…sebelumnya… Cerita Birding dari Timor
Dari pelabuhan Tenau di Kupang, saya dan Andy menumpang kapal cepat Express Bahari. Laut tenang. Butuh waktu kurang dari dua jam di laut hingga akhirnya kapal bersandar di dermaga Baa, Rote Ndao. Saat turun dari kapal, matahari tepat berada di ubun – ubun. Kami meringis, hari yang panas sekali. Rote dikenal sebagai salah satu pulau terpanas dan terkering di Indonesia. Terlepas dari bukti ilmiah soal ini, yang saya rasa pulau paling selatan Indoensia itu memang benar – benar panas dan kering. Selama sekitar satu jam kami berhenti di pinggir kota Ba’a untuk makan siang, berharap matahari bergeser ke barat dan hawa sedikit bersahabat. Namun dasar Rote, tidak ada tanda – tanda suhu melandai. Dari sini kami berkendara ke Rote Timur, menuju Bolatena yang berjarak 45km dari kota Baa.
Perjalanan ke Bolatena ditempuh dalam waktu 2 jam, dengan kondisi jalan separuh mulus, separuhnya lagi buruk. 20km terakhir jalan rusak dan berdebu. Beberapa kali kami berhenti, mencoba pengamatan di hutan – hutan tepi jalan, tetapi rupanya bukan pilihan bagus. Berkali – kali pula kami harus berlari ke dalam semak demi menghindari kepulan debu yang diterbangkan truk – truk yang lewat.
Ada 3 lokasi penting di Bolatena dan sekitarnya yang menjadi tujuan utama kami. Pertama adalah Danau/Dano Oendui yang terletak di desa Sotimori. Danau ini berair payau, dengan perkiraan luas antara 35 – 40 hektar. Salah satu surga burung air di wilayah Nusa Tenggara Timur. Burung – burung air bergerombol dalam kelompok – kelompok besar. Tersebar di seantero danau dan di tepian. Mungkin butuh waktu lebih dari sehari di tempat ini untuk menghitung jumlah individu setiap spesies yang ada.
Dengan waktu yang sangat terbatas kami mencatat beberapa spesies dengan jumlah individu lebih dari 100 antara lain Titihan Telaga Triwarna / Tricolored Grebe (Tachybaptus tricolor) yang merupakan salah satu target Andy , Pecuk Padi Belang / Little-pied Cormorant (Microcarbo melanoleucos), Pecuk Padi Hitam / Little Black Cormorant (Phalacrocorax sulcirostris), Belibis kembang / Wandering whistling duck (Dendrocygna arcuata), Itik Alis / Pacific Back Duck (Anas superciliosa). Di Oendui juga kami bertemu Undan Kacamata / Australian Pelican (Pelecanus conspicillatus), Trulek Topeng / Masked Lapwing (Vanellus miles), Cerek Topi Merah / Red-capped Plover (Charadrius ruficapillus), dan sekelompok besar Dara Laut Tiram / The gull-billed tern (Gelochelidon nilotica) yang terbang di atas danau sambil sesekali menyambar permukaan danau.

Oendui bukan hanya surga burung air. Hutan dataran rendah di sisi utara dan selatannya adalah habitat beberapa spesies penting Pulau Rote. Beberapa laporan pengamatan menyebut hutan di utara danau merupakan lokasi di mana Punai Timor dan Nuriraja Kembang cukup sering dijumpai. Pada bibir hutan di selatan danau kami bertemu salah satu andemik Pulau Rote yang juga merupakan target utama yakni Cikrak (Daun) Rote / Rote leaf warbler (Phylloscopus rotiensis). Cikrak Rote menjadi salah satu burung paling ingin dijumpai oleh para birder yang datang ke Nusa Tenggara. Burung ini ditetapkan sebagai spesies baru pada tahun 2019, dan mengukuhkan Rote sebagai salah satu pulau tujuan birding.
Hari mulai remang waktu kami meninggalkan Oendui. Berkendara sejauh 2 km ke arah barat. Di tepi hutan kami menunggu gelap turun. Menajamkan pendengaran pada apapun yang bersuara dari kedalaman hutan. Tidak butuh waktu lama, tiga individu Pungguk Rote / Rote Boobook (Ninox rotiensis ) bersahut – sahutan. Kami mendekati sumber suara, lalu menyadari ada lima individu sedang bertengger berdekatan. Pungguk Rote memang dikenal sebagai burung malam yang sangat bersahabat.

Dari lokasi Pungguk, dalam jarak kurang dari 50 meter kami mendengar salah satu spesies endemik Timor dan Rote yang belum dipisahakan secara resmi, yakni Cablak Timor / Timor Nightjar (Caprimulgus sp. nov). Meski menjadi salah satu target penting, kelelahan yang melanda ditambah bayangan perjalanan 2 jam berikutnya kembali ke Ba’a membuat kami mengurungkan niat menemukan si Cablak di dalam hutan. Mengetahuinya ada di sana saja sudah cukup.
Hari ke dua, kami meninggalkan hotel di Ba’a tepat pukul 04.00. Kembali menyusuri jalan yang kami lalui semalam, menuju Rote Timur. Langit Rote tampak gelap pagi itu. Di beberapa titik di sepanjang jalan gerimis turun meski intensitasnya ringan. Sampai di kawasan hutan Bolatena, kami langsung menyasar target utama kami hari itu. Endemik Rote yang baru ditetapkan pada 2018 lalu; Myzomela Rote / Rote myzomela (Myzomela irianawidodoae).
Populasi burung penghisap madu ini masih cukup baik di sini. Tidak sulit menemukannya bermain – main di semak – semak dan pucuk pepohonan di tepi jalan. Cuitannya yang melengking khas, membuat keberadaannya mudah dideteksi. Puas mengamati dan memotret Myzomela, kami bergerak sepanjang jalan ke arah utara. Beberapa kali merekam Sikatan Bakung / Timor blue flycatcher (Cyornis hyacinthinus), Walik Ratu / Rose-crowned fruit dove (Ptilinopus regina), Burung Ara Timor / Green (Timor) figbird (Sphecotheres viridis), Kipasan Rote / Roti Fantail (Rhipidura tenkatei), dan Anis Cendana / Orange-sided thrush (Geokichla peronii).

Birding di Rote bagi saya masih menyisakan bergudang rasa penasaran. Saya berharap bisa berjumpa Punai Timor di Rote, tetapi persoalan utama kami kali ini adalah waktu yang sangat terbatas, belum lagi banyaknya waktu yang terbuang di perjalanan dari Ba’a ke lokasi birding. Beruntung semua spesies target untuk pulau Rote berhasil teramati. Saya juga masih menyimpan harapan suatu saat bisa menjelajahi Rote lebih lama untuk kekayaan burung airnya, karena Rote termasuk pulau yang memiliki banyak kawasan basah berupa rawa – rawa, danau, dan teluk.
