Singgah di Pulau Buru, Nusa Para Buangan

0 758

Temaram lampu di pelabuhan. Suara Mitha Talahatu menggema di geladak belakang KM Cantika Lestari 08. Para penumpang yang duduk di sana saling menyapa dengan senyuman, meski tak saling kenal, termasuk saya. Di ujung teluk Ambon, matahari belum tenggelam sempuna. Saya baru saja meletakan barang bawaan ke dalam cabin. Rasa lega bisa membebaskan diri. Bersandar di pagar pembatas, menatap ke arah pelabuah yang ramai. Kapal Cantika ini adalah kapal cepat yang membawa saya ke Pulau Buru. Sesuai jadwal yang ada di tiket, kami akan berangkat pukul 09.00 malam. Sekarang baru pukul 6 lewat sedikit. Saya kembali ke pelabuhan, mengisi perut dengan makanan dari warung di sekitar pintu pelabuhan. Jika sempat, mungkin berkeliaran di sekitar pelabuhan barang sebentar.

(kiri) Kapal Cepat Cantika jurusan Ambon – Buru, (kanan) Ruang Kemudi Kapal Cantika

Kapal Cantika baru benar – benar bergerak meninggalkan pelabuhan pada pukul 09.30 malam. Laut cukup tenang malam itu. Rasa lelah dari perjalanan di Papua membuat saya lebih mudah jatuh terlelap. Saya terbangun saat alarm di ponsel menyalak. Tanda waktu kedatangan di Namlea sudah dekat. Saya berjalan ke geladak kapal dan dari kejauhan tampak lampu – lampu dari pelabuhan. Hari masih gelap, kapal bergerak melambat mendekati dermaga. Jam menuju pukul 4 pagi. Para penumpang mulai mengatur barangnya masing – masing. Beberapa mengantri giliran mandi di kamar mandi.

Pukul 04.20 saya turun dari kapal, berjalan keluar dari pelabuhan sambil menggendong dua tas bawaan yang lumayan berat. Saya rencananya dijemput teman saya Figi Ode Marhum. Setelah beberapa kali panggilan tidak dijawab, saya memutuskan menunggu saja di salah satu warung di sekitar pelabuhan sambil menikmati segelas kopi dan mie rebus. Menikmati semilir angin dari Laut Banda di pagi yang masih remang. Dibuai rasa yang manis dan hangat lantaran tersadar saya sudah di Pulau Buru!

Selama yang saya ingat, Pulau Buru lebih banyak dikenal sebagai pulau pembuangan tahanan politik (tapol) pasca G30S/PKI tahun 1965. Menurut catatan – catatan, ada sekitar 12.000-an tapol yang dibawa ke Buru pada rentang 1969 – 1976. Para tapol ini awalnya hendak ditahan di Nusakambangan, Cilacap. Kapasitas Nusakambangan yang tidak memadai membuat Pemerintahan Soeharto memutuskan memindahkan para tahanan ke pulau Buru. Di Buru, para tahanan ini disuruh membuka lahan persawahan tanaman padi dan perkebunan Kayu Putih. Kisah – kisah Tapol di Pulau Buru paling terkenal datang dari memoar pribadi penulis legendaris Pramoedya Ananta Toer dalam ‘Nyanyi Sunyi Seorang Bisu’. Meski Buru dikenal sebagai pulau buangan, saya ke Buru bukan untuk mengulik cerita itu.

Belum tandas kopi di gelas, Figi dan Ardiansyah, seorang teman lain dari Gabungan Pemuda Pecinta Alam (GAPALA) Pulau Buru tiba di parkiran pelabuhan dengan tergesa – gesa. Kami kemudian meninggalkan pelabuahan langsung berkendara menuju Wamlana. Selepas Namlea, kami berhenti untuk sarapan nasi kuning di tepi jalan sambil membuat rencana untuk hari itu. Melihat kondisi sepanjang jalan Namlea – Wamlana, bayangan saya tentang pulau Buru berubah drastis. Jalan trans utara pulau Buru kondisinya sangat bagus. Medan jalannya rata dan luas. Pemandangan paling dominan selepas  Namlea adalah hamparan perkebunan Kayu Putih. Beberapa tampak gosong bekas terbakar. Kata Figi, para petani sengaja membakar lahan Kayu Putihnya demi mendapatkan tunas yang lebih muda di musim penghujan. Saya teringat cara yang sama dilakukan para penggembala ternak di Pulau Sumba. Mereka membakar padang penggembalaan demi mendapatkan rumput yang lebih muda di musim berikutnya.

Lahan Kayu Putih yang habis dibakar

Perjalanan Namlea – Wamlana ditempuh selama dua jam lebih sedikit. Berhenti beberapa saat di Wamlana untuk memastikan kendaraan esok hari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bara. Di Bara kami melakukan pengamatan sepanjang siang. Dalam beberapa laporan, Bara digambarkan sebagai lokasi yang tidak begitu mudah dijangkau lantaran kondisi jalan yang buruk. Itu beberapa tahun lalu. Kini jalan ke Bara sudah beraspal hotmix. Kondisi masih bagus karena baru berusia dua tahun. Pengamatan di Bara langsung memberikan gambaran yang jelas, berlimpahnya kekayaan jenis burung di pulau ini. Beberapa jenis yang kami jumpai di tempat ini antara lain; Nuri Maluku (Eos bornea) yang jumlahnya melimpah, Nuri-raja Ambon (Alisterus amboinensis), Kehicap Buru (Symposiachrus loricatus), Ceret Buru (Locustella disturbans), Brinji Emas Buru (Hypsipetes mysticalis), Uncal Ambon (Macropygia amboinensis), Walik Raja (Ptilinopus superbus), Walik dada-lembayung (Ptilinopus viridis), Cikukua maluku (Philemon moluccensis).

Setelah dua jam pengamatan, perut terasa kosong dan persediaan air minum menipis. Kami memutuskan berbelok menuju pelabuhan teluk Bara. Pelabuhan ini tampak sepi. Sudah setahun kapal Ferry tak lagi menyinggahi pelabuhan ini. Sejatinya pelabuhan ini melayani pelayaran Namlea dan Sanana, Kepulauan Sula. Saat Ferry tidak lagi berlayar, pelabuhan ini hanya dipakai kapal – kapal nelayan, sepeedboat perusahaan tambang, dan kapal – kapal barang masyarakat lokal. Di salah satu warung yang lengang kami mengisi perut yang lapar dengan nasi telur, sambil menikmati pemandangan para nelayan memindahkan ikan – ikan tuna berukuran besar dari kapal ke dalam kendaraan yang akan mengangkutnya ke Namlea. Perut terisi, kami kembali ke lokasi pengamatan dan menghabiskan sisa sore di tempat ini sebelum kembali ke Wamlana saat cahaya matahari telah redup. Malam itu kami menginap di Wamlana.

Pukul 3 dinihari kami sudah terjaga dan bersiap – siap meninggalkan tempat menginap. Tujuan kami hari itu ke Wagrahe, sebuah desa di dataran tinggi Pulau Buru. Sebuah mobil  4×4 menjemput kami. Di Buru, hanya mobil – mobil derek yang bisa menjangkau pemukiman di pedalaman. Topografi pulau Buru yang bergunung – gunung nan terjal ditambah infrastruktur jalan yang sangat buruk membuat pilihan kendaraan transportasi umum menjadi sangat terbatas. Mobil yang kami sewa hari itu adalah mobil berjenis Mitsubishi Strada, yang tiap harinya merupakan angkutan umum jurusan Wagrahe – Wamlana. Kadang – kadang kalau penumpangnya cukup, mereka sampai ke Namlea.

Mobil mitsubishi 4WD sebagai angkutan umum di pegunungan pulau Buru

Baru saja beberapa menit meninggalkan Wamlana, kami berhadapan dengan medan berkerikil yang terjal. Jalan aspal sudah terhenti 3 km setelah Wamlana. Saya langsung memaklumi kenapa orang – orang harus menggunakan mobil berjenis 4X4 di tempat ini. Tentu saja penggunaan kendaraan jenis ini berimbas pada mahalnya ongkos perjalanan. Setiap penumpang dikenakan biaya 150.000 per penumpang untuk sekali jalan. Bagi penduduk Wagrahe yang hendak ke Wamlana, mereka harus merogoh kocek 300 ribu Rupiah untuk biaya pergi – pulang. Ongkos itu masih harus ditambah jika ada bawaan lain misalkan belanjaan dari kota atau hasil bumi dari kampung dengan berat dan ukuran tertentu. Besarnya biaya transportasi ke wilayah pegunungan pulau Buru ikut menyumbang lambatnya pembangunan di sana. Menurut  Uya,  sopir yang mengantar kami, biaya mengangkut material bangunan juga sangat mahal. Sebagai gambaran, harga semen di Wamlanan dan Namlea itu berkisar 60 ribu Rupiah per sak, sedangkan biaya angkutnya 100 ribu per sak, hampir 200% dari harga materialnya. Hal itu membuat pembangunan di wilayah pegunungan Buru berjalan sangat lamban. Jalan yang kami lalui ini adalah jalan berbatu. Beberapa bagiannya karena proyek pengerasan, beberapa bagiannya berbatu secara alami.  Separuh jarak ke Wagrahe, tiang – tiang listrik memang sudah terpancang namun belum ada kabel yang dibentang.  Melewati jalan – jalan sempit di lereng – lereng terjal, memberikan gambaran nyata betapa sulitnya menjangkau dataran tinggi pulau Buru. Wagrahe sendiri sebenarnya memiliki daya tarik wisata yang belum terjamah lantaran buruknya akses, yakni Danu Rana, sebuah danau dengan luas mencapai 45km2.

Sepanjang perjalanan beberapa kali kami bersinggungan dengan jalur khusus kendaraan raksasa pengangkut kayu – kayu milik perusahaan penebang kayu atau yang dikenal dengan perusahaan HPH. Pulau Buru sendiri memiliki hutan dengan kekayaan kayu alam yang tersohor. Oleh pemerintah provinsi Maluku, beberapa bagian hutan  di Pulau Buru diberikan ke pihak perusahaan penebang untuk diambil kayu hutannya.  Dari total 13 perusahaan pemegang hak pengelolaan hutan (HPH) di Provinsi Maluku, 7 di antaranya ada di pulau Buru. Salah satu yang terbesar dan paling tua adalah yang beroperasi di Wamlana, tempat yang saya lalui ini. Namanya PT. Gema Hutani Lestari (GHL), dengan total luas konsesi mencapai 148.150 ha! Pemberihan ijin HPH di Buru sendiri sudah berlangsung sejak masa Orde Baru. Selain perusahaan berijin resmi, pembabatan ilegal di kawasan hutan Pulau Buru tidak bisa dihindarkan. Pesona Kayu Meranti Merah (Shorea selanica)  yang adalah kayu endemik Pulau Buru adalah godaan yang sulit diabaikan oleh perusahaan kayu baik yang legal maupun ilegal. Tongkang – tongkang raksasa berisi kayu gelondongan di sekitar pantai pulau Buru adalah pemandangan biasa.

Tongkang pengangkut kayu gelondongan di dekat Bara

Pulau Buru dari ketinggian adalah bentang perbukitan berlereng terjal yang ditimbuni hutan rimba dengan pepohonan raksasa dari ratusan bahkan mungkin ribuan tahun lalu. Sepanjang sisi jalan Wamlana – Wagrahe yang kami lalui, pepohonan tinggi menjulang berdiri berhimpitan yang nyaris pucuknya tak kelihatan. Pohon – pohon berdiameter di atas 5 meter sangat mudah dijumpai. Itulah mengapa perusahaan HPH mengeroyok pulau ini tanpa henti.

Di ketinggian 1300mdpl, kurang lebih 5km sebelum Wagrahe kami berhenti. Menikmati matahari pagi yang hinggap di deret perbukitan sebelah timur, sinarnya yang hangat rebah di atas hamparan kabut di tengah lembah. Ini adalah titik pengamatan yang dituju. Berdiri di ketinggian dengan hutan rimba tanpa jejak manusia di hadapan saya adalah kemewahan yang langka. Kami melakukan pengamatan dalam rentang jarak 1 km. Topografi lereng terjal membuat kami tidak bisa meninggalkan badan jalan sebagai titik pengamatan.  Beberapa spesies penting dan endemik Buru berhasil kami jumpai antara lain; Sikatan-rimba dada-loreng (Eumyias additus), Paok Maluku (Erythropitta rubrinucha), Myzomela wakolo (Myzomela wakoloensis), Island Leaf Warbler (Phylloscopus poliocephalus), Buru White-eye (Zosterops buruensis), Apung Buru (Anthus ruficollis), Cabai Buru (Dicaeum erythrothorax), Kepudang-sungu Pucat (Edolisoma ceramense), Betet buru (Prioniturus mada), Merpati-gunung Buru (Gymnophaps mada), Walik Dada-putih (Ptilinopus rivoli). Hari itu kami berhasil membukukan rekor catatan perjumpaan pertama kali jenis Kangkok Besar (Hierococcyx sparverioides) untuk seluruh wilayah Kepulauan Maluku! Selain keunikan avifaunanya, kawasan ini terkenal akan keanekaragaman spesies Kupu – kupu.

Kangkok Besar (kiri) dan Sikatan Rimba Dada Loreng (kanan) di Pulau Buru

Lewat tengah hari kami meninggalkan lokasi pengamatan, mengambil jalan pulang menuju titik puncak yang lain, tak jauh dari lokasi penebangan PT.GHL. Pemandangan dari sini jauh lebih spektakuler. Ini adalah titik paling tinggi dari perjalanan kami hari ini. Pandangan kami menjangkau lembah yang lebih luas,  dengan deret perbukitan yang lebih rendah. Kami menikmati makan siang bekal dari Wamlana di tempat ini. Makan siang dengan pemandangan sebagus ini menjadikan setiap suapan berisi tumpukan kenikmatan dan kekaguman yang berlimpah. Sempat melakukan pengamatan di sini selama kurang dari satu jam, sayangnya gerimis yang mulai turun mendesak kami untuk segera melanjutkan perjalanan ke Wamlana. Kondisi jalan yang terjal bisa menjadi buruk dan tidak bisa dilewati saat hujan turun. Beberapa titik longsor yang kami jumpai saat datang tadi bisa menjadi penghadang perjalanan pulang.

Pukul 3 petang kami sampai di Wamlana. Mandi dan secangkir kopi mengenyahkan separuh rasa lelah di badan. Berat sekali meninggalkan Wamlana. Terlalu singkat. Begitu banyak hal yang harus dijejaki. Kami berkendara perlahan menuju Namlea. Bahkan tidak ada waktu untuk melihat rupa kota Namlea sendiri. Salah satu utang di Buru yang belum lunas adalah berkunjung ke lokasi para Tapol.  Kata Figi, jaman dulu lokasi para Tapol ini begitu dihindari. Sejak reformasi orang – orang mulai berdatangan ke sana dengan bebas. Ada yang berwisata. Ada yang penelitian. Meliput berita. Banyak juga keluarga para tahanan yang mengunjungi sanak mereka atau melakukan napak tilas. Namun belakangan ini, mengunjungi lokasi para buangan ini tidak lagi semudah masa – masa awal reformasi. Figi bahkan beberapa kali harus berurusan dengan tentara. Ia diinterogasi lantaran mengantar orang ke lokasi pemukiman para tapol. Saya sendiri bertekad akan mengunjungi tempat itu suatu saat, mungkin di lawatan berikut atau berikutnya, atau berikutnya lagi, entahlah. Yang pasti kembali ke Pulau Buru adalah keniscayaan.

Santap siang di bubungan Pulau Buru sebelum kembali ke Wamlana. Hutan di latar belakang ini adalah bagian dari konsensi HPH milik PT. Gema Hutani Lestari

Leave A Reply

Your email address will not be published.