Jatimulyo; Sarang Pemburu Yang Menjelma Jadi Surga Burung

0 298

Udara sejuk membungkus perbukitan Menoreh. Angin berhembus landai, menyisir lereng – lereng hijau, membawa serta harum wangi bunga kopi yang sedang bermekaran. Langit tampak bersih, memberi isyarat hari yang bakal cerah. Pagi masih samar, saat salah satu rekan satu ‘penginapan’ membangunkan kami. Kami harus bergegas, karena sebentar lagi kegiatan pengamatan burung akan segera dimulai. Hari ini adalah hari ke dua dari rangkaian 3 hari kegiatan Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) ke 8, pada 2 – 4 November 2018 silam.

Tentu saja tak seorangpun yang mau ketinggalan kesempatan istimewa seperti hari ini, menyusuri sudut – sudut desa “Ramah Burung” Jatimulyo dan meresapi kisah perjuangan di baliknya. Setelah menikmati lelapnya tidur di keheningan desa lereng bukit, pagi ini kami dikepung aroma pagi yang menggoda. Kicauan burung menyela dari sudut – sudut kampung. Burung – burung ini hinggap begitu dekat tanpa rasa takut. Pertanda kalau kampung ini benar – benar telah menjadi surga dan rumah yang damai bagi mereka.

Jatimulyo adalah sebuah desa di lereng selatan Menoreh, tepatnya di kecamatan Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta. Untuk mencapai Jatimulyo dari kota Jogja, kita harus menempuh perjalanan sejauh 35km yang biasanya ditempuh dalam waktu 1 jam. Jalan yang berkelok – kelok  khas daerah pegunungan lengkap dengan pemandangan alam pedesaaan yang tersaji sepanjang perjalanan selepas Godean, membuat perjalanan ke Jatimulyo seakan ‘terlalu singkat’. Kondisi jalan sangat baik, karena jalur ini merupakan jalur wisata yang cukup populer dan menghubungkan beberapa obyek wisata di Kulonprogo, seperti Waduk Sermo dan Gua Kiskendo.

Memasuki desa, sekilas tak ada yang tampak berbeda dari desa – desa lain di sekitarnya. Pemukiman warga dan perkebunan yang hijau dan subur. Tanaman Salak, Kakao dan Kopi mendominasi. Sesekali kita melewati kebun buah – buahan dan sayur. Lereng terjal di belakangnya seperti tirai  hijau yang membentengi desa. Saya sendiri awalnya merasa biasa saja berada di desa ini, mungkin karena saya datang dari desa yang terpencil di Flores, jadi merasa tidak ada yang aneh dengan kondisi desa di Jawa, kecuali infrastrukturnya yang tentu saja jauh lebih baik. Tak ada jatuh cinta pada pandangan pertama! terlebih lagi kami tiba saat hari sudah petang. Sisa hari itu dihabiskan dengan kegiatan di pendopo desa dan rumah penginapan, saling menyapa dengan teman -teman sesama peserta.

Salah satu agenda kegiatan malam itu adalah mendengarkan pemaparan kepala desa Jatimulyo, Anom Sucondro. Dari pemaparan yang singkat dan lugas sang kades, saya langsung menyimpulkan bahwa Desa ini telah mengalami proses kelahiran kembali dengan cara yang sangat hebat. Sebagaimana desa – desa di tepi hutan, Jatimulyo terkenal dengan kekayaan jenis burung yang mendiami pekarangan, kebun dan hutan di sekitarnya. Potensi ini telah membawa para pemelihara burung atau yang akrab disebut kicaumania untuk menyambangi desa ini. Mereka datang membawa keuntungan ekonomi bagi warga yang menyediakan burung tangkapan. Dari sanalah lahir para pemburu – pemburu aktif di Jatimulyo, yang menangkap burung – burung target di sekitar desa lalu menjualnya pada para pengepul burung dari Jogja dan daerah lain di sekitarnya.

Tidak mengherankan jika di hampir setiap rumah di Jatimulyo kita menemukan banyak sangkar burung yang digantung di dinding – dinding rumah. Di rumah tempat saya menginap, saya temukan 4 buah sangkar berukuran besar, digantung begitu saja di belakang rumah. Uniknya, sangkar – sangkar burung di Jatimulyo telah tak digunakan lagi.

Sangkar Burung dan Kotak Budidaya Madu Klanceng di Jatimulyo

Semua ini berawal pada tahun 2014 silam, pemerintah dan masyarakat Jatimulyo bersepakat untuk menerbitkan peraturan desa tentang Pelestarian Lingkungan Hidup yakni Perdes No. 08 tahun 2014. Perdes ini adalah puncak dari keresahan warga Jatimulyo dengan semakin buruknya kualitas lingkungan hidup di sekitar mereka. Burung – burung habis ditangkapi untuk dijual dan dikandangkan. Kerusakan juga terjadi pada ekosistem sungai dan hutan. Pembabatan di kawasan – kawasan sensitif seperti mata air telah menjadi mimpi buruk bagi warga Jatimulyo.

Setelah terbitnya Perdes, perlahan – lahan warga masyarakat mulau sadar akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekitar mereka. Hasilnya benar – benar setimpal. Burung – burung yang telah lama menghilang, kembali berkembang biak di pekarangan warga dan hutan sekitar desa. Seiring berjalannya waktu, Jatimulyo mulai dikenal sebaga Desa Wisata Pengamatan Burung. Para pemburu kini telah berbalik menjadi garda terdepan perlindungan burung di Jatimulyo. Salah satunya adalah Kelik Suparno yang kini telah menjadi fotografer burung dan telah mendokumentasikan hampir seluruh spesies burung yang ada di Jatimulyo. Tak sekedar ecek – ecek, pengetahuan mereka tentang spesies burung di sini sungguh menakjubkan. Mas Imam Taufiqurrahman dari Yayasan Kutilang serta beberapa pegiat konservasi burung Indonesia ikut membantu Jatimulyo untuk terus berkembang.

Produk Kopi Sulingan dan Madu Klanceng Jatimulyo

Demi menunjang program konservasi burung serta pelestarian lingkungan di sini, para pemudanya menggagas usaha kreatif berupa produk kopi asli Jatimulyo dengan merek dagang Kopi Sulingan. Sulingan sendiri merupakan nama lokal untuk jenis Sikatan Cacing / Hill blue Flycatcher (Cyornis banyumas). Burung jenis ini merupakan burung primadona para pemburu di Jatimulyo, hingga menyebabkan populasinya menurun drastis. Kopi Sulingan bisa dinikmati langsung di lokasi atau bisa dibawa pulang untuk dijadikan oleh – oleh.

Selain Kopi Sulingan, mereka juga memproduksi Madu Klanceng atau Madu Trigona. Nah, untuk yang satu ini sayang benar – benar terkesan bagaimana transformasi yang terjadi di Jatimulyo sungguh menakjubkan. Pemandangan yang lumrah di dinding rumah warga adalah sangkar – sangkar burung yang tergantung begitu saja tanpa ada burung di dalamnya, bersanding dengan kotak – kotak kayu yang ditempel di dinding luar rumah. Kotak – kotak kayu ini berisi Madu Klanceng. Seakan menggambarkan betapa Jatimulyo benar – benar telah terlahir kembali.

Saat PPBI VIII yang lalu, total spesies burung yang terdata di sini kurang lebih 90 spesies.  Ternyata jumlah itu terus mengalami penambahan hingga rilis terakhir telah mencapai lebih dari 100 spesies terekam di sini. Baru – baru ini, mereka meluncurkan program adopsi sarang burung yang melibatkan adopter dari berbagai daerah baik lebaga maupun perorangan. Langkah ini semakin menguatkan status Jatimulyo sebagai surga bagi burung liar di perbukitan Menoreh, dan menjadi lokasi yang wajib dikunjungi bagi para pengamat burung yang datang ke Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Beberapa Burung Di Jatimulyo

Selain sebagai lokasi pengamatan burung, Jatimulyo juga telah menjadi salah satu kawasan postensial untuk pelepas-liaran beberapa spesies burung yang sesuai dengan habitat di sana, atau beberapa burung yang pernah menghuni kawasan itu. Dukungan masyarakat Jatimulyo sangat kuat pada program pelestarian burung di wilayah ini, yang merupakan modal utama bagi mereka untuk terus mendapatkan kepercayaan dari berbagai pihak dalam melanjutkan kerja konservasi di wilayah ini.

(Kiri) Bersantai di sela – sela Pengamatan Burung (Kanan) Kegiatan Reboisasi oleh Peserta PPBI VIII

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.