Semangkuk Bose di Istana Raja Boti

0 744

Sejauh mata memandang, hanya tampak bukit – bukit kapur nan gersang. Pepohonan meranggas terpanggang matahari.  Kondisi tanah yang keras dan tandus, topografi yang curam dan berbukit – bukit, serta sulitnya mendapatkan air bersih adalah segelintir tantangan yang harus ditaklukan oleh orang – orang yang hidup di sisi selatan dan tenggara Pulau Timor,  NTT. Tak ada yang menyangka jika di antara bukit – bukit yang gersang ini, ada sepetak lembah yang hijau, tempat berdiamnya sebuah kerajaan kecil, benteng terakhir tradisi tertua pulau Timor. Mereka adalah Suku Boti, dengan seorang raja sebagai pemimpin.

Saya mengunjungi kampung Boti pada 3 Oktober 2017 silam. Perjalanan dimulai dari Soé, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan.  Kami meninggalkan hotel pada pukul 08 pagi, WITA, mengendarai kendaraan khusus 4WD, menuju ke arah timur dan lalu berbelok ke arah Tenggara di Niki-niki. Jarak SoE ke Boti adalah 43 km. 30 km melewati jalan beraspal sedangkan sisanya adalah jalan tanah dengan medan yang cukup berat. Itulah sebabnya, bagi siapapun yang akan mengunjungi Boti, sebaiknya menggunakan kendaraan four wheel drive atau jika menggunakan sepeda motor, sebaiknya sepeda motor trail.

Kondisi Alam di sekitar Desa Boti
Kondisi Alam di sekitar Desa Boti

Selepas Niki-niki, tidak ada yang istimewa. Hamparan bukit – bukit kapur yang diselimuti pepohonan tak berdaun adalah pemandangan yang biasa di sebagian besar pulau Timor di musim kemarau. Perkampungan dengan rumah – rumah yang jarang, serta gerombolan ternak yang mengais makanan di tumpukan daun – daun kering. Keseruan justeru diperoleh tatkala kami memasuki jalan offroad  di 10km terakhir. Menaklukan medan jalan yang buruk di sisi tebing yang terjal, sedikit memacu adrenalin, melupakan teriknya matahari penghujung kemarau. Sesekali kami berjumpa dengan penduduk lokal yang mengangkut air dari lembah di tepi Sungai Putih, melintasi lereng yang, menantang teriknya matahari dan debu yang berhamburan dihempas angin selatan.

Perjalanan Ke Boti

Pukul 11 siang, kami tiba di gapura desa Boti. Suhu udara sangat panas. Kami meninggalkan mobil di gapura desa dan melanjutkan berjalan kaki sejauh 1 km menuju gerbang kampung Boti. Kampung Boti terletak di lembah, tersembunyi di balik sisi bukit. Kami menuruni bukit untuk sampai di sini. Sebuah gapura sederhana berpintu gerbang besi yang dipasang sekenannya, dan sebuah papan berwarna hijau dipasang di atas pintu masuk bertuliskan “Koenok Tem Ahoit Teu Pah Boti” yang berarti Selamat Datang di Kampung Boti. Sekelompok pria berambut panjang duduk di bawah pohon beringin di samping gerbang, sedang asyik mengunyah sirih-pinang. Mereka tersenyum ramah menyambut kami, sambil menyapa dalam bahasa Dawan. Om Martin Klau, yang memandu kami menjawab salam mereka dalam bahasa Dawan pula lalu kami saling bertukar senyum. Dari cara mereka menatap, jelas tergambar keramahan yang tulus penduduk Boti.

Memasuki kampung kecil ini, teriknya matahari segera dilupakan. Kampung itu dilingkari pagar kayu bulat yang disusun bertumpuk, bersama ranting – ranting. Pepohonan yang rimbun dan hijau memberikan kesejukan bagi seisi kampung. Para perempuan duduk berteduh di bawah Lopo, di pelataran kampung. Sebuah lorong selebar 2 meter, dipagari tanaman hias yang berderet rapi. Ini adalah jalan menuju istana raja Boti. Di mulut lorong, dua buah bendera Merah-Putih diikat pada batang bambu yang pendek. Batu – batu tersusun rapi di sepanjang lorong menuju istana.

Istana raja Boti adalah sebuah rumah semi permanen, berbeda dari rumah warga pada umumnya yang tinggal di Ume Kbubu, rumah tradisional Timor  berbentuk kubah, beratap alang-alang. Tak ada kemewahan yang tampak di sana, selayaknya istana raja. Beberapa foto , hiasan dan piagam penghargaan terpasang di dinding. Kondisi lingkungan istana benar – benar asri, sangat kontras dibandingkan dengan hamparan bukit – bukit gersang yang baru kami lewati. Aturan yang ketat soal menjaga relasi dengan alam, membuat warga Boti menjaga alam mereka tetap asri, dan lingkungan tempat tinggal yang selalu bersih dari sampah.

Dengan ramah, kami disambut raja Usif Nama Benu dan keluarganya serta beberapa warga Boti di istana. Kami disuguhkan sirih-pinang sebagai ungkapan selamat datang. Kami juga menyerahkan oleh – oleh yang kami bawa dari Kupang. Sang raja tampil sangat sederhana. Mengenakan kaos berkerah yang tampak lusuh, dan sarung tradisional yang juga tampak lusuh. Rambut panjangnya digelung. Mulutnya tak berhenti mengunyah sirih-pinang seperti biasanya masyarakat tradisional Timor. Sang raja berbicara dalam bahasa Dawan, dan om Martin Klau menerjemahkannya bagi kami. Tak banyak yang dikatakannya. Hanya menjawab pertanyaan – pertanyaan kami. Di Boti, sang raja lebih banyak bertindak sebagai pengayom dibandingkan penguasa. Kesahajaan inilah yang membuat Kerajaan Boti tetap kokoh hingga hari ini.

Raja Boti, Usif Nama Benu
Raja Boti, Usif Nama Benu

Suku Boti adalah keturunan Atoni Metu, suku asli Pulau Timor. Mereka adalah satu – satunya kerajaan tua di Timor yang masih tersisa dan dengan teguh memegang tradisi leluhur.  Keteguhan mereka memegang tradisi sudah teruji melampaui jaman. Selama berabad – abad, mereka terkurung di lembah Boti,  hidup berdampingan dan memeluk erat kerasnya alam di sana.

Warga Suku Boti terbagi ke dalam dua golongan yakni mereka yang menjaga tradisi dan yang mengikuti modernisasi. Golongan yang menjaga tradisi tidak menganut agama modern, tetapi tetap menganut kepercayaan mereka yang disebut Halaika. Penganut Halaika ini kurang dari 500 orang. Golongan ini juga tidak mengenyam pendidikan formal dan rata – rata tidak bisa berhasa Indonesia. Mereka percaya pada Uis Pah sebagai ibu yang menjaga alam fana dan Uis Neno sebagai bapak yang menjaga alam baka. Golongan yang menganut agama modern, dikeluarkan dari komunitas tradisional dan diperbolehkan menempuh pendidikan formal di sekolah – sekolah. Beberapa aturan yang sangat ketat dijalankan oleh masyarakat Boti antara lain menjaga keharmonisan dengan alam di sekitarnya, monogami serta tidak mengkonsumsi minuman beralkohol. Peraturan – peraturan tradisional yang terus dijaga, telah menghantarkan suku Boti melewati gempuran perubahan jaman.

Warga Boti hidup dari bertani, beternak dan menenun. Tenunan Boti adalah salah satu tenunan dengan keaslian yang tinggi. Mereka memproduksi benang dari kapas yang ditanam di kebun mereka serta mewarnainya dengan warna – warna alami dari tanaman di sekitar mereka. Kunjungan wisatawan yang meningkat dari waktu ke waktu telah berdampak pada penjualan hasil tenunan dan kerajinan tangan warga Boti. Bagi wisatawan yang ingin menginap, di sini disediakan homestay sederhana dan dilayani dengan sangat ramah.

Kerajinan Tenun Warga Boti
Kerajinan Tenun Warga Boti

Setelah berbincang dan berkeliling di kampung Boti, kami menikmati santap siang tradisional di istana raja. Bose, jagung yang direbus dengan santan dan sayur – sayuran, disajikan dalam mangkuk tempurung kelapa, begitu juga sebuah sendok  dan cangkir minum yang terbuat dari bahan yang sama. Sebuah kesempatan yang istimewa, mencicipi warisan leluhur Boti di rumah tempat warisan itu terus dijaga. Di beranda istana itu saya menghirup aroma perjuangan yang gigih warga Boti dalam menjaga tradisi dan keyakinan mereka sebagai jalan satu – satunya untuk tetap menggenggam martabat dan kehormatan mereka sebagai pewaris Atoni Metu. Di beranda itu pula, dalam kesejukan yang tidak biasa, kita bisa merasakan, harmoni yang dibangun antara orang Boti dan alam di sekitar mereka. Mereka telah berada di sana untuk saling menjaga, mewujudkan kehadiran Uis Pah dan Uis Neno.

Bose

Suku Boti

Leave A Reply

Your email address will not be published.