Senjakala Danau Sanonggoang

0 675

Matahari selalu terlambat menggapai kampung Nunang, Sanonggoang, Manggarai Barat. Saat cahaya pagi yang kemerahan telah hinggap di lereng Tewasano, kabut masih menutupi permukaan danau Sanonggoang yang teduh. Angin menggulung air danau, menghempasnya lembut serupa ombak ke tepian. Segerombolan besar Itik Alis (Anas superciliosa) dan Kambangan Australia (Aythya australis) mengapung di beberapa sudut danau, hari masih terlalu pagi bagi mereka untuk bergerak jauh.

Seperti biasa, lembah Sanonggoang selalu menunjukkan citra magisnya saat pagi tiba. Danau seluas 513ha dan kedalaman mencapai 600m itu selalu ditutupi kabut tipis, membentuk bidang pendar putih transparan di permukaan air, dan di kolongnya, burung – burung air membiarkan tubuhnya terapung.  Dari lereng – lereng dan tepi danau, burung – burung menyesaki pagi dengan kicauan yang lantang. Langit tampak cerah pada Jumát, 24 Januari 2020. Hari ini saya menemani seorang fotografer burung asal Korea Selatan melakukan pengamatan dan pemotretan burung – burung di sekitar kawasan danau Sanonggoang. 

Bagi para pengamat burung baik domestik maupun mancanegara yang datang ke Flores, nama danau Sanonggoang tidaklah asing. Kawasan yang terdiri dari habitat basah danau vulkanis Sanonggoang, Perkebunan warga Nunang serta hutan tropis kering perbukitan Tewasano adalah habitat potensial dan rumah bagi berbagai jenis burung yang menjadi target pengamatan. Dari data yang dikumpulkan oleh Macaulay Library, tidak kurang dari 100 spesies burung terekam di sekitar kampung Nunang, hutan Tewasano dan danau Sanonggoang. Tidak heran jika semua laporan pengamatan burung menempatkan Sanonggoang sebagai salah satu lokasi di Nusatenggara yang wajib dikunjungi.

Seperti waktu – waktu yang lalu, hari ini kami  memulai pengamatan dinihari sekitar pukul 4 pagi. Lokasi pertama adalah hutan kecil di belakang kampung Nunang yang menjadi lokasi penting pengamatan spesies nokturnal endemik Flores, Celepuk Flores (Otus alfredi). Sanonggoang adalah satu – satunya lokasi ditemukannya Celepuk Flores di luar kawasan pegunungan Mandosawu di Ruteng, Kabupaen Manggarai. Saat hari mulai terang, suasana lereng di belakang kampung Nunang benar – banar bising oleh kicauan aneka jenis burung. Gagak Flores (Corvus florensis), Perkici Flores (Trichoglossus weberi), Kehicap Flores (Monarcha sacerdotum), Celepuk Flores,  dan Serindit Flores (Loriculus flosculus) adalah beberapa spesies endemik Flores yang cukup mudah ditemukan di lokasi ini. Saya sering berkelakar, jika di tempat ini banyak burung yang tidak kebagian tempat bertengger di pagi hari.

Dalam dunia Ornitologi, nama Sanonggoang sudah populer jauh sebelum danau terbesar di NTT ini diperkenalkan menjadi destinasi wisata dalam kurang dua dekade belakangan ini. Pada periode 1970-an, seorang misionaris Katolik asal Jerman, Pastor Erwin Schmutz, tinggal dan mengabdi sebagai pastor paroki Nunang. Di sinilah ia mengumpulkan banyak spesimen burung, untuk diidentifikasi dan diteliti.  Spesimen – spesimen itu telah menjadi koleksi beberapa pusat penelitian zoologi di dunia, dan sebagian besarnya menjadi koleksi Naturalis Biodiversity Center, Belanda. Spesimen -spesimen itu telah menjadi rujukan penting bagi kegiatan penelitian, termasuk spesimen Mandar Lewin; Flores, (Lewinia pectoralis exsul) yang proses identifikasinya belum selesai sampai hari ini.

Hari ini, ketika pariwisata Flores khususnya Labuan Bajo sedang bergeliat, Sanonggoang telah memiliki magnetnya sendiri untuk menarik wisatawan. Bentang alam yang menakjubkan serta letaknya yang terpencil, menjadikan kawasan Sanonggoang perlahan – lahan memantik minat wisatawan domestik dan mancanegara untuk mengunjunginya. Namanya kian populer seiring bertambahnya informasi yang dibagikan secara online.

Danau Sanonggoang di Pagi Hari
Danau Sanonggoang di Pagi Hari

Om Petrus atau yang biasa disapa om Pit,  pengelola penginapan di tepi danau Sanonggoang adalah satu dari sekian banyak warga Nunang yang mulai merasakan dampak langsung dari kehadiran wisatawan di kawasan ini. Saya selalu menginap di penginapannya dan melihat sendiri seberapa intens para tamu menginap. Selain dirinya, ada beberapa rumah warga yang telah mempersiapkan diri dan rumah mereka sebagai homestay. Mereka yang tergabung dalam Flores Homestay Network menawarkan konsep live-in kepada wisatawan. Selain menyediakan penginapan, beberapa warga Nunang juga sudah sering menjadi porter dan pemandu lokal. Saya termasuk salah satu yang paling sering memakai jasa mereka untuk memandu para pengamat dan fotografer burung ke Tewasano dan atau puncak savana.

Alam yang indah, flora dan fauna yang kaya, keheningan desa yang terpencil serta keramahan warganya menjadikan Nunang benar – benar telah siap turut serta menikmati kue pariwisata. Sekurang – kurangnya hingga hari ini. Sayangnya, semua citra mengagumkan tentang Sanonggoang sepertinya akan segera berakhir. Sebentar lagi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi akan berdiri di halaman belakang kampung Nunang. Proyek ini dikerjakan oleh perusahaan milik negara (BUMN) yang bernama PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Ketenangan lembah Sanonggoang akhirnya terusik, bahkan jauh sebelum pembangkit listriknya berdiri.

Di dinding Mbaru Gendang Nunang, terpampang sebuah spanduk raksasa bertuliskan “Tolak Pengeboran Panas Bumi di Wae Sano”. Ini sudah cukup memberi sinyal betapa keheningan dan kedamaian lembah yang magis ini telah terhalau pergi. Seperti yang terjadi di kawasan tambang di manapun, pro dan kontra antara warga lokal tidak bisa dihindarkan. Biasanya, para investor tambang memanfaatkan friksi antar-warga sebabagai sebuah keuntungan.

Mbaru Gendang Nunang, Sanonggoang
Sepanduk Penolakan Proyek Geotermal Wae Sano di Mbaru Gendang Nunang, Sanonggoang  (Foto: Arrio Jempau)

 

Setahun lalu, saya mendaki ke puncak Tewasano untuk melakukan pengamatan burung Serindit Flores. Sepanjang jalur pendakian, saya menemukan banyak tonggak yang diberi tanda cat merah. Beberapa warga yang menemani saya mengatakan kalau itu adalah tanda yang dibuat oleh PT. SMI, dengan tujuan yang tidak diketahui. Saat ini, Pemerintah mulai dari dari pusat hingga tingkat desa, telah sepakat untuk memuluskan proyek pembangkit listrik ini. Warga Nunang terpecah. Seketika, harmoni di lembah Sanonggoang menguap pergi begitu saja. Masa depan mereka seakan ada dan tiada.  Senyum ramah yang selalu tersaji di wajah tulus orang desa, kini telah berubah menjadi tatapan penuh kecurigaan. Intimidasi sudah semakin sering dialami warga, dan lebih menyedihkan karena itu dilakukan oleh sesama warga Nunang sendiri.

Pemerintah dan investor datang dengan janji membawa kemajuan yang pesat bagi warga Nunang. Tak ada lagi kemiskinan. Nunang yang terpencil akan segera menjadi sebuah kota kecil, demikian kata mereka dalam setiap sosialisasi. Sebagai gantinya, warga Nunang harus rela kehilangan ikatan sakralnya dengan alam Sanonggoang yang memelihara mereka turun – temurun. Mereka harus merelakan kicauan burung – burung di Tewasano hilang ditelan deru mesin pengebor sumur panas bumi. Mereka harus menukarnya dengan ikatan persaudaraan yang diwariskan nenek moyang mereka secara turun- temurun. Bahkan bukan tidak mungkin, mereka juga harus merelakan kampung halaman mereka untuk ditinggalkan tanpa penghuni. Mereka harus menukar semua janji itu dengan kenangan dan harapan yang mereka miliki. Harga yang tentu saja terlampau mahal.

Di mata saya,  ini adalah senjakala Sanonggoang. Akhir dari kisah indahnya yang selama ini membawa namanya dikenal hingga ke negeri yang jauh. Setiap kesempatan bisa jadi adalah kesempatan yang terakhir, seperti kicauan burung – burung dan kemegahan bentang alam Sanonggoang di pagi ini, bisa jadi esok semuanya tak berbekas lagi. Lamat -lamat terdengar suara Iwan Fals menyanyikan lagu “Ujung Aspal Pondok Gede”  memenuhi kepala, seiring matahari yang kian meninggi, dan kicauan burung yang kian sunyi.

Celepuk Flores di Sanonggoang
Celepuk Flores di Sanonggoang

Leave A Reply

Your email address will not be published.