English
News

Mengenal Hutan TWA Ruteng, Rumah Besar Biodiversitas Endemik Flores

Mengenal Hutan TWA Ruteng, Rumah Besar Biodiversitas Endemik Flores

Ruteng adalah kota kecil di dataran tinggi, merupakan ibukota kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Terletak di ketinggian + 1200 dpl, dengan suhu berkisar antara 18,7°C – 27°C dan kelembaban mencapai 90 % membuat kota ini terkenal sebagai kota dingin. Intesitas curah hujan di kota ini cukup tinggi yakni rata – rata 3.339,8 mm/ tahun.

Dari Ruteng kita bisa melihat deretan gunung dengan hutan nan hijau, melingkari kota, bak benteng istana. Dari Ruteng, kita bisa menikmati indahnya panorama alam dalam hutan hujan tropis hingga ke wilayah kabupaten Manggarai Timur. Hutan hujan ini merupakan kawasan Taman Wisata Alam Ruteng, yang kewenangan pengelolaan dan pelindungannya berada di tangan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur.

Celepuk Flores di TWA Ruteng

Luas TWA Ruteng menurut data kantor BBKSDA NTT adalah 32.245,60 hektar dengan pembagian luas kawasan 8.013,60 Ha berada di wilayah Kabupaten Manggarai dan seluas 24.235 Ha berada di wilayah Kabupaten Manggarai Timur. Menyimpan kekayaan ekologis yang tak terkira, TWA Ruteng bak Firdaus kecil di Flores. Kekayaan alam TWA Ruteng meliputi hutan hujan tropis yang hijau, sumber mata air utama bagi dua hingga tiga kabupaten, destinasi wisata alam berupa danau tropis dan air terjun serta spesies burung dan hewan endemik. Terdapat 76 daerah penyangga pada TWA Ruteng dimana 26 Desa/Kelurahan berada di wilayah Kabupaten Manggarai dan 50 Desa/Kelurahan berada di wilayah Kabupaten Manggarai Timur.

Flora

Seorang misionaris Katolik asal Belanda, J.A. Verheijen dalam kurun waktu 25 tahun ( 1967 – 1992) melakukan penelitian guna mengidentifikasi kekayaan flora dan fauna di kawasan hutan TWA Ruteng. Hasilnya tercatat sebanyak 252 spesies tumbuh-tumbuhan berbunga dan tidak berbunga ditemukan yang meliputi 94 famili dan 119 genera, serta sejumlah specimen fauna. Tanaman yang umum dijumpai adalah dari famili Euphorbiaceae dan Lauraceae. Sebanyak 69 spesies tumbuhan dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk pengobatan. Saat ini, semua spesimen flora dikoleksi dan disimpan di museum Leiden Belanda sedangkan specimen Fauna tersebar di beberapa museum zoology di seluruh dunia

Burung

Perkici Flores

TWA Ruteng memiliki lebih dari 70 spesies burung dan di antaranya terdapat 15 jenis merupakan endemik Flores antara lain Elang Flores (Nisaetus floris), Celepuk Flores (Otus alfredi), Nuri / Serindit Flores (Loriculus flosculus), Perkici Flores (Trichoglossus weberii), Gagak Flores (Corvus florensis), Kancilan Flores (pachycephala nudigula), Celepuk Wallacea (Otus silvicola), Opior Flores (Lophozosterops superciliaris), Opior paruh tebal (Heleia crassirostris) dan Sepah Kerdil (Pericrocotus lansbergei).

Mamalia

Mamalia endemik yang ada di TWA Ruteng adalah tikus terbesar di dunia, Flores Giant Rat (Papagomys armandvillei), Tikus poco ranaka (Rattus hainaldi), dan Kelelawar flores (Cynopterus nusatenggara). Mamalia besar lainnya yang dapat ditemui di wilayah ini adalah Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Landak (Hystrix brachyura), Babi hutan (Sus sucrofa vitatus) dan Musang (Paradoxurus hermaphroditus).

Selain kekayaan alam, hutan TWA Ruteng menyimpan misteri penting bagi perjalanan sejarah masyarakat Manggarai. Meski penelitian ilmiah yang intensif tentang hal ini belum pernah dilakukan, namun dari penuturan orang – orang tua di Manggarai, bahwa tempat pertama yang menjadi kampung orang Manggarai yang konon datang dari Minangkabau, adalah salah satu titik di gunung Mandosawu (gugusan Ranaka, Nampar Nos) yang saat ini orang mengenalnya dengan sebutan Bangka Kuleng, (Bangka: Bekas pemukiman, Kuleng: Nama suku induk orang Manggarai).

TWA Ruteng adalah adalah “rumah ibu” bukan hanya bagi biota yang ada di dalamnya tetapi juga bagi seluruh masyarakat Manggarai dan Manggarai Timur.

Wisata Alam

Selain kekayaan bidoversitas endemis yang tersebar dalam kawasan TWA Ruteng, kawasan ini juga memiliki beraneka ragam tempat menarik untuk dikunjungi antara lain Danau Ranamese dan Rana Poja. Dari ke dua danau ini, Ranamese adalah yang paling populer karena terletak tepat di tepi jalan lintas Flores. Sealin itu juga terdapat air terjun Cunca Rede di Desa Sano Lokom, Kecamatan Ranamese, Kabupaten Manggarai Timur. Wisatawan bisa juga melakukan pendakian ke puncak Poco Likang atau mengunjungi puncak tertinggi Ranaka.

Di tengah kekaguman pada kekayaan biodiversitas dan keindahan alam kawasan TWA Ruteng, ancaman terhadap kelestariannya terus berlangsung setiap hari. Kondisi hutan terus mengalami degradasi dengan cepat akibat perambahan dan penebangan. Kondisi fauna baik  burung maupun mamalia mengalami tekanan yang serius. Perburuan yang makin marak dan leluasa di dalam kawasan menyebabkan burung dan satwa endemik lainnya berkurang terus – menerus dan berlangsung cepat. Dibutuhkan tindakan yang segera dan serius baik oleh pemerintah melalui BBKSDA NTT, Pemerintah Daerah dan lokal di tingkat Desa, maupun oleh masyarakat luas dan lembaga – lembaga sosial agar proses penghancuran ini tidak berlanjut, dan menjamin rumah terakhir ini tetap menjadi rumah yang layak untuk ditinggali.

Please follow and like us:
error6
Tweet 20
fb-share-icon20
Tagged: , , ,

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *