Jilis Verheijen dan Kisah – Kisah Yang Makin Samar
Dedaunan mulai berganti warna menyambut musim gugur di seantero negeri, ketika sebuah kapal milik Royal Rotterdam Lloyd bernama MS Dempo, bertolak dari Amsterdam menuju Batavia di Hindia Belanda pada 25 September 1935. Di antara para penumpang, terselip 6 orang misionaris Katolik Roma yang akan menuju tanah misi di sebuah pulau kecil di selatan Nusantara bernama Flores. Jilis A.J. Verheijen, seorang misionaris muda berusia 27 tahun ada dalam rombongan kecil itu.
Verheijen, seorang anak kampung dari pesisir timur Belanda, di daerah tepi sungai Rhine bernama De Liemers, baru saja ditahbiskan menjadi pastor ordo SVD pada 24 Januari 1934. Setelah ditahbiskan ia mengajukan 3 tempat untuk karya misinya yakni China, Flores dan Papua New Guinea. Dua bulan setelah pengajuan, akhirnya ia mendapat penugasan ke Flores. Kebahagiaan dan antusiasmenya mendapatkan kesepakatan misi ke Flores terbaca dari surat yang ia sampaikan kepada saudarinya Lucie, sperti yang dikutip Willemsen dalam ‘In Memoriam Jilis A.J Verheijen SVD, 26 March 1908 – 25 April 1997; A Collector Life.’
Setelah lebih dari sebulan di perjalanan, akhirnya Verheijen dan teman – teman misionarisnya menginjakan kaki di Flores, tepatnya di pelabuhan Ende, pada 1 November 1935. Dari Ende mereka menyebar ke seluruh Flores. Verheijen langsung menuju ujung barat pulau tepatnya di Ruteng, Manggarai, untuk kemudian mendapat tugas perdana menjadi pastor paroki Pagal, di Cibal. Dari sinilah petualangan Verheijen selama 58 tahun dimulai.
Di Manggarai, Verheijen seperti sedang bertualang di belantara data dan pengetahuan baru. Ia berkeliling untuk menunaikan tugas pastoralnya sambil mengumpulkan begitu banyak hal yang ia jumpai di perjalanan dan di tempat – tempat yang ia kunjungi. Hal – hal yang terkait dengan linguistik dan flora-fauna, ketertarikan yang tertanam dalam dada dan kepalanya sejak kecil. Karel Steenbrink dalam Catholics in Indonesia, 1808-1942: A Documented History, menyebutkan bahwa pengalaman – pengalaman masa kecilnya di tengah perkebunan buah dan jagung di pesisir De Liemers, membuat Verheijen dengan sangat mudah jatuh cinta pada kebudayaan, masyarakat dan alam di tempat misinya. Ia dengan sangat cepat beradaptasi dengan mayarakat lokal, serta segera mendapat tempat di hati mereka.
Verheijen yang sedari awal tertarik pada perkembangan serta keberagaman linguistik, langsung mendapatkan ladang pengamatan linguistik yang subur di antara kompleksitas linguistik di Flores. Ia mengumpulkan cerita – cerita rakyat dan dongeng – dongeng Manggarai. Artikel perdana yang ia terbitkan adalah Asonansi Dalam Bahasa Manggarai pada tahun 1941. Untuk mempermudah kerjanya, ia memberdayakan orang – orang lokal di Flores untuk menjadi penulis baginya. Dalam sebuah memo di tahun 1953, Ia menulis dua nama yakni M. Dangku dan J. Ngantas sebagai dua orang penulis yang penting baginya. Selain penulis lokal, sepanjang melakukan kunjungan misi ke kampung – kampung, Verheijen membawa dua sampai empat orang asisten berkuda, yang juga membantunya menjadi kolektor spesimen tumbuhan dan burung.
Situasi tiba – tiba berubah tak menentu pada pertengahan tahun 1942. Jepang mendarat di Flores pada 14 Mei 1942 dan para misionaris diperintahkan untuk berkumpul di Ende. Verheijen dan para misionaris lain berkumpul di Ndona, Ende. Pada pertengahan Juli, mereka beserta pejabat pemerintah Belanda di Flores, diberangkatkan dengan perahu motor ke Sulawesi yang saat itu bernama Celebes. Mereka ditempatkan di sebuah kamp di Makasar, sebelum kemudian pada September, mereka dipindahkan menggunakan truk ke penampungan di Pare – Pare di mana lebih dari 600 orang pria ditampung di sana.
Di penampungan ini, Verheijen dipekerjakan di kandang sapi bersama Louis Onvlee, peneliti bahasa di Sumba. Pertemuan dengan para peneliti di penampungan itu membuat Verheijen mulai belajar banyak hal baru sekaligus termotivasi untuk menerbitkan karyanya. Di sinilah ia belajar tentang Burung dari ornitologis Coomans de Ruiter. Di kamp ini juga ia mulai menulis kamus Bahasa Manggarai yang akhirnya terbit pada Januari 1967 dan Buku “Manggarai dan Wujud Tertinggi” yang berjudul asli Het Hoogste Wezen bij de Manggaraiers (1951).
Kehidupan benar – benar sulit di masa pendudukan Jepang. Pada tahun 1944, dengan susah payah mereka berlindung dari serangan bom sekutu, dengan berlindung di kandang babi di lembah Bojo. Di sana 22 tawanan tewas akibat disentri, dan 6 di antaranya adalah rekan SVD Verheijen.
Setelah Jepang menyerah pada 1945, para tawanan kembali ke daerah tugas mereka masing – masing. Verheijen juga kembali ke parokinya di Pagal. Sebuah memo yang ditulisnya pada Maret 1946 menunjukkan bahwa semua tulisan yang dibuatnya dan dibuat para penulis lokalnya masih aman setelah pengasingan ke Sulawesi. Teks – teks itu terus dibawa kemana – mana dan disembunyikannya selama penawanan, hingga kembali ke Pagal. Memo ini juga menggambarkan kecintaan yang luar biasa besar pada Manggarai.
‘March 8, 1946
“I carried most of my Manggarai texts, a few thousand pages in all, with me as a memento of Manggarai. Most of my fellow-priests read these Manggarai notes, which gave information on the people. I have revised the texts ethnographically
and linguistically many times. Spent many happy hours with them because of my love for Manggarai. I often had to hide them, in stables, in haylofts, in beds and, in Bodjo, in the ground.”
Verheijen mulai mempublikasikan hasil pengamatannya pada tahun 1947, melalui esai Manggarai Way Of Thinking dan disusul esai Word Repetition in the Manggarai Language pada tahun 1948. Pada tahun berikutnya, di awal 1949, Jilis Verheijen kembali ke Belanda untuk belajar Etnologi selama satu setengah tahun di Universitas Utrecht. Pada 8 Februari 1951, Verheijen betolak kembali ke Indonesia dalam suasana penuh duka. Ibunya meninggal sehari sebelumnya dan ia tidak sempat menghadiri pemakaman sang ibunda. Tak berhenti di situ, baru saja Verheijen tiba di Flores, ayahnya juga meninggal dunia.
Kini setelah tiba di Flores, Verheijen dipindahkan dari Pagal ke Benteng Jawa, di Kecamatan Lambaleda, kurang lebih bergeser 50km ke arah timur. Di sini, topik pengatan Verheijen berkembang dari bahasa, ditambah dengan Flora dan Fauna. Kegemaran mengumpulkan spesimen burung sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil di De Liemers. Dibawah pengaruh kakak tirinya, Guus, Verheijen kecil sering bertualang ke tempat – tempat alami dan belajar mengumpulkan cangkang telur burung – burung yang mereka jumpai. Kursus singkat dari Coomans de Ruiter selama masa penawanan di Pare – Pare meneguhkan Verheijen untuk mengoleksi spesimen serta belajar mengamati detail – detailnya.
Delapan tahun masa tugas di Benteng Jawa merupakan tahun – tahun yang sangat produktif bagi Verheijen. Ia mulai menerbitkan banyak publikasi tentang topik – topik kebahasaan. Ia tampak sangat ambisius dan bersemangat. Koleksi flora dan faunya bertambah dengan pesat. Atas bantuan rekan SVD-nya, seorang ahli pertanian bernama Jan Van Doormal, Verheijen dibebastugaskan dari tugas pastoralnya pada tahun 1959. Ia kemudia meninggalkan Benteng Jawa, dan menetap di rumah SVD di Ruteng, ibu kota Manggarai, dan mengabdikan dirinya untuk pekerjaan – pekerjaan ilmiah.
Memasuki tahun 1960-an, Verheijen semakin bersemangat dan ambisius. Ia secara rutin mempublikasikan hasil temuannya di lapangan. Di perode awal 60-an, ia mengirimkan spesimen dari 70 spesies burung yang dikumpulkannya ke Museum of Comparative Zoology in Cambridge, Massachusetts. Ia juga membuat karya terjemahan dalam bahasa Belanda, dari semua cerita dongeng dan mitologi Manggarai pada 1966 dan 1967. Pada tahun 1967 itu juga, edisi perdana dari kamus Manggarai – Indonesia diterbitkan oleh Royal Institute of Linguistics and Anthropology, Leiden.
Kamus ini telah melambungkan nama Verheijen di kalangan pengamat dan peneliti linguistik kenamaan, meski ia sendiri dalam pengantarnya mengatakan bahwa ia ‘tidak puas’ dengan karya itu. Penerbitan edisi perdana ini menandakan awal dari lahirnya beragam publikasi bidang linguistik Verheijen dalam bentuk buku.
Setelah publikasi kamus Manggarai – Indonesia, Verheijen mencurahkan perhatiannya pada pengumpulan ratusan teks Manggarai untuk dipublikasikan. Teks – teks itu sebagian besar merupakan hasil penuturan dari mulut ke mulut antar-generasi di Manggarai. Selain dikumpulkannya sendiri, teks – teks itu juga dikumpulkan oleh pendahulunya Adolf Burger, dan rekannya Willem van Bekkum. Tahun 1977, Empat volume berhasil diterbitkan. Teks – teks ini, hingga edisi terakhirnya (1991), berjumlah 18 edisi, dengan total 2000 halaman. Karya ini merupakan usaha terbesar dan terbaik yang pernah dilakukan oleh siapapun dalam melestarikan tradisi tutur orang Manggarai.
Di tengah usaha tanpa henti dalam mengumpulkan teks – teks Manggarai dari kampung ke kampung, Verheijen tetap meluangkan waktu mengumpulkan spesimen dan mempelajari flora dan fauna yang dia jumpai. Sebagai kolektor flora, Verheijen telah membuktikan kesungguhan dan keuletannya dengan mengumpulkan 5580 spesimen! Atas kerja kerasnya itu, ia kemudian diabadikan dalam nama 3 jenis tanaman yang ditemukannya yakni Acacia verheijenii ; C. Nielsen, Elaeocarpus verheijenii ; R. Weibel, dan Saurauia verheijenii ; Hoogl.
Bukan hanya tentang Manggarai, penelitian dan pengamatan Verheijen merambah ke beberapa pulau tetangga seperti di Palue, Roti (Rote) dan Komodo. Jurnal “Birds of Palue” dipublikasikan pada 1961, dimana Verheijen menggambarkan kekayaan spesies burung di lereng Rokatenda sebagai surganya para pengamat burung. Kunjungannya ke Rote pada Februari 1969 dipublikasikan dalam jurnal berjudul “Some Data on The Avifauna of The Island of Roti, Lesser Sunda, Indonesia” pada Agustus 1976. Sementara penelitian yang sangat serius di Komodo melahirkan sebuah buku berjudul “Komodo; Het Eiland, het Volk en de Taal (Komodo; The Island, the People and the Language)”.
Koleksi – koleksi jurnal Verheijen saat ini sudah bisa diakses secara gratis di beberapa platform online milik beberapa publishing dan perpustakaan. Buku – bukunya juga masih bisa dibeli secara daring dari beberapa penjual. Sementara seluruh spesimen flora dan faunanya telah dijual kepada National Museum of Natural History, Leiden, Belanda dan menjadi koleksi tetap mereka.
Buku terakhir yang ditulis Verheijen adalah tentang bahasa Sama yang berjudul “The Sama/Bajau Language in the Lesser Sunda Islands”, yang terbit pada 1986. Buku ini menandakan akhir karirnya sebagai etnografer. Yang tertinggal berikutnya adalah warisan – warisan abadi, dalam karya – karya tak ternilai.
Meski Verheijen telah bersusah payah selama 58 tahun mengabadikan warisan orang Manggarai, namun semakin hari ia semakin tidak dikenali. Buku – bukunya hanya tinggal nama. Teronggok di beberapa perpustakaan dan lemari – lemari buku. Buku – buku itu ‘tak terwariskan’. Saya sendiri begitu terkejut, melihat mahakarya Verheijen yang mungkin tak akan pernah tertandingi dalam mengabadikan warisan kisah – kisah tentang Manggarai. Karya – karya itu begitu hidup di negeri yang jauh, tetapi sekarat di tanahnya berasal. Ini tentu bukan saja tentang budaya literasi yang kerdil, tetapi lebih dari itu, orang Manggarai tidak sanggup mengidentifikasi diri dan enggan menjaga identitasnya yang luhur. Melihat kesungguhan Verheijen, tentu saja ia terluka menyaksikan generasi Manggarai bahkan yang paling terdidikpun, begitu terasing dari keluhuran budayanya. Begitu terasing dari relasi yang agung antara manusia, alam dan tuhan mereka.
Pada 1993, Verheijen akhirnya meninggalkan Manggarai yang ia peluk selama lebih dari setengah abad. Ia pulang ke tanah kelahirannya di Belanda. Ia menghabiskan 4 tahun masa akhir hidupnya di rumah peristirahatan SVD di Teteringen. Pada Musim semi 1997, saat bunga – bunga sedang semaraknya bermekaran, 25 April, sang pahlawan menghembuskan nafas terakhirnya. Jilis Antonius Josephus Verheijen, telah pergi, dalam karya dan kenangan, ia abadi.
PENTING!
Begitu banyak orang menganggap atau bahkan salah menyebut Verheijen sebagai Verhoeven. Saya beberapa kali menemukan tulisan dan penjelasan lisan yang keliru ini, bahkan sampai pada tingkat yang menurut saya membahayakan kebenaran sejarah. Verheijen itu bernama asli Jilis A.J. Verheijen sedangkan Verhoeven itu bernama lengkap Theodorus L. Verhoeven. Verheijen dan Verhoeven memang sama – sama misionaris SVD dari Belanda, tetapi mereka menekuni bidang yang berbeda. Verheijen Etnografi dan Flora-Fauna, sedangkan Verhoeven di bidang antropologi – arkeologi. Jadi, yang menemukan fosil manusia purba di Soá dan Liang Bua adalah Verhoeven, bukan Verheijen.
Silahkan Baca:
LEPTOPTILOS ROBUSTUS; BANGAU RAKSASA PURBA YANG PERNAH HIDUP DI FLORES
