Kali terakhir saya menumpang kapal Tilongkabila adalah Agustus 2016 silam. Pengalaman yang tidak terlalu menyenangkan untuk diingat – ingat. Waktu itu saya mau ke Jakarta. Demi memangkas ongkos, saya putuskan naik Tilongkabila dari Labuan Bajo ke Benoa, Bali. Selanjutnya naik pesawat dari Bali ke Jakarta. Harga tiket pesawat Labuan Bajo – Denpasar kala itu sekitar Rp. 900.000 – 1.000.000-an, sedangkan harga tiket Tilongkabila Rp. 280.000. Selisihnya lumayan jauh. Di atas kapal, secara tak terduga biaya membengkak gila – gilaan, jauh melampaui harga tiket pesawat. Suasana di atas kapal juga tidak nyaman. Orang berjubel hingga ke lorong – lorong. Beberapa sampai tidur di atas skoci. Tentu saja ini ilegal, tetapi toh tidak ada yang melarang atau mengawasi. Saya menderita kerugian berlipat. Rugi pertama adalah waktu. Waktu tempuh Tilongkabila Labuan Bajo – Benoa kurang lebih 24 jam, sedangkan dengan pesawat hanya 1 jam. Rugi berikutnya biaya yang jauh lebih mahal karena selain pembengkakan tak terduga di atas kapal, juga harus membayar biaya menginap di Bali selama satu malam plus transportasi dari Benoa ke Denpasar. Namanya juga lagi sial. Siapa nyana?
Waktu berlalu. Saat ini 23 Maret 2023, saya sedang berada di dek 5 Tilongkabila, kapal yang sama seperti yang saya tumpangi dulu di 2016. Rutenya beda, kali ini Labuan Bajo – Makasar. Alasan menumpang Tilongkabila (lagi) tetap sama, demi memangkas biaya perjalanan. Dengan pesawat, saya harus mengeluarkan biaya lebih dari 2 juta Rupiah, dari Labuan Bajo menuju Denpasar, selanjutnya menuju Makasar. Dengan Tilongkabila saya hanya membeli tiket seharga 168 ribu rupiah! Dari segi waktu di perjalanan, selisihnya tidak terlalu jauh. Dengan Tilongkabila, saya berangkat pukul 06.00 pagi dari Labuan Bajo dan tiba pukul 10.00 malam di Makasar, pada hari yang sama. Sedangkan dengan pesawat, Kalau saya berangkat pukul 08.00 pagi dari Labuan Bajo, saya akan tiba di Makasar paling cepat pukul 04.00 sore di hari yang sama. Jadi, masuk di akal kalua saya harus melupakan kenangan tahun 2016 lalu dan memulai cerita yang baru dengan kapal buatan Jerman ini.

Bagi yang belum tahu apa itu kapal Tilongkabila, sedikit informasi tentang kapal ini. Kapal Tilongkabila merupakan salah satu kapal penumpang milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI); perusahaan pelayaran milik negara yang bergerak di bidang transportasi laut. Tilongkabila memiliki kapasitas penumpang 1000 – 1500. Kapal ini memiliki tiga kelas yakni kelas ekonomi, kelas 1 dan kelas 2. Rute yang dilalui adalah Bitung – Gorontalo – Luwuk – Kendari – Raha – Bau-Bau – Makassar – Labuan Bajo – Bima – Ampenan/Lembar – Benoa. Nama Tilongkabila diambil dari nama Gunung Tilongkabila di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.
Beberapa tahun belakangan saya sering mendengar testimoni baik tentang Kapal Tilongkabila ini. Rupanya ulasan – ulasan itu mendekati kebenaran. Tilongkabila telah berubah. Mulai dari pembelian tiket yang mudah dengan sistem yang lumayan baik, hingga pengelolaan operasional kapal yang jauh – jauh lebih baik dari yang saya ingat. Kesan baik pertama saya soal pembelian tiket. Begitu nama dan NIK kita dimasukan ke dalam system tiket, mereka langsung mengetahui apakah kita sudah divaksin covid-19 atau belum. Ini saja sudah luar biasa, sehingga tidak perlu lagi harus cek sertifikat vaksin manual yang katanya saat ini banyak dipalsukan, istilahnya sertifikat tembak.
Proses check-in juga sangat baik. Tidak kalah dengan system check-in di bandara. Kita menukar tiket dengan boarding pass yang di dalamnya sudah ada kelas dan nomor tempat tidur. Saya lupa apakah dulu hal ini sudah ada atau belum. Dengan proses check-in teratur seperti ini, hampir mustahil penumpang tidak mendapatkan tempat atau over capacity. Kondisi ini yang membuat penumpang tidak berebutan naik ke atas kapal. Orang dengan santai menunggu antrian. Petugas dengan leluasa memeriksa tiket dengan sistim dua jenjang pemeriksaan.

Perjalanan kali ini saya putuskan untuk menyewa kamar di dalam kapal, berhubung banyaknya peralatan yang saya bawa. Saya tidak mau kehilangan waktu istirahat dan menikmati perjalanan hanya karena mengkhawatirkan bawaan saya. Hal ini sering saya lakukan kala bepergian dengan kapal. Dengan sedikit tambahan biaya, saya mendapatkan fasilitas lebih. Kamar tidur berpendingin dengan dua tempat tidur single dan sebuah extra bed. Kamar ini menurut saya bisa dipakai berempat. Kamarnya bersih, ada kamar mandi berpancuran air dingin dan panas, dan ber-kloset duduk. Sebuah meja kerja dan lemari. Lumayan nyaman. Selain saya bisa menulis cerita ini di atas kapal, saya masih bisa berkeliling untuk ngobrol dan memperhatikan sudut – sudut kapal. Tentu saja sambil birding pula.
Perbaikan yang cukup menonjol juga adalah tingkat kebersihan kapal secara keseluruhan. Tempat sampah ada di mana – mana, dengan jarak yang berdekatan. Jika saja para penumpang sudah punya kesadaran yang baik untuk menjaga kebersihan, maka kapal ini akan menjadi kapal yang sangat bersih. Beberapa orang masih menempati lorong di dekat pintu keluar-masuk, dan di dek luar kapal. Rata – rata alasan mereka karena jumlah barang yang terlampau banyak untuk digotong satu – satu ke dalam ruang penumpang. Sehingga mereka memilih tidur di dekat barang – barang mereka.
Penumpang kabin seperti saya mendapat jatah makan siang dan makan malam di dalam kamar. Petugas akan mengantarnya. Tetapi proses mendapatkan makanan di tempat reguler juga sudah sangat bagus. Masih ingat di pelayaran – pelayaran sebelumnya, mengantri makanan di loket jadi salah satu hal yang paling tidak menyenangkan. Orang berebutan, berdesak – desakan di udara yang pengap, dibumbui percampuran aroma tubuh penumpang, aroma makanan yang menguar dari dalam loket dan dapur, serta aroma – aroma yang berpadu dalam lorong – lorong kapal yang sesak dan kotor. Seperti antrian panjang di film – film masa perang dunia II saja. Kali ini, orang – orang yang mengantri makanan begitu santai dan tidak terburu – buru. Kondisi kapal yang jauh lebih bersih membuat aroma – aroma yang mengganggu hampir lenyap dari penciuman. Makanan yang disajikan juga makanan segar yang baru saja dimasak, masih hangat. Jadi, saya meyakini makanannya lumayan aman. Apalagi dapurnya memang sangat bersih.

Toilet dan kamar mandi. Bagian ini sebenarnya saya tidak terlalu berharap banyak berubah. Bukan karena pengelolaan yang tidak bagus, tetapi mental penumpang domestik kita yang memang sejauh ini tingkat kesadaran kolektifnya untuk urusan kebersihan umum itu belum terlalu bagus. Maka, kalau menemukan toilet umum yang dipakai banyak orang itu rata – rata kondisinya mengenaskan biasanya tidak kaget. Di Tilogkabila, saya terkejut. Toilet dan kamar mandi umumnya lumayan bersih. Meski sekali lagi, kesadaran penumpang yang buruk membuat seringkali ditemui puntung rokok mengambang di dalam kloset. Jumlahnya kadang – kadang lebih dari satu. Tetapi rupanya petugas kebersihan kapal secara rutin memantau kebersihan tiolet dan kamar mandi.
Selain toilet, cafetaria yang berada di dua sisi anjungan kapal juga sangat bersih dan nyaman. Tempat duduk yang nyaman dan bersih membuat kita betah duduk berlama – lama di sana. Menikmati kopi dan minuman – minuman lain, atau makan makanan ringan dan mie instan.
Perjalanan kali ini telah memperbaiki memori saya tentang Tilongkabila. Satu – satunya momen yang menghempas saya kembali ke 2016 adalah saat bersandar di Makasar. Waktu pukul 10 malam. Waktu saya keluar dari kabin, lorong – lorong sudah penuh sesak oleh penumpang. Saya menuju ke sayap kapal. Begitu tangga kapal terhubung dengan pelabuhan, para buruh angkut pelabuhan menyerbu ke atas kapal yang membuat suasana benar – benar berantakan. Orang – berdesak – desakan untuk turun, berhimpit – himpitan dengan para buruh angkut yang menjajakan jasanya. Kacau sekali. Yahh….begitulah, kadang – kadang wujud asli memang sulit dipoles.
