Asian Waterbird Census (AWC) adalah sebuah kegiatan tahunan yang dilakukan dalam pekan ke-2 dan ke-3 di setiap bulan Januari. Kegiatan ini dikoordinasi oleh Wetlands International, sebuah organisasi nirlaba yang konsen menjalankan program konservasi lahan basah di seluruh dunia. AWC pertama kali dimulai di India pada tahun 1987, dan hingga kini telah diikuti oleh sukarelawan dan pengamat burung di bebagai negara di wilayah Asia dan Australasia. Begitulah kurang lebih deskripsi yang disampaikan Wetlands Indonesia.
AWC2021 adalah kali pertama saya mengikuti perhelatan akbar ini. Alasan mengapa baru tahun ini saya mengikuti AWC, karena prosedurnya dipermudah. Pada tahun – tahun sebelumnya, pendataan dilakukan dengan mengisi formulir yang disiapkan oleh Wetlands Indonesia, sedangkan pada tahun 2021 ini, AWC sudah melibatkan Burungnesia, sebuah platform pendataan burung karya anak – anak muda Indonesia. Saya sendiri menjadi kontributor Burungnesia sejak 2019. Bermodalkan motivasi dari Toko***ia, #mulaiajadulu, saya memutuskan untuk ikut #AWC2021, hitung – hitung juga melupakan kerasnya hantaman pandemi.
Waktu itu pertengahan Januari, saya membulatkan tekad ikut AWC2021 setelah melihat unggahan teman Burungnesia di facebook. Sayangnya, sampai dengan berakhirnya bulan itu, tidak ada satupun data yang saya kumpulkan. Ada dua alasan penting yang bisa saya jadikan kabing hitam. Pertama, sepeda motor yang rusak cukup parah dan tidak punya cukup uang untuk memperbaikinya. Yang ke dua adalah cuaca ekstrem yang melanda Ruteng dan sekitarnya. Hujan angin terus – menerus, serta longsor terjadi di beberapa ruas jalan utama. Seperti yang saya bilang barusan, semua ini adalah upaya mencari kambing hitam.
Pertengahan Februari, sepeda motor sudah diperbaiki dan cuaca berangsur normal. Meski saya merasa sangat terlambat, tanggal 16 Februari, di saat cuaca di Ruteng sangat cerah, saya menuju ke pesisir utara tepatnya di Nangabana, Reo. Kawasan ini adalah lokasi tambak bandeng dan udang, hutan mangrove, persawahan dan juga rawa – rawa air pasang. Sepanjang kurang lebih 6 jam saya berada di Nangabana. Bukan hanya mendata burung air, saya juga mendata burung – burung lain, serta memotret salah satu burung favorit saya; Raja Udang Biru (Alcedo coerulescens).
Dari pengamatan di hari pertama di Nangabana saya mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang Asian Waterbird Census. Secara pribadi saya merasa tidak tahu apa – apa tentang burung air. Saya harus belajar lebih giat dalam mengidentifikasi burung air. Karena secara morfologi, beberapa jenis burung air memiliki rupa yang mirip. Jika kita tidak mengamatinya dengan sungguh – sungguh, beberapa jenis akan terlewatkan atau malah identifikasinya salah, apalgi jika mereka sedang bergerombol dalam satu tempat. Oleh karenanya, saya memanfaatkan semua peralatan yang saya miliki, untuk membantu mengidentifikasi; Perekam suara, Binocular dan juga Kamera. Di Nangabana saya mendapat satu jenis baru untuk saya sendiri yakni Gajahan Penggala (Numenius phaeopus).

Pengamatan di Nangabana juga memberikan gambaran yang jelas bagaimana lahan basah dan hutan mangrove di Flores benar – benar diabaikan seperti tak berguna. Alih – alih pemerintah melakukan tindakan konservasi dan pengelolaan berkelanjutan, Pemda Manggarai malah mengubah lahan basah di samping tambak Nanga Bana menjadi tempat Pacuan Kuda. What a silly idea???? Tapi untuk bagian – bagian yang beginian, saya tidak terlalu terkejut. Kalau ada reaksi terkejut, itu berlebihan. Kami bilang ini su biasa..
AWC2021 ini juga sekaligus menegaskan betapa masifnya bahaya perburuan liar yang mengancam kehidupan satwa di tanah ini. Setiap ke lokas pengamatan, bertemu pemburu adalah hal yang lumrah. Orang – orang merasa bahwa burung – burung ini tidak berguna jika tidak dimakan. Jika tak masuk perut, tidak berguna. Di sini, ilmu pengetahuan mati sekarat tak berguna.
Sehabis pengamatan di Nangabana, saya meneguhkan komitmen untuk melanjutkan pengamatan sesanggupnya. Awalnya saya berencana hanya melakukan pengamatan sehari saja di satu lokasi untuk menandai keterlibatan di AWC2021. Ternyata saya terpacu. Lokasi berikutnya adalah danau Ranamese dengan target utama menghitung Itik Alis (Anas superciliosa), yang memang saya tahu menghuni Danau Ranamese secara permanen. Lokasi ke tiga adalah persawahan di Cumbi, Kecamatan Ruteng. Di Lokasi ini dahulu Jilis Verheijen mendapatkan spesimen Mandar Lewin (Flores) yang hingga kini belum ditemukan kembali. Nah, lokasi terakhir sekaligus meneguhkan niat saya untuk lebih aktit di AWC2022 tahun depan adalah hutan Pong Inembele di Iteng, Satarmese di tepi laut Sawu. Dari sini saya tahu, bahwa begitu banyak sudut pulau yang belum tersambangi.
Dari 4 lokasi pengamatan yang saya lakukan dalam 4 hari terdata 16 jenis burung air yakni; Gajahan Penggala (Numenius phaeopus), Trinil Semak (Tringa glareola), Cangak Merah (Ardea purpurea), Kuntul Kecil (Egretta garzetta), Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis), Cerek Besar (Pluvialis squatarola), Cerek Jawa (Charadrius javanicus), Trinil Pantai (Actitis hypoleucos), Itik Alis (Anas superciliosa), Koreo Padi (Actitis hypoleucos), Tikusan Merah (Porzana fusca), Bambangan Merah (Ixobrychus cinnamomeus), Mandar Kalung Kuning (Gallirallus philippensis), Kuntul Karang (Egretta sacra), Cerek Kernyut (Pluvialis fulva) dan Dara Laut Benggala (Sterna bengalensis). Saya tahu bahwa data yang terkumpul ini hanya secuil dari jumlah spesies burung air sesungguhnya di Flores.
AWC2021 bagi saya seperti sebuah sentakan yang membangunkan saya untuk ‘melihat ke sekitar rumah’. Ke laut, pantai – pantai, sawah – sawah, rawa – rawa, sungai, dan hutan mangrove di sepanjang pulau ini dan menemukan rahasia – rahasia yang tersimpan di dalamnya. Ini adalah komitmen yang harus saya tunaikan di tahun depan, di AWC2022, selama tidak ada kambing – kambing lain yang berwarna hitam di tahun depan. Ini juga menyentak saya untuk belajar lebih banyak tentang identifikasi burung air demi akurasi data yang dikumpulkan.
Jika saja saya tidak sendirian, jika saja saudara -saudara saya di Flores ini mau bersama ikut mengamati serta melaporkan apa yang mereka temukan di kawasan – kawasan basah di sekitar mereka, dengan demikian menjadi seperti Flores Waterbird Census (FWS 2022), jika saja begini..jika saja begitu…seandainya.. Tiba – tiba saja saya mengimpikan macam – macam hal. Mulai dari pengamatan yang masif hingga data burung air di Flores tersaji dalam daftar yang lengkap, kemudian dipublikasikan secara luas dan baik. Membangun harapan bahwa perlindungan dan konservasi lahan basah di masa depan bisa dilakukan dengan lebih efektif dan serius.
Saya kemudian tersadar bahwa saya sesungguhnya adalah seorang yang kesepian di jalan ini. Yang menginginkan ada seseorang atau beberapa orang lain yang melakukan hal bersama – sama. Mengumpulkan data keanekaragaman hayati di pulau yang dibela mati – matian kalau ada yag bilang tidak istimewa ini. Saya terkadang iri melihat teman – teman di daerah lain bahkan para tetangga di Sumba dan Bima, yang telah mulai melakukan pengamatan dalam kelompok. Berbagi kekaguman saat berjumpa spesies baru atau spesies yang tak terduga. Di AWC22 nanti, saya berharap itu mulai terwujud di sini, entah bagaimana caranya.
Sampai jumpa di AWC2022!

