Baiknya Kita Mulai Perbincangkan Perihal Hutan Kita Sekarang, Sebelum Semuanya Sia – Sia
Jum’at sore, 3 Desember 2021 yang lalu saya dapat undangan minum kopi di Rumah Baca Aksara di Langgo, Ruteng. Yang mengundang namanya mbak Tami dari Hutan Itu Indonesia. Hutan Itu Indonesia adalah gerakan terbuka yang percaya akan kekuatan pesan-pesan positif untuk menumbuhkan rasa cinta kepada hutan Indonesia yang sangat berpengaruh pada kehidupan kita. Demikian bunyi informasi yang saya peroleh dari website mereka. Mbak Tami dan kawan – kawan berdomisili di Jakarta. Meski bukan aktivis peduli hutan, tetapi hidup saya cukup akrab dengan hutan, mulai dari pekerjaan hingga hobi. Karena itu saya selalu bersemangat kala ada orang mengajak berbincang soal hutan.
Kebetulan sekali, kami di Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Manggarai lagi panas – panasnya bahas soal hutan di Ruteng. Sebabnya beberapa hari sebelum itu kami baru saja trekking di hutan Mandosawu kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng, menyusuri trek lintas Golo Lusang, Ruteng menuju air terjun Cunca Rede di Manggarai Timur. Jalur trekking ini kami kasih nama Ruteng Forest Trail. Jaraknya 7,5 km dengan waktu tempuh 3 – 4 jam. Harapannya nanti, kami bisa menjadikan trekking hutan ini sebagai salah satu daya tarik wisata aktifitas di Ruteng.
Baca Juga: Ruteng Forest Trail; Menyusuri Jalur Tua, Membelah Jantung Mandosawu
Untuk menunjang wisata trekking ini, maka kami harus mulai memiliki pengetahuan yang cukup tentang hutan TWA Ruteng. Pengetahuan ini hanya bisa diperoleh dengan cara belajar langsung lewat pengamatan di dalam hutan. Mau tidak mau kami harus semakin sering berada di hutan untuk kegiatan pengamatan. Dari kegiatan survei pertama ini, sebagian besar dari kami memiliki perasaan yang sama, percampuran antara kekaguman dan kekhawatiran yang kadarnya nyaris seimbang. Dari semua anggota tim yang terlibat survei, mungkin saya lah yang paling intens berhubungan dengan hutan Mandosawu. Satu – satunya yang paling sering jalan – jalan di hutan dibandingkan teman – teman yang lain. Karena itu, saya lebih terbiasa dengan kondisi hutan Mandosawu. Beberapa teman yang baru pertama masuk ke bagian dalam hutan mengaku terkejut, ternyata hutan kita tak serimbun dan sepadat yang kelihatan dari jauh. Mereka terhenyak melihat hutan yang tampak baik – baik saja dari kejauhan ternyata sedang berdiri di penghujung usianya.
Merasakan ada jarak yang cukup jauh antara kondisi hutan yang selama ini ada di pikiran dengan kenyataan yang sebenarnya, mendorong munculnya ide – ide kecil yang mungkin bisa diwujudkan suatu saat. Niatnya membantu (warga) kota ini mulai mengenal hutannya dengan cara yang benar. Jika mereka mengenalnya, maka mereka akan mencintainya. Jika seluruh kota mencintai hutannya, maka hutan ini akan lestari. Kurang lebih begitulah harapan muluknya. Untuk mencapai itu, salah satu jalannya adalah membantu sebanyak mungkin warga kota khususnya generasi belia, untuk masuk dan belajar di hutan. Mengenal hutannya sendiri, melihat semua potensi, keindahan, dan peran hutan, serta menyaksikan ancaman terhadapnya. Dengan begitu, (semoga) warga kota benar – benar merasa memiliki hutannya, dan merasa bertanggung jawab untuk menjaganya tetap lestari.
Sebuah kebetulan yang benar – benar betul, di sela hangatnya perbincangan kami soal hutan, tiba – tiba saja undangan minum kopi sambil bahas hutan itu muncul. Yang lebih menariknya lagi, ternyata yang diundang ke acara minum kopi ini adalah komunitas – komunitas warga di Ruteng. Belasan bahkan mungkin puluhan orang muda berkumpul di RBA untuk bahas hutan. Ini tentu saja momen yang sangat menarik. Saya baru kepikiran, kenapa selama ini tidak ajak saja teman – teman ini untuk mulai ngobrol soal hutan? Kenapa tunggu teman – teman dari jauh seperti malam itu baru kita kumpul, ngopi dan mengkhususkan waktu untuk bercerita tentang hutan. Toh rata – rata yang hadir malam itu adalah orang – orang yang saling kenal sejak lama, sering berjumpa, bahkan berteman akrab.

Salah satu topik paling hangat sepanjang ngobrol malam itu adalah soal aksi! Aksi atau tindakan spesifik apa yang praktis bisa dilakukan oleh komunitas – komunitas di Ruteng untuk menyelamatkan hutan. Dalam konteks ini tentu saja hutan di Ruteng dan sekitarnya. Hampir semua kami ingin segera melakukan sesuatu. “Tindakan nyatanya apa nih? Jangan sampai kita hanya teori saja.” Kalimat – kalimat yang terlontar kira – kira demikian. Pokoknya semangat sedang membara! Tiba – tiba muncul sebuah pertanyaan, memangnya kita sudah tahu hutan kita seperti apa? Bagaimana kita tahu apa yang akan kita lakukan untuk hutan kita jika kita bahkan tidak mengenalnya?
Berkaca dari apa yang kami saksikan beberapa hari sebelumnya, rasanya memang kita terlalu berjarak dari hutan kita. Terlampau banyak sisi hutan yang tak kita sentuh, yang tak tampak, dan tak kita sadari. Sebagai hutan hujan terbesar se-Nusa Tenggara, TWA Ruteng sudah tentu menjadi rumah besar bagi keanegaragaman hayati yang menyokong kehidupan kita secara turun – temurun. Kisah hidup dan perjalanan manusia Manggarai raya, juga manusi – manusia di Ruteng tidak bisa lepas dari sumbangsih penting hutan Mandosawu. Tanpa hutan Mandosawu, Ruteng tentu saja tidak menjadi rumah seperti yang kita huni hari ini.
Saya tertarik dengan pendapat salah satu teman malam itu. Ia bilang, hutan kami tidak apa – apa, mbak. Air kami masih aman, bahkan berlimpah, jadi tidak ada gunanya kami ditakut – takuti oleh isu perubahan iklim. Orang di kampung kami tidak akan percaya itu. Teman lain menyampaikan keraguannya jika bencana yang terjadi selama ini merupakan efek dari perubahan iklim. Ada juga yang bilang bahwa aktifitas warga di hutan selama ini sebenarnya tidak benar – benar merusak. Intensitasnya rendah dan lebih didominasi oleh warga yang mencari kayu bakar. Mereka tidak merambah.
Bagi saya, perbincangan ini sangat menarik. Ini adalah simpul kecil cara pandang warga kota Ruteng tentang hutannya. Menjadi lebih menarik lagi karena tidak ada satu pun di antara kami yang menyajikan informasi soal bagaimana sebenarnya kondisi hutan Mandosawu saat ini? Apa saja sumbangsih riilnya bagi manusia di Ruteng, lalu bagaimana masa depannya? Apa memang benar hutan Mandosawu dalam keadaan terancam, sehingga dibutuhkan aksi untuk menyelamatkannya, atau malah sebenarnya ia sedang baik – baik saja, sehingga semua seruan dan tindakan penyelamatan itu tidak lebih dari sikap lebay semata.
Malam itu, Hutan Itu Indonesia tidak datang sendirian. Ada sebuah LSM yang berpusat di Jogja namanya Teras Mitra (kalau tidak salah). Melalui perwakilannya, Teras Mitra berkomitmen membantu masyarakat lokal terutama kaum muda melalui program pemberdayaan bidang ekonomi, untuk aktif menjaga hutannya. Program Teras Mitra ini tentu saja hasil dari kesimpulan bahwa hutan itu dibabat demi mengatasi persoalan ekonomi. Yang pada akhirnya kita akan bilang, bahwa kalau tidak miskin orang tidak akan babat hutan. Model kesimpulan ini sudah lumrah dan telah menjadi kesimpulan pokok jika ada persoalan perambahan dan pembabatan hutan. Perut menjadi sumber masalah, dan uang menjadi solusinya. Kesimpulan ini bisa benar, dan dalam beberapa kasus memang terbukti ini benar. Tetapi menurut saya, ini sangat berbahaya. Ketika kita berani membeli kesadaran dengan simbol – simbol ekonomi, maka semua relasi itu harus bernilai ekonomi, jika tidak maka relasi itu tidak penting.

Jauh di atas semua keresahan personal saya akan kondisi hutan Mandosawu serta cara pandang yang berbeda tentangnya, saya sangat menikmati momen orang – orang Ruteng berkumpul memperbincangkan masa depan hutan mereka. Mulai membawa hutan ke dalam topik perbincangan dalam acara minum kopi adalah gerbang menuju tercapainya pengenalan bersama yang berujung pada kesadaran bersama akan kondisi hutan kita hari ini. Selama ini, perbincangan soal hutan biasanya hanya muncul dalam kesempatan – kesempatan formal, yang juga ujung – ujungnya hanya formalitas para pemangku kepentingan belaka. Sementara itu, cerita tentang hutan menjadi senyap di tengah warga biasa, termasuk kaum muda.
Di Ruteng, perihal hutan sebaiknya memang harus menjadi topik bersama di seluruh kota. Tingkat ketergantungan warga Ruteng, bahkan warga Manggarai Raya secara luas terhadap hutan Mandosawu sangat tinggi. 100% (belum ada data resmi) warga kota Ruteng hidupnya bergantung pada air dari mata air yang tentu saja keberadaanya tergantung pada kondisi hutan Mandosawu. Sayangnya, hutan yang membentang hijau itu tak lagi seindah yang tampak dari kejauhan. Setiap jengkalnya telah habis porak – poranda. Itu fakta! Setiap hari, puluhan bahkan ratusan pohon besar dan kecil ditebang. Bukan hanya kepadatan hutan yang hilang tetapi juga ada kesunyian di sana. Satwa – satwa telah lama menghilang. Sampai pada fase ini, perburuan satwa tetap terjadi setiap hari. Kesunyian di hutan – hutan kita sudah masuk ke tahap horor. Nada – nada kematian menimpali irama hutan yang kian sendu. Jika saja seluruh kota mau, maka mulailah dengan kita bicara. Dengan cara itu kita akan semakin dekat dengan hutan kita, perlahan mengenalnya kembali, terhubung deSemua kita..tanpa kecuali. Karena hutan kita adalah masa depan kita. Dengan kondisi hutan yang telah sekarat, maka masa depan kita juga sedang sekarat.
