Lima Lokasi Birding Favorit Saya di Sumba

0 560

Sumba selalu dicitrakan sebagai pulau berpadang rumput terhampar luas bertepikan laut, yang kadang diselingi bukit – bukit landai. Foto – foto yang beredar di internet dipenuhi gambar – gambar yang mirip, yang berisi dua hal dominan, padang rumput luas dengan kuda – kudanya, dan kampung – kampung adat dengan kain tenun yang indah. Bagi pengamat burung / birder macam saya lain lagi. Kami memiliki sudut pandang sendiri tentang bumi Marapu itu. Saat mengunjungi Sumba, alih – alih berpetualang menceburkan diri ke air terjun – air terjunnya yang eksotis serta kampung – kampung adatnya yang magis, saya memiliki daftar tempat favorit sendiri yang wajib dikunjungi.

Padang Yumbu, Waingapu

Yumbu adalah wilayah padang rumput di tepi jalan raya Waingapu – Melolo. Terletak 15 km di sebelah timur kota Waingapu, dengan waktu tempuh sekita 20 – 30 menit. Yumbu adalah lokasi yang paling mudah dijangkau untuk melihat burung palinglangka di Sumba, yakni Gemak Sumba (Turnix everetti). Pada musim kemarau, masyarakat di sekitar membakar padang rumput ini untuk mendapatkan rumput yang lebih hijau di musim hujan berikutnya bagi ternak – ternak mereka. Beberapa lokasi yang tidak dibakar akan menjadi tempat berlindung bagi Gemak Sumba. Padang yang sudah dibakar akan menjadi lokasi berburu bagi Serak Jawa – sumbaensis. Di sini mereka cukup mudah ditemukan di siang hari, bertengger di pepohonan yang tumbuh jarang di tengah padang. Spesies – spesies lain bisa dengan mudah dijumpai di sepanjang aliran sungai. Pepohonan yang lebih rindang dan teduh menjadi tempat bagi burung – burung menghindari terik padang rumput, terlebih di musim kemarau. Di kawasan muara sungai, terdapat ekosistem mangrove yang juga menjadi lokasi birding yang potensial.

Danau Minggitimbi

Beranjak ke timur sejauh 12 km, ada sebuah danau dan rawa – rawa yang menjadi lokasi pengamatan burung air. Namanya Danau Minggitimbi. Lokasinya masih di tepi jalan Waingapu – Melolo, tepatnya di pasar Palakahembi. Pertama saya ke tempat ini pada Fabruari 2020 dan saya langsung jatuh hati. Saya mencatat 19 spesies di sini dalam waktu 1 jam. Dengan hanya melakukan pengamatan dari satu titik, saya perkirakan jumlah spesies yang sebenarnya jauh labih besar. Di tempat ini saya bertemu Mandar Besar (Porphyrio porphyrio) untuk pertama kalinya.

Hutan Billa, Taman Nasional Matalawa

Inilah surga bagi pengamat burung. Letaknya di pesisir selatan Sumba Timur, pada ketinggian +  300 – 400mdpl. Untuk mencapai lokasi ini tidak bisa dibilang mudah. Kita berkendara dari Waingapu menempuh jarak 100km dengan waktu tempuh antara 3 – 4 jam. Melewati jalan trans Sumba ke arah berat sejauh 45 km lalu berbelok ke kanan di Praipaha. Selanjutnya akan melewati jalan yang lebih sempit dengan kondisi yang tak terlalu mulus, tak semulus jalan trans Sumba. Jalan ini akan berubah setelah 30km, di persimpangan Tarimbang – Tabundung. Selanjutnya akan melewati jalan berbatu dengan kondisi yang lumayan buruk, hingga sampai di kota kecamatan Tabundung. 2 km dari sana adalah lokasi hutan Billa.

Billa adalah lembah dalam cekungan yang diapit dua deret bukit, memiliki vegetasi yang terjaga dengan baik. Pohon – pohon besar yang menjulang di kedua sisi bukit merupakan tempat bermain sekaligus sarang bagi Julang Sumba (Rhyticeros everetti), Kaktua Jambul Jingga (Cacatua sulphurea citrinocristata), Punai Sumba (Treron teysmannii), Perkici Oranye (Trichoglossus capistratus), Walik Rawamanu (Ptilinopus dohertyi) dan beberapa jenis burung pemakan buah lainnya. Sedangkan di pepohonan yang lebih rendah, perdu dan semak – semak, Sumba Myzomela (Myzomela dammermani), Burung-madu Sumba (Cinnyris buettikoferi) adalah beberapa jenis endemik yang mudah dijumpai. Dua jenis nokturnal endemik, Punggok Sumba (Ninox sumbaensis) dan Punggok Wengi (Ninox rudolfi) juga menempati lokasi yang sama di sini. Billa adalah lokasi birdwatching terbaik yang pernah saya datangi. Untuk melakukan birding di sini, sebaiknya menginap sekurang – kurangnya selama satu malam. Bisa berkemah/ camping di camping ground Taman Nasional atau menginap di kantor resort Taman Nasional.

Pengamatan Burung di Savanah Tana Daru – TN Matalawa
Hutan ‘KM 51’ Lewa

Dalam banyak ulasan birding di Sumba yang sebagian besar ditulis dalam bahasa asing, nama ‘km 51’ Lewa tak pernah luput dibahas. Saya lupa cari tahu, kenapa disebut KM 51. Kemungkinan karena berjarak 51km dari Waingapu. Selain lokasinya yang berada persis di tepi jalan raya trans Sumba, kepadatan spesies di sini sungguh menakjubkan. Letaknya antara 9 km sebelah barat Lewa. Lokasi ini termasuk bagian dari Taman Nasional Matalawa. Di sana terdapat sebuah pos patroli Taman Nasional di tepi jalan, dan dengan masuk sejauh 20 – 50 meter, kita akan disuguhkan oleh padatnya spesies burung – burung Sumba. Setiap kali mengunjungi Sumba, saya selalu singgah di tempat ini. Sikatan Sumba (Ficedula harterti) adalah salah satu spesies endemik favorit yang selalu saya jumpai di tempat ini. Dua nokturnal endemik Sumba juga mendiami lokasi yang sama di sini.

Resort Tanadaru, TN Matalawa

Kawasan hutan yang mengapiti jalan trans Sumba sepanjang 11km adalah Sumba yang sesungguhnya. Tidak ada satu pun spesies endemik Sumba yang bisa luput dari pengamatan, jika menjelajahi kawasan ini dalam durasi yang cukup. Vegetasinya bervariasi, dari padang rumput, hutan homogen, hingga hutan hujan. Memasuki kawasan ini dari timur, kita akan bertemu hamparan padang savana yang luas. Ini adalah habitat Gemak Sumba paling aman. Meski terkadang kebakaran melahap padang – padang ini, namun kondisinya masih lebih baik dari padang – padang rumput di luar Taman Nasional. Menurut pengalaman saya, Gemak Sumba selalu dijumpai di lokasi ini. Tentu saja dengan usaha yang sungguh – sungguh mengintai dan menjelajahi padang rumput. Spesies yang sangat mudah dijumpai di tempat ini adalah Myzomela Sumba dan Julang Sumba. Populasi Punai Sumba di sini melimpah. Pada tahun 2019, saya pernah bertemu dengan 13 individu Punai Sumba bertengger di satu pohon berdahan rendah.

Selain karena kepadatan spesiesnya, kawasan hutan Resort Tana Daru juga menjadi favorit karena letaknya yang tak terlalu jauh dari Waikabubak, ibukota Sumba Barat. Kita bisa menginap di salah satu penginapan yang ada di Waikabubak untuk melakukan birding di Tanadaru.

Itulah 5 lokasi birding favorit saya di Sumba. Tentu saja, penilaian yang saya berikan pada lokasi – lokasi ini sebagaian besar adalah penilaian subyektif, berdasarkan pengalaman saya beberapa kali melakukan birding di Sumba. Bisa jadi ada lokasi dengan potensi lebih besar dari lokasi – lokasi yang saya sebutkan ini. Saya juga hanya membatasi jumlah lokasi birding hanya 5, supaya memudahkan rekan – rekan birder membuat perencanaan birding di Sumba.

Leave A Reply

Your email address will not be published.