Danau Asmara, Oase Di Ujung Nusa Bunga

0 4,594

Mendengar nama Pulau Flores dalam waktu belakangan, asosiasi paling mudah adalah Labuan Bajo, Komodo, Kelimutu, Waerebo, Bena dan sederet nama destinasi wisata populer lainnya, yang sebagian besar terletak di bagian barat dan tengah pulau yang juga dijuluki Nusa Bunga ini.

Meski masih kalah populer dengan destinasi berkelas dunia di ujung barat, namun pesona di ujung timur Flores juga tak bisa dipandang sebelah mata. Kali ini, saya berkesempatan menjelajahi ujung timur Flores, tepatnya wilayah Kabupaten Flores Timur.

Selaras dengan namanya, Flores Timur merupakan kabupaten paling timur Flores dengan ibukotanya Larantuka. Pada masa silam, Larantuka adalah kota paling penting di Flores serta merupakan gerbang masuknya bangsa Eropa ke kawasan ini. Bangsa Portugis menguasai wilayah ini sejak abad ke-16 hingga abad ke-17. Kehadiran bangsa Portugis di kawasan ini menjadikan Larantuka sebagai Kerajaan Kristen satu – satunya di Nusantara. 

Jauh sebelum Portugis masuk, Larantuka sebenarnya sudah merupakan kota penting dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Hal ini terbukti dari disebutnya Larantuka dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca yang ditulis pada 1365, termasuk menyebut wilayah Larantuka dengan nama Galiyao (R.H. Barnes, The Majapahit Dependency Galiyao, 1982:407).

Jejak – jejak kemegahan masa silam khususnya  sebagai kerajaan Kristen, masih bertahan hingga hari ini. Salah satunya adalah prosesi Agung dalam perayaan Paskah umat Katolik yang dikenal dengan nama Semana Santa. Prosesi ini sendiri dilaksanakan setiap tahun pada pekan perayaan Paskah umat Katolik. Setiap tahun, jumlah wisatawan yang mengikuti perayaan Semana Santa di Larantuka terus mengalami peningkatan hingga mencapai lebih dari 30.000 wisatawan baik regional maupun mancanegara.

Selain kekayaan tradisi peninggalan kerajaan Larantuka, bentang alam Flores Timur juga menyajikan keunikan – keunikan yang mempesona. Salah satunya adalah Danau Wai Belen atau yang saat ini lebih dikenal dengan Danau Asmara. Wai Belen dalam bahasa Lamaholot berarti Sumber air yang besar. Danau Asmara adalah sebuah danau vulkanis yang terletak di Desa Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga, 55 km sebelah Timur kota Larantuka.

Langit mendung sisa hujan semalam masih memayungi kota Larantuka, di penghujung Oktober 2018 kemarin.  Saya bersama seorang pengamat burung dan peneliti asal Selandia Baru berangkat dari hotel di kota Larantuka tepat pukul 06:10 pagi. Mobil yang membawa kami melaju perlahan menyusuri jalan di pesisir pantai tenggara Larantuka, sambil sesekali berhenti untuk mengidentifikasi burung – burung pantai yang berkeliaran di pagi hari. 

Kondisi jalan cukup lengang, hanya beberapa kali kami berpapasan dengan sepeda motor dan satu dua truk yang melintas. “Memang jalannya sepi…” Kata Sony, di balik kemudi. Angin menyapu lembah dan bukit landai dengan lembut, menggeser gumpalan awan menjauh perlahan. Pemandangan sepanjang jalan sungguh manakjubkan, terlebih ketika posisi kami berpindah dari arah Tenggara melintasi bukit dan menyusur sisi utara dan timur pulau. “Itu namanya leher angsa..” Kata Sony sambil menunjuk ke arah teluk yang hijau dengan garis pantai melengkung, diselimuti rerimbunan pohon kelapa. 

Saya tidak mengucapkan sepatah katapun, menikmati pesona pesisir pantai kawasan ujung Pulau yang telah menggoda bangsa Portugis untuk menyematkan nama Flores yang berarti Bunga, padanya. Setelah melewati pesisir ‘leher angsa’, kami memasuki kawasan perkampungan yang diselingi kebun – kebun Mete milik warga. Batang pohon yang besar, menandakan usianya yang sudah tidak muda lagi. Sony mengira – ngira usia kebun – kebun Mete di wilayah ini ada yang sudah mencapai lebih dari 50 tahun.  “Dari kami kecil su  besar – besar..” Akunya.

Lebih dari satu jam, kami menempuh perjalanan di jalan beraspal yang relatif mulus. Labih dari 10 km di bagian akhir merupakan jalan yang baru saja diaspal. Masih mulus! Pukul 07:20, mobil kami memasuki halaman parkir yang hanya berupa tanah yang diratakan. Di ujungnya berdiri sebuah bangunan serupa gubug terbuat dari bambu beratap alang – alang tempat orang berjualan. Di depan gubug sebatang pohon menjulang tinggi di bibir tebing, dan rumah pohon menempel di ketinggian 10 meter. Sebuah tangga terbuat dari bambu terpasang di sana tempat orang bisa mengakses rumah pohon. Dari rumah pohon inilah pemandangan danau Asmara bisa dinikmati dengan utuh. Tempat ini sepi. Tak ada seorangpun di sana, juga gubug tempat berjualan itu masih tutup.

Dari sini kami bisa menikmati hamparan danau yang dilingkari kebun dan hutan yang hijau. Tak begitu luas, tetapi tampak asri dan terjaga. Burung – burung air berterbangan melintasi danau yang berdiameter 500 meter dengan kedalaman mencapai 30 meter tersebut. Sebagai pengamat burung, tentu saja hal pertama yang membuat kami bergairah adalah suara kicau burung dari segala penjuru hutan dan kebun. Cekakak Tunggir Putih (Caridonax fulgidus), Paok laus (Pitta elegans), Cikukua Tanduk (Philemon buceroides) dan Srigunting wallacea (Dicrurus densus) adalah jenis – jenis burung yang mendominasi kicauan di pagi itu. 

Burung - Burung di Danau Asmara
Burung – Burung di Danau Asmara

Kicauan yang semakin ramai di sekitar danau, membuat kami tidak bisa menahan diri lagi untuk menemui penghuni hutan yang memagari cekungan danau yang konon dihuni oleh Buaya muara (Crocodylus porosus) itu. Baru saja kami berjalan kurang dari 100 m, 12 spesies burung dengan jumlah bervariasi telah kami bukukan.

Jarak dari parkiran ke tepi danau sekitar 200 m dengan kondisi separuh jalannya merupakan jalan beton dan separuhnya masih merupakan jalan tanah. Warga di sekitar danau memanfaatkan tepian danau untuk menanam berbagai macam jenis sayuran dan kacang – kacangan. Sebuah gasebo dibangun di atas dermaga bambu tepat di ujung jalan, tempat orang biasa memancing atau sekedar duduk menikmati keindahan danau. Di seantero danau, suara burung – burung air bersahut – sahutan. Titihan Australia (Tachybaptus novaehollandiae) adalah burung air yang paling mendominasi suara di air. Sementara itu di sisi yang lain Kuntul besar (Ardea alba), Pecuk-padi belang (Microcarbo melanoleucos), Kuntul kecil (Egretta garzetta), Mandar batu (Gallinula chloropus), Pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris) dan Kokokan laut (Butorides striata) berebut tempat di batang – batang pohon yang tumbang di tepi danau. Suguhan yang menakjubkan di pagi yang beranjak cerah.

Sikep-madu asia (Pernis ptilorhynchus) – Danau Asmara

Kami menyusuri tepi danau melewati kebun pisang yang rimbun. Pit Koten, seorang warga yang juga pemilik lahan di tepi danau menemani kami untuk menjangkau burung – burung yang lebih jauh. Beberapa kali Elang tiram (Pandion haliaetus), Elang bonelli (Aquila fasciata), Sikep-madu asia (Pernis ptilorhynchus) dan Elang bondol (Haliastur indus) berputar – putar di atas kepala kami mengincar mangsanya.

Sepanjang pengamatan, Pit Koten berkisah tentang danau yang dahulunya dipenuhi buaya. Pada sekitar tahun 80-an, sebuah operasi pembasmian buaya dilakukan dengan melibatkan militer, lantaran insiden yang menyebabkan seorang warga lokal dimangsa buaya. Meski telah dibasmi, kemungkinan danau itu masih dihuni oleh buaya. Terakhir buaya di danau itu dihabisi warga pada tahun 2008 silam.

Danau Wai Belen berubah nama menjadi Danau Asmara, setelah  sepasang kekasih bernama Lio dan Nela yang hubungan asmaranya tidak direstui keluarga, tewas bunuh diri  dengan cara menenggelamkan diri ke dalam danau pada tahun 1972. Anehnya, meski danau itu dihuni ratusan buaya pada saat itu, tubuh mereka tetap utuh hingga ditemukan pada hari ke 3.

Kisah – kisah epik dan legenda masyarakat lokal yang melekat pada danau Asmara seakan melengkapi pesona danau yang menjadi oase di tengah keringnya ujung timur Flores. Keberadaan Danau Asmara adalah benar – benar sebuah oase, lantaran kondisi alam di sekitarnya yang didominasi oleh hamparan savanah kering. Tak mengherankan juga jika sebagian besar burung di wilayah ini berlindung di balik hijau hutannya dan menggantungkan hidup pada persediaan makanan di kawasan danau. Danau ini juga menjadi langganan bagi burung – burung migran di musim migrasi.

Sayang sekali, hingga saat ini belum ada kesepakatan yang dibuat oleh warga maupun pemerintah lokal untuk melindungi keanekaragaman biodiversitas di kawasan danau Asmara. Status hutan di kawasan danau juga bukan merupakan hutan lindung, yang sewaktu – waktu bisa beralih fungsi sesuai kebutuhan pemilik lahan. Namun demikian, dari perbincangan dengan beberapa warga di sekitar danau, kami menyimpulkan bahwa keberlangsungan danau Asmara yang lestari sangat mungkin bisa dipertahankan. Warga di sekitar danau merasa harus melindungi kondisi hutan di sekitar danau dan danau itu sendiri. 

Di samping karena danau Asmara merupakan danau yang dikeramatkan, masyarakat lokal menyadari bahwa keberadaaan danau sangat penting dalam mendukung kehidupan mereka sekarang dan di masa depan.

Dengan membukukan daftar  spesies yang menakjubkan, kami meninggalkan Danau Asmara setelah lebih dari 5 jam menjelajah kawasan danau yang dipenuhi ikan berjenis Mujair (Oreochromis mossambicus) itu. Kopi tanpa gula, mie instan dan kisah – kisah legenda masyarakat ujung pulau, menutup hari di Danau Wai Belen, tempat di mana airnya terseduh kisah asmara pilu, dan hutannya menabung harta yang tak terkira. Semoga alamnya senantiasa terjaga abadi, seabadi kisah cinta Lio – Nela di danau Asmara!

Danau Asamara

Burung Flores Timur

Burung Flores

Pesona Larantuka

Leave A Reply

Your email address will not be published.