Si Perajut Sarang Indah Yang Sekarat Di Kurungan

0 62

Sepekan yang lalu, saat cuaca sore begitu cerah, saya berkeliling di sekitar kota Ruteng dengan sepeda motor, tanpa tujuan yang jelas (meski tetap juga akan berhenti di suatu tempat). Saat melewati kawasan pusat kota, di tepi jalan, saya melihat sangkar – sangkar burung berjejer di depan pintu, dan seorang lelaki bersarung, sibuk mengeluarkan beberapa sangkar yang lainnya dari dalam rumah.

Semua sangkar yang berjejer diisi satu bahkan dua ekor burung. Kicauan mereka bersahut – sahutan, di tengah deru – raung kendaraan yang lalu – lalang di depan mereka. Debu – debu kemarau dari jalanan menyerbu sangkar – sangkar yang hanya diletakan di atas tanah. Saya berhenti sejenak, dan dengan penuh kepedihan, mencoba melempar senyum pada sang empunya sangkar.

Dari semua sangkar yang berjejer, mata saya terpaku pada tiga sangkar yang diletakan berdekatan di bagian tengah. Suara burung yang ada di dalamnya terdengar aneh, meski saya langsung bisa mengenalinya. Selain kicauan yang lantang, warna kuning cerah  yang mendominasi tubuh membuatnya langsung bisa dikenali. Kepodang!

Kepodang / Black-naped Oriole (Oriolus chinensis) adalah salah satu burung berukuran sedang yang kemolekannya memikat hati banyak orang. Kemolekan dan suaranya yang merdu dan khas membuat pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjadikannya sebagai maskot.

Burung ini  menyebar di seluruh wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia, dengan wilayah sebaran meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Burung Kepodang adalah pemakan segala, mulai daru buah – buahan seperti pepaya dan pisang, memakan biji – bijian dan juga serangga. Kebiasaan makan yang relatif mudah ini membuatnya mejadi salah satu burung yang paling banyak diambil dari alam untuk dipelihara dalam kurungan sangkar buatan.

Burung ini juga merupakan burung yang suka bertengger. Ia akan memamerkan keindahan warnanya yang cerah dan suara kicauannya di atas dahan – dahan terbuka.  Hal ini yang membuat Kepodang disebut sebagai burung pesolek. Selain suka pamer, burung ini juga memiliki kebiasaan necis. Ia tidak pernah tinggal di daerah yang kumuh dan kotor. Selalu memilih pohon yang bersih sebagai tempat membangun sarang. Sebagai salah satu burung yang selalu tampil bersih, burung Kepodang juga menunjang penampilannya dengan sarang yang indah, rapi dan koko.

Sayang seribu sayang, burung Kepodang sudah semakin kritis di alam. Tak ada lagi sarangg – sarang indah rajutannya di dahan – dahan. Mereka terkurung dan sekarat di sangkar buatan tangan manusia yang rakus dan egois. Intesitas penangkapan yang masif membuat Xeno Canto mengunci semua rekaman suara burung ini, agar tidak digunakan untuk memancing burung liar guna ditangkap.

Di Flores, burung Kepodang semakin jarang ditemukan di alam. Burung yang hidup berpasang – pasangan ini, sering dijumpai sendirian. Boleh jadi, pasangannya telah dibawa pergi dan terperangkap dalam sangkar, di rumah – rumah dan dibawa pergi ke seberang lautan.

Kebiasaannya bertengger di dahan – dahan terbuka, yang ditunjangi oleh warna yang mencolok, membuat Kepodang juga begitu mudah menjadi sasaran para pemburu. Dalam situasi seperti ini, proses kepunahan Kepodang diperkirakan akan datang lebih cepat dari jenis burung yang lain. Semoga saya salah!

Kepodang / Black-naped Oriole (Oriolus chinensis)

Leave A Reply

Your email address will not be published.