English
News

Puncak Ranaka Yang Merana

Puncak Ranaka Yang Merana

Bak menara penjaga, ia menjulang tinggi menempel di sisi timur dataran tinggi kota dingin Ruteng. Gunung Ranaka, merupakan puncak tertinggi di Manggarai, termasuk dalam gugus pegunungan Mandusawu, yang membentang dari Kabupaten Manggarai hingga Manggarai Timur.

Puncaknya berada pada ketinggian 2300 mdpl. Gunung Ranaka diambil dari nama sebuah telaga kecil yang berada di sekitar puncak yakni Ranaka dari bahasa Manggarai; Rana berarti danau/telaga dan Ka berarti burung gagak. Gunung ranaka merupakan bagian dari kawasan hutan lindung TWA Ruteng. Di Sebelah timur puncak Ranaka terdapat kawah gunung berapi yang meletus pada Januari 1988, dan membentuk anak gunung Ranaka dengan nama Nampar Nos (Nampar berarti tebing cadas dan Nos berarti hitam gosong).

Puncak Ranaka menyimpan segudang pesona, mulai dari kisah legenda hingga pemandangan alam. Konon, di sekitar telaga Ranaka, yang terletak di ketinggian 2200mdpl, merupakan petilasan kampung tradisional nenek moyang orang Manggarai yang pertama yakni Kuleng sehingga tempat itu sering disebut sebagai Bangka Kuleng. Lalu dari sana menyebar ke kampung-kampung sekitar dan lalu menyebar ke seluruh Manggarai. Telaga Ranaka sendiri merupakan pemandian bagi warga kampung Kuleng. Dari kisah ini, jelaslah bahwa Puncak Ranaka merupakan tempat yang paling bersejarah dalam kebudayaan Manggarai.

Perangkat SKRT Dephut di Ranaka

Selain menyimpan kisah sejarah menakjubkan, puncak Ranaka menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Di lereng – lerengnya yang hijau, berdiamlah burung-burung eksotis, salah satu yang paling populer adalah Ngkiong (Pachychepala nudigula), dengan kicauan yang mempesona. Ngkiong sering kali dipercaya sebagai pembawa pesan dari alam. Di Puncak Ranaka juga terdapat bunga abadi Edelweis Putih, dan aneka Anggrek Tropis. Pemandangan dari Ranaka merupakan pemandangan alam terbaik yang ada di Manggarai. Dari sana kita bisa memandang ke empat arah mata angin wilayah dataran tinggi dan dataran rendah bahkan hingga ke Laut Sawu. Hal iniah yang mengilhami nenek moyang orang Manggarai memberikan nama Mandusawu pada gugus pegunungan ini, Mandu: Puncak, tempat melihat ke bawah dan Sawu: Nama laut di pantai selatan Flores.

Untuk mencapai puncak Ranaka tidaklah begitu sulit, tinggal mengendarai kendaraan bermotor kurang lebih 45 menit, kita akan sampai ke puncak. Ada dua jalur pendakian menuju Ranaka, yakni Jalur pendakian timur, dari arah Danau Ranamese dan jalur pendakian barat melalui kampung Robo. Melakukan pendakian ke Puncak Ranaka, kita akan disuguhkan dengan aneka ironi, antara keindahan mahakarya Pencipta dan cerobohnya tangan manusia.

Jalan beraspal telah dibangun hingga ke puncak oleh pemerintah melalui PT. Telkom karena di sana pernah ditempatkan pemancar telekomunikasi milik BUMN itu. Setelah pemancar dipindahkan ke Boncu Kode, Cibal, fasilitas berupa jalan raya serta bangunan di gerbang masuk dibeli oleh Kementerian kehuatanan melalui BKSDA NTT sebagai pos resort Ranaka. Pemerintah kabupaten Manggarai bersama Keuskupan Ruteng membangun lokasi wisata religi di puncak Ranaka.

Bangunan yang semula adalah ruang penjaga dan operasional PT. Telkom, berubah menjadi Kapel tempat berdo’a bagi peziarah. Di sana juga di bangun sebuah menara salib raksasa. Sepanjang jalan dalam radius 100 meter dari puncak dibangun relik-relik perehntian jalan salib umat Katolik. Di kawasan puncak juga dibangun SKRT milik Departemen Kehutanan. Saat ini, semua fasilitas yang telah dibangun dengan mengorbankan bagitu banyak potensi ekologis kawasan Ranaka, dibiarkan terbengkelai dan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Bangunan ditinggalkan begitu saja hanya menjadi arena corat-coret orang-orang tak bertanggung jawab.

Jalan raya yang dibangun menuju puncak adalah pintu yang terbuka lebar bagi masuknya para perambah hutan dan pemburu burung-burung. Padahal Ranaka merupakan tugu kebanggaan hutan Konservasi Ruteng. Sepanjang jalan menuju puncak kita akan dengan mudah menemukan kayu-kayu yang telah ditebang. Ada yang dibiarkan tumbang hingga kering dan nantinya menjadi kayu bakar, dan ada yang dijadikan balok. Ternak berupa sapi dan kerbau diikat dalam kawasan hutan dan di tepi jalan menuju puncak. Kondisi lereng ranaka yang sedianya hijau oleh pohon-pohon rimba kini telah tinggal semak yang diobok-obok sepanjang waktu.

Telaga legendaris Ranaka telah kehilangan daya magisnya, seperti kubangan yang ditinggalkan gembala. Jangan berharap menikmati kedamaian alam puncak gunung tertinggi Manggarai di Ranaka, karena sampai di sana kita disuguhkan dengan bangunan-bangunan lama yang dibiarkan terbengkelai. Kondisi puncak yang seharusnya sejuk damai dan asri, berubah gerah dengan penuhnya beton yang tersebar di sebagian besar kawasan puncak.

Jalan menuju tugu puncak yang seharusnya menjadi titik yang istimewah, terabaikan. Kita harus mengambil jalan di antara tebing bekas galian untuk menara Salib, agar sampai ke tugu puncak. Alhasil, tak ada yang istimewah lagi tatkala berada di puncak Ranaka. Tak ada lagi kebanggaan berdiri di sisi tugu puncak sebagai titik tertinggi se-Manggarai Raya ini.

Menara Salib Yang Sudah Roboh di Puncak Ranaka

Menara Salib yang tumbang persisi di samping tugu puncak, memberi kesan kuat bahwa tempat ini tidak lebih dari areal eksperimen dari penguasa masa silam. Kontur puncak kini tak lagi alami selayaknya kontur puncak gunung tertinggi lainnya, karena sebagian besar area sudah diratakan untuk mendirikan bangunan. Selain kerusakan alam yang parah, beban puncak juga bertambah dengan bertenggernya beton-beton di luasan lahan puncak yang sempit. Dari semua aktifitas yang pernah dilakukan, proses pembuatan jalan menuju puncak menjadi sumber kerusakan paling parah di puncak Ranaka. Sayangnya lagi, hampir mustahil kerusakan ini bisa dipulihkan. Yang bisa dilakukan saat ini adalah, menghentikan laju kerusakan puncak Ranaka, agar tidak menjadi semakin parah.

Sebagai satu-satunya jalur pendakian andalan untuk Manggarai serta sekian potensi besar yang dikandungnya, tak seharusnya puncak Ranaka terbengkelai. Puncak Ranaka sudah saatnya mendapatkan perlakuan yang layak sebagai kebanggaan Masyarakat Manggarai, bukan sebatas retorika tetapi nyata dalam tindakan. Pihak-pihak yang merasa diri pernah melakukan aktifitas destruktif di puncak Ranaka, yakni pemerintah, Gereja dan Masyarakat harusnya responsif terhadap kondisi puncak Ranaka yang ditinggalkan merana. Dibutuhkan strategi berekelanjutan dengan memperhatikan berbagai aspek, agar puncak Ranaka kembali magis.

Jika puncak Ranaka tetap luput dari perhatian, maka bukan tidak mungkin akan menimbulkan ancaman baik langsung berupa bencana runtuhnya kawasan puncak, maupun bahaya tidak langsung yakni runtuhnya spirit budaya Manggarai serta spirit perlindungan alam oleh Gereja. Daripada berteriak di balik mimbar, mari berbuat dan peduli, berani berefleksi. Kisah merananya puncak Ranaka hendaknya juga menjadi pengalaman penting bagi pemangku kebijakan untuk menerapkan kebijakan tidak asal-asalan. Perlu kajian mendalam tentang dampak dan keberlanjutan sebuah pembangunan, jika tidak ingin dijadikan olok-olokan generasi mendatang.

Saatnya berbuat, selamatkan Ranaka, puncak kebanggaan kita yang terpaku merana, memandang dari singgasana yang senyap, pada kita yang latah bernanyi ‘Gunung Ranaka’ dengan suara lantang tapi tak tahu bagaimana cara membanggakannya, dan tak tahu apa yang harus kita banggakan.

Please follow and like us:
error6
Tweet 20
fb-share-icon20
Tagged: , , , , ,

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *