Kisah Dari Garis Terluar; Jatuh Cinta Pada Hulu Edera

0 594

Oleh: Sonya Alkorisna 

Penghujung Agustus 2019, pertama kali saya menjejakkan kaki di atas bumi Cendrawasih ini. Saat  itu saya seperti dilontarkan oleh mesin waktu, terhempas mundur pada puluhan tahun lalu, bahkan jauh sebelum saya lahir. Alam asri terjaga dan manusia bebas meramu alam. Saya tidak sedang berhayal, tetapi sedang jatuh cinta pada tanah ini.

Saya tinggal di kampung Memes, Distrik Venaha, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Inilah rumah saya untuk dua tahun ke depan. Di sini saya menjadi guru di Sekolah Dasar Inpres Memes sebagai bagian program Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT). Kampung Memes terletak di Pulau Papua bagian Selatan dan termasuk daerah dataran rendah yang berawa-rawa.

Masyarakat setempat menjuluki kampung Memes dengan banyak nama, yaitu kampung kepala Kali Edera, Kampung Ujung, dan Kampung Pucuk. Nama yang diberikan tersebut merupakan gambaran kampung Memes yang adalah kampung terakhir (ujung) di distriknya yang berbatasan lagsung dengan hutan dan konon merupakan kampung baru (pucuk) jika dibandingkan dengan kampung lain. Selain itu kampung ini adalah kampung pertama yang dialiri sungai  Edera (kepala Kali Edera).

Untuk sampai di Memes, hanya bisa ditempuh dengan jalur sungai dari Bade, ibukota distrik Edera. Dengan jarak 20km, waktu tempuhnya tergantung moda yang dipakai. Jika menggunakan speed boat  membutuhkan waktu 3 jam, sedangkan dengan Ketintang ditempuh dengan waktu10 jam. Biayanya tentu jauh berbeda. Dengan Speed boat kita harus merogoh kocek 3 juta Rupiah, sedangkan untuk Ketintang hanya dengan 500rb. Tidak ada lagi jalan lain. Setelah masuk ke Memes, tidak ada lagi moda transportasi lain. Tidak ada sepeda motor. Semuanya berjalan kaki.

Letak kampung Memes yang di tepi rimba membuatnya benar – benar hidup bergantung pada relasinya dengan alam. Jika tahun 2020 sekarang masyarakat modern luar sana hidup menikmati era digital dengan segala kecemasan dari dampaknya, di sini masyarakat sedang dijamu alam yang damai. Alam menyediakan semua kebutuhan masyarakat termasuk kebutuhan ekonomi.

Untuk mendapatkan makanan, masyarakat Memes mengolah Sagu yang rimbun tumbuh liar di sekitar permukiman. Untuk mendapatkan lauk – pauk, hutan dan sungai memberikannya untuk mereka. Untuk mendapatkan uang, masyarakat menjual kayu gaharu dengan nilai yang tinggi. 1 Kg Gaharu berkualitas biasanya dibeli oleh pedagang yang datang ke kampung seharga RP 20.000.000,00. Gaharu yang berkualitas adalah yang telah mati secara alami, bukan yang ditebang. Hal ini yang membuat masyarakat Memes tidak perlu membabat hutan untuk mendapatkan Gaharu.

Sungai Edera yang mengalir di sisi kampung Memes adalah halaman bermain anak – anak, tempat berburu mencari lauk – pauk, serta tempat untuk mandi. Kebutuhan air minum diperoleh dari sumur dan air hujan. Minimnya fasilitas air bersih membuat masyarakat Memes sering terpapar penyakit kulit dan TBC.

Saya Menyusuri Sungai Bersama Anak – anak Kampung Memes

Meski dengan cara – cara yang sangat sederhana, saya melihat ikatan cinta yang kuat antara orang Memes dan alamnya. Cinta yang membuat masyarakat dan alam saling melindungi dan memberi tanpa batas apa yang dibutuhkan. Jika alam dengan segala misteri memberi kelimpahan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat juga melindungi masyarakat, maka masyarakat memberi sepenuh jiwa dan raga menjaga hati alam ini agar tetap berseri.

Cinta yang sama, menggetarkan hati, mematut bahagia kala kami mendayung perahu kayu di sungai berarus deras yang dikelilingi rimba hijau. Decak kagum tak pernah henti menyaksikan indahnya bayangan pepohonan, langit biru dan awan di permukaan sungai yang tenang. Kemudian lompatan bermacam jenis dan ukuran ikan mengalihkan pandanganmu ke tepian sungai berumput hijau yang ditiduri rusa. Pepohonan rindang menjulang tempat burung riang berkicau mengisi sepimu. Terasa sempurna! Perasaan serupa berulang menyeret saya ke ruang penuh syukur telah dibawa ke tampat ini. Bersyukur pada Pencipta yang telah menurunkan cinta-Nya ke tanah ini. Tanah yang telah membuat saya jatuh Cinta, PAPUA.

Sebagai catatan, sejak Februari 2020 lalu, sinyal internet sudah menggapai kampung kami, dan sebentar lagi panel listrik tenaga surya akan terpasang. Saya akan terus berbagi cerita tentang tanah di hulu Edera ini.

Saya Bersyukur Telah Dibawa Ke Tempat Ini

Leave A Reply

Your email address will not be published.