Di Wolojita, Menyambung Usia Sang Rajawali

3 1,180

Saverius Tabe menggeleng saat saya menayangkan gambar sepasang elang di layar proyektor. Beberapa kali saya meyakinkannya, kalau itu sepasang Elang Flores (Nisaetus floris), berkali – kali pula pria 60 tahun itu bilang bukan! Ia kemudian berdiri menghampiri layar, dan menunjuk bagian tubuh elang yang membuktikan kalau itu bukan Elang Flores. Secara meyakinkan ia sanggup mempertahankan argumentasinya yang diperkuat anggota kelompok yang lain. Tentu saja Saverius benar. Elang yang saya tampilkan di layar proyektor adalah Elang Tiram (Pandion haliaetus). Saya memilih Elang Tiram lantaran kombinasi warna antara Elang Flores dan Elang Tiram sama – sama terdiri dari warna putih dan coklat.

Saverius adalah ketua Kelompok JATABARA, sebuah kelompok masyarakat di Kelurahan Wolojita, Kabupaten Ende, yang mendedikasikan diri pada perlindungan Elang Flores. Jatabara sendiri merupakan nama lokal masyarakat Lio untuk Elang Flores. Kelompok Jatabara dibentuk pada 21 Maret 2019 silam, bersamaan diluncurkannya Dokumen SRAK ( Strategi dan Rencana Aksi Konservasi) Elang Flores. Hingga kini, anggota Jatabara telah berjumlah 23 orang.

Pemilihan Wolojita sebagai lokasi penting konservasi Elang Flores dilatarbelakangi keberadaan raptor endemik yang berstatus kritis itu yang bersarang dan berbiak di kampung Wolojita. Pak Anton Molik Menua, Kepala Resort Wolojita menyebut sekian nama yang pernah datang ke Wolojita guna mengamati dan mendokumentasikan Elang Flores. Hingga saat ini, Wolojita adalah tempat paling terjangkau untuk mengamati Elang Flores.

Saya menghabiskan waktu selama dua hari pada 30 November – 1 Desember 2020 kemarin bersama kelompok JATABARA. Balai TN Kelimutu menunjuk saya untuk berbagi pengalaman mengembangkan Avitourism di Wolojita dalam format Pelatihan Pemanduan Kelompok Peduli Elang Flores. Kegiatan ini dilaksanakan di dua lokasi berbeda. Pada hari pertama diisi dengan pemaparan Teknik dan  Dasar – Dasar Identifikasi Burung (khususnya jenis burung pemangsa dan burung di sekitar rumah) Bagi Pemandu, Penyusunan Kerangka Kerja Pemanduan dan,  Kiat Membangun Ekowisata Pengamatan Elang Flores di Wolojita.

Kegiatan yang diselenggarakan di Aula Kelurahan Wolojita juga diisi oleh pemaparan strategi pembangunan desa Pemerintah Kabupaten Ende yang disampaikan oleh Camat Wolojita, Bapak Vitus Sengga dan dipandu oleh Ibu Lurah Wolojita. Pada hari pertama, kami menghasilkan draft program pengamatan burung selama satu hari di Wolojita. Para anggota kelompok berhasil menyusun draft program beserta menghitung biaya yang harus dikeluarkan, yang diharapkan bisa dipublikasikan dan dipasarkan.

Pelatihan Hari 1 di Aula Kelurahan Wolojita

Pada hari ke dua, kami berpindah keluar ruangan. Lokasinya adalah Hutan adat Otoseso yang terletak di tepi selatan Wolojita. Otoseso adalah lokasi dimana Elang Flores bersarang. Di hari ini, anggota JATABARA dibekali daftar burung yang secara teori berpotensi dijumpai di Wolojita dan sekitarnya. Selain itu, mereka juga diberikan Binokular yang dipakai secara bergantian. Ini adalah hari yang penting bagi mereka. Pada hari ini, mereka diajak untuk bertindak layaknya seorang pemandu pengamatan burung. Mereka akan dihadapkan pada berbagai tantangan yang harus dihadapi jika suatu saat mereka menjadi pemandu lokal wisata pengamatan burung (Bird watching).

Sesungguhnya, saya tidak berharap terlalu banyak pada hari ini. Tugas saya hanya membantu mereka membuat jalur trekking dan menerapkan beberapa teori pemanduan yang sudah diterima kemarin. Kami mulai melakukan pengamatan dari Pos pengawasan yang dibangun oleh anggota kelompok. Saya mengajak mereka melakukan pencatatan pada semua flora dan fauna penting yang dijumpai. Di luar dugaan saya, para anggota kelompok menunjukkan progres yang menakjubkan. Satu demi satu burung yang kami jumpai mulai diidentifikasi. Tidak butuh waktu lama, 12 spesies dibukukan dalam waktu kurang dari 1 jam! Bukan hanya dari segi capaian jumlah spesies yang teridentifikasi, hal paling mengejutkan saya adalah bagaimana secara otomatis, para peserta dengan antusias mengambil langkah – langkah yang biasa dilakukan pemandu bird watching profesional.

Diskusi – diskusi hangat seputar keunikan spesies dipadu dengan pengetahuan lokal, membuat hari ke dua benar – benar jauh melampaui ekspektasi saya. Saya malu telah memulai hari itu dengan skeptis. Di bawah koordinasi Ibu Lurah dan Bapak Mosalaki Wolojita, ada sekian banyak keputusan penting yang diambil selama perjalanan pengamatan, yang pada akhirnya akan menjadi rekomendasi aksi di masa yang akan datang. Keputusan terpenting yang berhasil dicapai adalah penguatan status Otoseso sebagai lokasi yang dilindungi secara ketat dan menyeluruh. Otoseso adalah sebuah bukit kecil di tepi jurang, menghadap laut Sawu di selatannya. Hutan ini ditetapkan sebagai hutan adat yang disakralkan. Tidak ada yang boleh memasuki hutan kecil ini, kecuali untuk melaksanakan ritual adat.

Di Otoseso, Elang Flores telah tinggal selama puluhan tahun. Beberapa kali mereka berganti sarang di beberapa pohon berbeda, tetapi tak pernah keluar dari Otoseso. Perlakuan masyarakat Wolojita terhadapa hutan Otoseso adalah salah satu kunci bertahannya Elang Flores bersarang dan berbiak di tempat ini. Saat kami sampai di Otoseso, sang Rajawali sedang tak ada di rumah. Meski demikian, kelompok Jatabara telah siap dengan agenda pencatatan aktifitas Elang Flores di hari – hari yang akan datang. Arsip – arsip hasil pencatatan ini akan menjadi khasanah yang memperteguh posisi Wolojita sebagai laboratorium serta perpustakaan hidup tentang Elang Flores.

Dua hari di Wolojita, melihat geliat dan semangat kelompok Jatabara dan kegigihan Taman Nasional Kelimutu dalam upaya menjaga kelansungan hidup Elang Flores, memberikan perspektif yang berbeda bagi saya soal masa depan Elang Flores yang tingkat kekritisannya semakin mengkhawatirkan. Kolaborasi apik antara institusi adat Wolojita, Pemerintah Lokal, Taman Nasional Kelimutu, Kelompok Jatabara, Masyarakat Wolojita serta para pemerhati dan peneliti, adalah lembar – lembar putih untuk menulis kisah Elang Flores di masa depan.

Dari  Oky Hidayat, peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kupang, saya mendapat informasi bahwa mulai tahun depan proyek konservasi Elang Flores di Wolojita akan dilanjutkan dengan program adopsi sarang. Ini adalah kabar yang harus dirayakan. Usia Elang Flores, sang Rajawali yang kritis sepertinya diperpanjang, sejauh tangan – tangan yang peduli telah turut bekerja bersama. Kiranya itu dimulai dari sini, di Wolojita.

3 Comments
  1. Iwak says

    Thanks for sharing kae.

  2. Jagarimba says

    Sama2 om Irwan. Trmksih sdh mampir.

  3. Doni Parera says

    Mantap. Semoga bisa diperluas ke lokasi lain di Flores.

Leave A Reply

Your email address will not be published.