Sawah – Sawah Kami Yang Sunyi Dan Tuan – Tuan Yang Kian Renta

0 713

Saya pulang ke rumah setelah 10 tahun merantau. Waktu itu awal 2013. Tekad saya cuma satu, ingin menjadi petani! Niat yang baik sekali. Saya akan mengurus sawah, kebun sayur dan kebun kopi. Saya akan menjadi petani yang bukan hanya menanam, merawat dan memanen, tetapi menjadi petani yang bisa membantu petani – petani lain untuk tetap betah bertani. Menjadikan mereka merasa terhormat menjadi petani. Jika sudah membuat mereka betah bertani, saya berharap anak – anak mereka juga bercita – cita menjadi petani. (terdengar mulia sekali….) Mereka mungkin akan tetap pergi untuk kuliah, tetapi mereka akan dengan sangat antusias mengambil jurusan pertanian, peternakan, perikanan, dan cabang – cabang ilmu lain yang mendukung masa depan para petani. Masa depan kami.

Awalnya saya sangat optimis bisa mewujudkan itu. mungkin dalam waktu 5 atau 10 tahun lagi. Saya berharap, kampung saya, Mbeling di Manggarai Timur, bisa menjadi kampung yang diisi para petani yang selalu bangga dan dengan sumringah memperkenalkan diri mereka sebagai petani, termasuk saya. Saya berharap, kampung kecil di tepi hutan itu, suatu saat akan dipenuhi riuh hiruk – pikuk aktifitas bertani dan transaksi hasil tanah kami terjadi sepanjang pagi hingga petang.

Saya mengimpikan petani – petani yang masih hijau, muda belia,  berseliweran di kebun – kebun dan sawah – sawah di sekeliling kampung. Membayangkan mereka bergembira selepas panen. Menenggak bergela- gelas tuak, hilang semua lelah, tapi tak hilang harapan. Saya membayangkan para petani yang telah uzur, orangtua – orangtua kami, dengan bangga dan kagum menyusuri pematang – pematang sawah dan bedeng – bedeng, menyusuri kebun – kebun yang semarak oleh tanaman, tanpa khawatir akan hari esok anak – anaknya, tanpa takut tanah – tanah warisan mereka akan jatuh ke tangan tengkulak dan rentenir. Bayangan dan impian yang baik hilir -mudik di kepala.

Setelah pindah ke Ruteng pada 2015, saya mulai disibukan oleh hal – hal baru, keasyikan – keasyikan baru, serta impian – impian baru sebagai orang yang berkeluarga, dan dengan profesi baru sebagai pemandu wisata. Meski begitu, saya tidak menyerah. Tetap menautkan impian saya di Ruteng dengan kampung saya di Mbeling. Tetapi tentu saja dengan intensitas yang jauh surut. Semakin lama, di sini saya mulai tenggelam jauh kedalam kesibukan – kesibukan saya yang baru, demi mewujudkan mimpi – mimpi saya yang baru, tentunya. Jiwa ‘Sang Petani’  rupanya telah kerdil, diam terpaku di pojokan  sunyi imajinasi yang kian riuh, kian gemerlap.

Di kampung, mama yang telah semakin tua, terus tertatih – tatih mengurus sawah yang jaraknya 8 km dari rumah! Delapan kilometer untuk seorang janda berusia 60 tahun, bukan jarak yang dekat. Dia masih menempuhnya dengan berjalan kaki, meski kadang sesekali dia menyewa ojek atau meminta tolong keluarga yang dekat. Belakangan, ia tidak lagi sanggup mengurus sawah itu sendirian. Ia menggandeng kerabat yang tinggal di kampung dekat sawah. Mereka yang turun melakukan pekerjaan di sawah, mama menyiapkan bibit, pupuk, obat – obatan, serta kebutuhan selama bekerja. Hasilnya dibagi. Saya tidak tahu persis bagaimana pembagiannya. Ini sudah berlangsung beberapa tahun. Saya kadang – kadang menengok sawah itu sekali semusim. Setiap kali kesana, saya merasa memasuki tempat yang asing. Ada kesunyian di setiap sudutnya. Juga saya sendiri merasa telah tak terikat lagi pada sawah itu.

Sawah itu adalah warisan dari kakek untuk bapak saya. Itu juga menjadi warisan bapak untuk kami anak – anaknya. Sawah itu tidak boleh dijual, untuk alasan apapun. Sayangnya, sebagian sawah yang diwariskan pada kakak sulung saya digarap oleh kerabat yang lain. Dengan sistim bagi hasil, tetapi lebih tegas dari yang dilakukan mama. Mereka tidak terlibat dalam apapun, hanya  menerima pembagian yang diberikan kerabat yang mengerjakan sawahnya. Bagian saya sendiri dibagi dua. Separuhnya diberikan pada kakak sulung, separuhnya dikembalikan ke mama, karena kami masih sering juga mendapat kiriman beras dari mama. Kalaupun saya menerima bagian warisan sawah itu, mungkin akan melakukan hal yang sama seperti kakak sulung saya. 

Kakak yang kedua telah menetap di Labuan Bajo dan menjalani pekerjaan yang teramat jauh dari bertani. Adik saya yang tinggal dengan mama di rumah, tidak tertarik sama sekali untuk bertani.  Entah lagi dengan adik yang bungsu. Dia sedang kuliah dan  mengambil jurusan peternakan. Belum tahu apakah ia mau menjadi peternak di kampung atau menjadi pegawai di dinas peternakan. Atau menjadi politisi yang katanya akan memihak pada petani – peternak, seperti yang sering terjadi pada generasi kami. Sementara itu, mama yang semakin tua dan kelelahan setiap saat, sudah tak cocok lagi mengurus sawah itu.

Sawah kami hanya satu contoh dari sawah – sawah lain di Kampung. Orangtua – orangtua yang telah layu dilahap usia, harus bersusah payah mengurus sawah – sawah dan kebun mereka. Nasib kami anak – anaknya, sama. Beberapa dari mereka telah pergi ke tempat yang jauh, menjalani kehidupan yang lain, membangun keluarganya sendiri, dan hanya menunggu lonceng berdentang untuk benar – benar tak kembali lagi. Menunggu waktu untuk terlepas dari pokok pohon. 🙁

Beberapa juga menjalani profesi yang berbeda, sehingga mereka tidak punya cukup waktu untuk bertani. Profesi – profesi ini menjanjikan uang tunai yang lebih cepat ketimbang menunggu hasil panen di sawah dan kebun. Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi merantau ke Jawa, Bali, Kalimantan, dan menjadi TKI di luar negeri. Yang pergi memboyong keluarga, akan meninggalkan sawah-ladang mereka pada kerabat terdekat. Yang pergi sendirian, akan meninggakan istri mereka dan juga orangtua mereka untuk mengerjakan sawah dan ladang.

Beberapa yang tetap tinggal di kampung, tidak tertarik turun ke sawah dan ladang. Mereka memilih jalannya sendiri untuk menjaga keberlangsungan hidup. Atau bahkan mereka tidak tahu apa yang mereka ingin lakukan. Sawah – sawah dan  kebun – kebun dibiarkan dalam kesunyian panjang, tanpa batas waktu. Semakin hari, petani – petani tua hanya bisa pasrah. Melangkah lesu menuju sawah dan kebun. Bekerja sebisanya. Mereka tak mengolah tanah, mereka hanya menjaga warisan. Sorot mata mereka yang semakin sayu mengisyaratkan kecemasan, akan nasib kehidupan yang mereka wariskan bagi anak – anak mereka. Begitulah setiap saat saya melihat tatapan mama, di sela – sela mendengar kami membual tentang masa depan dan impian luhur kami yang semakin rumit saja. Dia seakan bertanya, maukah kamu menjaga apa yang telah saya jaga, lalu menjaganya untuk anak – anak kalian?? Saya telah terlampau lelah…

Leave A Reply

Your email address will not be published.