Merayakan Mekarnya Naru, Sakura Cantik Dari Ruteng

0 1,544

Sepanjang bulan Juli – Agustus setiap tahun, selalu ada pemandangan unik yang menyela hijaunya hamparan hutan di sisi utara lereng Ranaka. Pada periode ini, para pengguna jalan trans Flores akan dengan mudah menemukan penampakan rimbunan pohon berwarna Merah Jambu yang tersebar di lereng hijau antara hulu Wae Reno di perbatasan Manggarai Timur dan Manggarai, hingga Rongket. Rimbunan pohon ini tampak sangat mencolok di antara pepohonan lain yang rata – rata berdaun hijau.

Telah lama orang secara latah menyebutnya sebagai pohon pink. Nama ilmiahnya adalah Wightia borneensis ssp. ottolanderi. Dalam buku Dictionary of Manggarai Plant Names (The Australian National University; 1982) karya  Jilis A.J. Verheijen, terdapat tiga nama berbeda dalam bahasa Manggarai untuk jenis pohon ini yakni Haju Naru, Haju Ngelék dan Haju Nggelék. Penamaan ini tentu saja sangat bergantung pada dialek lokal di mana pohon ini ditemukan. Naru menjadi salah satu spesimen flora koleksi Verheijen yang saat ini tersimpan di Naturalis Biodiversity Center, Leiden, Belanda.

Naru adalah pohon peluruh yang menggugurkan daunnya di musim kemarau. Nah, penampakan warna merah jambu yang ditunjukkan Naru adalah  kombinasi antara peluruhan daun secara total bersamaan dengan mekarnya bunga – bunga berwarna Merah Jambu.

Bunga Naru, Wightia borneensis ssp. ottolanderi.

Bunga – bunga Naru berupa kantung – kantung dengan panjang 1 – 2 cm. Di dalam kantung – kantung itu berisi madu yang menjadi incaran burung – burung penghisap madu dan juga lebah. Di setiap musim mekarnya Naru, burung – burung ramai memenuhi ranting – rantingnya untuk mendapatkan madu.

Pohon Naru cenderung menjulang mencapai 15m dengan batang yang tidak kokoh. Untuk menjaga tegakan batangnya, Ia bertumbuh berhimpitan dengan pohon yang lebih kokoh, seperti Ficus. 

Meski tampak seperti Bunga Sakura, tetapi sesungguhnya Naru benar – benar berbeda dengan bunga Nasional Jepang itu. Bahkan mereka masuk dalam kategori famili yang jauh berbeda, Sakura dari famili Rosaceae bersama jenis Mawar dan Raspberry, sedangkan Naru berasal dari Famili Paulowniaceae.

Populasi Naru di Ruteng sebenarnya tergolong langka karena sejauh ini, pohon dewasa yang ditandai dengan penampakan bunga di musim kemarau jumlahnya kurang dari 30 pohon. Semua pohon Naru yang terdata saat ini berada pada ketinggian di atas 1000mdpl. Dengan persebaran yang luas, tentu saja Naru masih mungkin dijumpai di tempat lain di Flores, namun tidak ada data resmi yang terkumpul.

Naru telah sering digadang – gadang menjadi daya pikat yang lain bagi para wisatawan untuk datang ke Flores, khususnya di Ruteng. Sampai saat ini, belum ada kiat – kiat yang dilakukan oleh pihak manapun untuk membuat Naru menjadi daya tarik wisata. Tahap pengenalan Naru ke khalayak adalah langkah pertama yang harus ditempuh sembari bermimpi, suatu saat orang – orang berbondong – bondong memadati Ruteng di bulan Juli – Agustus demi merayakan Mekarnya Naru, Sakura dari Lereng Ranaka. Who knows? 

Leave A Reply

Your email address will not be published.