Para Penjaga Tradisi Abui di Takpala, Alor

0 893

Pohon – pohon Asam Jawa berdiri angkuh di mana – mana. Batang pohon yang kokoh dan ranting – ranting yang perkasa mengisyaratkan usia yang tak bisa dibilang muda. Sebuah jalan setapak menanjak di antara rerimbunan Asam membawa kami ke gerbang kampung. Sekelompok pria dan wanita berpakaian adat Abui berdiri menghadang kami sambil meneriakkan kalimat – kalimat yang tidak saya mengerti. Mereka adalah warga kampung tradisional Takpala yang melakukan upacara penyambutan tamu.

Para pria menyandang perlengkapan perang berupa busur – panah, pedang dan perisai. Sedangkan para wanita menyandang tas selempang terbuat dari anyaman bambu yang disebut Fulak. Fulak berisi siri-pinang untuk disajikan sebagai ucapan selamat datang.

Langit agak mendung di hari Jumat, 29 September 2017 silam. Setelah menempuh perjalanan udara dari Kupang, Melisa dari Mala Tour menjemput kami di bandar udara Mali untuk selanjutnya langsung membawa kami ke salah satu destinasi utama milik pulau Alor, yakni kampung tradisional Takpala.  Kampung Takpala, terletak di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, NTT. Letaknya 15 km ke arah timur dari Bandara Udara Mali dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Saya benar – benar tidak sabar segera melihat Takpala, setelah foto – foto tentangnya telah sekian lama meracuni saya.

Kampung ini seperti kebanyakan pemukiman tradisional, yang mengambil posisi di ketinggian demi memudahkan mereka mempertahanakan diri dari serangan musuh. Bahkan di jarak kurang dari 20 meter dari gerbang kampung, kami belum bisa melihat penampakan apa – apa dari kampung Takpala. Hanya pepohonan Asam yang menjulang dimana – mana.

Takpala adalah kampung tradisional suku Abui; suku terbesar yang menghuni Pulau Alor. Para penduduk Takpala baru mendiami kampung ini pada sekitar tahun 1940-an. Sebelumnya, mereka tinggal di daerah pegunungan. Mereka kemudian dipindahkan ke daerah dataran rendah demi memudahkan pihak Raja Alor mengumpulkan pajak.

Setelah prosesi penjemputan yang singkat, kami dibawa ke tengah kampung, dimana sekelompok warga yang telah berpakaian adat lengkap, sedang bersiap untuk menari tarian komunal masyarakat Abui yang disebut Lego – lego. Mereka berdiri melingkar, mengelilingi sebuah altar dengan seorang perempuan tua duduk di atas altar batu sambil menabuh Moko. Moko adalah alat musik tabuh milik masyarakat tradisional Abui, berbentuk seperti Jimbe dari Afrika, tetapi ia terbuat dari perunggu. Moko – moko di Alor diwariskan secara turun – temurun dan menjadi pemberian berharga. Masyarakat Alor menggunakan Moko sebagai seserahan atau mas kawin bagi keluarga gadis yang dipinang.

Para penari wanita menghentakkan kaki mereka ke tanah, membuat irama dari bunyi gemerincing gelang logam di pergelangan kaki mereka. Mereka mengatur hentakan kaki mereka sedemikian rupa hingga mnghasilkan bunyi yang lembut dan keras secara berirama. Para penari pria memperagakan beberapa gerakan perang seperti memanah, mengayunkan parang dan juga memperisai diri. Mereka kemudian mengajak kami untuk bergabung dalam lingkaran, saling berangkulan dan mulai menari perlahan mengelilingi altar.

Tarian Lego-lego di Takpala

Dua jam di Takpala tentu saja jauh dari cukup untuk mengenal warga Abui dan tradisi mereka. Saya hanya menangkap satu hal dari kunjungan kali ini, yakni keramahan suku Abui yang sering dikagumi para wisatawan, benar – benar nyata. Di balik perawakan mereka yang keras dalam balutan pakaian tradisional beserta perlengkapan perang, pesona keramahan Abui yang terkenal itu tak bisa disembunyikan. Senyuman hangat dan lepas tersaji sepanjang waktu, membuat siapapun langsung merasa diterima di sini.

Setelah lelah menari, kami diajak berkeliling ke rumah – rumah warga Takpala. Kami disambut dengan ramah di salah satu Lopo, atau rumah tradisional Abui. Sebuah rumah panggung yang cukup tinggi dengan konsep arsitektur yang mengagumkan. Rumah itu disebut Kolwat. Terbuat dari rangkaian bambu dan tiang pancang utama dari kayu bulat untuk membentuk bangunan berlantai empat. Uniknya, rumah ini sanggup menampung hingga 13 keluarga. Di sini kami menikmati kopi dan ubi serta pisang rebus yang disuguhkan warga.

Rumah Tradisional Suku Abui

Takpala adalah museum hidup kebudayaan Abui yang paling lengkap saat ini. Mulai dari kehidupan masyarakatnya, perkampungan tradisional, arsitektur bangunan tempat tinggal, tradisi ritual dan seni serta kerajinan – kerajinan tradisional. Jika kita mengunjungi Takpala, jangan lupa membeli beberapa kerajinan tangan warga yang dijual di salah satu sudut kampung, sebagai ucapan terimakasih bagi mereka yang setia menjaga tradisi Abui, di tengah hempasan arus perubahan jaman hari ini.

Warga Takpala Menjual Kerajian Tradisional Abui

Leave A Reply

Your email address will not be published.