Masa Depan Kura – Kura Rote di Rawa Peto

0 542

Sebuah papan plang berwarna putih terpampang di balik gerbang kayu sederhana. Plang itu terlihat masih baru, semua tulisannya masih jelas. “Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah Rote Ndao”, demikian bunyi tulisan di kepala plang. Kebahagiaan menjalar di dalam hati. Tempat paling ingin saya kunjungi di Pulau Rote dalam beberapa tahun terakhir. Tidak peduli seberapa banyak keindahan, keunikan dan pesona pulau paling selatan Indonesia ini, tempat di hadapan saya saat  ini adalah pesona paling memikat saya. Langit membusur biru, sejauh mata memandang permadani hijau rerumputan rawa dan sawah membentang, dipagari lereng landai berwarna abu kecoklatan dimangsa kemarau.

Pertama kali saya mendengar nama Kura – Kura Leher Ular Rote (Chelodina mccordi) sekitar belasan tahun lalu dari seorang teman di Jawa Tengah. Dia pebisnis satwa eksotis. Di rumahnya ia  punya banyak sekali koleksi reptil langka baik asli Indonesia maupun mancanegara. Seingat saya dia juga punya koleksi Kura – Kura Leher Ular Rote, tapi waktu itu saya tidak terlalu ambil pusing. Bertahun – tahun setelahnya, pada 2017 saya kembali mendengar orang menyebut nama Kura – Kura (Leher Ular) Rote. Waktu itu ada berita penandatanganan perjanjian kerja sama antara BBKSDA NTT dan lembaga WCS dalam upaya mengembalikan Kura – Kura Rote yang ada di luar negeri ke habitat aslinya di Rote atau yang dikenal dengan istilah repatriasi.

Nama Kura – Kura Rote terasa makin akrab setelah pemerintah NTT menetapkan tiga danau habitatnya menjadi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE). Tiga danau itu adalah Danau Peto di Desa Muabesi kecamatan Rote Tengah,  Danau Ledulu di Desa Daiama kecamatan Landu Leko, dan Danau Lendo Oen di Desa Daeurendale, Kecamatan Landu Leko. Dari tiga lokasi ini, Danau Peto adalah yang paling populer, menurut saya. Sebabnya antara lain karena Danau Peto menjadi lokasi terakhir Kura – Kura Rote ditemukan di alam yaitu pada Januari 2005, kemudian Danau Peto adalah lokasi pelepasan kembali ke alam 40 individu Kura – Kura Rote pada 2009 silam. Terakhir, Danau Peto adalah lokasi yang dipilih untuk pelepasan kembali ke habitat bagi 13 individu Kura – Kura Rote hasil program repatriasi dari Singapura.

Sabtu, 16 Oktober 2021, langit cerah membiru di atas Rote. Om Adi, sopir sekaligus teman perjalanan selama di Rote bilang kalau dua minggu belakangan “cuaca di Rote masih maen gila…”.  Mendung, kadang – kadang gerimis ringan tetapi menghilang begitu saja. Rote memang salah satu pulau ter-kering di Indonesia. Curah hujannya sangat rendah yakni 800 – 1200mm/tahun dengan durasi yang pendek antara Desember sampai April. Berbeda jauh dengan tempat saya di Ruteng yang memiliki curah hujan 1500 – 3000mm/tahun.

Setelah pengamatan burung sepanjang pagi di sekitar Baudale, kemudian kami menuju Maubesi. Melewati jalan tanah berbatu dan berdebu di tengah hamparan perkebunan Jambu Mete sejauh 3km, kami akhirnya sampai di kampung Hunulaeng. Di tepi kampung kami menemukan hamparan persawahan dan rawa – rawa yang lebih hijau, kontras dengan kawasan sekitarnya yang kering dan gersang. Kawasan ini dikelilingi pagar hidup Pohon Kuda (Lannea coromandelica). Sebuah gerbang sederhana dari rangkain kayu – kayu kering membatasi jalan.

Ini adalah Danau Peto, tempat paling ingin saya kunjungi di Rote. Danau Peto kondisinya tidak benar – benar seperti danau. Ia adalah rawa – rawa. Saya berjalan masuk membelah rerumputan rawa setinggi 2 – 3 meter. Mencoba merasakan hawa rawa Peto, dalam hati menimang, sanggup kah sang kura – kura kembali dari kepunahannya di rumah yang telah asing sekian lama. Apakah rumah ini masih hangat dan ramah menyambut mereka pulang? Meski telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial sejak 2019 silam, konsep perlindungan dan pengelolaan kawasan vital ini tentu saja tergantung sepenuhnya pada keterlibatan warga di sekitar kawasan. Untuk menangkap sedikit gambaran tentang itu, saya berkeliling mencari siapapun yang bisa saya ajak bicara.

Pertama saya bertemu Charles Pellokila (54th) warga Hunulaeng, Maubesi, Rote. Pria yang akrab disapa om Nus ini adalah satu dari 34 pemilik lahan di sekeliling danau Peto. ” Iya, tahu. Tahu kalo ini dilindungi..” jawab om Nus waktu saya tanya soal rawa Peto yang jadi Kawasan Ekosistem Esensial. Begitu saya tanya apa maksud dari KEE itu sendiri, om Nus hanya terkekeh. Pada dasarnya, perkembangan upaya pengembalian Kura – Kura Leher Ular Rote ke danau Peto sudah diketahui oleh seluruh warga kampung dan para petani di sekitar danau rawa Peto. Sosialisasi juga sudah dilakukan berkali – kali.

Om Nus (kanan), Welem Langga (tengah, dan Bernabas Sinlaeloe (kiri)

Kemudian om Nus memanggil dua orang warga lain yang sedang bekerja di sawah mereka masing – masing, tidak jauh dari tempat kami ngobrol. Ada Welem Langga (29), seorang penggarap sawah, juga warga Hunulaeng. Welem bukan pemilik lahan sepeti om Nus, ia hanya menggarap sawah orang lain. Sebagai angkatan muda, ia nyaris tidak pernah berinteraksi langsung dengan Kura – Kura Rote. “Dulu waktu kecil pernah lihat orang bawa pulang (Kura – kura), tapi tidak pernah ketemu langsung di sini..” ungkapnya. Orang – orang seangkatan Welem di Hunulaen hanya sedikit saja yang pernah melihat Kura – Kura Rote di rawa Peto. Pada masa – masa remaja, populasi Kura – kura Rote sudah jauh berkurang dan makin jarang dijumpai.

Selain Welem Langga, seorang penggarap lain adalah Bernabas Sinlaeloe (42). Tidak seperti Welem, Bernabas memiliki banyak cerita tentang Kura – Kura Rote. Pada era 1990-an dan sebelumnya, ia mengaku sering melihat Kura – Kura Rote di sekitar rawa bahkan di petak – petak sawah. “Dulu sering kena jerat di jala ikan..” ungkapnya. Bernabas bahkan beberapa kali mendapati jala ikan yang dipasangnya di tengah danau ikut menjerat Kura – Kura. “Biasanya sudah mati. Kalau belum..kami potong, habis itu buang..saja..”

Baik Nus maupun Bernabas sama – sama mengakui jika Kura – Kura Rote tidak pernah sengaja diburu untuk dibunuh. Jika mereka terbunuh, itu karena ikut terjerat bersama ikan – ikan. Memasuki era 1990-an ke atas, perburuan Kura – Kura Rote dimulai. Saat itu sudah mulai berdatangan para pencari Kura – kura dari Jawa dan juga dari Kupang.  Di periode awal, harga seekornya berkisar 10.000 – 25.000 rupiah. Warga kampung sekitar jarang sekali terlibat dalam perburuan untuk diperdagangkan. “Kebanyakan datang dari kota sana..dari Baa..” Ungkap Nus saat saya tanya dari mana saja mereka yang berburu Kura – Kura. Pada era itu, masyarakat lokal tidak peduli dengan aktifitas perburuan juga pada keberadaan Kura – Kura Rote. Mereka baru mulai menyadari pentingnya Kura – Kura Rote setelah semakin banyak yang datang untuk melakukan penelitian di rawa Peto.

Mereka bertiga sesuara menyatakan keyakinan bahwa Kura – Kura Leher Ular Rote masih ada di dalam rawa Peto. Setelah Kementerian Kehutanan melepaskan 40 individu Kura – Kura Rote di danau Peto pada 2009 silam, warga di sekitar sudah tidak lagi masuk ke dalam danau. Jikapun ada, mereka pergi menjala ikan, dan tidak pernah sekali pun menjumpai Kura – Kura di sana. Perburuan juga berhenti. Ditambah lagi semakin seringnya dilakukan sosialisasi, membuat orang semakin enggan memasuki kawasan danau yang biasanya menjadi habitat Kura – Kura.

Terakhir saya bertanya, apa mereka yakin bahwa Kura – Kura yang akan dilepas ke danau Peto beberapa bulan lagi bisa selamat? Mereka serempak menjawab, yakin. Tidak akan ada yang tangkap – tangkap lagi, kata mereka. Kecuali kalau Kura – Kura itu memang tidak kuat hidup di Rawa Peto. “Namanya juga Kura – Kura dari kota to…mungkin kaget juga dia hidup di hutan di sini..bisa bisa dia mati..stres dia..” tutup Nus sambil tertawa.

Mendengar dari ketiga warga Hunulaeng, terbersit harapan dan keyakinan, bahwa Kura – Kura Leher Ular Rote akan bertahan di danau rawa Peto. Ditopang kesadaran bersama warga di sekitar rawa Peto, maka kepunahan reptil ikonik pulau Rote ini bisa diundur, sekurang – kurangnya untuk sementara waktu. Seperti kata om Nus, tentu saja banyak faktor lain yang menentukan apakah Kura – Kura Leher Ular Rote memiliki masa depan di Danau Peto atau tidak. Tetapi untuk saat ini, keyakinan itu bersemi dengan baik.

Leave A Reply

Your email address will not be published.