Ruteng Forest Trail; Menyusuri Jalur Tua, Membelah Jantung Mandosawu
John Muir, naturalis legendaris Amerika kelahiran Skotlandia meninggalkan kesaksian terkenal tentang hutan. Ia bilang; “the clearest way into the universe is through a forest wilderness.” Menurutnya, hutan adalah jalan terbaik masuk ke alam semesta. Kata- kata Muir tentu saja terbuka untuk diperdebatkan, tetapi sebagai buah dari kontemplasi panjang di kedalaman belantara Sierra Nevada, sabda Muir itu telah final!
Keyakinan Muir akhirnya juga merasuki jutaan orang di dunia. Hutan tidak hanya dipandang sebagai bentang alam tempat tinggal kehidupan liar yang menjalankan fungsi ekologis, tetapi lebih dari itu adalah jalan menuju ke kedalaman semesta yang mahaluas. Tempat manusia berinteraksi secara penuh sebagai bagian dari semesta. Ruang di mana manusia melihat eksitensinya secara setara dengan kehidupan yang lain. Hutan sebagai ruang kontemplasi! Semakin banyak yang bisa diraih dari kebaikan hutan, minat manusia modern untuk menjelajahinya semakin bertambah secara drastis dari waktu ke waktu.
Mengiringi laju tren penjelajahan hutan di masyarakat global yang terus tumbuh dengan cepat, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Manggarai melihat hutan Mandosawu dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng adalah salah satu bentang alam yang menjanjikan untuk dijelajahi. TWA Ruteng sendiri memiliki luas 32.245,60 ha, dan merupakan hutan hujan terbesar di wilayah Nusa Tenggara. Selain hutan hujan yang menawan, hutan TWA Ruteng adalah rumah besar flora dan fauna endemik Flores.

Demi menyajikan pengalaman menjelajahi hutan Mandosawu ini, HPI Manggarai mencoba membuat jalur trekking hutan yang kami beri nama Ruteng Forest Trail sebagai salah satu program unggulan bidang pengembangan destinasi dan atraksi wisata di Manggarai, bersama tiga walking & trekking trail lainnya yakni Coffee Trail, Ricefield Trail, dan Herritage Trail.
Rute pertama yang kami survei adalah jalur trekking hutan Golo Lusang (Manggarai) menuju air terjun Cunca Rede (Manggarai Timur). Perkiraan jaraknya adalah 7 km dengan waktu tempuh 3 – 5 jam. Jalur ini sebenarnya bukan jalur baru. Ini adalah jalur legendaris di masa lalu, dipakai oleh masyarakat yang mendiami sisi selatan Mandosawu, di wilayah Sita dan Torok Golo, dan sekitarnya untuk datang ke Ruteng. Begitu juga sebaliknya. Berpuluh – puluh tahun jalan ini menyambung cerita hidup masyarakat di sana. Sebagai jalur legendaris, banyak kisah dan kenangan di sana. Ketika jalan – jalan sudah mulai bagus dan kendaran telah sampai ke kampung – kampung, jalur lintas ini perlahan ditinggalkan.
Setelah menempuh proses perijinan dan beberapa kali berdiskusi dengan Balai Besar KSDA NTT sebagai pihak yang berwenang atas kawasan TWA Ruteng, akhirnya kegiatan survei jalur ini terwujud dalam bayang – bayang hujan bulan Desember.
Baca juga: Mengenal Hutan TWA Ruteng, Rumah Besar Biodiversitas Endemik Flores
Rabu pagi, 1 Desember 2021, 12 Orang anggota HPI Manggarai yang terlibat dalam tim survei berkumpul di Pos Resort Golo Lusang. Setelah briefing singkat, panitia membagi tambahan perbekalan untuk setiap anggota tim. Dari pos resort kami berjalan kaki menuju titik start di Lapangan Tembak, Wae Ces.
Cuaca cerah berawan menaungi Mandosawu sepanjang pagi. Survei ini berjalan santai ala -ala tour guide (ada norak – noraknya.. 😀 ). Kami memanfaatkan kegiatan ini sebagai jalan mempererat persaudaraan di antara kami, sembari bertukar ide tentang masa depan pariwisata, termasuk pengembangan wisata trekking di Ruteng. Tidak sedikit juga gosip diumbar…yang lebih dari 90% disarankan untuk tidak boleh percaya! Pun ada cerita – cerita haru kerasnya hidup di masa pandemi. Tugas – tugas diemban secara sukarela oleh semua anggota tim. Sesuai agenda, beberapa aktifitas utama kami hari itu adalah merekam peta jalur menggunakan GPS, membuat tanda jalur dengan marker berwarna kuning cerah, menginventarisasi flora dan fauna, serta mengidentifikasi potensi dan tantangan di sepanjang jalur trekking.

Setelah menempuh jarak 3 km di sepanjang lembah berhutan padat, kami berhenti di kaki lereng. Tempat ini kami tandai sebagai Shelter 1. Selain karena berada dalam lembah yang dihimpit dua baris perbukitan yang curam, vegetasi padat dengan pepohonan berkanopi rendah membuat hawa di lokasi ini sangat lembab. Lantai hutannya tampak selalu basah. Di sini kami berhenti menikmati makanan ringan dan melepas lelah. Cuaca masih cerah berawan. Pertengahan waktu istirahat, tiga orang warga melintasi jalur. Mereka adalah warga dari kampung Colol dan Ntaúr (kampung di dekat air terjun Cunca Rede,) Manggarai Timur, yang aktif menggunakan jalur ini untuk datang ke Ruteng. Dari mereka kami mendapatkan sedikit gambaran kondisi jalur terkini.
Di hadapan kami terpampang sebuah tanjakan terjal sepanjang kurang lebih 150m. Melalu trek berkelok kami akhirnya sampai di puncak punggung bukit. Meski melewati tanjakan, namun trek ini terbilang cukup mudah. Kelokannya landai, serta vegetasi yang padat di sisi – sisi trek membuatnya menjadi lebih aman. Hanya ada beberapa titik yang akan dilengkapi pengaman demi meningkatkan kenyaman pelintas. Dari lereng ini, pemandangan lembah membentang di belakang. Hutan hijau dengan kabut yang mulai menghinggapi tepian lereng yang lebih tinggi, menyapu pucuk pepohonan yang menjulang.
Punggung bukit ini berada di ketinggian 1600mdpl, merupakan perbatasan antara kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Puncak ini bernama Poco Gurung.

Dari Poco Gurung, trek landai sepanjang 300m menghantar kami ke sebuah cekungan yang merupakan telaga kering. Hamparan tanah lapang berumput dengan luas kurang lebih 1000m2, dilingkari lereng bukit berhutan lebat. Kami menadai tempat ini sebagai Shelter 2. Suasananya benar – benar mengagumkan. Suasana rimba kental terasa. Suara angin berembus di lereng dan puncak, dengungannya yang berat menyinggahi lembah.
Sesuai dengan kesepakatan, kami seharusnya berhenti di tempat ini dan kembali lagi ke Golo Lusang. Tetapi tim rupanya masih bersemangat, ditambah rasa penasaran. Kami memutuskan untuk menambah jarak survei hingga genap 4km. Setelah mencapai turunan pada sisi sebelah timur, pada jarak 4km, kami berhenti dan membuat tanda terakhir. Alasan lain adalah perut yang mulai minta diisi.

Selepas memasang tanda, kami kembali ke Shelter 2. Tanpa basa-basi kami membuka bekal makan siang masing – masing, duduk melingkar di tengah lembah dalam peluk hawa dingin puncak Mandosawu. Menurut saya, ini adalah makan siang paling nikmat sepanjang 2021. Benar – benar seperti sebuah perayaan di jantung Mandosawu.
Sukacita rasanya penuh. Ada banyak hal yang memenuhi kepala saat itu. Gerimis perlahan turun di lereng – lereng, menyirami kekaguman yang telah bercampur dalam doá – doá sunyi. Di bawah siraman hujan, kami menjejaki lereng dan lembah, memanggul impian dan keyakinan dalam hati kami masing – masing, bahwa belantara Mandosawu akan menyiapkan masa depan bagi kami, masa depan bagi pariwisata Manggarai dan Manggarai Timur, tentu juga masa depan bagi mereka yang berhak mewarisi belantara yang indah ini.

Tulisan asli tayang di fanpage HPI Manggarai
