Pangkur Sagu, Saat Orang Papua Mencacah Batang – Batang Kehidupan

0 525

Onyak Alkorisna

Tangannya kokoh menggenggam kapak, mengayunkannya dengan mantap, menghujam batang Sagu berukuran serangkulan orang dewasa. Tidak terburu – buru, bahkan cenderung bertempo lambat dan teratur. Selayaknya seorang ahli dalam bidangnya, Mace Salestina Bofi melakukan pekerjaannya tanpa keraguan. Beberapa saat kemudian bintik – bintik peluh telah menumpuk di dahinya, kerlap – kerlip diterpa matahari pagi menjelang siang. Peluh – peluh itu jatuh ke wajah, namun perempuan berusia 35 tahun itu tak menampakkan wajah lelah. Setengah jam berlalu, Salestina berhenti menebang, lalu bergerak menjauh. “Tunggu angin….!” Serunya, sambil menatap ke arah pohon sagu yang tetap berdiri tegak, meski hanya sedikit serat pohon yang tersisa untuk menopangnya. Beberapa menit berikutnya, angin bertiup menyusuri lembah, menampar dedaunan Sagu dan mendorong pohon yang telah terombang – ambing itu hingga tumbang. Senyum terukir di wajah kami. Hari baru saja dimulai.

Hari ini saya datang menemani Mace Salestina untuk Pangkur Sagu. Pangkur Sagu adalah rangkaian proses pengambilan pati pohon Sagu yang tumbuh liar di hutan Papua dan menjadikannya makanan pokok. Pohon Sagu di sini dan di Papua  umumnya hidup liar di hutan. Meski liar, pohon – pohon Sagu ini ada yang memilikinya berdasarkan klaim dan diketahui bersama seluruh warga kampung. Dari kampung Memes kami melakukan perjalanan menggunakan perahu menyusuri sungai selama setengah jam. Mace Salestina yang tengah mengandung anaknya yang ke enam, kali ini dibantu sang adik  Yudirma (28) yang datang dari kampung tetangga bersama dua anaknya yang masih kecil. Meski kondisinya sedang hamil, Salestina tidak menunjukkan tanda – tanda kewalahan dengan semua gerakan yang dilakukannya. Saya meringis melihatnya bergerak bebas.

Menikmati buah Gatal sebagai pengganti makan siang

Pohon sagu yang telah tumbang dibersihkan. Pelepah dan daunnya dipotong. Gelondongan Sagu kemudian dibelah menjadi dua menggunakan kapak. Pekerjaan ini membutuhkan tenaga ekstra. Keringat bercucuran di hari yang makin terik. Salestina tampak begitu bersemangat menuntaskan pekerjaannya, tetapi tetap tidak terburu – buru. Dari gerakannya menunjukkan dengan jelas kalau ia sedang memanen hidup untuk seisi rumahnya, dan untuk janin dalam kandungannya. Salestina dan Yudirma, sama seperti perempuan – perempuan lainnya di Memes, terbiasa melakukan semua pekerjaan Pangkur Sagu sendirian tanpa melibatkan kaum pria.

Lewat tengah hari, saat seluruh batang Sagu selesai dicacah dan serbuknya telah tertampung dalam karung – karung. Kami bersitirahat sejenak menikmati buah Gatal sebagai ganti makan siang. Buah Gatal adalah sumber makan yang lain bagi warga Memes sebagai pengganti Sagu. Selepas “makan siang”, kami membawa serbuk – serbuk Sagu ke tepi Sungai. Di sana, mace Salestina menyiapkan perangkat sederhana dari pelepah dan daun Sagu untuk menyaring pati dari serbuk Sagu. Sebuah pelepah Sagu yang lebar disiapkan sebagai pipa penyalur pati Sagu yang sudah disaring dan membuat wadah penampung pati. Mace Salestina melakukannya dengan cekatan, meski kondisinya yang sedang hamil tentu saja menyulitkannya. Belum lagi terkadang anaknya yang bungsu meminta digendong selama proses penyaringan.

Proses Penyaringan Sagu

Tidak seperti proses cacah yang lebih santai, hari yang beranjak senja membuat Salestin harus mempercepat gerakannya agar selesai sebelum gelap. Air yang bercampur serbuk sagu berwarna merah menggenangi wadah pelepah. Pati Sagu terkumpul perlahan. Dubutuhkan waktu 2 jam untuk menunggu hingga seluruh pati Sagu mengendap di dasar dan terpisah dari air. Waktu jeda ini digunakan untuk memancing ikan di sungai. Setelah dua jam, dua karung 20kg penuh terisi Sagu. Hasi hari ini cukup untuk dimakan selama dua hari ke depan. Warga Memes memanen Sagu untuk kebutuhan sendiri dan tidak pernah dijual. Sampai saat ini, Sagu sebagai makanan pokok di sini belum tergantikan. Mereka membeli beras bulog seharga 15.000/kg saat menerima ADD yakni sekali dalam 3 bulan. Bagi warga Memes makanan dari beras/nasi digunakan sebagai kudapan.

Saya teringat lagi kampung saya di Flores. Ketergantungan kami pada beras membuat kami melupakan makanan lokal kami seperti ubi dan jagung. Harus mengeluarkan sekian banyak uang untuk mendaparkan beras. Di Memes, selama hutan Sagunya tetap lestari, maka mereka memiliki kehidupan dan selalu cukup. Mereka tak perlu khawatir tentang dunia luar, bahkan di tengah dunia didera pandemi seperti saat ini.

Jerih dan peluh Salestina hari ini adalah hidup selama dua hari bagi seisi rumahnya. Selain menghidupi suami dan kelima anaknya, Salestina juga harus menghidupi keponakan, adik bungsu dan dan merawat ayahnya yang menderita TBC. Matahari telah pergi melampaui ufuk barat, saat kami bergegas mnyusuri sungai Edera yang teduh. Langit memerah tersenyum, Salestin tampak lelah namun wajahnya tak bisa menyembunyikan bahagia, kala kakinya menjejaki ambang pintu rumahnya yang sederhan. Ada Sagu untuk seisi rumah disunggihnya, dari batang – batang kehidupan yang telah dicacahnya selama 9 jam di tepi Edera.

Menunggu Pati Sagu Mengendap

Leave A Reply

Your email address will not be published.