Kampung Tradisional Waerebo

0 354

Kampung Wae Rebo terletak di desa Lenda, Kecamatan Satarmese Barat. Di ketinngian 1100mdpl, tersembunyi di lembah di balik perbukitan selatan Manggarai, Flores. Kampung ini pertama kali dikenal berkat penelitian Dr. Cristina, dari Inggris yang tinggal di kampung ini selama… tahun (19… – 19..)
Pada tahun …, kampung Waerebo mendapatkan pengakuan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Sejak saat itu, kampung waerebo menjadi sangat populer untuk dikunjungi.

Untuk sampai ke Wae Rebo, ada dua titik start utama, yakni Labuan Bajo di Manggarai Barat, dan Ruteng di Manggarai. Perjalanan dari dua titik ini menggunakan kendaraan roda dua atau roda 4, berakhir di kampung Denge. Jarak dari Ruteng ke Denge adalah …km dan biasanya ditempuh dalam waktu 2,5 – 3 jam. Jarak dari Labuan Bajo ke Denge …km dengan waktu tempuh yang hampir sama.

Dari kampung Denge, kita harus berjalan kaki sejauh …km di tengah hutan dengan jalan yang sebagaian besarnya berupa tanjakan. Tapi jangan ragu, mendaki di tengah hutan dengan udara yang sejuk dan ditemani kicauan burung, tidak akan terasa apa – apa. Karena itu, sebaiknya perjalanan ini ditempuh dengan santai dan tidak terburu – buru. Penjadwalan jadwal perjalanan harus benar, agar tidak dikejar – kejar waktu.

Suasana Waerebo adalah suasana khas perkmpungan jaman dahulu. Tidak ada polusi suara dan udara dari kendaraan bermotor. Di sini, kita benar – benar diterapi oleh kemurnian suara alam dan manusia. Mengunjungi Waerebo adalah perjalanan memutar mundur waktu.

Di Waerebo, kita bisa melihat secara langsung bahkan tinggal di dalamanya, bagaimana orang – orang Manggarai di era – era seabad lalu, bahkan sebelumnya membangun tempat tinggal yang nyaman bagi mereka. Mbaru Niang, adalah nama rumah adat orang Manggarai dari generasi sebelum kemerdekaan, dan masih lestari di Waerebo.

Arsitektur yang unik dan filosofis dari Mbaru Niang telah menjadi magnet bagi para arsitek dalam dan luar negeri untuk meneliti, serta mengaplikasikannya di masa depan.

Selain arsitektur 7 rumah adatnya, Wae Rebo juga menawarkan interaksi dengan penduduk kampung dalam ruang publik tradisional yang disebut Natas (halaman kampung). DI Natas itu biasanya orang menghabiskan waktu untuk bermain, berbincang – bincang dengan para tetangga sambil menikmati kopi, serta menjemur hasil panen.

Di saat – saat tertentu, khususnya waktu penti, Natas dipakai untuk upacara adat, mengurbankan hewan persembahan, serta menyelenggarakan ritual Caci dan menari danding/sanda.

Untuk masalah penginapan, ada dua opsi yang ditawarkan. Pertama, kita bisa menginap di Denge dan Dintor, sebelum mendaki ke Waerebo, lalu keesokan harinya, pagi – pagi sekali sebelum matahari terbit, kita mendaki ke Waerebo. Suasana pagi yang sejuk dan atmosfir hutan hujan yang riuh oleh kicau burung akan menjadi pengalaman yang menakjubkan, bahkan sebelum mencapai Waerebo. Dengan opsi ini, kita bisa kembali ke Denge atau Dintor pada siang harinya. Jika tidak terburu – burung, bisa menginap semalam lagi di Dintor/Denge, atau bisa langsung kembali ke Labuan Bajo atau Ruteng.

Opsi yang kedua adalah menginap di Waerebo. Opsi ini yang paling direkomendasikan, khususnya di waktu – waktu non-turis. Suasana Waerebo yang tenang akan memberikan pengalaman menginap di sana yang berkesan. Masyarakat Waerebo telah menyediakan sebuah Mbaru Niang yang khusus dipakai oleh pengunjung untuk menginap secara bersama – sama dalam satu ruangan utama. Opsi ini tidak terlalu disarankan pada musim puncak liburan, karena harus berdesak – desakan dengan pengunjung yang lain. Tetapi ada juga orang yang ingin merasakan pengalaman unik ini, terlebih bagi mereka yang gemar bersosialisasi dengan orang – orang dari berbagai tempat. Di Waerebo, semua pengunjung dimungkinkan untuk saling berkenalan, karena semua pengunjung akan berkonsentrasi di Natas dan Mabru Niang.

Pengalaman unik lainnya di Waerebo adalah mandi di mata air. Wae Rebo memiliki pancuran dari mata air yang dipakai oleh warga sebagai sumber air utama. Para pengunjung juga menikmati suasana tempat mandi di pancuran selayakanya orang lokal.

Oleh – oleh yang bisa dibawa dari Wae rebo antara lain Kopi dan Sarung tenun. Pengunjung juga bisa membeli buah segar dari warga sebagai bekal untuk dibawa pulang.

Perkiraan Biaya Mengunjungi Waerebo:
Kendaraan Dari – Ke Labuan Bajo:
Kendaraan Dari – ke Ruteng:
Makan-Minum:
Tiket Masuk:
Dan lain – lain:

Leave A Reply

Your email address will not be published.