60 Tahun Menghilang, Benarkah Mandar Flores Telah Punah?

0 3,075

Pada tahun 2017 lalu,  Julian Pender Hume, seorang Paleontologis burung asal Inggris menerbitkan buku berisi daftar burung yang disimpulkan punah. Buku berjudul “Extinct Birds” itu diterbitkan Bloomsbury publishing, dan merupakan hasil dari observasi yang panjang di lapangan J.P Hume sendiri dan  catatan – catatan penelitian dan observasi beberapa peneliti di seluruh dunia. Dalam daftar burung – burung yang dianggap punah, ada satu jenis burung yang berasal dari Pulau Flores bagian barat. Nama burung itu adalah Mandar Lewin subspesies Flores (Lewinia pectoralis exsul) atau lebih mudah disebut Mandar Flores.

Mandar Flores hingga saat ini masih merupakan sub spesies dari Mandar Lewin yang dijumpai di Benua Australia bagian timur dan Papua Nugini. Namun banyak ornitologis meyakini bahwa Mandar Flores adalah spesies mandiri sebagai endemik Flores bagian barat. Kesimpulan tentang  taksonomi Mandar Flores masih “tidak terdeskripsi” hingga DNA spesimen baru diperoleh.

Sebelum saya membaca buku milik J.P Hume, Colin Trainor dari Charles Darwin University telah lebih dahulu mengirimi saya jurnal hasil penelitiannya tentang keberadaan Mandar Flores. Laporan yang ditulis ini juga yang menjadi salah satu rujukan penting bagi Hume dalam menjabarkan status Mandar Lewin di Flores. Dalam laporan yang ditulis bersama Philippe Verbelen itu, Trainor sendiri tidak yakin bahwa Lewinia pectoralis exsul   telah punah, meski ia sendiri belum berhasil menemukannya.

Lewinia pectoralis exsul pertama kali terdeskripsi dari hasil pengumpulan specimen yang dilakukan oleh Alfred Hart Everett, seorang naturalis berkebangsaan Inggris, pada November 1896 di salah satu lokasi di Manggarai, Flores Barat. Setelah Everett, adalah seorang misionaris Katolik asal Belanda, Jilis A.J. Vereheijen yang mengumpulkan spesimen burung yang biasa hidup di kawasan basah ini. Jilis Verheijen menjalankan tugas misi gereja katolik selama 58 tahun (1935-1993) di Flores.

Dalam kurun waktu antara 1955 – 1959, Verheijen mengumpulkan spesimen berupa Mandar dewasa, anakan dan telur dari 7 lokasi berbeda di Manggarai, yakni Cumbi, Rahong, Wangkung-Reo, Pocong, Moncok, Mano dan Benteng Jawa (Trainor & Verbelen; Lewin’s Rail Lewinia pectoralis exsul on Flores, Indonesia: its history, status and where to look for it). 

Spesimen – spesimen yang dikumpulkan oleh Verheijen kini tersimpan di Museum of Comparative Zoology (MCZ), Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Catatan penemuan Verheijen pada tahun 1959 sering dipakai sebagai laporan resmi terakhir penemuan Mandar Flores. Dengan demikian maka total sudah 60 tahun spesies itu tidak ditemukan berdasarkan laporan resmi.

Meski demikian, sebenarnya masih ada satu lagi laporan paling baru tentang Mandar Flores, yakni oleh seorang misionaris yang bertugas di Paroki Nunang, Sanonggoang, Manggarai Barat pada tahun 1974. Ia adalah Erwin Schmutz. Ia mengoleksi 1 ekor anakan Mandar dari sekitar kampung Nunang. Penemuan Schmutz ini tidak dipublikasikan dengan baik sehingga tidak menjadi rujukan laporan penemuan terakhir Mandar Flores. Laporan penemuan oleh Schmutz baru terpublikasi dalam buku G.F. Mees; The Avifauna of Flores (Lesser Sunda Islands);2006. 

Salah satu titik pengamatan yang menjadi lokasi penemuan Mandar Flores di sekitar Ruteng, sesuai data koordinat Verehijen

Pencarian terhadap Mandar Flores saya lakukan sejak tahun 2015. Dari 7 lokasi yang dilaporkan Verheijen mengikuti data koordinat yang menyertai spesimen – pesimen di Cambridge, ditambah satu lokasi oleh Schmutz, hanya Benteng Jawa dan Moncok yang belum saya datangi. Proses pencarian juga saya kembangkan ke beberapa lokasi yang menurut saya berpotensi menjadi habitat Mandar Flores antara lain di Waling, Ranaloba, Mbeling, Mukun, Colol dan Nangalanang yang semuanya masuk wilayah Manggarai Timur. Di wilayah Manggarai, saya melakukan pencarian di hampir semua kawasan basah di seputar kota Ruteng ke utara, Iteng, dan Ponggeok. Sedangkan di Manggarai Barat; Labuan Bajo, Lembor dan Nampar Macing.

Pengamatan dilakukan dengan pemilihan waktu yang beragam mulai dari pagi, siang, sore hingga malam hari. Hasilnya masih nihil hingga hari ini. Pengamatan juga melibatkan perangkat perekam suara yang ditempatkan di lokasi – lokasi yang diperkirakan. Satu – satunya jenis mandar yang paling sering dijumpai adalah Mandar Kalung Kuning (Gallirallus philippensis). Masyarakat lokal Manggarai, mengenal jenis Mandar dengan nama Weris, dengan beberapa perubahan penyebutan di beberapa dialek berbeda.

Mandar Kalung Kuning (Gallirallus philippensis)

Meski menghilang dalam waktu yang panjang, namun status kepunahan Mandar Flores belum bisa ditetapkan secara pasti mengingat karakteristik burung dengan corak bulu didominasi warna coklat ini terbilang burung yang sulit dijumpai dan pemalu. Harapan untuk bisa menemukannya kembali tentu saja masih tinggi. Dari beberapa informasi yang saya kumpulkan, penduduk lokal di beberapa tempat mengaku masih menemukan jenis Mandar atau Weris seperti yang saya deskripsikan dengan catatan penting yang saya peroleh dari mereka bahwa ukuran tubuh Mandar jenis ini lebih kecil dari Mandar Kalung Kuning.

Burung Yang Rentan Diburu

Burung jenis Mandar adalah salah satu jenis burung yang paling diburu di Flores, khususnya Manggari, lokasi penemuan Mandar Flores. Selama proses pengamatan yang saya lakukan sejak 2015, terhitung lebih dari 1000 individu Mandar Kalung Kuning yang saya jumpai dalam keadaan mati diburu. Habitat Mandar Kalung Kuning dan Mandar Flores yang relatif sama, membuat peluang Mandar Flores ikut diburu, sangat besar.

Perburuan terhadap Mandar meningkat drastis dilakukan pada saat musim panen padi di sawah. Di hampir semua wilayah di Flores, aktifitas berburu ini massif dilakukan sepanjang musim panen, siang dan malam hari. Sekali berburu, ratusan ekor Mandar Kalung Kuning dan burung – burung air lainnya bisa dibawa pulang. Masa berburu ini berlangsung hingga 1 bulan bahkan lebih. Kenyataan ini membawa kita pada kesimpulan bahwa kepastian status Kepunahan Mandar Flores sesungguhnya hanya menunggu waktu saja.

Akankah Mandar Flores benar – benar punah sebelum status endemiknya benar – benar terdeskripsi secara rinci? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Leave A Reply

Your email address will not be published.