English
News

Poco Ndeki Yang Tersisih

Poco Ndeki Yang Tersisih

Memotret Borong, tak bisa lepas dari pesona gunung Poco Ndeki yang gagah berdiri di sisi timur kota kecil pesisir selatan Manggarai Timur itu. Gunung dengan puncak tertinggi 950 mdpl itu seakan menjadi menara raksasa, yang setia mengawasi bentang alam yang indah di bawahnya serta memantau gulungan ombak di laut Sawu.

Eksotisme Poco Ndeki ternyata tak hanya pada penampilannya yang gagah di antara lekuk garis pantai pesisir selatan, tetapi jauh di kedalaman hutannya, ia menyimpan kekayaan yang berlimpah. Beberapa waktu lalu, saya menginjakan kaki di puncak gunung yang bagi masyarakat Kisol dan sekitarnya merupakan tempat sakral.

Perjalanan dimulai dari kapung Kumbaneta, Kelurahan Tanah Rata, Kota Komba, ditemani dua orang pemandu lokal. Sebelum memasuki kawasan hutan, kami berjalan menyusuri kebun Kakao dan kelapa milik warga. Memasuki kawasan hutan, kami melewati jelan setapak beton yang dibuat oleh pemerintah Manggarai Timur untuk kebutuhan pariwisata sepanjang + 100 meter. Selepas jalan setapak beton itu, jalan selanjutnya merupakan trek menanjak di celah – celah pepohonan hutan basah luruh daun.

Menurut Kanisius, seorang pemandu, kawasan hutan Poco Ndeki merupakan kawasan yang sangat disakralkan oleh masyarakat lokal. Pada ketinggian + 500 meter dijumpai bekas kampung lama yang diperkirakan usianya di atas 200 tahun. Hal ini ditandai dengan pagar berbentuk melingkar yang terbuat dari tumpukan batu – batu yang tersusun rapi. Lokasi bekas kampung ini berupa hamparan lereng yang landai. Selain pagar batu, di tempat ini dijumpai puluhan pohon Kelapa yang tinggi menjulang, terselip di antara pepohonan.

Selanjutnya, treking ke puncak Poco Ndeki didominasi trek menanjak. Pada bagian akhir menjelang puncak, trek cukup tajam dengan vegetasi hutan basah yang cenderung homogen. Di kawasan puncak inilah terdapat situs Watu Embo yang disakralkan oleh masyarakat sekitar. Situs ini berupa sepasang batu yang satu berbentuk alat kelamin pria dan yang satunya lagi berbentuk alat kelamin wanita yang lokasinya berjarak 150 meter. Diawali sebuah batu berpentuk penis, yang tertancap tegak lurus di tanah. Di tempat ini kami meletakan sebutir telur ayam. Kanis sang pemandu mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa Rongga, sebagai bentuk permintaan ijin kepada penunggu gunung agar kami diperbolehkan mengunjungi tempat itu.

Pada saat musim kemarau berkepanjangan, masyarakat lokal biasa mengadakan ritual meminta hujan di tempat ini, dengan cara memberikan sesajen berupa telur ayam dan sirih pinang serta memasukan sebatang tongkat ke dalam lubang batu berbentuk kelamin wanita. Sekilas, jika ditilik dari cara masyarakat lokal menjaga tradisi di puncak gunung ini, maka mustahil mereka merusak kawasan yang mereka sakralkan. Situs Watu Embo, Poco Ndeki

Ternyata kenyataannya sangat terbalik. Justru di lokasi dekat situs watu embo ini pembabatan hutan terjadi secara membabi – buta. Menurut pengakuan warga Kumbaneta, pelaku pembabatan bukan dari wilayah mereka, tetapi dari kampung – kampung lain di sisi barat Poco Ndeki. DI lokasi sekitar situs watu embo ditemukan pohon – pohon besar bertumbangan dibabat warga untuk aneka keperluan. Beberapa balok kayu juga ditemukan di tempat ini. Lebih mirisnya lagi, banyak dijumpai batang – batang balok kayu yang sehabis ditara, dibiarkan begitu saja hingga membusuk. Pembabatan Di Puncak Poco Ndeki

Kondisi ini sungguh disesalkan, mengingat kawasan hutan Poco Ndeki merupakan kawasan hutan dengan klasifikasi biodiversity khusus, sebagai rumah dari berbagai burung endemik dan langka. Yayasan Burung Indonesia merilis sekurang – kurangnya terdapat 15 jenis burung eksotis di kawasan hutan Poco Ndeki. Burung – burung itu antara lain Punai Flores, Kakatua Kecil Jambul Kuning, Celepuk Wallacea, Cekakak Tunggir Putih, Kepudang – Sungu Sumba, Sepah Kerdil, Tesia Timor, Kipasan Flores, Cabai Emas, Cabai Dahi Hitam, Burung Madu Matahari, Kacamata Wallacea, Opior Jambul, Opior Paruh Tebal dan Gagak Flores. Selain burung – burung yang mendiami hutan ini, juga terdapat aneka burung yang datang dari wilayah lain dan menetap sementara di sini. Punglor dan Seriwang Asia (Terpsiphone paradisi) atau yang dalam bahasa lokal disebut Lawelujang juga kerap ditemukan di hutan ini.

Vegetasi Poco Ndeki

Reputasi hutan Poco Ndeki sebagai spot istimewa untuk bertemu burung – burung endemik nan eksotis ini sudah diakui para pemburu foto burung internasional. Sayangnya, reputasi semoncer itu tak diimbangi oleh usaha – usaha perlindungan dan pengelolaan yang memadai. Pemerintah Manggarai Timur bahkan tidak menaruh perhatian yang cukup bagi keselamatan ekosistem di kawasan ini. Pada tahun 2015 silam, menguar kabar jika pemerintah Manggarai Timur akan menjadikan kawasan ini sebagai lokasi pengembangan tanaman Cendana. Wacana ini tentu saja sangat disayangkan. Jika hal ini benar – benar terwujud, maka tamatlah riwayat Poco Ndeki.

Hingga saat ini, pemerintah Manggarai Timur melalui dinas kehutanan juga tidak melakukan upaya yang maksimal dalam menyelamatkan alam Poco Ndeki dari tangan – tangan jahil oknum yang sering melakukan pembabatan di hutan Poco Ndeki. Seorang warga di Kumbaneta, Markus (42) mengaku tidak pernah melihat patugas dari dinas kehutanan Matim melakukan patroli di tempat ini. Sosialisasi juga tidak pernah dilaksanakan.

Selain pembabatan, perburuan burung marak terjadi di wilayah ini. Tidak ada yang bisa memastikan, sampai kapan pesona Poco Ndeki sanggup bertahan. Gempuran para perusak semakin hari semakin mengkhawatirkan. Tampaknya pemerintah tetap diam saja.

Poco Ndeki

Please follow and like us:
error6
Tweet 20
fb-share-icon20

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *