kami melangkah penuh hati – hati di air dangkal, karena buaya Muara yang ada di perairan Menipo bisa berada di mana saja.

Jarak pulau Menipo tak begitu jauh, hanya + 100an meter. Sebuah “dermaga” kecil dari kayu baru saja selesai dibangun di tepi pulau. Suasana Menipo hening dan tenang. Sesekali terdengar langkah kaki Rusa Timor yang merasa terganggu dengan kehadiran kami. Sinar bulan jatuh di antara celah – celah lontar. Sebuah jalan yang cukup lebar memotong pulau seluas 2.450 ha itu. Jalan yang memotong pulau itu sebenarnya adalah rekayasa pembatas yang dibangun untuk mencegah kebakaran yang sering terjadi di hamparan Savana khusus di musim kemarau.

Sebuah bangunan semi permanen dibangun di pesisir selatan Pulau, sebagai rumah jaga kawasan TWA. Di sana sudah ada 3 buah tenda dome yang berdiri di luar bangunan, milik tim inventarisasi Kakatua di bawah pimpinan pak Elisa.

Malam itu kami berbaring di luar tenda, menikmati udara malam, sinar bulan, debur ombak dari Laut Timor. Meski lelah setelah melalui perjalanan yang panjang, rasa penasaran untuk segera menjelajah Menipo membuat

Kurang dua jam kami memejamkan mata. Pukul 04.30 pak Elisa membangunkan kami. Tanpa ba-bi-bu, kami bersiap – siap. Pak Elisa memimpin briefing dan membagi kami ke dalam tiga tim. Saya termasuk ke dalam tim tengah, sedangkan pak Martinus ke dalam tim barat. Pukul 05.15, suara Kakatua terdengar menggema dari beberapa sudut pulau, disusul suara – suara burung bakau yang bersahut – sahutan.

Kakatua Jambul Kuning di Pulau Menipo
Kakatua Jambul Kuning di Pulau Menipo

Inventarisasi berjalan dengan baik. Tim kami membukukan Kakatua sejumlah 15 Ekor, tim Timur membukukan 11, dan tim Barat membukukan 18 ekor. Sinar matahari pagi menerobos celah – celah lontar, menyapu rerumputan yang mulai kering menguning. Rusa Timor / Timor Deer (Cervus timorensis) berlarian di antara semak – semak. Ada yang berkelompok, ada juga yang sendirian.

Matahari mulai meninggi. Pukul 09.30, kami kembali ke camp. Kagiatan selanjutnya adalah pelepasan Tukik (bayi Penyu) ke Laut Timor. Menipo adalah kawasan konservasi Penyu Sisik Semu (Lepidochelys olivacea). Kegiatan konservasi Penyu di Menipo dimulai pada tahun 2010. Hingga bulan September 2017, sudah lebih dari 20.000 tukik yang berhasil dilepas ke laut.

Penyu di Pulau Menipo
Melepas Tukik di Menipo

Metode penetasan Penyu di Menipo adalah semi alami, yakni telur dikumpulkan dari lubang – lubang alami di sekitar pulau dan ditetaskan di sebuah kotak pasir di tepi pantai, secara alami pula.

Hari itu kami melepas 135 ekor Tukik ke laut lepas. Menyaksikan mereka berlari menggapai laut adalah pemandangan yang mengharukan. Yesaya Talan mengharapkan bahwa pelepasan Tukik ke laut akan menjadi atraksi wisata minat khusus dan wisata edukasi yang bisa menarik wisatawan ke Menipo.

Selain Kakatua Jambul Kuning, Rusa Timor dan Penyu Sisik Semu, keunikan terakhir yang menjadi daya tarik Menipo adalah keberadaan Buaya Muara, bak sepasukan penjaga kawasan pesisir selatan indonesia itu. Pada kunjungan kali ini, kami tidak menemukan para buaya ini. Hal ini karena durasi kunjungan yang sangat singkat.

Rusa Timor di Pulau Menipo
Rusa Timor di Pulau Menipo

Menikmati Menipo bagi saya seperti terdampar di sebuah pulau dongeng. Keindahan hamparan pulau yang dihiasi Lontar tinggi menjulang, dilingkari laut yang masih alami dan bersih, kekayaan flora dan fauna di dalamnya dan hamparan pasir putih bersih di pesisir selatan, membuat Menipo menjadi salah satu kawasan konservasi khusus yang wajib dikunjungi. Menjelang tengah hari, kami meninggalkan Pulau Menipo, menuju kantor TWA.

Di sana kami berbincang panjang dengan pak Yes, tentang perjuangan mereka menjaga Menipo dan mimpi – mimpinya tentang pulau yang ia jaga bersama para petugas TWA yang lain.

Yesaya Talan – Kepala TWA Menipo

Dalam segala keterbatasan di pedalaman pulau Timor, mereka terus mengabdi bagi kelestarian alam Menipo. Dari semangat mereka, Menipo memiliki harapan akan tetap lestari, indah dan menakjubkan.

Sebelum kami kembali ke Kupang, pak Yesaya menitipkan pesan untuk mengabarkan keindahan Menipo ke seluruh dunia! Semoga harapan dan pengabdian mereka di Menipo berbuah manis bagi generasi – generasi selanjutnya.

10 Comments
  1. Martin Klau says

    Terima kasih, Pak Yovie. Atas tulisan mengenai Menipo semoga bermanfaat bagi kita semua.

    1. admin says

      Terima kasih juga pak Martin, sudah mengantar dan bersama2 menikmati Menipo.

  2. Chris Djoka Ringgi says

    Sering pulang libur ke NTT baru dapat cerita pulau indah ini. Moga kelak bisa sampai di tempat ini. Salam lestari.

    1. Jagarimba says

      Semoga sempat berkunjung pak Chris. Pulaunya indah dan menawan.

      1. imanuel says

        Pingin cepat2 kesana twa menipo

        1. Jagarimba says

          Semoga segera terujud pak Imanuel.

  3. Obe natun says

    Terimakasih atas ulasannya mengenai pulau menipo. Semoga menipo semakin terkenal dan maju pariwisata nya.

    1. Jagarimba says

      Semoga pak. Terimakasih sudah membaca.

  4. Johana says

    apakah masyarakat umum dapat mengunjungi Menipo pak? Atau harus mengurus izin dulu? dan apakah pengurusan izin mudah atau sampai memakan waktu beberapa hari?
    trimakasih

    1. Jagarimba says

      Masyarakat umum bisa langsung ke Menipo. Nnti beli tiketnya langsung di kntor TWA Menipo di pintu masuk ke Menipo.

Leave A Reply

Your email address will not be published.