Pandemi Covid-19 Mengajarkan Betapa Pentingnya Mengakrabkan Diri dengan Sains

0 283

Beberapa waktu lalu muncul sebuah berita memilukan dari kampung Tadong – Karot, Ruteng, Kabupaten Manggarai. Satu keluarga yang lagi menjalani isolasi mandiri (Isoman) karena terpapar Covid-19 kehabisan bahan makanan. Sebuah ironi karena mereka hidup dikelilingi para tetangga. Di Manggarai di mana ikatan sosial masyarakatnya sangat erat, mustahil ada orang yang sampai kelaparan. Tetapi Yosef Katu sekeluarga benar – benar mengalaminya. Dari berita di media masa terungkap kalau para tetangga enggan memberikan bantuan bahan makanan lantaran takut ikut terpapar virus Corona. Awalnya saya curiga para tetangga hanya membuat alasan saja. Mereka kan bisa menaruh bahan makanan di sekitar rumah lalu memanggil penghuni rumah untuk mengambilnya sendiri tanpa melakukan kontak. Lalu muncul dugaan terakhir, mungkin benar para tetangga memang benar – benar takut tertular virus Corona sampai – sampai mendekat ke pekarangan Yosef saja mereka tidak berani. Jika dugaan terakhir saya benar, maka keterasingan kita dari sains telah memberikan dampak yang berbahaya di masa – masa yang akan datang.

Teringat minggu – minggu  awal wabah Corona merebak di Tiongkok tepatnya di Wuhan pada Januari 2020, saya dan mungkin sebagian besar dari kita merasa sedang menonton film dan sejenisnya. Gambar – gambar  silih berganti menampilkan Wuhan yang beku di bawah salju musim dingin, para petugas medis bermobil ambulance ada di mana – mana, menolong penduduk yang terjangkit virus Corona. Lobi – lobi rumah sakit yang penuh sesak dengan antrian yang panjang orang – orang bermasker. Tidak lama setelah itu, tanggal 23 januari 2020, pemerintah Tiongkok mengisolasi kota Wuhan. Pemandangan begitu membius dengan jalan – jalan yang lengang, terbentang membelah kabut salju. Para presenter berita selama berhari – hari mengulang menyebut Wuhan ibarat kota mati.  Wuhan terasa terlampau jauh di negeri antah beranta untuk sampai menimbulkan sengatan yang berarti. Kekhawatiran sangat sedikit hampir tidak ada. Jikapun virus itu akhirnya sampai ke Indonesia, paling banter ada di Jakarta sana, dan pasti dengan mudah dihentikan. Ngarang saja kalau sampai virus itu mewabah hingga Flores, apalagi di kota tidak penting seperti Ruteng ini, pikir saya kala itu.

Ternyata tidak sampai sebulan  dari kehebohan di Wuhan, satu per satu negara – negara di luar China, bahkan Eropa dan Amerika mulai melaporkan penemuan kasus Corona di negaranya masing – masing. Beberapa negara langsung menyatakan siaga menghadapi penyebaran virus ini. Bandar udara menempatkan pendeteksi suhu tubuh untuk melacak para pelaku perjalanan yang mengalami demam dengan suhu tubuh di atas normal. Para ahli mulai mempublikasikan hasil pengamatan dan pengujian sementara. Sontak saja orang – orang dengan sebutan virolog muncul berkali – kali di layar tivi dan media masa lainnya untuk berbicara tentang virus  Corona.  Istilah – istilah baru dan asing makin hari semakin akrab terdengar. Jumlahnya juga bertambah, sama dengan bertambahnya akronim yang terus bermunculan atau dimunculkan pemerintah.

Waktu itu saya sering merasa bahwa Covid-19 adalah berkah. Ini jalan untuk memperkenalkan sains pada masyarakat yang paling awam sekalipun.  Sangkaan saya ternyata salah. Di era pertukaran informasi yang tak bersekat, semua orang bisa menjadi sumber informasi sekaligus penerima. Di media sosial, setiap orang bisa menjadi apapun yang mereka inginkan, bahkan pakar kesehatan, profesor, dan virolog sekalipun, seperti dalam kasus video wawancara Anji eks vokalis Band Drive  dengan seseorang bernama Hadi Pranoto yang mengaku sebagai profesor penemu obat Covid-19. Meski pada akhirnya baik Anji maupun ‘profesor’ Hadi meminta maaf karena melakukan pembohongan publik, namun tetap saja meninggalkan bekas kerusakan dalam persepsi dan pola pikir masyarakat terhadap pandemi Covid-19.

Siapa Hadi Pranoto yang Obrolannya dengan Anji Dihapus Youtube? 

Informasi menyebar dengan cepat ibarat jutaan mata kail yang dilemparkan secara acak di luasnya lautan, menautkan ujung – ujung tajamnya pada setiap kepala yang dijumpainya. Aktifitas produksi informasi yang tidak valid berjalan dengan sangat cepat. Bukan hanya masyarakat biasa, para pejabat negara juga memproduksi informasi yang benar – benar tidak layak disajikan di depan publik.

Waktu Covid-19 belum terdeteksi di Indonesia, sementara negara – negara tetangga seperti Malaysia dan Singapur telah mengumumkan kasus pertamanya pada 23 dan 24 Januari 2020, sebuah penelitian yang dilakukan Harvard TH Chan School of Public Health, mengungkapkan bahwa secara matematis seharusnya Indonesia telah memiliki kasus positif Covid-19 dengan rata – rata 6 – 7 kasus per hari. Menghadapi hasil riset ini, alih – alih meningkatkan kewaspadaan dan melakukan tracing dini, Menteri Kesehatan Terawan Putranto malah meragukan hasil riset sembari menantang Harvard untuk datang langsung ke Indonesia.

Menkes Tantang Harvard Buktikan Virus Corona di Indonesia

Senada dengan atasannya, Kepala Balitbang Kesehatan Kemenkes, dr. Siswanto memandang hasil riset itu tidak lebih dari sebuah prediksi yang tidak berarti apa – apa. Selanjutnya Menteri Terawan bilang kalau Indonesia belum terpapar Covid-19 karena kekuatan do’a.

Saya sendiri membaca hasil riset berjudul Using Predicted Imports of 2019-nCoV Cases to Determine Locations that may not be Identifying All Imported Cases , beberapa waktu setelah hasil riset itu menjadi kontroversi. Dalam publikasinya dijelaskan bahwa perhitungan cakupan wilayah penyebaran Covid-19 yang mereka lakukan berdasarkan volume perjalanan udara dari Wuhan ke daerah – daerah lain. Perhitungan itu diambil berdasarkan seberapa potensial virus Covid-19 menyebar melalui para pelaku perjalanan udara. Hasilnya, Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi terpapar Covid-19. Dalam jurnal yang dipublikasikan medrxiv.org  itu dijelaskan bahwa hasil riset ini belum bersertifikat peer review, yang artinya bahwa hasil riset ini membutuhkan pengujian lanjutan oleh pakar yang lain. Meski demikian, dari konten publikasinya, riset ini lebih berfungsi sebagai peringatan dini ketimbang petunjuk tindakan. Dalam konteks Indonesia, hasil riset ini seharusnya mendorong pemerintah dalam hal ini Kementerian kesehatan untuk melihat celah – celah yang luput dari pantauan, yang memungkinkan virus Covid-19 masuk ke tanah air.

Nah, masalahnya dimulai dari sini. Para pejabat Indonesia memang jarang sekali mengambil tindakan berdasarkan pertimbangan ilmiah. Menteri Terawan sendiri secara terbuka menunjukkan sikap yang tidak ramah sains dengan mengatakan bahwa Covid-19 belum masuk Indonesia karena do’a, padahal Terawan adalah seorang dokter dan peneliti yang sudah tahu bagaimana sains mencapai kesimpulannya. Pernyataan nyeleneh Terawan memberikan angin segar bagi menjamurnya pernyataan para pejabat Indonesia yang sudah dari sononya cenderung tidak ilmiah, terlebih lagi para pejabat yang sebagian besar berlatar politisi.
Coba saja cek rangkuman pernyataan para pejabat berikut:

Kilas Balik 6 Bulan Covid-19: Pernyataan Kontroversial Pejabat soal Virus Corona…  (Kompas.com)

Setahun Pandemi Covid-19, Ini Kelakar Pejabat Indonesia Soal Corona      (Tempo.co)

Pernyataan – pernyataan konyol para pejabat publik di tingkat paling tinggi adalah gambaran paling gamblang keterasingan kita dari sains. Hasil dari keterasingan ini bisa dilihat pada liarnya perdebatan seputar pandemi COvid-19 di kalangan masyarakat. Alih – alih berusaha memahami karakter virus demi efektifitas pencegahan, orang – orang lebih nyaman menganggap virus ini diragukan. Merangkum sumber – sumber yang tidak valid, suara – suara yang para peragu Covid-19 jauh lebih lantang di masyarakat. Beberapa teman saya bahkan terang – terangan menganggap saya tidak gaul dan kurang baca, lantaran terlalu bersungguh – sungguh menerapkan protokol kesehatan. Status – status media sosial dibagikan dengan lebih mudah daripada publikasi ilmiah. Orang – orang berusaha membaca data dengan cara yang keliru demi melanggengkan anggapan bahwa kematian akibat Covid-19 itu tidak seberapa. Istilah “meng-covid-kan” begitu akrab di telinga.

Bukan hanya orang awam, beberapa tenaga kesehatan juga turut menyangsikan eksistensi virus ini. Yang mengherankan adalah, justeru narasi – narasi yang meragukan  pandemi itu jauh lebih kencang dan berdaya memengaruhi masyarakat kelas akar rumput. Padahal masyarakat akar rumput ini juga  yang menjadi korban paling empuk jika pandemi terus berlangsung. Mereka yang tidak memiliki perlindungan jaminan kesehatan dan akses penanganan yang memadai, justeru mereka yang paling mudah dimangsa informasi kontra-pandemi.

Di NTT lebih miris lagi. Pada 28 Mei 2020, gubernur NTT Victor Laiskodat memerintahkan semua kepala daerah di dalam wilayah NTT untuk membuka semua akses publik seperti sediakala sebelum pandemi melanda. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keputusan gubernur Laiskodat, tetapi lagi – lagi pertimbangannya bukan sains. Dia tidak meletakan hasil riset di atas keputusan yang dia ambil.

Di bilang;  “Saya lebih memilih berhadapan dengan virus ini walaupun nyawa taruhannya, daripada berdiam diri dan bersembunyi dan kemudian masyarakat mati karena kelaparan. NTT ini daerah termiskin, oleh karena itu pola pikir saya selalu berpikir sebagai orang miskin. Dan ciri khas orang miskin itu pasti akan melakukan apa saja untuk bertahan hidup,”  seperti dikutip okezone.com.

Sepintas, Laiskodat tampak sangat berani mempertaruhkan nyawanya demi masyarakat NTT. Namun tidak ada satu pun bukti bahwa Laiskodat dalam hal ini pemprov NTT melakukan sesuatu untuk melindungi masyarakatnya dari paparan virus Corona. Dia hanya memberikan keyakinan semu bahwa virus Corona ini tidak berbahaya. Tidak ada publikasi kajian sains dalam pernyataan Laiskodat. Hanya keyakinan semata. Hasilnya adalah rekor kasus corona tertinggi nasional pada pekan ke dua Agustus 2021 ditempati NTT. Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi sendiri terkonfirmasi positif Covid-19 pada awal Januari 2021. Saat itu Laiskodat menjalani perawatan di RSPAD Jakarta, jauh dari rakyatnya di NTT yang semakin terdesak menghadapi penyebaran Covid-19 di tengah fasilitas dan layanan kesehatan yang buruk.

Laiskodat dan Pemprov NTT hanyalah cerminan dari keseluruhan pola penanganan Covid-19 di Indonesia dan sekaligus merupakan gambaran yang telanjang betapa jauhnya keputusan yang diambil para pejabat publik kita dari pertimbangan sains. Selanjutnya kita melihat masyarakat biasa yang memang waktunya habis untuk berpikir ‘makan apa hari ini’, akan lebih mudah lagi memandang sains sebagai sesuatu yang merepotkan dan tidak penting sama sekali. Orang – orang terdidik dan melek teknologi di sekitar kita ternyata juga tidak benar – benar melek sains. Mereka menjadi produsen dan distributor informasi yang tidak valid, produsen desas – desus konspirasi, dan sebagainya. Setiap hari orang sibuk mencari peneguhan akan pendapat bahwa Covid-19 itu adalah bohongan belaka. Sementara informasi valid, dari hasil riset dan penelitian para pakar di bidangnya, serta publikasi dari lembaga – lembaga kredibel tenggelam dalam pengabaian media sosial yang riuh rendah. Virus Corona semakin tidak dikenali. Protokol kesehatan (prokes) hanya sebatas istilah baru yang makin akrab di telinga. Soal esensi penerapannya jangan ditanya. Orang tidak paham kenapa pakai masker, kenapa jaga jarak, kenapa cuci tangan. Kapan pakai masker, kapan jaga jarak, kapan cuci tangan, dan sebagainya.

Melihat keengganan para tetangga Yosef Katu untuk mengulurkan bantuan makanan padanya dengan alasan takut terpapar Corona rasanya cukup janggal. Di Manggarai, pengabaian pada pandemi ini cukup tinggi. Orang masih berkumpul untuk melakukan aneka upacara dan pesta. Di sekitar tempat tinggal saya, jumlah orang yang percaya bahwa Corona ada, kurang dari separuh. Padahal, rata – rata mereka adalah pegawai pemerintahan dan swasta. Hingar – bingar perdebatan ada dan tidaknya virus Corona sebenarnya telah ikut berkontribusi pada lambatnya pengendalian pandemi Covid-19. Saya sendiri yakin, warga di tempat tinggal Yosef Katu akan lebih mudah menerima ide membuat pesta pernikahan di tengah pandemi ketimbang mendekati tempat tinggal Yosef Katu yang terkonfirmasi positif Corona. Ada banyak peristiwa orang – orang ketakutan setengah mati saat berdekatan dengan seseorang yang dinyatakan positif Corona, tetapi di saat yang sama mereka menolak menjalani test Swab Antigen saat mengalami gejala mirip terpapar Covid-19. Orang menolak dirinya atau orang dekatnya dianyatakan positif Corona, oleh karena itu mati – matian menolak menjalani test.

Keengganan untuk menjalani test diikuti oleh keengganan untuk melakukan karantina mandiri saat memiliki gejala mirip Covid-19. Jalan paling mudah adalah menggali sebanyak mungkin informasi dan berita penyangkalan Covid-19, meski dari sumber abal – abal, hasil desas – desus atau riset yang belum diuji. Di tengah penyebaran yang makin ganas, pengetahuan tentang anatomi dan sifat – sifat virus Corona tetap tidak menjangkau masyarakat luas. Jurnal – jurnal ilmiah yang dipublikasikan hampir tiap hari, diabaikan begitu saja. Orang lebih tertarik pada kontroversi. Kegandrungan kita pada kontroversi telah mendorong menjamurnya aktifitas produksi hoaks. Para produsen hoaks mendapatkan lubuk yang subur tempat menebar kail.

Satu lagi isu yang sangat penting yang juga turut tenggelam dalam hingar – bingar desas – desus dan hoaks adalah isu buruknya interaksi manusia dengan kehidupan alam liar yang telah memicu munculnya penyakit zoonosis. Covid-19 adalah salah satu jenis penyakit zoonosis yang artinya ditularkan dari hewan ke manusia. Itu fakta sains dan final. Sayangnya pengetahuan ini hanya sekelebat saja lalu pergi. Dilupakan. Orang akhirnya lupa bahwa eksploitasi satwa liar untuk konsumsi telah memicu munculnya penyakit zoonosis sebangsa virus Corona. Pemahaman ini seharusnya menjadi kunci bagi tindakan pencegahan munculnya pandemi baru di masa depan khususnya yang muncul dari wabah zoonosis. Harusnya ini menjadi momentum perbaikan interaksi manusia dengan satwa liar yang pada akhirnya berimbas pada berjalannya konservasi satwa di alam. Sayangnya, lagi – lagi sains kalah di linimasa medsos.

Barbara K. Hofer, seorang Professor psikologi dari  Middlebury berkolaborasi dengan Gale Sinatra, Professor pendidikan dan psikologi, dari University of Southern California mempublikasikan artikel berisi kajian yang ringkas tentang penolakan pada sains yang terjadi selama pandemi Covid-19 berlangsung. Artikel dengan judul “Science denial: Why it happens and 5 things you can do about it”  (Penyangkalan sains: Mengapa itu terjadi dan 5 hal yang dapat Anda lakukan untuk mengatasinya) itu dipublikasikan  The Conversation , sebuah portal online yang mempublikasikan artikel dan jurnal para peneliti dan akademisi. Hofer dan Sinatra merangkum secara singkat beberapa faktor penyebab munculnya penyangkalan atau pengabaian sains. Saya coba merangkumnya seringkas mungkin. Jika ada yang membaca artikel aslinya dan merasa perlu menambahkan sesuatu, dipersilahkan.

#1: Identitas Sosial

Setiap kita terasosiasi dengan kelompok sosial tertentu, termasuk juga di media sosial. Algoritma informasi yang menguat dalam lingkar pertemanan kita akan menjadi faktor pendorong kita mempercayai hal tersebut. Kita yang sering melihat sebuah berita atau postingan yang sama di linimasa media sosial kita akan cenderung untuk mempercayai versi itu serta kemungkinan besar akan mendistribusikannya kembali, hanya demi tetap berada dalam lingkaran sosial yang sama.

#2: Mental Jalan Pintas

Orang – orang semakin malas memikirkan sebuah isu secara lebih kritis atau mencari sumber – sumber yang valid. Sementara itu jagat internet menyajikan informasi instan yang bahkan diproduksi semata demi memancing klik para pengguna internet. Para produsen atau distributor informasi yang sedang gandrung menjaring klik, tidak mau repot – repot memikirkan akibat dari informasi dangkal yang diberikan. Sementara itu, pembaca juga malas mencari alternatif sumber yang lain yang lebih sahih dan kredibel.

#3: Keyakinan yang mutlak

Sebagian besar orang yang bukan ilmuwan melihat sesuatu itu sebagai benar atau salah. Jika berubah berarti tidak bisa dipercaya. Dalam konteks Covid-19, khalayak menginginkan sebuah kesimpulan final tentang apa itu virus Corona 19, bagaimana ciri dan sifatnya, bagaimana mengatasinya. Mereka mengabaikan tindakan sains berupa riset dan penelitian yang sedang berlangsung dan dievaluasi setiap saat. Ketika ada informasi yang bergeser dari waktu ke waktu, maka orang – orang menjadi skeptis pada saintis atau pada sains itu sendiri. Hal ini juga terjadi pada penerimaan khalayak terhadap informasi vaksin dan informasi varian virus Corona. Saya bisa menambahkan di sini khusus untuk orang Indonesia, faktor yang memperparah adalah tidak terbiasanya orang Indonesia bahkan golongan terdidik sekalipun untuk bergumul dengan riset dan penelitian. Orang Indonesia lebih suka menjadi pemakai akhir seperti menggunakan fitur ponsel. Hal itu membuat orang Indonesia sulit mengerti bagaimana informasi sains bisa berubah – ubah.

#4: Nalar yang termotivasi

Setiap orang melihat sebuah fakta dengan kacamata politik masing – masing. Ia melihat sebuah isu tergantung di mana ia berdiri. Alam bawah sadar seseorang akan melihat fakta dengan kacamatanya sendiri lalu membuat kesimpulan sesuai dengan yang diinginkannya. Seperti mereka yang secara jelas mengalami gejala terinfeksi Covid-19 tetapi enggan memeriksakan diri, di saat bersamaan ketakutan setengah mati saat ada tetangganya yang memeriksakan diri lalu terkonfirmasi positif Covid-19. Nalarnya tidak hanya memeriksa fakta tetapi juga dimotivasi oleh keinginan akan sebuah kesimpulan yang menguntungkan.

#5: Perasaan dan Sikap

Orang sering menolak fakta jika fakta itu melukainya atau mengganggunya sacara emosi. Peristiwa ini sering terjadi pada kasus kematian akibat Covid-19 dengan penyakit bawaan. Banyak terjadi penolakan diagnosa yang berujung pada munculnya istilah “meng-covid-kan”.

Lee McIntyre, peneliti di Center for Philosophy and History of Science di Boston University sebulan lalu merilis buku berjudul; How to Talk to a Science Denie (Bagaimana Berbicara dengan Penyangkal Sains). Buku ini merupakan buah dari wawancara dengan para penyangkal sains, sebut saja yang paling terkenal adalah penganut “Bumi Datar” atau Flat Earth. Menariknya bahwa Lee McIntyre, dari rangkaian hasil wawancara itu menyimpulkan dengan sangat lugas bahwa menyangkal sains itu ukan sebuah kesalahan, tetapi sebuah kebohongan. Mereka adalah orang – orang yang memanipulasi keterasingan masyarakat dari ilmu pengetahuan demi popularitas mereka sendiri. Mereka tidak punya bukti akan kebenaran yang mereka yakini. Mereka membuat hipotesis tetapi tidak mengujinya, atau enggan mengujinya. Persis seperti yang marak muncul di media sosial seorang peneliti yang hanya membuat hipotesis tanpa mau mengujinya atau menolak untuk diuji secara terbuka. Orang – orang ini tampak ingin menyederhanakan pemahaman akan ilmu pengetahuan, tetapi sesungguhnya mereka memanipulasi keterbatasan yang dimiliki khalayak untuk mengakses sumber yang valid.

Saat ini, dunia sedang berjuang mengatasi pandemi dengan berbagai skema. Salah satunya adalah menggenjot vaksinasi. Lagi – lagi program ini menghadapi tantangan yang sama. Masih banyak orang yang skeptis pada efektifitas vaksin bahkan melabel vaksin sebagai konspirasi kapitalis. Orang ramai – ramai menolak vaksin dengan bermacam – macam alasan dari yang paling masuk akal misalkan menunggu vaksin versi paling akhir (penyempurnaan) hingga alasan yang konyol misanya takut dipasangi cip dan dipantau gerak – geriknya. Tentu saja ini berbahaya. Menghambat pengentasan pandemi berarti memberi ruang bagi virus berbahaya ini untuk terus bermutasi. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa ada banyak sekali skandal dan permainan kotor dalam bisnis vaksin, (Saya kira di hampir semua bisnis pasti ada skandal sebagai upaya mendapatkan keuntungan sebasar – besarnya), tetapi semua itu tidak berpengaruh apa – apa pada standard sains dalam produksi vaksin.  Artinya, semua vaksin telah melalui proses yang sangat ketat sesuai dengan disiplin  Bioteknologi. Diawasi dan melalui serangkaian test yang tidak mudah, yang dilakukan oleh para pakar dan ilmuwan. Jika tidak berharap pada terobosan sains seperti vaksin, entah cara apa lagi yang ingin ditempuh agar kembali bebas dari pandemi.

Pendiri Microsoft, Bill Gates dalam sesi live interview oleh MSNBC pada akhir Januari 2021 lalu memperingatkan publik dan para pemimpin dunia akan munculnya pandemi berikutnya setelah Covid-19. Prediksi seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar – benar mengejutkan bagi kalangan peneliti dan saintis. Ada banyak sekali faktor yang mendorong munculnya pandemi baru di masa depan, antara lain perubahan iklim dan pergeseran perilaku manusia. Omong – omong soal Bill Gates, di awal pandemi Covid-19, tiba – tiba sebuah video di Youtube menjadi viral. Itu adalah video lama dari tahun 2015 saat Bill Gates berbicara di TED Talks. Konteksnya adalah setahun pasca epidemi Ebola di Afrika Barat. Bill Gates melihat dunia yang abai akan peringatan dini seperti Ebola. Sebagai seorang ilmuwan, Bill Gates tentu saja menggunakan instumen – instrumen sains untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Itu hal yang lumrah. Masalahnya, orang – orang yang awam akan penggunaan instrumen – instrumen ini menganggap Bill Gates memiliki kemampuan supranatural atau malah dituduh sebagai orang yang membuat konspirasi munculnya pandemi Covid-19. Tuduhan itu tidak berhenti. Ini sebenarnya kelewatan lucu. Di luar Bill Gates ada ratusan bahkan ribuan peneliti yang sedang meneliti dan mengamati virus corona dan virus – virus lain yang berpotensi menjadi epidemi bahkan pandemi di masa depan. Dasar sial bagi Bill Gates, ia adalah ilmuwan sekaligus pebisnis kaya raya, dan tentu saja juga seorang seleb. Statusnya sangat rentan untuk dijadikan bahan cerita, termasuk yang dilakukan para penyangkal sains, dan produsen hoaks. Alhasil, esensi peringatan Bill Gates diabaikan sepenuhnya, orang lebih tertarik pada desas – desus bahwa Bill Gates sedang merancang tatanan dunia baru dengan isu pandemi baru. Itu berarti, terbuka kemungkinan, prediksi Bill Gates untuk pandemi berikutnya, akan benar – benar menjadi kenyataan.

Sebagai penutup, anggap saja ini kesimpulannya. Generasi yang akan datang harus lebih akrab dengan aktifitas riset, pengamatan dan penelitian. Menulis dan membaca jurnal serta memberikan kesempatan pada pendapat kita untuk diuji secara ilmiah. Mengakrabkan diri dengan sains adalah kunci untuk memahami dunia dan segala perubahannya di masa depan, jalan bagi kita untuk hidup layak dalam habitat yang terus berubah ini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.