Lagu Minang mengalun dari speaker ponsel di siang yang terik. Muhamad Naser (35) sibuk membersihkan seember Teripang Pasir (Holothuria scabradi) di beranda rumahnya yang berhalamankan laut teduh, di kampung Papagarang, Taman Nasional Komodo. Ia ditemani Waty, istrinya dan dua orang anaknya, Arga dan Afdan yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Alunan irama Melayu yang mendayu – dayu seperti mengatur irama tangan anggota keluarga kecil ini menggosokkan punggung Teripang ke atas bongkahan batu berpermukaan kasar. Saya pun mulai merasa dirayu irama melayu itu. “Itu lagu apa?” tanya saya, menudingkan jari ke arah ponsel yang bersender di tepi jendela. “Itu lagu Sumatra. Tomas Arya. Enak musiknya,” sahut Naser dalam dialek pulaunya. Ia terkekeh. Tangannya tak berhenti menggosok – gosokkan punggung Teripang.
Ember di depan mereka hanya terisi separuh, hasil tangkapan pagi tadi. Waty, istri Naser bilang kalau jumlah demikian bisa menjadi 4 kg Teripang kering. Saya bertanya berapa lama waktu sampai Teripang itu bisa dijual. “Lama om. masih panjang prosesnya. Masak dulu baru kasih kering,” jelas Waty. Harga Teripang tidak pasti, tetapi untuk saat ini berkisar 200 ribu rupiah per kilogram. “Itu harga bagus kah?” tanya saya. “Bagus om, daripada ikan, ini lebih bagus. Kami kan tidak ada Bagang (Bagan; perahu motor bercadik), ” jawab Naser.
Naser adalah salah satu Nelayan di Pulau Papagarang yang tidak memiliki Bagan untuk melaut jauh dan menangkap ikan dalam jumlah besar. Berburu Teripang adalah pilihannya. Teripang adalah salah satu invertebrata yang hidup di laut dangkal dengan klasifikasi habitat berupa padang lamun dan pasir berlumpur. Selain berburu ke padang lamun yang ada di sekitar Papagarang, Naser juga membuat sebuah tempat pembesaran Teripang sederhana di perairan dangkal di depan rumahnya.
Tak jauh dari rumah Naser, saya bertemu Sarifudin. Ia adalah pembuat Bagan berusia 70 tahun. Bor listriknya meraung – raung, melubangi bagian – bagian kayu Kesambi yang akan dipasangi pasak. Melihat otot – otot tubuhnya yang kasar kita akan dengan mudah menyimpulkan bahwa orang tua ini telah melewati tahun – tahun hidupnya dengan melakoni pekerjaan – pekerjaan yang berat dan telah menguras tenaga yang tak sedikit. “Ini (bor listrik) baru saja. Dulu bor tangan. Satu jam hanya bisa bikin satu dua lubang,” katanya sambil mengayunkan bor di tangannya. Peralatan – peralatan listrik yang hadir dalam beberapa tahun belakangan telah membantu pekerjaan Sarifudin. Bagan yang sedang digarapnya ini akan diselesaikannya dalam waktu dua bulan.

Sarifudin sedang menggarap Bagan milik menantunya, Junaidin (34). Junaidin telah memiliki dua Bagan, dan yang sedang dibuat ini adalah Bagannya yang ke tiga. Tidak seperti Naser, Junaidin malah tidak menjadikan Teripang sebagai sumber tangkapan. “Tergantung musimnya. Kalau sekarang masih musim (ikan) Lajang. Tapi sudah besar – besar. Agak susah. Sebentar lagi mau musim Cumi, ” jelas Junaidin. Junaidin dan nelayan – nelayan di Papagarang memiliki tiga musim tangkapan dominan. Bulan Januari – April adalah musim ikan Lajang / ikan Layang, selanjutnya Mei – September adalah Musim Cumi – Cumi, dan Oktober – Desember adalah musim Lure / Teri.
Naser dan Junaidin adalah para nelayan dari generasi yang lebih belia. Mereka dibentuk oleh perkembangan cara mendapatkan hasil laut dan permintaan pasar baik di Labuan Bajo maupun di Sape. Naser memilih Teripang karena ada permintaan yang tinggi di pasar, diikuti harga yang menjanjikan. Datangnya permintaan Teripang adalah keberuntungan bagi dirinya yang tidak memiliki bagan. Junaidin yang memiliki Bagan bahkan lebih dari satu, dipermudah dengan teknologi mesin kapal dan pukat yang lebih baik dan lebih efektif. Peralatan tukang bagan sperti yang membantu Sarifudin juga turut berkontribusi bagi pertumbuhan jumlah pengguna bagan di Papagarang.
Di ujung timur kampung, kami bertemu Haji Adul Gafar. Usianya memasuki separuh abad. Seperti laki – laki pada umumnya di pulau ini, Haji Gafar telah turun melaut sejak berusia sangat belia. “Kira – kira umur belasan lah. masih kecil,” akunya. Ia telah melihat bagaimana para nelayan di kampungnya berubah melewati masa demi masa. Ia juga telah berkali – kali berganti cara dan peralatan melaut, sesuai dengan perkembangan teknologi dan dinamika pasar hasil laut itu sendiri. Namun, ada satu hal dari masa lalu yang masih dilakoni Adul Gafar hingga hari ini, yakni tradisi Ngamande dalam penangkapan ikan Bulawis.
Ikan Bulawis lebih luas dikenal dengan nama Baronang. Baronang sejatinya merupakan sebutan umum untuk jenis ikan dari keluarga siginidae yang di Indonesia ditemukan ada 18 jenis. Sedangkan jenis Bulawis bernama ilmiah Siganus argenteus, jenis Baronang yang paling banyak dikonsumsi. Namanya berbeda – beda di setiap daerah. Orang Papagarang yang merupakan warga suku Bajo menyebutnya ikan Bulawis. Di pasar di Labuan Bajo, ikan ini disebut ikan Cara oleh pedagang yang rata – rata adalah warga suku Bima. Nama ikan Cara kemudian menjadi sangat populer karena di kalangan masyarakat pegunungan Flores bagian barat, ikan ini menjadi primadona. Nama Ikan Cara yang mereka peroleh dari pedagang ikan dari Bima lah yang mengukuhkan nama Ikan Cara menjadi nama paling dikenal di wilayah Labuan Bajo dan sekitarnya.

Ikan Cara ini berkumpul dalam koloni yang sangat besar khususnya di bulan Maret – Agustus dan Desember – Januari. Masyarakat di Papagarang di masa lampau melakukan penangkapan masal pada bulan Juli – Agustus. Penangkapan masal ini menggunakan metode lokal yang mereka sebut Ngamande; diambil dari nama buah yang dipakai sebagai bahan baku utama yakni buah Kamande. Dalam bahasa Indonesia disebut buah Kamandra (Croton tiglium). Orang Papagarang mengenal 3 nama sesuai dengan interaksi mereka. Jika bertemu masyarakat Sape mereka menyebutnya buah Tuba, sedangkan dengan orang Manggarai mereka menyebutnya Wua Tuwa.
Kepala Desa Papagarang, Basir (33) mengisahkan, pada masa lalu setiap tahun pada bulan Juni – Agustus, masyarakat Papagarang membuat kesepakatan untuk melakukan tradisi Ngamande. Ini adalah perhelatan resmi. Penduduk – penduduk pulau sekitar Papagarang akan diberitahu secara resmi. Mereka membeli buah Kamande/Tuba/Tuwa dari para pedagang dari Sape atau dari Manggarai. Kemudian masyarakat menentukan hari mereka akan berkumpul untuk melakukan penangkapan secara bersama – sama, menggunakan racun organik dari Kamande tersebut. Mereka akan membangun perangkap berupa jalan sempit yang dipagari jaring atau pukat. Ketika air pasang, koloni ikan Cara akan naik ke perairan dangkal dan di saat itu, para nelayan akan membuat pagar hidup dalam radius kira – kira 50 meter ke arah laut. Saat air surut, ketika koloni ikan Cara melewati jalan sempit yang telah disiapkan, para nelayan menyiramkan cairan Kamande membentuka pagar air yang keruh yang membuat koloni ini terperangkap dalam jaring – jaring yang telah dipasang. Tradisi Ngamande berlangsung dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan dan akan berhenti pada waktu yang ditetapkan bersama oleh para tetua. Penangkapan ikan Cara dengan Ngamande ini telah menghantarkan nama Pulau Papagarang dikenal sebagai pemasok ikan Cara terbesar di Labuan Bajo dan sekitarnya.
“Di Labuan Bajo, orang tanya, ada ikan cara Papagarang kah?” kenang Basir. Pada masa itu, seantero kampung akan dipenuhi ikan Cara yang dihamparkan di atas penjemuran dari bambu yang mereka sebut papara. “Dari ujung ke ujung itu (ikan cara) semua,” lanjutnya sambil menunjuk ke arah penjemuran ikan yang kosong. Di Labuan Bajo, Ikan Cara Papagarang memang telah kehilangan namanya. Saya bertemu Iksan (38), seorang penjual ikan yang berjualan bersama ibunya di TPI Labuan Bajo. Seperti Basir, ia mengamini jika saat ini reputasi ikan Cara Papagarang telah kalah dibandingkan ikan Cara Rangko, dari pesisir utara Labuan Bajo. “Kalau ikan Cara segar, masih (dari Papagarang). Kalau yang kering sudah tidak, itu Rangko semua,” tutupnya sambil menunjuk tumpukan ikan Cara di seberang tempatnya duduk.
Kecuali Haji Gafar dan beberapa rekannya, penangkapan ikan Cara sudah ditinggalkan oleh nelayan Papagarang. Ikan Cara telah kalah pamor dibandingkan ikan Lajang / Layang dan Cumi – cumi. Seperti Naser dan Junaidin, Basir juga mengakui jika persoalan harga di pasar menjadi faktor utama nelayan – nelayan Papagarang meninggalkan ikan Cara. Haji Gafar tentu saja memiliki alasan sendiri kenapa mempertahankan kebiasaannya menangkap ikan Cara, meski dia tahu harganya tak semenggirukan ikan – ikan lain yang lebih populer. “Karena sudah biasa dari dulu begitu. yah begitu,” akunya.

Haji Gafar memang masih tangguh di lautan, tetapi waktu akan segera menyeretnya ke tepian. Jika saatnya tiba, Ngamande akan benar – benar ditinggalkan masyarakat Papagarang. Ikan Cara juga akan tinggal nostalgia. Pergolakan harga di pasar telah menarik para nelayan belia untuk mengubah haluan ke hasil laut yang lebih populer dan berharga tinggi. Di kalangan nelayan juga merebak ketakutan meneruskan tradisi Ngamande karena mereka berada dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Meski belum pernah diberi surat peringatan tentang larangan tradisi Ngamande oleh pihak Taman Nasional Komodo, tetapi para nelayan tahu bahwa tradisi Ngamande sejatinya bertentangan dengan prinsip – prinsip konservasi.
Hari ini, tantangan mempertahankan tradisi Ngamande semakin berat. Godaan datang silih berganti dari gemerlap bisnis pariwisata yang sedang menggema di kawasan kepulauan ini. Meskipun menurut pengakuan Basir, sampai saat ini nelayan Papagarang belum tertarik terjun ke bisnis pariwisata, bukan berarti mereka tidak mungkin akan hijrah ke sana. Bisa saja di suatu masa, pulau yang di halaman teduhnya berserakan 300-an Bagang pemanen ikan ini, akan jadi tempat berlabuh para pelacong berkapal mewah, yang mencari teduh di halaman resort – resort privat. Di masa itu, Papagarang juga tinggal cerita, seperti ikan Cara yang telah kalah dimangsa waktu. Semoga tidak.
