English
News

Menyemai Asa Anak – Anak Enoraen di Menipo

Menyemai Asa Anak – Anak Enoraen di Menipo

Pagi – pagi sekali, selepas sarapan di aula Balai Besar KSDA NTT, 17 orang anak berseragam Sekolah Dasar berdiri berjejer di bawah kanopi parkiran kantor BKSDA. Wajah mereka tampak gembira dan bersemangat. Mereka sedang melakukan latihan terakhir sekaligus pemanasan sebelum tampil di acara puncak Festival Menipo yang digelar hari ini (14/11/2019) di halaman parkir Lippo Mall, Kota Kupang. Mereka adalah anak – anak dari SDN Fatufuaf, desa Enoraen, Amarasi Timur. Sebuah sekolah dasar di tepi selatan Pulau Timor, 83 km dari kota Kupang. Hari ini adalah hari yang istimewa bagi mereka. Mereka akan membawakan dua lagu di hadapan para hadirin di panggung acara puncak festival Menipo.

Festival Menipo adalah perhelatan yang diselenggarakan oleh BBKSDA NTT dalam rangka memperkenalkan Taman Wisata Alam (TWA) Menipo kepada publik, sebagai salah satu destinasi wisata baru di NTT. Masyarakat dan anak – anak Enoraen yang hadir di acara puncak Festival Menipo adalah mereka yang setia menjaga kawasan konservasi seluas 2.449,50 ha itu secara turun – temurun. Saya sendiri mengunjungi TWA Menipo pada 2017 silam. (Catatan perjalanan saya bisa dibaca diMenguak Keindahan Menipo di Tepi Selatan Indonesia)

Rangkaian kegiatan Festival Menipo sesungguhnya telah dimulai sejak sebulan yang lalu. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari berbagai perlombaan, kegiatan di TWA Menipo dan Enoraen, hingga kegiatan di kantor  BBKSDA NTT di Kupang selama seminggu terakhir. Warga masyarakat dari desa Enoraen telah berada di Kupang sejak tangga 11/11 yang lalu. Di bawah pimpinan para tetua adat dan tokoh masyarakat, ibu Pendeta, Kepala sekolah dan guru – guru SDN Fatufuaf, warga Enoraen, dewasa dan anak – anak mengikuti kegiatan bersama di BBKSDA NTT dan beberapa tempat lain di kota Kupang.

Mereka datang dengan kendaraan truk terbuka, menempuh jarak yang jauh. Mereka tidur dalam tenda yang dibangun di halaman kantor BBKSDA. Tak tampak sedikitpun rasa lelah di wajah mereka. Energi mereka seperti terisi berkali – kali di tengah terik matahari kota Kupang.

Kesibukan Masyarakat Enoraen menjelang puncak Festival Menipo

Tidaklah berlebihan jika mereka rela meninggalkan rumah dan pekerjaan – pekerjaan mereka selama itu. Festival Menipo adalah milik mereka, panggung mereka dan pintu bagi mereka untuk membawa kampung mereka yang terpencil nun jauh di tepi pulau, kepada dunia. Sukacita itulah yang bisa saya tangkap dari mata berbinar anak – anak Fatufuaf, hari ini.

Di Panggung puncak Festival Menipo 2019, mereka berdiri dengan wajah sumringah. Beberapa yang sempat saya ajak berbincang mengaku baru pertama kali datang ke Kupang. Beberapa yang lainnya pernah datang tetapi hanya sekali saja. Hari ini tanpa mereka duga, ratusan pasang mata menatap mereka berdiri di atas panggung, membawakan dua buah lagu. Lagu pertama adalah lagu “Rimbawan Kecil”. Tanpa diiringi musik mereka bernyanyi lantang.

Rimbawan kecil naik gunung yang tinggi

Lalu hujan turun, rimbawan jatuh

Matahari terbit hujan berhenti

Dan rimbawan kecil naik gunung kembali

Lirik lagu yang sederhana. Menyaksikan anak – anak Enoraen dengan segenap kepolosan dan kesederhanaannya, ditambah dengan kondisi sekolah dan kampung mereka yang memprihatinkan, lagu ini menyesap jauh ke dalam kalbu. Ada rasa haru menyeruak tiba – tiba. Mereka, rimbawan – rimbawan kecil yang sedang bernyanyi ini, adalah masa depan konservasi Menipo. Menipo yang hari ini deperkenalkan kepada dunia untuk menjadi destinasi wisata milenial adalah harta mereka untuk masa depan.

Semua yang dilakukan hari ini untuk Menipo, tidak ada artinya sama sekali tanpa anak – anak ini. Bagi mereka, Menipo adalah tabungan masa depan yang menjanjikan. Hari ini, mereka boleh belajar di SDN Fatufuaf yang berdinding dan beratap Lontar, tetapi TWA Menipo adalah ruang belajar yang istimewa. Beruntungnya, di sela – sela acara festival, Dirjen KSDAE KLHK menyerahkan bantuan sebesar 90 juta Rupiah kepada SDN Fatufuah, yang diharapkan bisa membantu mereka memperbaiki bangunan dan fasilitas belajar di sekolah itu.

Tidak kalah dengan anak – anak ini, para orangtua mereka hadir dalam kesederhanaan orang kampung, tampil memukau dan penuh semangat membawakan tarian persaudaraan dari daerah amarasi. Mereka bernyanyi, memainkan gambus dan menari. Mereka seperti sedang berteriak pada dunia; Kami ada! Mereka telah berdiam jauh di tepi pulau, tanpa banyak disentuh manisnya pembangunan. Mereka masih berpeluk erat dengan perjuangan – perjuangan hidup paling dasar.

Salah Satu Peserta Fashion Show Anak – Anak

Saya membaca berita tentang Festival Menipo di sore hari. Tak ada satupun yang melirik nasib orang – orang Enoraen dan anak – anak Fatufuaf. Mereka jauh dari seksi. Kutipan pernyataan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menjadi satu – satunya trending topic. Media – media ternama nasional sekelas Kompas, Tempo, dan Antara, kompak menjadikan pernyataan Gubernur Viktor tentang wisatawan miskin dan kaya sebagai judul berita. Tidak salah. Semua sedang mengarahkan mata dan telinga pada kekuasaan. Melupakan anak – anak Enoraen hari ini di puncak acara Festival Menipo adalah kesalahan yang fatal. Berbicara konservasi adalah berbicara keberlanjutan. Tentu saja berbicara tentang masa depan dan generasi mendatang. Berbicara tentang anak – anak ini dan masa depan mereka.

Sayangnya, media – media ini tahu bahwa nasib orang – orang Enoraen dan kisah mereka bersama Menipo tak akan menjadi kisah yang menarik untuk di-klik.

Entah disengaja atau tidak, keterlibatan anak – anak dalam acara puncak hari ini cukup dominan. Sayangnya penampilan mereka tidak menarik perhatian media massa dan hadirin di arena festival. Di tengah kecerobohan generasi ini dalam mengelola dan menjaga sumber daya alam, harapan kita saat ini hanya ada pada anak – anak kecil ini.

Pada tayangan video yang ditampilkan panitia,  tampak dengan jelas bahwa ada kondisi yang menyedihkan meliputi kehidupan anak – anak Enoraen. Kondisi alam yang keras di kampung mereka membuat mereka ikut berjuang bersama orangtua mereka dalam merajut tali kehidupan. Mereka harus berjuang mendapatkan air bersih yang semakin sulit di musim kemarau. Kondisi bangunan dan fasilitas sekolah yang sangat memprihatinkan, serta akses ke dunia luar yang terbatas.

Seorang anak memainkan Sasando

Festival Menipo dan serangkaian gebrakan yang telah mulai dilakukan oleh BKSDA NTT serta tokoh agama dan tokoh adat di Enoraen dalam kaitan dengan konservasi Menipo sejatinya adalah usaha menyemai mimpi anak – anak ini.

Hasil Karya Mewarnai dan Melukis Anak – Anak 

Kehadiran anak – anak SDN Fatufuaf, Enoraen hari ini bagi saya adalah puncak sesungguhnya dari semua rangkaian acara Festival Menipo. Kehadiran mereka bukan sekedar memberi warna, tetapi memberi isi bagi rangkaian kegiatan ini. Tanpa mereka, Festival Menipo hanya seremonial tanpa makna.

Pembukaan Pesta Rakyat Festival Menipo oleh Gubernur NTT, Viktor Laiskodat

Please follow and like us:
error6
Tweet 20
fb-share-icon20
Tagged: , , , , , ,

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *