Kembali Ke Matalawa, Dimana Rindu Tak Pernah Usai

0 916

Lekukan bukit – bukit landai tampak hijau membentang seakan tak berbatas, bertumpuk – tumpuk di tepi jalan antara Waingapu dan Tabundung. Pagi yang cerah berawan di Waingapu. Kelembaban diperkirakan mencapai 90-an %, barang tentu membuat gerah. Mobil 4WD kami melaju kencang, dengan om Deny di balik Kemudi. Padang – padang di Sumba sudah mulai menghijau, karena hujan telah mulai turun, meski hanya beberapa kali saja dengan intensitas yang rendah. Perjalanan menuju Tabundung, bagi saya selalu menggairahkan. Dalam benak hanya terbayang lembah hutan Billa, yang membentang sejauh 5km, tempat di mana burung – burung eksotis endemik Pulau Sumba berdiam, akan menyambut kedatangan kami dengan kicauan dan kepak sayap yang bersilang sahut.

Terakhir kali saya mengunjungi hutan Billa pada Juli 2018 silam. Seperti kunjungan sebelumnya, selalu ada yang tertinggal di sana, yang memanggil – manggil untuk kembali. Kerinduan akhirnya terjawab setelah pasangan pengamat burung asal Swiss, Eveline Scherer dan Tony Kraft, memesan birding tour Sumba – Flores selama 11 hari. Pada kunjungan – kunjungan sebelumnya, saya selalu mendapati pulau Sumba yang kering di puncak kemarau. Hamparan savanah berwarna coklat dan beberapa di antaranya hitam ter(di)bakar. Kali ini berbeda. Musim penghujan telah mulai dan tanah Marapu tengah menghijau. Hamparan padang savanah membentang di bawah cakrawala yang membusur biru, bertabur jumput – jumput awan. Komposisi warna alam yang menakjubkan. Ini harusnya bukan pemandangan yang nyata, ini dongeng! mestinya.

Perjalanan ke Tabundung selalu disisipi beberapa perhentian yang entah karena interupsi burung – burung pemangsa yang melayang di atas padang nan luas, atau tergoda memandang lanskap pulau para Umbu – Rambu ini. Seperti sediakala, jalan menuju ke Tabundung masih seperti itu. Kerusakan yang semakin parah terjadi setelah pertigaan Tarimbang – Tabundung. Sejauh 20an km. Itulah mengapa kami harus menggunakan kendaran khusus. Empat jam berlalu, kami akhirnya tiba di Billa, ibukota kecamatan Tabundung. Langit yang biru telah tertinggal jauh di Waingapu. Kini kami ketinggian 800-an mdpl, disambut hujan yang cukup lebat. Rencana awal, kami langsung masuk ke dalam hutan untuk melakukan pengamatan, tetapi apa daya, kami harus menyerah pada cuaca, dan melanjutkan sisa perjalanan yang tidak seberapa, ke kantor resort TN Matalawa. Di sana, kami sudah ditunggu om Deny Haru, pegawai TN Matalawa yang akan memandu kami selama dua hari di Tabundung.

Perjalanan di Hutan Billa - Matalawa - Sumba
Perjalanan di Hutan Billa – Matalawa – Sumba

Setelah meletakkan barang – barang bawaan, om Deny menyiapkan santap siang yang tidak  butuh waktu lama untuk kami tandaskan. Perut lapar karena perjalanan jauh, di medan yang buruk, serta cuaca dingin karena hujan, membuat sopan – santun kami lenyap begitu saja. Lebih dari itu, saya maupun Eveline dan Tony telah tidak sabar untuk memulai pengamatan. Meski sebenarnya di luar gerimis masih turun. Kami toh akhirnya tetap masuk ke dalam hutan, dengan kondisi jalan yang licin dan semak telah menutupi jalan masuk.

Seperti yang sudah diduga, memasuki camping ground dan shelter I, kami disambut belasan ekor Betet Kelapa Paruh Besar (Tanygnathus megalorynchos), yang  terbang kesana – kemari bermain – main di bawah gerimis. Dari Shelter tempat kami berteduh, sepasang burung endemik Sumba, Walik Rawamanu (Ptilinopus dohertyi) bertengger sepanjang gerimis dan hujan turun. Hujan yang semakin deras membuat kami akhirnya tetap bertahan di bawah shelter dan melakukan pengamatan terbatas. Kopi panas dan mie kuah tersaji mengusir dingin. Om Deny mempersiapkan semuanya dengan sigap, menggunakan kompor spiritus. Kami juga dengan sigap menghabiskannya.

Hujan baru benar – benar berhenti saat hari mulai beranjak gelap. Kami bergeser menuju ke sungai yang membelah lembah Billa, tempat dimana kami bisa bertemu dua jenis Pungguk di hutan ini. Pada kunjungan sebelumnya di tahun 2018, saya sudah bertemu dengan Pungguk Sumba (Ninox sumbaensis). Nah, kali ini saya gantian bertemu dengan Pungguk Wengi (Ninox rudolfi). Setelah puas dengan si Pungguk, kami meninggalkan Billa, dan kembali ke kantor resort TN Matalawa, dan menginap di sana. Sekedar tambahan indormasi, kondisi kantor Resort ini sangat bersih dan memiliki fasilitas standard untuk menginap seperti spring bed dan kamar mandi dalam. Taman Nasional tidak emasang tarif untuk penginapan ini, kita hanya diminta mebayar tiket masuk Taman Nasional dan memberikan uang perawatan kepada ranger Taman Nasional yang mengurus kunjungan kita.

Malam itu terasa sangat singkat. Kami meninggalkan kantor TN pada pukul 04:15 pagi. Berharap bisa bertemu dengan Pungguk Sumba dan burung malam lainnya. Kali ini, Eveline tinggal di kantor. Malang nasib kami, memasuki hutan, hujan turun dengan lebatnya. Kami kahirnya hanya bertahan di Shelter hingga hari terang. Lagi – lagi, kopi pansa dan mie instan, menemani. Di sini, menu ini adalah menu istimewa. Yang tidak percaya, adalah mereka yang butuh diajak jalan – jalan. :-p

Sudah hampir 3 jam kami bertahan di Shelter, hujan berhenti. Tak butuh lama, kami langsung berjalan menuju Shleter II berjarak 2km ke dalam hutan. Baru saja berjalan sejauh 500 meter, hujan kembali turun. Kami tetap melanjutkan perjalanan di bawah hujan. Tak begitu lama hujan berhenti, dan kemudian turun lagi, berhenti lagi..begitu terus selanjutnya. Meski kondisi cuaca yang buruk, hutan Billa tak pernah kehilangan pesonanya. Kakatua Jambul Jingga (Cacatua sulphurea citrinocristata),  Julang Sumba (Rhyticeros everetti), Paok Laus (Pitta elegans), dan Cekakak Kalung Coklat (Todiramphus australasia), bergantian menyapa kami. Bagi saya pribadi, salah satu target penting saya adalah  Cekakak Kalung Coklat dan Sikatan Sumba (Muscicapa segregata).

Billa, Taman Nasional Matalawa - Sumba
Deny Haru dan Anton Kraft Memantau Todiramphus australasia

Seperti sudah saya duga, bahwa pasti akan ada yang tertinggal dan tak pernah tuntas ketika datang ke Billa. Dan hal – hal seperti ini selalu sanggup memanggil saya untuk kembali. Kedatangan kali sebelumnya, saya ketinggalan si Pungguk Wengi dan hanya mendapat Pungguk Sumba, kali ini saya kehilangan Sikatan Sumba, dan mendapatkan Pungguk Wengi.

Kami meninggalkan hutan pada pukul 11:20, dan kembali ke kantor resort. Hujan benar – benar telah berhenti, tetapi dalam hati ada yang mengganjal. Itulah kerinduan untuk kembali ke lapangnya lembah hutan Billa, kembali ke kehangatan Taman Nasional Matalawa. Meski kedatanagn kali ini, kami kehilangan kesempatan melihat hampir sebagian target endemik, namun selalu ada sukacita magis yang datang. Dan kali ini saya berbahagia untuk Pungguk Wengi.

Meninggalkan Kantor Resort di bawah cuaca mendung, dalam hati hanya ada sebaris keyakinan, akan kembali, meski tahu, di sini rindu itu tak kan pernah usai!

Foto I: Pungguk Sumba diambil 2018 . Foto II: Pungguk Wengi diambil 2020

Leave A Reply

Your email address will not be published.