Cerita Birding di Sumba (lagi) – Oktober 2021

0 600

23 Oktober 2021, lepas tengah hari saya dan Andy Walker meninggalkan Kupang, terbang menuju Waingapu, Sumba Timur.  Ini adalah hari ke delapan dari rangkaian birding Timor – Rote – Sumba. Sore yang cerah. Matahari senja berwarna lembayung menggenangi hamparan bukit – bukit landai berumput hijau. Seperti sediakala, bentang alam Sumba selalu berdaya membuai mata. Rencananya setelah meninggalkan bandara Umbu Mehang Kunda, kami langsung menuju padang Yumbu untuk melakukan pengamatan burung endemik paling langka di Sumba;  Gemak Sumba / Sumba buttonquail (Turnix everetti). Setelah membahas persiapan perjalanan esok hari ke Taman Nasional Matalawa, kami memutuskan untuk mengubah rencana. Sore itu kami berkeliling menyiapkan logistik. Gemak Sumba biar kami simpan di hari ke 4 dan ke 5.

Pagi – pagi sekali di hari ke dua, kami meninggalkan Waingapu. Hari masih remang – remang. Kendaraan 4WD kami melaju kencang di jalan lintas trans Sumba yang mulus. Aspal masih basah sisa hujan semalam. Beberapa kali kami dihentikan penampakan burung yang terbang melintas di jalan atau bertengger di kiri – kanan jalan. Dibandingkan kunjungan terkahir saya awal tahun 2020 lalu, kondisi jalan ke Tabundung saat ini sudah mengalami sedikit perbaikan. Yah, memang sedikit tetapi masih mending daripada tidak sama sekali.

Julang Sumba di Billa

 

Menjelang tengah hari, kami sudah sampai di Billa, ibu kota kecamatan Tabundung. Badan rasanya remuk dihajar jalan buruk beberapa kilometer terakhir. Kami tidak mengeluh. Saya sendiri yang minta om Deny, sopir kami di Sumba untuk ngebut. Di Billa, biasanya kami ditemani om Deny Nguru, seorang ranger dan pegawai Taman Nasional Matalawa. Kali ini dia tidak bisa, karena baru saja menikah seminggu sebelumnya. Katanya pendeta bakal marah besar kalau baru nikah tiba – tidak tidak muncul di gereja 😀 .  Sebagai gantinya, om Deny meminta bantuan salah satu warga binaan Taman Nasional. Namanya om Jeremias. Kami sudah beberapa kali bertemu sebelumnya.

Kami langsung masuk ke dalam hutan. Pengamatan burung di Billa selalu menggairahkan. Alam yang terjaga baik sebanding dengan populasi burung yang padat. Ini adalah rumahnya paling megah bagi burung – burung endemik Pulau Sumba. Primadona di sini adalah Julang Sumba / Sumba Hornbill, Kakatua Jambul Jingga / Citron-crested Cockatoo, Punai Sumba / Sumba Green Pigeon, Perkici Oranye / Marigold Lorikeet, Walik Rawamanu / Red-caped Fruit-dove, dan dua nokturnal endemik yakni Pungguk Sumba / Little Sumba hawk-owl , dan Pungguk Wengi / Sumba Boobook.  Dua hari di Billa, kami menyapu semua target di sini, kecuali target foto Paok Laus / Elegant Pitta ssp. maria, subspesies endemik Sumba. Andy ngebet harus dapat foto bagus.

Om Deny memasak di dapur Kantor Resort Tabundung

 

Lepas tengah hari di hari ke dua di sini, kami bergegas kembali ke Waingapu. Andy harus makan yang layak. Selama di Billa ia hanya makan roti yang katanya tidak terlalu enak, plus ikan kaleng yang menurut saya juga sama tidak enaknya. Kalau saya, om Deny dan om Jeremias, tetap memasak untuk kami sendiri.

Hari ke empat di Sumba, ada dua target endemik yang harus kami temukan, yakni Gemak Sumba / Sumba Buttonquail dan Myzomela Sumba / Sumba Myzomela. Kami sarapan lebih pagi. Pukul 06.00 kami meninggalkan Villa Morinda, menuju padang Yumbu di timur kota Waingapu. Di awal saya sudah singgung kalau sebenarnya birding di Yumbu ini kami lakukan di hari pertama, tetapi kami tangguhkan karena waktu yang mepet. Di Yumbu kami berjalan naik ke bukit tempat biasanya si Gemak dijumpai. Sebagai burung terestrial di tengah padang rumput nan luas, menemui si Gemak ini benar – benar sebuah tantangan yang tidak mudah. Ditambah lagi, populasinya turun dengan cepat akibat kerusakan masif pada habitat padang savanahnya. Setiap tahun, selama musim kemarau ratusan hektar padang di pulau Sumba mengalami kebakaran atau sengaja dibakar demi mendapatkan rumput yang lebih muda di musim hujan berikutnya.

Keberuntungan berdiri tegak di depan kami pagi itu. Baru saja berjalan sejauh 200an meter, satu individu Gemak Sumba keluar dari persembunyiannya. Terbang lalu mendarat beberapa kali, dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Misi terberat di Sumba akhirnya terselesaikan. Kurang dari 20 menit saja kami di padang Yumbu, rekor tercepat saya menemukan Gemak Sumba. Kami selanjutnya berkendara ke timur sejauh 10 km, menuju hutan pinus Laipori. Kawasan rawa – rawa di Laipori adalah lokasi pengamatan burung air yang sangat potensial di Sumba.

Beberapa spesies sperti Kèra-kèra / Oriental plover, Terik Australia / Australian Pratincole, Kedidi leher-merah / Red-necked Stint, Trinil Semak / Wood Sandpiper dijumpai dalam jumlah banyak di sini. Di sini kami juga mencatat perjumpaan pertama Kedidi Dada Coklat / Pectoral Sandpiper (Calidris melanotos) untuk pulau Sumba, serta diperkirakan menjadi catatan perjumpaan yang ke 6 untuk seluruh Indonesia!

Penampakan Kedidi Dada Coklat / Pectoral Sandpiper sebagai catatan pertama untuk Pulau Sumba. Foto tidak jelas karena jarak yg terlalu jauh

 

Matahari yang naik tinggi menghela kami dari Laipori. Kini tertinggal dua target terakhir. Myzomela Sumba dan foto Paok Laus ssp. maria. Di Waingapu kami singgah di RSUD.Umbu Rara Meha karena Andy harus menjalani test PCR, sebelum besok pagi terbang kembali ke Denpasar. Kurang lebih satu jam di sini, kami melanjutkan perjalanan ke Sumba Barat. Setelah Lewa tepatnya di km 70, kami berhenti mencoba peruntungan dengan Paok Laus. Menghemat waktu, saya menghidupkan rekaman yang dengan segera disahuti dua individu Paok Laus dalam jarak yang sangat dekat. Kurang dari 5 menit, misi selesai. Andy mendapatkan foto Paok Laus terbaiknya!

Perjalanan selanjutnya menjadi lebih santai. Tiba di Lokuhuma, Tanadaru kami disambut hujan sangat lebat. Selama beberapa saat kami menunggu di dalam mobil. Saat reda, kami bergegas menjelajahi trek pengamatan burung di sekitar tower telkom, dan tepi jalan raya hingga kawasan hutan pinus. Kami akhirnya berhasil  bertemu target terakhir kami, Myzomela Sumba, meskipun tidak seperti biasanya, jumlah individu yang kami jumpai kali ini sangat sedikit. Hujan turun sepanjang sore hingga malam hari. Tidak ada yang bisa kami nikmati di Waingapu kecuali bercangkir – cangkir kopi dan setumpuk catatan dan foto perjumpaan para bidadari hutan tana Marapu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.