Tangkoko! Akhirnya…

0 597

Perjalanan saya melenceng dari rencana awal. Seharusnya saya ke Ambon, lalu ke Saumlaki untuk menyusuri pulau – pulau kecil di Maluku Tenggara hingga ke Tanajampea, Sulawesi Selatan. Setelah menghitung ulang waktu yang saya punya, ternyata tidak pas. Saya hanya punya waktu paling banyak 8 hari sebelum harus kembali ke Flores. Menunda perjalanan juga tidak mungkin karena sudah membeli sebagian tiket penerbangan. Jadilah saya mengalihkan tujuan dari Maluku Tenggara  ke Sulawesi Utara!

Saya tiba di Manado pada 30 Juli 2022 sore. Bang Esli, teman saya seorang birdguide di Sulawesi menjemput saya di Bandara Sam Ratulangi Manado. Kami kemudian berkendara menuju Batu Putih, kampung di tepi hutan Tangkoko, di pesisir timur Sulawesi Utara.

Perjalanan dari Manado ke Batu Putih berlangsung di bawah temaram matahari senja selepas hujan. Tentu saja memberi tambahan aksen pada keindahan sejati yang ada. Jalanan lapang dan lengang. Matahari yang hangat menyulut aspal basah mengepulkan uap tipis yang mengambang di sepanjang jalan Manado – Bitung.

Selepas kota Bitung, persis sebelum simpang Batu Putih kami berhenti dan mencoba peruntungan pertama. Bang Esli bilang, ini lokasi paling mudah mengamati Elang Sulawesi. Ternyata benar. Tidak sampai sepuluh menit, seekor Elang Sulawesi (Nisaetus lanceolatus) yang masih muda bertengger di pepohonan yang menjulang dari lembah. Tak lama kemudian gelap mulai turun. Dari sini kami bergabung dengan sepasang suami istri pengamat burung dari Eropa, negaranya entah. Bersama – sama, kami melakukan pengamatan Celepuk Sulawesi, yang menurut saya ini salah satu Celepuk yang lumayan mudah dijumpai.

Pukul 19.10 saya sudah di dalam salah satu kamar Tangkoko Ranger. Penginapan ini letaknya persis di pintu masuk TWA. Ini adalah penginapan ke dua tertua di Batu Putih. Yang artinya juga menjadi saksi bagaimana Tangkoko turut menjaga denyut kehidupan di Batu Putih. Sebelum Tangkoko Ranger, ada Mama Roos Homestay yang merupakan penginapan pertama di Batu Putih. Malam itu saya menuntaskan makan malam sambil menahan kantuk.

Patung Wallace di Tangkoko

Tidur lebih awal membuat saya akhirnya bangun lebih awal! Celupuk Sulawesi melolong di tepi pagar Tangkoko Ranger. Saya mengeluarkan recorder dan mulai merekam. Pagi itu langit di Batu Putih tampak jenuh, beberapa sudut langit tampak pekat. Rupanya semalam hujan turun hingga menjelang pagi. Saat mulai terang saya keluar komplek penginapan, berjalan menyusuri Batu Putih. Kampung ini membujur ke arah pantai. Memiliki satu lajur utama. Di kiri – kanan jalan, saya melihat banyak penginapan dengan nama mengandung ‘Tangkoko’ dan ‘Tarsius’.

Penginapan – penginapan ini ukurannya rata – rata seperti rumah tinggal, beberapa lebih luas tetapi tampak bahwa seluruhnya dioperasikan oleh penduduk lokal Batu Putih. Pagi itu, Batu Putih tampak lengang. Mungkin karena cuaca yang basah sehingga orang – orang lebih cenderung tinggal diam dalam rumah. Saya baru sadar kalau hari itu hari Minggu. Orang – orang Batu Putih satu per satu keluar dari pekarangannya dengan pakaian rapih dan bersih menuju gereja.

Beberapa menit lepas pukul enam pagi, saya dan bang Esli masuk ke dalam kawasan hutan. Trek pengamatan burung dan satwa di Tangkoko sangat mudah dilalui oleh hampir semua usia. Landai, lapang, dan bersih. Sepanjang 2 km ke dalam hutan, jalannya santai. Trek pengamatan lansia, istilahnya :-D. Tidak heran memang, jika Tangkoko menjadi salah satu tempat favorit pengamat burung.

Ke Tangkoko, saya tidak punya banyak target satwa untuk diamati. Beberapa saja. Untuk non aves, urutan paling atas adalah Tarsius, primata terkecil di dunia yang juga menjadi alasan kenapa orang – orang datang ke Tangkoko. Untuk burungnya, sebagai penggemar jenis Rangkong,  so pasti Julang Sulawesi/ Knobbed Hornbill (Rhyticeros cassidix). Dua hari sebelumnya saya sudah berjumpa dengan rangkong berukuran kecil, Kangkareng Sulawesi / Sulawesi Hornbill (Rhabdotorrhinus exarhatus) di TN Bantimurung, Sulawesi Selatan. Jadi saya tidak perlu mencarinya lagi di Tangkoko. Target lainnya, jika beruntung bisa melihat semua atau sebagian besar Raja Udang endemik Sulawesi. Jenis – jenis ini paling digemari di Tangkoko, terlebih para pemburu foto.

Kiri; Kondisi trek di Tangkoko, Kanan; Bang Esli birdguide di Tangkoko

Beberapa meter ke dalam kawasan, masih di pekarangan pos CA Batu Putih, kami bertemu dengan salah satu target paling mudah dijumpai. Raja-udang pipi-ungu / Lilac kingfisher (Cittura cyanotis). Raja udang paling cuek!  Dia tidak peduli kami mengitarinya sedemikian dekat untuk mengambil sudut foto yang tepat. Dia bertengger diam. Katanya kalau tidak ketemu burung ini di Tangkoko, orang itu ketiban sial saja. Mungkin tidak dapat restu isteri waktu berangkat :-D.

Masuk lebih jauh ke dalam hutan, kami sampai di sebuah persimpangan dengan patung legam setengah badan menjulang di sisi kiri. Patung itu adalah Alfred Russel Wallace, naturalis asal Inggris yang mengumpulkan 125.660 spesimen satwa dan tumbuhan dari seluruh Nusantara antara tahun 1854 hingga 1862. Wallacea sendiri mengunjungi Tangkoko pada 1859, yang menjadi awal bersejarah bagi lahirnya Cagar Alam Tangkoko – Batuangus. Mungkin suatu waktu saya akan mengulas khusus soal aktivitas Wallace di kawasan ini.

Tanpa banyak target yang harus diamati, perjalanan kami di Tangkoko terbilang santai. Menikmati setiap hal yang dijumpai, mendengar cerita – cerita bang Esli. Meski santai, beberapa spesies penting berhasil kami bukukan hari itu. Saya berhasil berjumpa dengan si mini Tarsius Gursky / Gursky’s Spectral Tarsier (Tarsius spectrumgurskyae). Berhasil juga bertemu Julang Sulawesi di sarangnya. Berhasil bertemu 3 raja udang endemik, serta puas menyaksikan beberapa dari dekat rombongan besar Yaki, nama lokal untuk Monyet Hitam Sulawesi (Macaca nigra).

Kiri; Tarantula Sulawesi, Kanan; Monyet Hitam Sulawesi atau Yaki

Sehari membukukan 19 endemik, adalah hasil yang menggembirakan. Apalagi dengan pengamatan mode santai. Suasana trek cukup ramai menjelang sore hari. Banyak rombongan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara yang menyusuri hutan demi melihat Tarsius. Malam harinya saya ditemani bang Alfred Masala, pemilik Tangkoko Ranger untuk kembali ke dalam hutan melihat Cekakak Merah bertengger di tepi trek.  Beberapa meter dari si Cekakak kami bertemu Tarantula Sulawesi / Sulawesi Grey Velvet (Lampropelma carpenteri).

Masih banyak hutang spesies endemik yang harus dilunasi di Tangkoko. Belum lagi masih terlampau banyak cerita yang harus didengar, dicatat, dan diceritakan kembali. Saya sendiri punya kesan yang sangat kuat, bahwa hutan Tangkoko sejatinya adalah masa depan orang Batu Putih. Tangkoko juga merupakan penanda kejayaan aviturisme di Sulawesi dan kawasan Wallacea. Di Tangkoko saya melihat bagaimana hutan itu menjaga denyut nadi kehidupan orang Batu Putih terus berlanjut. Masih ingin di sini, tetapi pesona hutan Gunung Mahawu di Tomohon tak lelah merayu. Ada Myzomela Sulawesi (Myzomela chloroptera), Cekakak-hutan dada-sisik (Actenoides princeps), dan Kacamata dahi-hitam (Zosterops atrifrons) menunggu di tepi Tondano, esok hari. Secepatnya akan kembali, Tangkoko!

Kiri; Cekakak Pipi Ungu, Kanan; Udang Merah Sulawesi

Leave A Reply

Your email address will not be published.